Maret 15, 2007

Tasyahud Akhir Dalam Shalat Dua Rakaat, Duduknya Tawarruk Atau Iftirasy?

Ditulis dalam al-Mustanir pada 1:03 am oleh Hanif al-Falimbani

Sebelum masuk ke pembahasan judulnya, saya akan menjelaskan sedikit tentang apa itu Tawarruk, Iftirasy, dan Tasyahud Akhir.

Duduk tawarruk yaitu duduk dengan meletakkan pinggul dilantai dengan mengeluarkan telapak kaki yang kiri (melalui bawah tulang kering kaki kanan) dan menegakkan telapak kaki yang kanan. Atau biasanya kita duduk seperti ini di rakaat terakhir sebelum salam.

Duduk iftirasy yaitu duduk dengan menduduki telapak kaki kirinya dan menegakkan telapak kakinya yang kanan. Atau biasanya kita duduk seperti ini pada tasyahud awal.

Tasyahud Akhir adalah duduk tasyahud setelah sujud yang kedua pada rakaat terakhir dalam suatu shalat. Artinya, duduk sebelum kita melakukan salam.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Abu Humaid As-Sa’idi yang menyebutkan :

Jika duduk dalam raka’at kedua, beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) duduk dengan menduduki telapak kaki kirinya dan mengakkan telapak kakinya yang kanan, sedang jika duduk dalam raka’at terakhir, beliau mengelaurkan telapak kakinya uyang kiri (melalui bawah tulang kering kaki kanan) dan mengakkan telapak kakinya yang kanan, sementara beliau duduk di tempat duduknya (dilantai)” (HR Bukhari)

Baik, sekarang kita masuk ke dalam pembahasan judulnya. Ahlul ilmi berbeda pendapat tentang kapan duduk tawarruk, apakah ada dalam tasyahud awal atau hanya ada dalam tasyahud akhir.

Menurut Mazhab Imam Malik, duduk tawarruk ada dalam tasyahud awal dan tasyahud akhir.[1] Jadi anda jangan heran atau kaget dan gelisah, jika ada orang yang ketika duduk tasyahud awal pada shalat maghrib tetapi dia malah duduk tawarruk. Ada dua kemungkinan, dia menggunakan mazhab Maliki dalam shalatnya atau memang dia lupa.

Menurut Mazhab Imam Abu Hanifah, baik dalam tasyahud awal ataupun dalam tasyahud akhir, cara duduknya adalah duduk iftirasy.[2] Jadi jangan heran dan gelisah, ketika ada orang yang ketika duduk dalam tasyahud akhir pada shalat maghrib tetapi dia malah duduk iftirasy. Ada dua kemungkinan, dia menggunakan mazhab Abu Hanifah dalam shalatnya atau memang dia lupa dan tidak sadar.

Menurut pendapat Imam Ahmad, setiap shalat yang didalamnya terdapat 2 tasyahud, cara duduknya dalam tasyahud akhir adalah dengan duduk tawarruk, sedang dalam shalat yang didalamnya tidak terdapat 2 tasyahud maka cara duduknya adalah dengan duduk iftirasy.[3] Jadi jangan heran atau sedih ketika anda melihat orang yang shalat shubuh dua rakaat, tetapi dalam tasyahud akhirnya dia malah duduk iftirasy, atau duduk seperti duduk tasyahud awal. Kemungkinannya, dia menggunakan pendapat Imam Ahmad tadi.

Menurut pendapat Imam Syafi’i, bahwa dalam tasyahud yang terjadi sebelum salam (baik dalam shalat yang 2,3, maupun 4 rakaat, atau tasyahud akhir), cara duduknya adalah duduk tawarruk, sedang pada tasyahhud yang lain, cara duduknya adalah dengan duduk iftirasy[4]. Dan inilah yang dipahami kebanyakan umat Muslim di Indonesia yang memang sebagian besar menggunakan mazhab Imam Syafi’i dalam shalatnya.

