04.21.07

Habis TRIJI Terbitlah FORJI

Ditulis dalam Tumpah Hati pada 5:17 am oleh Hanif al-Falimbani

Judul diatas bukan dimaksudkan untuk mengingat hari Kartini yang jatuh hari ini, tapi hanya sebagai perumpamaan dari judul Buku yang katanya ditulis oleh Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang” jadi analogi yang dapat ditarik “Triji itu gelap dan Forji itu terang”. Itu benar, Triji yang saya maksudkan adalah 3G, yaitu suatu teknologi broadband (pita lebar) yang di Indonesia berjalan didalam bingkai telepon seluler, kita pasti sudah mengenal bagaimana Telkomsel berkoar-koar dengan Slogan “Satu Dunia Berjuta Aksi”. Lantas, mengapa Triji itu saya katakan gelap? Dan apa itu Forji? Mengapa saya katakan Terang? Baca entri selengkapnya »

04.20.07

Kisah Ubaid bin Umair tentang Ghadhdhdul Bashar

Ditulis dalam Tumpah Hati, al-Mustanir pada 3:53 pm oleh Hanif al-Falimbani

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

 

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

 

Artinya : “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.” (TQS. An-Nuur : 30-31)

matawanitaAbdullah bin Muslim al-‘Ajali menceritakan bahwa di kota Mekkah ada seorang laki-laki yang mempunyai istri yang cantik jelita. Pada suatu hari, sang istri berkaca dan memperhatikan wajahanya yang cantik jelita itu. Lalu, ia berkata kepada suaminya, “Menurut kamu, adakah seseorang yang tidak tergoda dan tertarik ketika melihat wajahku yang cantik ini?” Sang suami berkata, “Ada.” Sang istri berkata, “Siapa?” Sang suami menjawab, “Ubaid bin Umair.” Sang Istri berkata, “Kita buktikan, izinkan aku untuk merayu dan menggodanya.” Sang suami berkata, “Baiklah aku izinkan kamu.” Baca entri selengkapnya »

04.03.07

Aliran Tenaga Dari Bumi Sriwijaya

Ditulis dalam Tumpah Hati pada 3:59 am oleh Hanif al-Falimbani

Beberapa bulan yang lalu aku terperanjat ketika melihat sebuah rekaman video. Rekaman video ini diambil oleh adik kandungku dalam sebuah acara unjuk rasa (Masyiroh) di Kota Palembang. Selain video itu, ada beberapa foto digital yang juga mengambarkan suasana unjuk rasa itu. Yang membuatku lebih terkaget-kaget lagi adalah ketika dalam video dan foto-foto itu terdapat beberapa kiyai yang cukup disegani di Palembang sedang melakukan orasi, sedangkan latar belakangnya berkibar bendera umat Islam berwarna dasar putih dan bertuliskan kalimat tauhid berwarna hitam.

Pertanyaannya, kenapa hal ini begitu spesial buatku? Dulu, aku ingat, waktu kelas tiga SMP aku mewakili takmir masjid dekat rumah untuk menghadiri sebuah acara bedah buku “Negara Islam (ad-Daulah al-Islamiyah)” di IAIN Raden Fatah Palembang. Waktu itu yang hadir tidak banyak dan rata-rata agak tidak setuju dengan konsep yang diagagas Imam an-Nabhani ini.

Ada banyak hal yang sangat mengharukan dalam hati dan fikiranku ketika melihat foto dan video itu. Dan hal-hal itu seakan-akan tidak bisa aku ungkapkan dalam tulisan ini. Terlalu dalam, terlalu mengharukan. Mungkin karena aku begitu tahu bagaimana Ustadz Mahmud awal-awal datang ke Palembang. SubhanaLlah..

