03.26.07

Dagelan Teroris Dalam Hipokritnya Laptop

Ditulis dalam Media Monitor pada 8:10 am oleh Hanif al-Falimbani

Pagi ini, saya dibuat tersenyum sinis ketika membaca halaman awal sebuah koran Nasional. Ada 4 artikel di halaman awal ini, foto besarnya tentang ulang tahun Uni Eropa yang ke-50. Dalam foto itu para pemimpin negara-negara yang tergabung dalam uni eropa berfoto bersama dan Kanselir Jerman Angela Merkel terlihat berada di tengah dengan warna baju dan ekspresi tubuh yang berbeda sendiri, maklum, dia adalah satu-satunya wanita dalam foto ini, dan memang negaranya, Jerman, menjadi tuan rumah pada perayaan setengah abad uni eropa. Dari keempat artikel yang ada, satu artikel berbicara tentang ulang tahun “persekongkolan” eropa, satu lagi berbicara tentang manajeman ekonomi pemerintah. Sedangkan dua artikel lainnya berisi tentang cerita dibalik orang-orang yang dituduh sebagai teroris.

Halaman kedua, dan sebenarnya ini halaman yang paling saya suka, karena berisi tentang kabar-kabar dalam negeri yang sedang hangat, menurut saya, harusnya halaman kedua ini ada di halaman terdepan. Di halaman ini ada berita yang bagi saya cukup menonjol, karena sekali lagi mampu menyentuh relung hati saya yang paling dangkal, kenapa? Karena ada berita Ketua DPR memastikan bahwa pemberian laptop kepada 550 anggota DPR akan tetap ada, Masya Allah. Dan kabar yang saya dengar dari mulut Roy Suryo, bahwa dana yang dialokasikan untuk satu unit laptop adalah 21 juta rupiah, wacks…, dan kata Roy juga, bahwa sebenarnya hanya dengan 7 juta saja, sebenarnya DPR bisa mendapatkan komputer dengan merek terkenal. Bayangkan 3 kali lipat, mungkin mereknya 3 kali lipat lebih terkenal juga ya.. Apa mungkin anggota DPR mau make Apple..??

Mungkin para petani akan bilang, “Dimana mata kalian wahai wakil rakyat.. Ketika gabah kami dihargai murah, karena impor beras yang kalian setujui… Mending uangnya untuk menutupi kerugian yang kami derita, kami sudah panas-panasan setiap hari, tapi tetap saja rugi, beda dengan anda, tiap hari duduk di tempat yang empuk lagi sejuk sambil tidur-tiduran lagi, untung lagi, dapat laptop lagi, mana rasa perwakilan anda terhadap derita yang terus-menerus kami alami.. mana mata kalian wahai wakil rakyat..??!!!”

Lanjut ke halaman Internasional yang berisi satu berita aneh dan satu berita lucu. Yang perlu dicatat, dua berita ini bukan berita kocak yang biasa ditaruh di kilasan kawat. Berita anehnya adalah tentang Sekjen PBB, Ban Kii-moon, yang ogah ketemu sama perdana menteri Palestina Ismail Hanieya. Alasannya simpel, karena Hanieya dari Hamas, dan Hamas gak mau mengakui Israel. Aneh.. Kan?? Lembaga yang menginginkan perdamaian dunia kok dirinya sendiri gak bisa berdamai dengan rakyat Palestina yang selalu tertindas.

Berita yang lucu, lagi-lagi datang dari anak cucu Umar bin Khaththab-radhiyaLlahu ‘anh-. Indonesia, Qatar dan Afrika Selatan, yang terpilih menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB menyatakan setuju atas resolusi DK PBB untuk menjatuhkan sangsi ke Iran karena pengayaan uraniumnya. Padahal ketiga negara ini mengaku sedih atas dikeluarkannya resolusi itu. Lucu, hipokrit, dan Aneh, sedih kok mau-maunya menyetujui. Gampang aja, klo saya jadi delegasi dari USA, saya akan katakan kepada delegasi dari Indonesia begini,

Anda boleh bersedih didepan mata rakyat anda sampai meneteskan air mata sekalipun, tapi anda harus menyetujui resolusi ini, ingat, anda masuk ke sini atas bantuan kami, kalau anda tidak mau menyetujuinya, saya bisa usulkan ke pemerintah saya untuk kembali memboikot suku cadang paralatan perang anda, atau saya akan mengusulkan untuk menambah intelijen di tengah rakyat anda dan menjebak orang-orang yang punya semangat besar dalam berjihad tetapi minim ilmu untuk nge-bom di sana sini, sehingga pemerintahan anda akan semakin jelek dimata umat Islam, karen kerjanya hanya menangkapi para ustadz saja. Atau, saya akan buat media memblow-up berita tentang laptopnya anggota DPR, sehingga anggota DPR gak jadi dapat laptop, yang pada akhirnya mereka akan menjadi semakin naik darah dan akan menanyai anda dengan ganas ketika anda melaporkan laporan pertanggungjawaban anda dari sini, bagaimana..??

Yahh.. sekali lagi, inilah salah satu episode Negeri Yang Terjajah dan terus terjajah, dan parahnya, gak sadar kalau sedang dijajah. Mau gak terjajah..?? Lepaskan penghambaan kepada manusia, kepada penghambaan sepenuhnya kepada Allah rabbul izzati. Caranya bagaimana? Tegakkan Aqidah dan Syariah Islam ditengah-tengah kehidupan masyarakat, dalam bingkai Khilafah Islamiyah dengan jalan damai tanpa kekerasan. Kok bisa?? Makanya, Ngaji doonng.. ;)

03.23.07

“Berburu” Dinasti Bush, Dinasti Saud

Ditulis dalam Tumpah Hati pada 2:24 pm oleh Hanif al-Falimbani

dinastikecilBeberapa bulan yang lalu, teman satu kos saya yang juga kolektor buku, cerita ke saya klo dia kemarin lihat buku bagus berjudul “Dinasti Bush Dinasti Saud” di Toko buku Toga, aku tanya berapa banyak? Ada sekitar 6 buah, dia jawab. Saya langsung katakan, pasti bukunya sudah habis. Persis, sehari setelahnya, saya coba lihat ke sana, dan ternyata benar, buku yang dimaksud sudah ndak ada.

Hari ini, setelah membaca beberapa resensi buku yang dimaksud, yang pada akhirnya menarikku untuk meningkatkan proses penyidikan jadi penyelidikan. Dari mencari jadi memburu, dan setelah memutari beberapa “book base” yang ada seperti Toga, Social, Gramedia, Soping, ternyata yang ada hanya di Gramedia, yahhh.. terpaksalah untuk kedua kalinya dalam sehari saya ke gramedia.. akhirnya saya beli buku di tempat yang paling saya tidak suka, Gramedia, karena disini gak ada diskon sama sekali, dan juga untuk ke lantai tiga tempat penjualan buku harus naik melintasi etalase produk-produk yang harganya selangit. Kayaknya kita dipaksa untuk melihat dagangan mereka sebelum ke toko utamanya.

bush dan pacarnyaAda banyak hal yang menarik dalam buku ini, nanti insya Allah akan saya buat resensi tersendiri. Ada cerita tentang bagaimana keluarga Bin Laden bisa terbang keluar AS pd tanggal 13 September 2001, padahal CIA memerintahkan dr sejak detik black september terjadi sampai 13 Sept jam 10 malam tidak boleh ada pesawat yang mengudara.

Juga tentang dirubahnya fatwa Syaikh Bin Baz tentang dihukumnya orang yang tidak mengakui kalau bumi itu datar, Syaikh Bin Baz-rahimahuLlah- yang juga termasuk anggota Dinasti Saud ini merubah fatwanya untuk tidak menghukum orang yang tidak percaya bahwa bumi itu bulat karena cerita salah satu pangeran kerajaan yang pernah ikut penerbangan antariksa, dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa bumi itu benar-benar bulat.. Nahh.. lho..