Imam Nawawi berkata dalam Syarhnya 5/84[5]:

Adapun menurut mazhab Syafi’i, adalah duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir; hal ini didasarkan pada Hadits Abu Humaid As-Sa’idi, dan aku telah mendapatkan Hadits ini dalam Shahih Bukhari yang mana hadits ini dengan jelas menerangkan perbedaan cara duduk dalam kedua tasyahud. Imam Syafi’i berkata: ‘Hadits-hadits yang menjelaskan tentang duduk tawarruk atau duduk iftirasy adalah bersifat mutlaq. Didalamnya tidak dijelaskan secara rinci apakah duduk tawarruk atau duduk iftirasy itu dikerjakan dalam kedua tasyahud atau dalam salah satu dari kedunya. Namun Abu Humaid telah menjelaskan hal ini dan ini diperkuat dengan Hadits yang aku temukan bahwa mereka (para sahabat) menyebutkan tentang dikerjakannya duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir. Demikianlah yang dijelaskan (dalam Hadits Abu Humaid). Karenanya, sudah seharusnya bagi kita utuk mengambil kesimpulan dari dalil yang mujmal ini, Wallahu a’lam’”

Dalam hadits lain disebutkan :

Sehingga jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berada pada raka’at yang padanya terdapat salam, cara duduk beliau adalah dengan mengeluarkan telapak kakinya yang kiri dan duduk tawarruk dengan pantat dan paha sebelah kiri. “Mereka (Para shahabat Abu Humaid) berkata: “Engkau benar! Memang demikianlah cara beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat.” (HR Abu Dawud, Dishahihkan Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/141).[6]

Bahkan menurut pengungkapan dari Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam buku terjemahan dari bahasa Arab karangan beliau yang berjudul “Tata Cara Shalat Nabi (Shalatul Mukmiin) ” halaman 187 terbitan Irsyad Baitus Salam, bahwa beliau pernah mendengar dari Syaikh Bin Baz –rahimahuLlah- berkata sewaktu mensyarahi Ar-Raudh 2/82: “Sunnahnya, adalah duduk tawarruk dalam tasyahud akhir dengan menegakkan telapak kaki kanan, sedang dalam tasyahud awal adalah duduk dengan cara menduduki telapak kaki kiri dan menegakakn telapak kaki kanan.

Sedangkan kita ketahui bahwa yang dinamakan tasyahud akhir adalah duduk sebelum salam, baik shalatnya itu dua rakaat, tiga rakaat maupun empat rakaat. Demikianlah yang afdhal, yakni duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir, dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan yang demikian.[7]

Setelah melihat perbedaan dikalangan ulama Salaf tentang hal ini, maka tidak selayaknya kita yang “baru kemarin sore” mbaca al-Quran ini mengatakan saudaranya yang lain yang berbeda cara duduknya pada tasyahud akhir dalam shalat dua rakaat sebagai ahlul bid’ah, perlu diketahui, hal itu amat menyakitkan, amat menyakitkan wahai saudaraku…

Indah sekali jika yang ada dalam benak kita seperti apa yang dikatakan Imam Syafi’i, “Pendapatku benar, tetapi masih mungkin mengandung kesalahan, dan pendapat anda salah tapi masih mungkin mengandung kebenaran”. SubhanaLlah..

(Hanif al-Falimbani, Yogyakarta, 15 Maret 2007, 01.16am)


[1] Lihat catatan kaki Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam buku terjemahan dari kitab bahasa Arab karangan beliau yang berjudul “Shalatul Mu’miin / Tata Cara Shalat Nabi (edisi bahasa Indonesia)” halaman 182-183 terbitan Irsyad Baitus Salam cetakan ke-10. (Baca : Zaadul Ma’ad (oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyah-red.) 1/243, Syarh Shahih Muslim oleh an-Nawawi 5/84, Nailul Authar (oleh asy-Syaukaniy-red.) 2/54, al-Mughni (Oleh Ibnu Qudamah-red.) 2/225-228.)

[2] Idem.

[3] Idem.

[4] Idem.

[5] Idem.

[6] Ibid, halaman 184.

[7] Ibid, halaman 184-187.

About these ads

30 Komentar »

  1. deKing berkata,

    Assalamu’alaikum Mas Hanichi…
    Pengalaman saya di sini, kalau sholat Jumat (dan juga sholat tahyatul masjid) orang2 melakukan tasyahud akhir dengan duduk iftirasyi.
    Saya sholat di masjid hanya setiap hari Jumat (maklum jaraknya jauh, sekitar 7km naik sepeda), yaitu di Masjid Maroko
    Dan saya amati mereka cuek2 saja ketika mereka melihat beberapa orang duduk tawarruk saat melakukan tasyahud akhir (sholat tahyatul masjid).
    Terima kasih mas
    Wassalamu’alaikum

  2. Hanichi Kudou berkata,

    Wa’alaikumussalaam Kang Deking :-)

    Masya Allah, shalat jum’atnya jauh sekali ya..? Pahalanya lebih gede dong.. ;)

    Klo boleh tau, antum tinggal dimana sih?