Dan keterharuanku semakin menggumpal ketika aku membaca sebuah Akhbar (Kabar), dari majalah al-Wa’ie edisi bulan ini. Rasa-rasanya, sudah tidak sabar aku pulang ke Palembang untuk berkalang tanah disana. Tapi teringat nasehat bahwa dimanapun kita berada, maka disitulah kita selalu dapat menyeru orang kepada Islam, bukan kepada golongan atau partai tertentu. Itulah yang selalu diajarkan kepadaku dalam halaqoh.. AlhamduliLlah..

Wagub Sumsel: Khilafah Menjadikan Hidup Sejahtera

Palembang, Senin, 19 Maret 2007. Wakil Gubernur Sumatera Selatan Prof. dr. H. Mahyudin NS, SPOG yang berbicara sebagai ketua Forum Ukhuwah Ulama-Umaro WagubSumatera Selatan mengatakan, bahwa umat Islam saat ini membutuhkan pemimpin yang mewarisi sifat para khalifah seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Umat juga membutuhkan sistem Khilafah yang bisa menyelesaikan persoalan umat dan bangsa. Hal ini dikemukakan oleh beliau ketika membuka Diskusi Publik dengan tema, “Hidup Sejahtera dan Barokah Dalam Naungan Khilafah”.

Diskusi yang diikuti oleh 600-an peserta dari berbagai kalangan ini diselenggarakan oleh DPD Hizbut Tahrir Indonesia Sumatera Selatan. Prof. Mahyudin juga mengutip sejarawan barat Will Durant yang mengatakan bahwa sistem Khilafah ini berhasil mensejahterakan manusia selama lebih kurang 12 abad.

Buya ThohlonBuya KH Thohlon Abdul Rouf dari pengurus wilayah Muhammadiyah SumSel yang menjadi pembicara pertama dalam diskusi ini mengupas sejarah bahwa di nusantara termasuk di Sumbagsel pernah diterapkan Syariah Islam yang terkenal dengan ‘Undang-undang Simbur Cahaya’ pada masa Kesultanan Palembang Darussalam. Namun, sejak masuknya penjajah maka syariah Islam hilang dari peredaran hingga sekarang.

Mahmud Jamhur

Pembicara lain, Ustadz Mahmud Jamhur dari DPD Hizbut Tahrir Indonesia menekankan pentingnyamenegakkan sistem pemerintahana negara Khilafah ini, karena merupakan kewajiban dalam al-Quran, al-Hadits serta merupakan Ijmak Shahabat.

 

KH AyikPembicara ketiga, KH Ayik Ali Idrus dari Forum Forum Ukhuwah Ulama-Umaro Sumatera Selatan memaparkan derita umat manusia selama 83 tahun hidup tanpa Khilafah. Beliau menekankan perlunya perjuanagan dakwah untuk menegakkan kembali Khilafah ini karena merupakan janji Allah dan prediksi Rasul bahwa Khilafah akan tegak kembali. Beliau yang juga mentan ketua MUI kota Palembang menekankan, inilah saatnya Khilafah memimpin dunia karena Amerika sedang mengalami kebangkrutan, sementara Eropa berseteru antar mereka.

Ratusan peserta yang merupakan ulama dan tokoh masyarakat dari berbagai ormas tampak antusias mengikuti diskusi ini. Dalam sesi tanya-jawab tergambar kerinduan mereka akan sistem pemerintahana Khialfah yang mewarisi sifat para Shahabat. Allahu akbar! [Humas DPD HTI Sumatera Selatan] ~~Diketik ulang dari Majalah al-Wa’ie No. 80 Tahun VII, 1-30 April 2007 / Robi’ul ula 1428H, halaman 41-42~~

(NB: Info Tambahan, foto-foto yang tertampil di tulisan ini diambil pada acara yang berbeda dari acara yang dimaksud oleh artikel. Dan acara Diskusi dalam artikel ini diselenggarakan di Masjid Agung Palembang, dan menurut penuturan adikku, seakan-akan Khilafah akan tegak pada hari itu juga. SubahanaLlah.. ridhoilah Kami Ya Allah..)

[Hanif al-Falimbani, 3 April 2007, 8.25am]