03.17.07

Ketika Para Stoisis Membangun Kembali “Gedungnya”

Ditulis dalam al-Mustanir pada 8:10 pm oleh Hanif al-Falimbani

*Ini cuplikan dari beberapa bagian yang kusukai dari buku “Iblis Menggugat Tuhan”. … Inti analogi Iblis yang aku suka adalah bahwa semua kejadian di alam semesta tidak bisa lepas dari kehendak Tuhan. Iblis menjadi biang dosa pun adalah sebuah grand-plot dari Tuhan. Iblis tidak bisa disalahkan dalam usahanya menyesatkan manusia!Jadi, jika ada mata Pedang yang mengarah ke lehermu, maka siapakah yang akan kamu maki dan salahkan? Pedang itu sendiri ataukah Sang Penggenggam Pedang?

Cuplikan paragraf diatas benar-benar menyentak kembali ingatanku tentang siapakah para Stoisis itu.

Stoisis atau Stoikis dalam bahasa arabnya sering disebut dengan rawwaqiyyun, yaitu para penganut filsafat Stoisisme (Stoicsm). Sedangkan Stoicsm diambil dari bahasa Yunani, Stoa. Stoa adalah nama sebuah gedung yang digunakan untuk mengajarkan filsafat stoisisme ini. Aliran filsafat ini didirikan oleh Zeno pada tahun 305 SM atau menurut sumber lain mengatakan 308 SM. Zeno sendiri hidup diantara tahun 336-264 SM.

Lantas pertanyaannya, kenapa aku jadi ingat para Stoisis ini ketika membaca paragraf diatas dan juga komentar-komentar dari Kang Raja Iblis? Padahal terjadi rentang waktu ribuan tahun antara Zeno dan Kang Mas Joe.

“Ruang Kosong”, Para Stoisis penganut Stoisisme mempunyai pandangan Fatalisme, atau mereka menyebutnya sebagai “Ruang Kosong”. Teori “Ruang Kosong” ini dicetuskan oleh Zeno, hal ini dapat dilihat ketika Aristoteles membantah teori ini dalam On Sophistical Refutations:

Dalam kasus argumentasi Zeno tadi yang menjelaskan tentang gerakan (sembarang perbuatan), maka ini adalah tidak mungkin” (Aristoteles, On Sophistical Refutations, Book I, Part 24).

Zeno berpendapat bahwa tidak ada gerakan (motion) secara mutlak yang terjadi dengan sendirinya. Pendapat ini juga bisa ditemukan dalam keterangan dari Aristoteles dalam buku Physics:

Everything that is in motion must be moved by something [Segala sesuatu yang bergerak, pasti digerakkan oleh sesuatu]” (Aristoteles, Physics, Book VII, Part 1).

Menariknya, Kaum muslimin terpedaya oleh teori-teori filsafat ini. Hal ini dapat dilihat dari munculnya aliran dari kaum Muslimin yang disebut Jabariyyah. Awalnya jika ditilik dari perkembangan sejarah, aliran ini merupakan reaksi dari aliran Mu’tazilah. Mengapa? Karena pada waktu itu tengah berkembang paham Freewill-Mu’tazilah, paham yang berpendapat bahwa La Qadar (tidak ada takdir), yang berarti manusia itu tidak terikat dengan apapun (termasuk Allah) ketika berkehendak dan berbuat. Paham ini dimunculkan pada masa tabiin (pasca sahabat) pertama kali oleh Ma’bad al-Juhani sekitar tahun 70H/691M.

Paham La Qadar ini diambil oleh Ma’bad dari Susan, orang Kristen yang kemudian memeluk Islam dan kembali menjadi Kristen. Kabar ini dikemukakan oleh al-Awza’i (al-Nasysyar, Nasy’ah), Ibnu Hajar, Muslim bin Yasar (Tahzhibut Tahzhib). Kabar ini diperkuat oleh bukti bahwa ada kesamaan ide Ma’bad dan Epikureanisme, yang menyatakan:

Whereas our own actions are autonomous, and it is to them that praise and blame naturally attach” [Ketika perbuatan pribadi kita adalah bebas, dan itu kembali kepada mereka, dimana pujian dan celaan merupakan suatu hal yang alamiah/wajar] (Epicurus, Letter to Menoeceus).

Kemudian ide ini turun-temurun hingga dipahami oleh Washil bin ‘Atha’, orang yang dikenal sebagai pendiri Mu’tazilah karena dia keluar dari majelis Hasan al-Basri karena berbeda pendapat dalam persoalan pelaku dosa besar. Washil bin ‘Atha’ ini seangkatan dengan Jahm bin Shafwan, yang sangat terkenal dengan paham Jabariyyah, Fatalisme, yang berbeda secara diametral dengan Freewill-nya Mu’tazilah. Jabariyyah berpendapat bahwa manusia berada di dalam keterpaksaan (determinis), tidak memiliki kemampuan atau kekuasaan untuk memilih dan bertindak, dapat dikatakan bahwa manusia seperti kapas yang diterbangkan angin, paham ini mirip bahkan bisa dikatakan sama dengan teori “ruang kosong” kaum rawwaqiyyun atau Stoisis tadi.

Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Kaum Mu’tazilah berkiblat kepada kaum Epikureanisme, sedangkan Jabariyyah memiliki kesamaan dengan paham Stoisisme. Paham Epikureanisme bertolak belakang dengan paham Stoisisme, sebagaimana halnya Mu’tazilah berseberangan dengan paham Jabariyyah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendapat yang mengatakan, “bahwa semua kejadian di alam semesta tidak bisa lepas dari kehendak Tuhan.” Adalah paham yang mirip dengan pendapat para Jabariyyun atau para Rawwaqiyyun atau para Stoisis walaupun direfleksikan dengan kisah iblis.

Karena itu, mengapa tulisan ini aku kasih judul “Ketika Para Stoisis Membangun Kembali Gedungnya”, karena telah lama paham ini runtuh dan reruntuhannya telah dibuang ke kotak sampah peradaban, namun ternyata ada segelintir orang yang mencoba mengais-ngais kembali sampah itu lalu ditumpuk kembali untuk menjadi gedung yang mempunyai desain lebih halus.

Langsung saja, tanpa perlu basa basi lagi, bahwa kedua paham ini, yaitu paham Stoisisme (Jabariyyah) maupun Epikureanisme (Mu’tazilah) adalah paham yang bathil (salah) bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa paham ini adalah paham yang menyesatkan kaum muslimin. Argumen ini bukan tanpa dasar, ini bisa dilihat dari dua sisi, secara empirik dan normatif.

Secara empirik, manusia adalah makhluk yang kemampuannya terbatas, menghitung jumlah pasir yang terlihat di pantai Krakal saja tidak bisa, apalagi mau mencoba meraba-raba suatu yang tidak terlihat, kehendak Allah? Merubah titik didih air dari 100 derajat ke 99 derajat saja tidak bisa, bagaimana mungkin menentukan dengan pasti bahwa perbuatannya adalah kehendak Allah? Menghitung jumlah bintang dilangit saja tidak bisa, bagaimana mungkin bisa tau bahwa perbuataanya itu tidak ada sangkut pautnya dengan Sang Pencipta? Sunggupun apa yang dikatakan oleh para filosof adalah perkataan yang tidak punya nilai kebenarannya sama sekali, karena bagaimana mungkin, mereka yang tidak pernah bertemu maupun melihat Allah, Sang Pencipta, dapat mengetahui secara pasti apa yang dilakukan dan dikehendaki oleh Alllah ‘Azza wa jalla? Apa yang dilakukan oleh para filosof tidak bernilai apapun selain hanya sebuah khayalan yang mengawang-awang entah kemana. Na’udzubiLlahi min dzalik.

Oleh karena itu, hendaknya kita kembalikan saja persoalan ini kepada fakta perbuatan manusia itu sendiri, yaitu perbuatan manusia yang bisa terindera dengan panca indera kita. Ketika anda pagi-pagi berangkat kuliah, apakah pada waktu itu terhimpun dalam diri anda kehendak bahwa anda memang ingin kuliah? Jawabannya pasti YA, karena kalau tidak ada dua kemungkinan, anda tidur sambil berjalan, atau memang anda sudah gila.

Ketika suatu saat anda naik motor di jalan raya dan ingin berbelok ke arah kanan tiba-tiba saja, tanpa anda kehendaki ada motor lain dari arah belakang yang menyeruduk pelindung knalpot anda sehingga motor anda terhuyung-huyung. Pertanyaannya, apakah motor yang tiba-tiba menabrak anda dari belakang itu adalah kehendak anda? Tentu saja TIDAK. Motor yang tiba-tiba menabrak anda dari belakang itu berada diluar kekuasaan atau kehendak anda.

Dari kedua fakta perbuatan manusia diatas, ternyata dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbuatan yang berada dalam kuasa atau kehendak manusia dan ada yang berada di luar kuasa atau kehendak manusia. Dan seluruh perbuatan manusia dapat dimasukkan ke dalam dua wilayah itu saja, yaitu ada di dalam kehendak manusia, atau diluar kehendak manusia.

Fakta bahwa aku lahir bukan dari rahim Tamara Blezensky misalnya, adalah perkara yang berada diluar kehendakku, dan hal ini tidak akan dihisab pada hari kiamat nanti. Karena Allah tidak akan memberikan dosa kepadaku karena aku lahir dari rahim ibuku yang sangat aku sayangi, atau Allah juga tidak akan memberikan pahala karena aku lahir dari rahim Tamara Blezensky. Lahir dari rahim siapa adalah suatu hal yang berada diluar kuasa atau kehendakku dan juga anda semua.

Demikian juga sebaliknya, fakta bahwa ada orang yang sadar bahwa dia berkehendak untuk melakukan khalwat dengan lawan jenis adalah perkara yang berada dalam kuasa dan kehendak orang tersebut. Karena itu, Allah akan memberikan dosa atas perbuatannya itu, dosa ini bukan karena dengan siapa dia berkhalwat, tetapi karena memang dia telah berkhalwat.

Seorang Muslimah atau Muslim pengemban dakwah akan mendapatkan dosa sebagaimana seorang Muslim atau Muslimah yang tidak mengemban dakwah ketika mereka berkhalwat, berikhtilath, atau memandang lawan jenis dengan syahwat. Sama saja, yang dpandang bukan siapakah dia, tetapia pa yang diperbuat, karena perbuatannya itu adalah perbuatan yang dia lakukan secara sadar dan berada dalam kuasanya, dalam arti, dia punya kemampuan untuk tidak melakukan hal yang demikian, dan ketika dia melakukannya maka dia mendapat dosa.

Inilah pemahaman yang dipahami oleh para pendahulu Islam yang shaleh. Masalahnya, ingin atau tidak ingin kita mengikuti mereka adalah perkara yang berada dalam wilayah kekuasan dan kehendak kita. Dan tentu saja, keputusan akan hal ini akan dihisab oleh Allah kelak di yaumul hisab.

Aku akan petikkan sebuah kisah. Ketika Sa’ad bin Abi Waqqas radhiyaLlahu ‘anhu, –panglima perang yang diutus Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyaLlahu ‘anhu untuk menaklukan Persia– menemukan buku-buku filsafat lama dalam rampasan perangnya, Beliau ingin membawa buku-buku tersebut agar dapat dimanfaatkan oleh kaum muslimin, tetapi keinginan beliau ini langsung ditolak oleh ‘Umar :

Campakkan buku-buku itu ke dalam air. Jika apa yang terkandung dalam buku-buku tersebut adalah petunjuk yang besar, maka Allah telah memberikan kepada kita petunjuk-Nya yang lebih besar (al-Quran dan as-Sunnah). Jika ia berisi kesesatan, Allah telah memelihara kita dari bencana tersebut.” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hlm 530-531)

Hal ini layak kita renungi dan selami karena hal ini sejalan pula dengan ayat yang berbunyi :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ

وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا

Artinya : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (TQS. al-Ahzhb [33]: 36)

ShadaqaLlaahu ‘azhiim
(Maha Benar Allah dengan Segala FirmanNya).

(Hanif al-Falimbani, Yogyakarta, 18 Maret, 02.25am)

03.15.07

Saatnya Menjadi Orang “Aneh”

Ditulis dalam Tumpah Hati pada 1:17 am oleh Hanif al-Falimbani

angkat royaSore tadi, selepas shalat Ashar yang menyejukkan, aku halaqoh (ngaji) kitab Min Muqowwimat an-Nafisiyah al-Islamiyah, dalam bahasa Indonesianya kitab ini dapat berarti “Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah”. Jujur, kitab ini jika dibaca sendiri saja bisa membuat mata menitikkan air mata, apalagi jika dibimbing oleh seorang Musyrif (pembimbing). Dan Musyrif ku telah dengan elegan menerangkan paragraf demi paragraf. Ada beberapa kalimat yang membuatku terenyuh. Beliau kurang lebih bilang kayak gini :

Antum itu orang Aneh, mau-maunya, sore-sore waktunya istirahat, sejuk begini waktunya nyantai-nyantai, ehh.. malah capek-capek kesini untuk halaqoh.

Aneh. Kami semua tahu, kata-kata itu bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan kami atau memarahi kami. Tapi kata-kata itu hanya untuk menyegarkan suasana. Kenapa? Karena kalau mau aneh-anehan, yang paling aneh itu justru beliau sendiri, udah dateng jauh-jauh cuman untuk ketemu sama kita-kita yang culun ini, trus ngisi halaqoh lagi, nggak dibayar lagi. Halaqohnya itupun gak sebulan sekali atau seminggu kali, tapi dua kali tiap minggu, ya, dua kali tiap minggu. Belum lagi kunjungan-kunjungan beliau yang rutin setiap minggu ke kos-kosan kami. SubhanaLlah.. Benar-benar “aneh” musyrifku ini. Kok mau-maunya gitu lho..

Al-Quran, itulah yang menggerakkan kita untuk capek-capek kesini, yang menggerakkan kita untuk terus bergelut di jalan dakwah. Al-Quran-lah yang telah menuntun kita untuk melakukan kerja sebagaimana kerjanya para Nabi, mengemban dakwah.

Ya, memang bab yang dibahas waktu itu adalah “Memelihara al-Quran”. Dan beliau menceritakan bagaimana para sahabat yang mulia memelihara al-Quran. Para sahabat RasulaLlah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membasahi lisannya dengan al-Quran, membacanya dengan sungguh-sungguh, menelaah ayat-ayatnya, mengamalkan isinya dan mendakwahkannya, hingga jari-jemarinya pun menjadi saksi, seolah-olah mereka seperti al-Quran yang berjalan. Jiwa merekapun tergetar oleh ayat-ayat adzab, dan hati mereka pun menjadi senang karena ayat-ayat rahmat. Air mata mereka bercucuran karena tunduk terhadap kemukjizatan dan keagungannya, serta patuh terhadap hukum-hukum dan hikmahnya.

Sesuatu yang paling berharga bagi kaum Muslim umumnya, dan para pengemban dakwah khususnya, adalah bahwa hendaknya al-Quran senantiasa menjadi penyiram hati mereka, dan teman setia yang mengiringi setiap langkah mereka. Karena al-Quran akan membimbing mereka untuk meraih semua kebaikan, dan mengangkat kedudukan mereka lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Mereka harus senantiasa memeliharanya di tengah malam dan penghujung siang, dengan membaca, menghafal dan mengamalkannya, sehingga mereka akan menjadi sebaik-baik generasi khalaf, mewarisi generasi salaf yang terbaik.

Begitulah isi paragraf ketiga dari kitab yang sedang kami bahas bab Memelihara al-Quran.

Kita semua tahu, saat ini, al-Quran ditempatkan di hati-hati kaum muslimin tidak pada tempatnya. Kaum Muslimin saat ini cenderung hanya menempatkan al-Quran dalam lemari-lemari mereka yang rapat tertutup debu, sehingga hati merekapun tertutupi dari hidayah yang ditunjukkan oleh al-Quran. Mereka tahu bahwa kitab mereka itu al-Quran, tetapi mereka tidak meyakini kebenaran al-Quran, terbukti, dalam hati mereka masih ada rasa keberatan jika al-Quran memerintahkan mereka untuk berjihad, jika al-Quran memerintahkan mereka untuk menegakkan hukum qishosh, jika al-Quran memerintahkan mereka untuk menutup aurat, memakai jilbab dan mengenakan kerudung secara sempurna. Jiwa mereka terbawa arus dunia yang begitu kencangnya menerpa, hingga mereka tak mampu melawannya. Hanya orang-orang yang “aneh” sajalah yang bisa melawannya.

Ya, orang-orang yang “aneh”, orang-orang yang menghabiskan waktu mereka di jalan dakwah, orang-orang yang memeras tenaga dan jiwa mereka untuk menerapkan al-Quran, yang tega menghabiskan kapasitas memori otaknya untuk memikirkan keterpurukan umat, menyeru umat menuju jalan yang Haq, dan menjauhkan mereka dari jalan yang bathil.

Inilah orang-orang yang sebagian besar masyarakat saat ini menyebutnya sebagai orang-orang “aneh”, orang-orang yang tidak silau dengan gemerlapnya uang, berlimpahnya harta benda, tingginya jabatan, atau banyaknya gelar. Mereka inilah orang-orang yang dalam hati mereka terkatakan, “Hanya Ridho dan pahala dari Allah-lah yang kami harapkan, karena Dialah penguasa hari dimana kami akan hidup abadi selamanya, ya, selamanya, abadi

Huuuuhhhhh……. BismiLlahirrohmaanirrohiim, kini saatnya bagi diriku, untuk menjadi orang “aneh”, Ya Allah.. ridhoi lah.. AlhamduliLlah..

“Akan datang suatu kaum kepada Allah pada hari kiamat nanti. Cahaya mereka bagaikan cahaya matahari.

Abu Bakar berkata, “Apakah mereka itu kami wahai RasuluLlah?”

RasuluLlah bersabda, “Bukan, tapi kalian mempunyai banyak kebaikan. Mereka adalah orang-orang fakir yang berhijrah. Mereka berkumpul dari berbagai penjuru bumi.”

Kemudian beliau bersabda, “Kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing, kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing.

Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang terasing itu?”

Beliau SAW bersabda, “Mereka adalah orang-orang shalih, yang jumlahnya sedikit diantara manusia yang buruk. Orang yang menentang mereka lebih banyak dari pada orang yang menaatinya.

(HR Ahmad dan ath-Thabraani dari Abdullah bin Amru, ia berkata: Pada suatu hari saat matahari terbit aku berda di dekat Rasulullah SAW., lalu beliau SAW bersabda (yang artinya): [seperti hadits diatas]… al-Haitsami berkata hadits ini dalam al-Kabir mempunyai banyak sanad. Para perawinya shahih).

(Hanif al-Falimbani, Yogyakarta, 14 Maret 2007, 11.25pm)

Tasyahud Akhir Dalam Shalat Dua Rakaat, Duduknya Tawarruk Atau Iftirasy?

Ditulis dalam al-Mustanir pada 1:03 am oleh Hanif al-Falimbani

Sebelum masuk ke pembahasan judulnya, saya akan menjelaskan sedikit tentang apa itu Tawarruk, Iftirasy, dan Tasyahud Akhir.

Duduk tawarruk yaitu duduk dengan meletakkan pinggul dilantai dengan mengeluarkan telapak kaki yang kiri (melalui bawah tulang kering kaki kanan) dan menegakkan telapak kaki yang kanan. Atau biasanya kita duduk seperti ini di rakaat terakhir sebelum salam.

Duduk iftirasy yaitu duduk dengan menduduki telapak kaki kirinya dan menegakkan telapak kakinya yang kanan. Atau biasanya kita duduk seperti ini pada tasyahud awal.

Tasyahud Akhir adalah duduk tasyahud setelah sujud yang kedua pada rakaat terakhir dalam suatu shalat. Artinya, duduk sebelum kita melakukan salam.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Abu Humaid As-Sa’idi yang menyebutkan :

Jika duduk dalam raka’at kedua, beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) duduk dengan menduduki telapak kaki kirinya dan mengakkan telapak kakinya yang kanan, sedang jika duduk dalam raka’at terakhir, beliau mengelaurkan telapak kakinya uyang kiri (melalui bawah tulang kering kaki kanan) dan mengakkan telapak kakinya yang kanan, sementara beliau duduk di tempat duduknya (dilantai)” (HR Bukhari)

Baik, sekarang kita masuk ke dalam pembahasan judulnya. Ahlul ilmi berbeda pendapat tentang kapan duduk tawarruk, apakah ada dalam tasyahud awal atau hanya ada dalam tasyahud akhir.

Menurut Mazhab Imam Malik, duduk tawarruk ada dalam tasyahud awal dan tasyahud akhir.[1] Jadi anda jangan heran atau kaget dan gelisah, jika ada orang yang ketika duduk tasyahud awal pada shalat maghrib tetapi dia malah duduk tawarruk. Ada dua kemungkinan, dia menggunakan mazhab Maliki dalam shalatnya atau memang dia lupa.

Menurut Mazhab Imam Abu Hanifah, baik dalam tasyahud awal ataupun dalam tasyahud akhir, cara duduknya adalah duduk iftirasy.[2] Jadi jangan heran dan gelisah, ketika ada orang yang ketika duduk dalam tasyahud akhir pada shalat maghrib tetapi dia malah duduk iftirasy. Ada dua kemungkinan, dia menggunakan mazhab Abu Hanifah dalam shalatnya atau memang dia lupa dan tidak sadar.

Menurut pendapat Imam Ahmad, setiap shalat yang didalamnya terdapat 2 tasyahud, cara duduknya dalam tasyahud akhir adalah dengan duduk tawarruk, sedang dalam shalat yang didalamnya tidak terdapat 2 tasyahud maka cara duduknya adalah dengan duduk iftirasy.[3] Jadi jangan heran atau sedih ketika anda melihat orang yang shalat shubuh dua rakaat, tetapi dalam tasyahud akhirnya dia malah duduk iftirasy, atau duduk seperti duduk tasyahud awal. Kemungkinannya, dia menggunakan pendapat Imam Ahmad tadi.

Menurut pendapat Imam Syafi’i, bahwa dalam tasyahud yang terjadi sebelum salam (baik dalam shalat yang 2,3, maupun 4 rakaat, atau tasyahud akhir), cara duduknya adalah duduk tawarruk, sedang pada tasyahhud yang lain, cara duduknya adalah dengan duduk iftirasy[4]. Dan inilah yang dipahami kebanyakan umat Muslim di Indonesia yang memang sebagian besar menggunakan mazhab Imam Syafi’i dalam shalatnya.

Imam Nawawi berkata dalam Syarhnya 5/84[5]:

Adapun menurut mazhab Syafi’i, adalah duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir; hal ini didasarkan pada Hadits Abu Humaid As-Sa’idi, dan aku telah mendapatkan Hadits ini dalam Shahih Bukhari yang mana hadits ini dengan jelas menerangkan perbedaan cara duduk dalam kedua tasyahud. Imam Syafi’i berkata: ‘Hadits-hadits yang menjelaskan tentang duduk tawarruk atau duduk iftirasy adalah bersifat mutlaq. Didalamnya tidak dijelaskan secara rinci apakah duduk tawarruk atau duduk iftirasy itu dikerjakan dalam kedua tasyahud atau dalam salah satu dari kedunya. Namun Abu Humaid telah menjelaskan hal ini dan ini diperkuat dengan Hadits yang aku temukan bahwa mereka (para sahabat) menyebutkan tentang dikerjakannya duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir. Demikianlah yang dijelaskan (dalam Hadits Abu Humaid). Karenanya, sudah seharusnya bagi kita utuk mengambil kesimpulan dari dalil yang mujmal ini, Wallahu a’lam’”

Dalam hadits lain disebutkan :

Sehingga jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berada pada raka’at yang padanya terdapat salam, cara duduk beliau adalah dengan mengeluarkan telapak kakinya yang kiri dan duduk tawarruk dengan pantat dan paha sebelah kiri. “Mereka (Para shahabat Abu Humaid) berkata: “Engkau benar! Memang demikianlah cara beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat.” (HR Abu Dawud, Dishahihkan Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/141).[6]

Bahkan menurut pengungkapan dari Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam buku terjemahan dari bahasa Arab karangan beliau yang berjudul “Tata Cara Shalat Nabi (Shalatul Mukmiin) ” halaman 187 terbitan Irsyad Baitus Salam, bahwa beliau pernah mendengar dari Syaikh Bin Baz –rahimahuLlah- berkata sewaktu mensyarahi Ar-Raudh 2/82: “Sunnahnya, adalah duduk tawarruk dalam tasyahud akhir dengan menegakkan telapak kaki kanan, sedang dalam tasyahud awal adalah duduk dengan cara menduduki telapak kaki kiri dan menegakakn telapak kaki kanan.

Sedangkan kita ketahui bahwa yang dinamakan tasyahud akhir adalah duduk sebelum salam, baik shalatnya itu dua rakaat, tiga rakaat maupun empat rakaat. Demikianlah yang afdhal, yakni duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir, dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan yang demikian.[7]

Setelah melihat perbedaan dikalangan ulama Salaf tentang hal ini, maka tidak selayaknya kita yang “baru kemarin sore” mbaca al-Quran ini mengatakan saudaranya yang lain yang berbeda cara duduknya pada tasyahud akhir dalam shalat dua rakaat sebagai ahlul bid’ah, perlu diketahui, hal itu amat menyakitkan, amat menyakitkan wahai saudaraku…

Indah sekali jika yang ada dalam benak kita seperti apa yang dikatakan Imam Syafi’i, “Pendapatku benar, tetapi masih mungkin mengandung kesalahan, dan pendapat anda salah tapi masih mungkin mengandung kebenaran”. SubhanaLlah..

(Hanif al-Falimbani, Yogyakarta, 15 Maret 2007, 01.16am)


[1] Lihat catatan kaki Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam buku terjemahan dari kitab bahasa Arab karangan beliau yang berjudul “Shalatul Mu’miin / Tata Cara Shalat Nabi (edisi bahasa Indonesia)” halaman 182-183 terbitan Irsyad Baitus Salam cetakan ke-10. (Baca : Zaadul Ma’ad (oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyah-red.) 1/243, Syarh Shahih Muslim oleh an-Nawawi 5/84, Nailul Authar (oleh asy-Syaukaniy-red.) 2/54, al-Mughni (Oleh Ibnu Qudamah-red.) 2/225-228.)

[2] Idem.

[3] Idem.

[4] Idem.

[5] Idem.

[6] Ibid, halaman 184.

[7] Ibid, halaman 184-187.

03.12.07

Mau Kasih Judul Apa?

Ditulis dalam Tumpah Hati pada 6:32 pm oleh Hanif al-Falimbani

Waktu saya ngeliat tulisan di salah satu blog, saya jd inget waktu Mas Titok ngisi Kajian di Masjid Mujahidin UNY, beliau kurang lebih bilang gini :

“Kalau antum diizinkah oleh Allah untuk mengarang sebuah novel yang didalamnya berisi cerita riwayat hidup antum mulai dari umur nol tahun hingga ajal menjemput, antum ingin kasih judul novel itu apa.. antum ingin kasih judul novel itu apa..? Apakah judulnya itu ‘Cerita hidup tentang seorang Insinyurkah?? Programmerkah?? Ilmuwankah?? Kimiawankah?? Professorkah??’ Atau satu kata saja, antum beri judul novel itu dengan kata ‘ASY-SYAHIID..’ “

SubhanaLlah.. waktu itu, saya langsung merinding…

Gimana.. kalau anda ingin kasih judul apa? Samakah? atau bedakah?

(Ingat, Satukan pikiran dan perasaan anda.)

03.05.07

Lulus UGM, Mau Jadi Jongos atau Pengkhianat?

Ditulis dalam Tumpah Hati pada 12:47 am oleh Hanif al-Falimbani

Kalian itu kuliah disini bukan mau jadi apa-apa selain jadi kader-kader Kolonialis!!

Begitulah kurang lebih teriak Bang Soni-panggilan gaul Revrisond Baswir-kepada ratusan audiens yang memadati UC (University Center) UGM. Orang yang mengagumi Bung Karno inipun mengaku, kalimat itupula yang dia ucapkan didepan para mahasiswanya. Bang Soni pun menuturkan bahwa dia sangat sedih ketika melihat banyak mahasiswa yang rela antri untuk bayar registrasi, tapi saat dia lulus cuman jadi-maaf- jongos. Berarti mereka itu antri untuk jadi jongos.

Itulah sepenggal kejadian dalam Seminar Nasional yang bertema “Disfungsi Intelektual dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam (Refleksi kasus Natuna)”, seminar ini diadakan oleh KIMM (Kajian Ilmiah Mahasiswa Muslimah) dan BEM FE UGM. Pembicara yang hadir yaitu Dr. Ing. Kusnanto (Ketua Jurusan Teknik Fisika UGM), Revrisond Baswir (Dosen FE UGM/Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM), dan Ir. Dwi Condro Triono, M.Ag (Anggota MUI, HTI, Dosen STEI Hamfara). Ditambah dua orator, dari BEM FE UGM dan Ketua Muslimah HATI (Harmoni Amal Titian Ilahi)-ITB.

Seminar ini diawali dengan orasi dari BEM FE UGM. Orator mengajak metode pendidikan yang ada saat ini agar memandang masalah dari berbagai sudut pandang, karena siapa tahu, salah satu sudut pandangnya adalah sudut pandang yang benar. Orasi kedua dilanjutkan dengan pemaparan data-data yang sangat rijit mengenai Sumber Daya Alam yang ada di Indonesia, dan apa yang telah, sedang dan akan dilakukan ITB dalam me-resource-nya, hal ini dipaparkan oleh Ketua Muslimah HATI-ITB yang juga mahasiswi Teknik Kimia ITB. Satu hal yang menarik dari data rinci yang dia paparkan adalah bahwa ternyata Indonesia tidak perlu pusing-pusing memikirkan sumber energi alternatif, seperti solar, biodiesel, biofuel, atau bio-bio yang lain. Karena sejatinya Indonesia itu punya kekayaan alam yang luar biasa banyaknya, yang mestinya memikirkan energi alternatif itu adalah negara-negara yang menjajah Indonesia dengan perusahaannya seperti Chevron, Halliburton, Exxon, dll, karena merekalah sebenarnya yang tidak punya SDA.

Seminar mulai memasuki pemaparan dari para pembicara. Pembicara pertama, Dr. Ing. Kusnanto menilai bahwa diperlukan sikap profesionalitas dalam mengolah SDA, agar hasil yang didapat lebih maksimal dan sempurna. Suasana menjadi hangat ketika seminar memasuki pemaparan Bang Soni. Beliau langsung mengambil tempat di podium, dan mengatakan bahwa tidak setuju dengan judul Seminarnya, judul yang diusulkannya adalah “Pengkhianatan Intelektual dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam”. Dengan berapi-api, beliau melanjutkan bahwa mahasiswa lulusan UGM yang masuk ke perusahaan-perusahaan asing yang menyedot kekayaan alam Indonesia tidak beda dengan pengkhianat bangsa. Walau gaji yang mereka dapatkan itu besar namun jika dibandingkan dengan kekayaan alam negeri ini yang disedot, sungguh tidak ada apa-apanya, sehingga pantaslah mereka disebut sebagai-maaf- kacung murahan.

Selain itu, beliau memaparkan betapa peran mafia berkeley dalam menggolkan UU Penanaman Modal asing di pertengahan tahun 60-an menjadi gerbang awal para ‘penjajah’ untuk kembali menjajah Indonesia. Karena ketika Soeharto pertama kali menjadi presiden waktu itu didirikan apa yang disebut dengan CGI (Consultative Group of Indonesia), dan yang menjadi ketuanya adalah Belanda. Bisa dibayangkan, betapa bodohnya kita, lepas dari penjajahan fisik ke penjajahan ekonomi yang lebih parah, keluar dari lubang biawak, masuk ke lubang buaya.

Belum selesai sampai disini, dengan semangat demonstran yang menggebu-gebu, bapak yang sudah separuh baya ini mengatakan tanpa tendeng aling-aling bahwa sebenarnya yang menjadikan Indonesia terpuruk seperti ini adalah UGM, dan juga universitas-universitas lain seperti ITB dan UI. Mengagetkan memang, beliau beralasan bahwa stakeholder, pemegang kebijakan mulai dari Presiden, menteri dan pejabat-pejabat terkait mulai dari era kemerdekaan sampai sekarang merupakan lulusan universitas yang katanya terkemuka ini. Saat ini saja, setidaknya Menko Ekuin dan Menteri Keuangan dipegang oleh lulusan UGM. Dan ini kembali membuktikan, peran UGM amat buruk dalam membangun kepribadian bangsa, karena kurikulum yang diajarkan adalah kurikulum yang memang didesain agar para lulusannya menjadi antek-antek kolonialis. Walau pintar tapi yang ada dalam pikiran mereka tidak jauh dari kaya, rumah mewah, istri cantik atau suami ganteng, punya anak pun diusahakan nantinya mewarisi jabatan mereka sebagai jongos. Dan banyak lagi data-data lain yang akan membuat kita tercengang, tertawa, sekaligus sedih, betapa nestapanya negeri ini.

Di sesi terakhir, Ustadz Condro-begitu, Bang Soni memanggilnya- memaparkan sebuah tingkatan pendidikan yang betul-betul brilian dan orisinil. Dengan gaya bicara yang diselingi humor-humor renyah, beliau membelalakkan mata kita bahwa pada faktanya, pendidikan yang ada di Indonesia mulai dari Play group sampai S3 hanya sampai pada tingkatan ketiga dari enam tingkat pendidikan yang beliau konsepkan. Tingkat pertama merupakan tingkatan anak Playgroup sampai SMA, yaitu bisa meng-identifikasi fakta. Tingkatan kedua, yaitu tingkatan dimana seseorang mampu melihat lebih mendalam dari sebuah fakta, atau bisa dikatakan dia adalah seorang yang mengerti tentang ilmu murni dari suatu fakta, anak MIPA misalnya, kimia murni, fisika murni, matematika murni, dsb.

Tingkatan ketiga adalah tingkatan dimana seseorang mampu melakukan rekayasa dari ilmu murni yang didapatkannya, contohnya adalah engineering, tingkatan ini banyak dipegang oleh anak-anak jurusan teknik, teknik kimia, teknik fisika, dan juga jurusan sosiatri yang merekayasa ilmu sosiologi. Para pencari ilmu tingkat S2 maupun S3 pun tidak keluar dari Tingkat tiga ini, hanya saja bidang yang mereka geluti lebih spesifik. Nah.. pendidikan di Indonesia ini didesain mandeg sampai pada tingkatan ketiga ini. Lantas bagaimana tingkatan keempat, kelima dan keenam?

Ustadz Condro yang juga anggota Majelis Ulama Indonesia ini men-jlentreh-kan dengan tenang dan kalem bahwa tingkatan keempat itu adalah tingkatan dimana orang yang telah mencapai tingkatan ketiga berhenti sejenak lalu merenungi, Untuk apa dia hidup? Darimana dan akan kemana mereka setelah kehidupan ini? Mendalam sekali, hingga orang yang telah mendapatkan jawaban yang benar dari pertanayan-pertanyaan itu akan menjadikan jawaban itu sebagai asas dalam kehidupannya, poros bagi langkahnya, dan menjadi kacamata ketika dia memandang sesuatu. Atau dalam bahasa Islam, unsur yang menjadi kacamata, poros dan asas itu dinamakan Aqidah.

Tingkatan kelima dan keenam adalah ketika Aqidah yang telah diyakininya sebagai kebenaran itu diterapkan dalam kehidupan nyata, inilah yang dinamakan Syariah. Bukan hanya diangan-angan atau dibuku-buku. Sehingga masalah-masalah yang ada pada dunia yang maju ini mampu dipecahkan oleh orang yang telah mencapai tingkatan keenam dengan menggunakan standar/aqidah yang menjadi way of life-nya tadi, inilah tingkatan yang hanya bisa dicapai oleh orang yang bernama Mujtahid. Hal ini sangat beralasan, karena seorang mujtahid, sebelum mengeluarkan fatwa tentang suatu fakta, maka dia harus tahu sedalam-dalamnya fakta yang akan dia hukumi itu. Misal saja, seorang mujtahid haruslah tahu fakta tentang internet atau jaringan sedalam-dalamnya ketika ia ingin memfatwakan hukum aktivitas Hacker atau Cracker dalam pandangan Islam.

Walhasil, sesungguhnya merupakan harga yang pantas jika mujtahid seperti Imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah, Hambali namanya tetap harum hingga sekarang, kitab-kitabnya yang berumur ribuan tahun hampir tiap hari dirujuk oleh para ulama jaman sekarang. Atau orang seperti Ibnu Rusyd, pengarang kitab perbandingan madzhab terkenal di kalangan anak IAIN (sekarang UIN), Bidayatul Mujtahid. Kitabnya yang lain tentang kedokteran yang berjudul Kulliyyat fi ath-Thibb (16 jilid) juga menjadi kitab rujukan di hampir seluruh Universitas di Eropa hingga saat ini.

Pertanyaannya, klo memang Islam itu rahmat bagi seluruh alam, apa iya, ada dalil tentang pengelolaan sumber daya alam? Jawabnya, Ada, Islam dalam Sistem Ekonomi Islam juga mengatur pengelolaan sumber daya alam. Salah satu contoh kecilnya, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih yang sangat terkenal :

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ الْمَاءِ وَالْكَلإَِ وَالنَّارِ

al-Muslimuuna syurokaau fii tsalatsin al-ma’i wal kala’i wan naari” [Kaum Muslimin itu berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput (hutan), air, dan api (energi) (HR Abu Dawud dan Ahmad)].

buku KhilafahDan satu hal yang paling penting adalah bahwa Sistem Ekonomi Islam itu akan sempurna dan benar-benar dirasakan rahmatnya oleh seluruh alam ketika sistem pemerintahan yang mengatur kehidupan masyarakatnya juga merupakan sistem yang didasarkan kepada al-Quran dan As-Sunnah, sistem itu tiada lain tiada bukan adalah sistem Khilafah Islamiyyah.

Oke, sekarang mumpung masih didunia, silahkan anda memilih, karena anda memang masih bisa memilih; Lulus dari UGM, ingin menjadi jongos atau pengkhianat? Ataukah ingin melepaskan diri dari itu semua, yaitu dengan melepaskan penghambaan kepada manusia menuju penghambaan sepenuhnya kepada Allah robbul izzati? Jawaban ada ditangan anda, ya benar, ada ditangan anda. Ya Allah saksikanlah, saya telah menyampaikannya..

[Hanif al-Falimbani]

(Yogyakarta, 5 Maret 2007, 06.30am)

03.03.07

Bagai Cabe Merah Dan Cabe Hijau

Ditulis dalam Tumpah Hati pada 1:03 am oleh Hanif al-Falimbani

Permulaan bulan Maret ini terasa begitu spesial bagiku. Bukan karena mendapat kiriman dari orangtua, karena ini sudah biasa tiap bulan. Dan juga bukan karena pinanganku diterima, karena memang aku belum pernah meminang siapa-siapa. Tetapi ide untuk mendiskusikan suatu hal yang menurutku amat urgen akhirnya teraplikasi juga.

Tepat tanggal 1 Maret 2007 di Sayap Selatan Masjid Kampus UGM, sore hari yang cerah selepas shalat Ahsar terjadilah sebuah kajian, kajian yang berisi bayan (penjelasan) dari seorang Ustadz, anggota sebuah gerakan dakwah yang ingin melanjutkan kembali kehidupan Islam.

Penjelasan dari Ustadz Titok itu bagai menyibakkan awan gelap yang menyelimuti alam pikiranku selama ini. Penjelasan itu menurutku sangat mendalam sekali, walau dengan kerendahan hatinya, beliau menyatakan bahwa apa yang beliau lakukan barulah laksana menyentuhkan satu ujung jari ke kulit terluar dari lautan ilmu yang luas. Yang dengan kelemahan itu kami bertambah cinta kepada para ulama dan bertambah kecil di hadapan Allah Ta’alaa.” Begitu, tulis beliau dalam makalahnya.

Sejak mengenal Islam lebih intensif kelas 2 SMA, aku menjadi sangat bersemangat belajar agama yang dipeluk oleh Michael Jackson ini. Sebenarnya, di Palembang sana, aku sudah ikut kajian umum sejak kelas 3 SMP, tapi karena aku pindah ke Yogya, aku jadi tidak bisa ikut kajian itu lagi.

Masih melekat erat dalam pikiranku ketika itu, saat-saat yang kutunggu adalah kajian yang membahas masalah pacaran. Tiba saat tanya jawab, ada salah seorang remaja yang umurnya lebih tua dariku menanyakan tentang pacaran Islami, adakah? Lalu dijawab dengan tenang dan kalem oleh Ustadz itu, “Ada, tetapi setelah menikah. Klo sebelum menikah, tidak ada.” Jujur, pada saat itu, mungkin bukan aku saja yang kecewa dengan jawaban itu, hampir semua orang kecewa, terutama yang remaja. Walau aku sudah dengar jawaban tentang bagaimana hukum pacaran dalam Islam, tetapi perasaanku belum menyatu dengan Islam. Di sekolah, walau aku tidak pernah pacaran, tetapi pada dasarnya akulah yang menjadi pemicu bagi mereka yang ingin pacaran. Aku sering membuatkan “kata-kata gombal” untuk teman-temanku yang ingin “menembak” seorang wanita yang diincarnya. AstaghfiruLlahal ‘Azhiim.

Itu saat aku SMP, kembali ke masa SMA kelas 2. Suatu hari, saat jam istirahat, temanku yang juga anak SDI (Sie Dakwah Islam) memberikan sebuah makalah yang berisi tentang sesatnya beberapa gerakan dakwah, salah satunya adalah gerakan dakwah yang juga diikuti oleh ustadz yang sering mengisi kajian umum di masjid dekat rumahku di Palembang.

Aku yang waktu itu lagi seneng-senengnya jadi orang Islam yang kaffah malah jadi down. “Benarkah, Ustadz Mahmud itu sesat?”, gumamku dalam hati. Aku hampir tidak percaya hal itu, tapi biarlah, aku mencoba untuk meng-iya-kan apa yang ada di makalah itu. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, aku ikuti kajian ustadz-ustadz di Masjid Kampus UGM dan Masjid al-Hasanah depan Mirota Kampus, tempat-tempat kajian ini ditunjukkan juga oleh temanku yang bawa makalah itu-semoga Allah selalu melindunginya-. Betapa kagetnya, ketika suatu hari aku mendengar kajian dari salah sorang ustadz yang memfatwakan bahwa menghadiri pengajian yang diisi oleh Ustadz Ja’far Umar Thalib adalah haram.

Aku kembali terguncang. Di saat yang sama aku mendapat tawaran untuk halaqoh di sebuah gerakan yang tercatat sebagai gerakan yang sesat dalam makalah yang diberikan oleh temanku. Agak lama kuberpikir, akhirnya kuterima.

Aku penasaran dan kubuka kembali makalah itu, dimanakah letak kesesatan gerakan yang didirikan oleh Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani-semoga Allah merahmatinya- ini. “Hadits Ahad tidak bisa dijadikan dalil dalam perkara-perkara aqidah”, inilah titik pangkal utama kesesatan gerakan ini, begitu kata makalahnya. Lalu aku coba tanyakan ini pada mushrif ku, tapi aku merasa kurang puas. Aku mulai membandingkan pendapat yang bertentangan dari majalah ke majalah dan dari buku ke buku. Sejurus kemudian, aku mulai berselancar di internet, tak beda, polemik ini juga ramai dibicarakan di internet. Suhu yang terasa dari diskusi-diskusi yang ada di dunia maya ini sangat panas, penuh kebencian, dan sering terlontar kata-kata yang kasar dari masing-masing pihak. Awalnya aku hanya sebagai penonton, tapi lama kelamaan aku mulai memegangi salah satu pendapat dan mencoba untuk membenturkannya dengan pendapat lain. AlhamduliLlah, pendapatku ini cukup kuat untuk sekadar dipatahkan. Yang pada akhirnya pendapat inilah yang aku pegangi sampai sekarang bahkan mungkin yang akan datang, insya Allah.

Namun, setelah mendengar penjelasan dari Ustadz Titok kemarin, aku mulai sadar bahwa pendapat yang aku pegangi ini seperti cabe merah, dan pendapat yang berseberangan dengan pendapatku itu seperti cabe hijau. Beda warna, bentuk, dan jenis masakannya, tetapi sebenarnya, fungsinya sama saja, untuk membuat suatu masakan itu terasa pedas.

Begitu juga dengan polemik tentang hadits ahad. Titik perbedaannya memang terletak pada banyak hal, antara lain, apakah hadits ahad itu berfaedah kepada keyakinan 100% atau tidak. Lalu, apakah hadits ahad sah dijadikan dalil dalam perkara aqidah. Yang kemudian berpangkal kepada, apa arti aqidah itu sendiri. Ternyata, usut punya usut, pengertian aqidah yang dipahami oleh ahli ushul fiqih dan ahli hadits itu berbeda. Ahli ushul fiqih punya “garis yang lebih tebal” dari ahli hadits. Intinya, aqidah menurut pengertian ahli ushul fiqih jika salah satu perkaranya ditolak, dapat berimplikasi kepada kekufuran, sedangkan ahli hadits berpendapat bahwa ada yang berimplikasi kepada kukufuran dan ada yang tidak sampai berimplikasi kepada kekufuran jika menolaknya.

Ahli ushul fiqih yang didalamnya terdapat nama-nama ulama klasik seperti al-Amidi (al-Ihkam), al-Ghozali (al-Mustashfa’), Asy-Syaukani (Irsyadul Fuhul), al-Bazdawiy (Kasyful Asrar), al-Asnawy (Syarh al-Asnawy), dan yang kontemporer seperti an-Nabhani (Syakhshiyah Islamiyah), Abu Zahrah (Ushul Fiqh), Abdul Wahhab Kholaf, Mahmud Syaltut (Aqidah wa Syariah). Dan beberapa ulama kontemporer seperti Sayyid Quthb, al-Buthi, al-Qorodhowy, Muhammad al-Ghozali. Serta beberapa ahli hadits klasik seperti Imam an-Nawawi (Syarh Shahih Muslim), al-Khotib al-Baghdadi (al-Kifayah) dan juga al-Qosimi (Qawa’idut tahdist) berpendapat bahwa hadits ahad yang shahih tidak berimplikasi kepada keyakinan 100%, sehingga tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah aqidah. Pendapat ini juga diadopsi oleh para ahli ushul fiqih dari madzhab tiga imam besar; Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i.

Lihat saja pernyataan Imam an-Nawawi, pengarang kitab terkenal Riyadhus Shalihin yang juga bermadzhab Syafi’i berikut ini :

“Inna ishuladdiini wajibul i’tiqoodi bihaa ‘an thoriiqittawaaturi, ammal furuu’u falaayajibu tawaafuruttawaaturi

(Ushuluddin (Aqidah) harus diyakini berdasarkan pada sanad yang mutawatir, sedangkan masalah furu’ dalam fiqih tidak harus mutawatir) [Pernyataan ini dikutip dari buku Hadits Ahad dalam Aqidah, karya Syaikh Fathi Muhammad Salim, halaman 139 kitab Imam Nawawi yang dimaksud adalah Syarh Shahih Muslim, tt.]

Sedangkan para ahli hadits klasik seperti Ibnu Sholah (Muqaddimah) yang berpendapat bahwa hadits ahad yang shahih berfaedah kepada keyakinan 100%. Ibnu Hajar al-Asqolani dalam al-Nukhbah berkata : “Khabar (hadits ahad) yang diperkuat dengan qarinah (pendukung-pendukungnya) memberikan pengertian ilmu yaqiiny”. Serta Imam Ibnu Hazm dari kalangan ulama Ushul yang juga mengatakan bahwa hadits shahih memberikan pengertian ilmu qath’iy (keyakinan 100%). Yang pada gilirannya menghasilkan kesimpulan, bahwa hadits ahad yang shahih bisa dijadikan dalil dalam masalah aqidah. Pendapat ini juga diadopsi oleh sebagian ulama madzab Hanbaliyah, seperti Syaikhul Islam Imam Ibnu Taymiyah dari kalangan ulama klasik dan nama-nama seperti Syaikh Nashiruddin al-Albani, Syaikh Bin Baaz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh al-Hilaly-Semoga Allah merahmati mereka semua- dari kalangan ulama kontemporer.

Lantas dimana titik persamaannya?

Titik persamaannya adalah pada kapan seseorang itu bisa dikatakan kafir ketika mengingkari suatu dalil. Para ahli ushul akan tetap berkata pada titik aqidah, sedangkan para ahli hadits yang berpendapat hadits ahad berimplikasi kepada keyakinan 100% akan mengatakan titiknya pada pangkal aqidah. Jadi, menurut para ahli hadits, selain qoth’iy dari segi periwayatannya perlu juga sesuatu yang disebut muhkam dalam suatu dalil. Muhkam disini berarti suatu dalil yang mempunyai penunjukkan makna yang jelas. Tidak ada makna lain selain makna yang ditunjukkan oleh dalil itu. Nah.. jika suatu dalil sudah memenuhi kriteria qoth’iy dan muhkam, maka barangsiapa yang mengingkarinya akan jatuh kepada kekafiran.

Perlu diketahui, pendapat seperti ini sama seperti pendapat para ahli ushul. Ahli Ushul Fiqih berpendapat bahwa aqidah harus digali dari dalil yang qoth’iy, baik itu tsubut maupun dalalah-nya. Qoth’iy Tsubut disini berarti sumber periwayatannya 100% dari Rasul SAW, tidak ada keraguan walau setitikpun, tidak bisa tidak, kita seperti dipaksa melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Rasul SAW memang mengucapkannya; ahli hadits mengatakannya sebagai qoth’iy saja. Sedangkan Qoth’iy dalalah disini berarti sama dengan muhkam, yaitu penunjukkan maknanya hanya satu, tidak ada kemungkinan makna lainnya. Nah.. ulama ushul fiqihpun berpendapat bahwa jika suatu dalil telah memenuhi kriteria Qoth’iy tsubut dan dalalah-nya, maka dalil tersebut layak dijadikan dalil dalam perkara aqidah. Sedangkan yang mengingkarinya disebut kafir. Seperti seorang yang mengingkari secara sadar dan tanpa tekanan akan adanya malaikat, hari akhir, atau mengingkari ayat tentang puasa, jihad, qishosh, dan lain-lain maka orang tersebut jatuh kedalam kekafiran.

Pada titik ini tidak ada perbedaan diantara kaum Muslimin termasuk antara ahli hadits dan ahli ushul fiqih, semuanya sama, satu kata, kafir. Namun kembali kepada apakah hadits ahad itu berimplikasi kepada keyakinan 100% (qoth’iy), maka disini memang terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama baik salaf maupun khalaf, baik klasik maupun kontemporer, baik diantara ahli ushul maupun ahli hadits. Namun sekali lagi, kita akan menemukan titik temu yang akan meredam amarah, menurunkan suara yang meninggi, dan mendinginkan jiwa yang panas.

Jujur, jujur, jujur.. Jika anda -yang memegangi pendapat bahwa hadits ahad dapat dijadikan dalil dalam masalah aqidah- bertanya kepadaku dengan pertanyaan: “apakah kamu percaya akan adanya siksa kubur?”, maka aku akan menjawab: “Percaya”, lalu anda akan bertanya lagi, “Kafirkah orang yang mengingkari siksa kubur?”, maka aku akan menjawab, “Tidak, hanya saja orang tersebut tidak banyak baca hadits.”, dan aku yakin inilah jawaban yang juga akan anda jawab, ketika mendapat pertanyaan yang sama.

Terakhir, tulisan ini bukanlah mencari yang paling kuat diantara yang dua. Atau membantah yang satu diantara yang lain. Tetapi tulisan ini sebenarnya hanyalah sebuah refleksi sederhana dari seorang hamba yang telah merasakan bagaimana panasnya perdebatan, tingginya suara, dan bergumulnya amarah ketika berbincang mengenai masalah ini.

Dan satu hal yang wajib diingat, bahwa tulisan ini tidaklah pantas, bahkan sangat tidak pantas disandingkan dengan tulisan siapapun yang membahas masalah yang sama. Karena apa yang aku tuliskan ini tidak sampai menyentuhkan satu jemari seperti yang dilakukan Ustadz Titok, tetapi hanya mencoba menghembuskan udara dingin lagi sejuk ke lapisan kulit terluar dari lautan ilmu yang sangat dalam, agar pori-pori yang ada di lapisan kulit terluar ini menjadi dingin kembali setelah sekian lama merasakan panas. Demikianlah..

[Hanif al-Falimbani]

(Yogyakarta, 3 Maret 2007, 06.21am)