    Dan saya amati mereka cuek2 saja ketika mereka melihat beberapa orang duduk tawarruk saat melakukan tasyahud akhir (sholat tahyatul masjid).

    Nah.. memang lebih tepatnya seperti itu Kang, mungkin saja, mereka yang bilang bid’ah itu belum tahu klo ada perbedaan di kalangan ulama salaf. JazakaLlah khoiran Kang atas komentarnya, jangan bosan-bosan ya nasehatin saya.. :-)

    Wa’alaikumussalaam.

  3. nauroh berkata,

    assalamualaikum……..
    af1 kang klo boleh komentar, mungkin orang2 yang cuek saja melihat orang yang duduk tawarruk saat melakukan tashahud akhir (sholat tahyatul masjid) itu adalah orang2 yang belum mengerti hadis yang lebih soheh.
    memang hidayah itu hanya milik Allah…manusia hanya bisa berusaha……
    wallahuallam………..thank’s
    wassalamualaikum….

  4. Hanichi Kudou berkata,

    ‘alaikumussalaam.. WaLlahu a’lam.. Semoga tidak demikian.. dalam hal ini sebaiknya kita bergumam dalam hati, “Pendapatku benar, tetapi masih mungkin mengandung kesalahan, dan pendapat anda salah tapi masih mungkin mengandung kebenaran”

  5. A.Y.A berkata,

    silahkan antum mendengar penjelasan tentang masalah posisi duduk tawaruk/iftirasy pada sholat 2 (dua) rakaat ini di Audio salaf> oleh oleh Syaikh Abdulloh bin ‘Umar al-Mar’i -hafidzahulloh di http://ahlussunnah.web.id/audio/index.php?id=166

  6. Hadi Arnowo berkata,

    Nah, itu baru perbedaan adalah rahmat. Biarkan orang – orang melaksanakan ibadah berdasarkan pendapat yang diyakini sepanjang shahih dari para ulama salaf. Yang suka membesar – besarkan perbedaan kalo nggak kepala batu ya… mungkin ada agenda tersembunyi supaya umat pecah.

  7. ::A.Y.A::

    Syukron atas informasinya.. semoga amal shaleh kita diterima oleh-NYA.

    ::Hadi Arnowo::

    Yup.. setoejoe sekalii..

  8. Zamri berkata,

    Duduk iftiasy atau tawarrukke adalah terpulang kepada keadaan individu itu sendiri. Orang-orang Arab di Masjidil Haram dan Masjid Nabavi duduk iftirsy dengan menegakkan kaki kanannya dan duduk atas telapak kaki kirinya. Inilah yang saya perhatikan.Saya pun gitu tapi tak boleh tegak kaki kanan.

    Orang-orang Aab adalah lebih dekat dengan Rasulullah.
    Harap maaf.

    • Widya Wicaksana berkata,

      Hal ini pernah saya tanyakan kepada seorang ustad. Selain berpegang kepada Mazhab Imam Abu Hanifah, mungkin karena postur mereka yg tinggi besar memang agak menyulitkan untuk posisi duduk tawarruk.

      Terima kasih untuk infonya. Kebetulan dari kemarin sedang kepikiran tentang perbedaan cara duduk tasyahud akhir ini. Terutama dari sisi dalilnya. Karena ibadah kan harus sesuai tuntunan Rasulullah.

      Wallahu a’lam.

  9. Afwan Mas zamri, iya, pendapat saya sama seperti pendapat anda, lantas apa yang harus dimaaf..?

  10. imanov berkata,

    bismi-lLah wa-lhamdu li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu ‘ala rasuli-llah wa ‘ala alihi wa ashhabihi wa mani-ttaba’ahu bi ihsani ila yaumi-ddien

    assalamu ‘alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH

    saya pribadi duduk di tasyahud akhir dengan tawarruk, apakah itu dua atau tiga atau ampat rak’at. sedankan di tasyahaud awwal ber-iftirasyi.

    adapun di masjid di tübingen ini di kedua mesjid yang saya kunjungin, mereka di semua tasyahud, awwal ataupun akhir dengan ber-iftirasyi.

    jamaah kebanyakan dari turki dan arab.

  11. HELMI YATI FADILLAH berkata,

    Memang semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang mk semakin luwes dalam melihat pebedaan dan memberikan pelurusan bijaksana tp sarat makna.

  12. HELMI YATI FADILLAH berkata,

    Betul Mas Setuju. banyak pendapat ulama yang berbeda pendapat (Pur’iyah)menjadi alat pemecah belah ummat. Nah yang selamat adalah cari ilmunya untuk suatu mslh Fiqh jgn berantem dl dg hal yang Fur’iya, ini penyakit masyarakat kita. belum tau ilmunya tp sk MENGHAKIMI.

  13. hilman XTM berkata,

    Asslm…
    duduk iftirasy pada Tasyahud awal dan Duduk Tawarruk pada Tashahud Akhir…
    tapi jika Sholatnya Dua Rakaat Seperti Sholat Subuh…ada yang Duduk tawarruk N ada Juga yang Duduk Iftirasy…
    Tapi Bingung Juga yach pake Yang Mana…???
    Semuanya didasarkan hadis yang Sahih
    tapi law AQ pilih yang Mudah aj…yang Udah Biasa Dikerjain, yang Penting benar N dilandasi Oleh hadis Yang Sahih..
    terimakasih yach kak dh Berbagi pengetahuan
    Wasslm…

  14. amel berkata,

    asw. hal inikan ada khilaf diantara para ulama? jdi mana yg menguatkan kita mslah duduk ini yah itu yg dipakai.klw ana sih krena duduk iftirasy lbh menguatkan ane yah pkai duduk itu. wallahu’alam

  15. Rio berkata,

    Alhamdulillah…..perbedaan pendapat itu indah baik yang menggunakan Iftirasy atau tawarruk pada 2,3 dan 4 rakaat dan lain-lain….masing-masing mahzab memiliki pendapatnya masing2..dan pastinya mereka juga memiliki dasar untuk jadi bahan pertimbangan….jadi ikutilah apa yang baik menurutmu…..apapun perbedaan itu lebih baik dari pada meninggalkan sholat……mohon maaf bila salah kata….

  16. [...] Sedangkan kita ketahui bahwa yang dinamakan tasyahud akhir adalah duduk sebelum salam, baik shalatnya itu dua rakaat, tiga rakaat maupun empat rakaat. Demikianlah yang afdhal, yakni duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir, dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan yang demikian.<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–> [...]

  17. [...] Mazhab Imam Malik, duduk tawarruk ada dalam tasyahud awal dan tasyahud akhir.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> Jadi anda jangan heran atau kaget dan gelisah, jika ada orang yang [...]

  18. erwantara berkata,

    Assalamu’alaikum
    Yang penting sbenarnya niat kita, amal kita kan tergantung dari niat. Insya Allloh ke 2 nya tidak salah. Toh dua duanya punya dasar yang diriwayatkan oleh para ulama salaf. Kalo mikirin orang lain sholat malah gak khusuk ….dong sholatnya. Yakini yang Anda laksanakan itu benar,, itu saja gak usah mikir orang lain.

  19. ahhh,,,,kenapa ada perbedaan pendapat yaa,,,jadi bingung nichh,,,….

  20. luxman berkata,

    Alhamdulillah….tidak ragu2 lagi.

  21. Homer berkata,

    Heya i am for the first time here. I came across this board and
    I find It really useful & it helped me out much. I hope to give
    something back and help others like you aided me.

  22. Highly energetic blog, I loved that bit. Will there be a part 2?

  23. Hi colleagues, how is the whole thing, and what you would like to say concerning this piece
    of writing, in my view its in fact awesome designed for
    me.

  24. Selene berkata,

    It’s actually a cool and helpful piece of info. I’m satisfied
    that you simply shared this helpful info with us.
    Please keep us up to date like this. Thank you for sharing.

  25. Noel berkata,

    I visited several websites but the audio feature for audio songs current at this site is in fact marvelous.

  26. live web cam berkata,

    continuously i used to read smaller content that also clear their motive, and that is also happening
    with this paragraph which I am reading at this place.

  27. I read this post fully concerning the resemblance of hottest and previous technologies, it’s remarkable article.

  28. I think everything said was very reasonable. However, think on this, suppose you added a little content?
    I ain’t suggesting your content isn’t good, however suppose you added a title that grabbed a person’s attention? I mean Tasyahud Akhir Dalam Shalat Dua Rakaat, Duduknya Tawarruk Atau Iftirasy? | Hanichi Kudou is kinda plain. You ought to glance at Yahoo’s
    front page and see how they write article titles to grab viewers interested.
    You might add a video or a picture or two to grab people
    interested about everything’ve got to say. In my opinion, it would bring your posts a little bit more interesting.

  29. I’m truly enjoying the design and layout of your site. It’s a very
    easy on the eyes which makes it much more pleasant for
    me to come here and visit more often. Did you hire out a developer
    to create your theme? Superb work!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: