Mei 27, 2007

Kritik Ringkas Qadha’ wa Qadar Menurut Jabariyyah

Ditulis dalam al-Mustanir, Tumpah Hati tagged , , , , , , , pada 10:40 pm oleh Hanif al-Falimbani

Keterpaksaan dan kebebasan manusia dalam berkehendak telah menjadi polemik sejak zaman romawi kuno. Namun banyak yang tidak sadar bahwa pembahasan semacam ini sebenarnya tidak banyak berpengaruh terhadap kemajuan berfikir manusia., bahkan tidak jarang membuat orang menjadi tidak produktif dalam hidupnya dan terkesan hanya berkutat pada masalah yang mengawang-awang, tidak nyata, dan tidak membuahkan hasil yang menggembirakan ketika menemukan sebuah jawaban, melainkan timbul banyak pertanyaan-pertanyaan baru yang seakan-akan tidak ada habisnya.

 

Oleh karena itu, tulisan ini hanyalah akan menjabarkan pendapat faham Jabariyyah mengenai Qadha’ dan Qodar, beserta sedikit tanggapan terhadapnya.

 

Mendudukkan Makna Qadha’ wa Qodar

 

Agar tidak rancu, terlebih dahulu hendaknya didudukkan apa yang dimaksud Qadha’ wa Qadar menurut para mutakallimin, karena memang para ulama memasukkan Jabariyyah ke dalam kalangan ahli kalam (mutakallimin), sehingga terma yang dipakai dalam tulisan ini adalah terma Qadha’ wa Qadar menurut para mutakallimin. Berikut ini adalah poin-poin yang akan mendefinisikan dan mendiferensiasikan Qadha’ wa Qadar menurut para mutakallimin:

 

  1. Kata Qadha’ wa Qadar dengan menggunakan wawu ‘athaf /(و) (qadha wa qadar) tidak terdapat dalam al-Quran. Dikarenakan, Al-Quran tidak pernah menggunakan istilah “qadha’” dan “qadar” secara bersamaan (qadha wa qadar), melainkan di dalam al-Quran hanya dikenal istilah “qadha’” saja dan “qadar” saja.

  2. Makna Qadha’ dan Qadar dalam al-Quran berbeda dengan makna Qadha’ wa Qadar yang dimaksud oleh para ahli kalam, Qadha’ dan Qadar dalam al-Quran memiliki makna bahasa yang banyak, dan juga maknanya terkait dengan perbuatan-perbuatan Allah SWT, bukan perbuatan-perbuatan manusia beserta khasiyat-khasiyat yang ditimbulkannya, lihat semisal QS. 3:47; 6:2; 17:23; 33:36; 41:12; 8:42; 33:38; 89;16; 54:12; 41:10.

  3. Dari sisi kemunculan istilah dan maknanya, Qadha’ wa Qadar yang dipakai ahli kalam adalah istilah yang sekadar diadopsi untuk menggantikan istilah “determinisme dan undeterminisme” atau “Keterpakasaan dan Kebebasan Memilih” pada perbuatan manusia.

  4. Dari sisi Topik yang diperbincangkan, maka terma “Qadha’ wa Qadar” yang dikenalkan ahli kalam, topiknya mengenai perbuatan manusia dan khasiyat yang lahir dari perbuatan manusia. Sedangkan terma qadha’ dan qadar yang terdapat dalam al-Quran dan as-Sunnah memperbincangkan tentang sifat dan perbuatan Allah SWT.

 

Dilihat dari keempat poin diatas, jelas bahwa pemakaian istilah qadha’ wa qadar oleh ahli kalam, sama sekali tidak berhubungan dengan istilah qadha dan qadar yang termaktub di dalam al-Quran dan as-Sunnah, baik dari sisi makna, maupun topik yang diperbincangkan. Sesungguhnya inti permasalahan terma “Qadha’ wa Qadar” menurut para ahli kalam (mutakallimin) adalah perbuatan manusia dan khasiyat benda, dilihat dari apakah keduanya itu diciptakan oleh manusia ataukah Allah.i

 

Qadha’ wa Qadar Menurut Jabariyyah

 

Jabariyyah secara harfiah berasal dari lafaz al-jabr, yang berarti paksaan. Lafaz ini merupakan antonim lafaz al-Qadr (kemampuan).ii Secara terminologis, berarti menyandarkan perbuatan manusia kepada Allah SWT.iii Jabariyyah, menurut mutakallimin, adalah sebutan untuk mazhab kalam yang menafikkan perbuatan manusia secara hakiki, dan menisbatkannya kepada Allah SWT semata.iv

 

Menurut al-Ustadz Muhammad Maghfur Wahid, MA.– hafizhahullah –, Jabariyyah diklasifikasikan menjadi dua, yaitu (1) Jabariyyah Khalisah (Jabariyyah murni), dan (2) Jabariyyah Mutawasittah (Jabariyyah Moderat). Jabariyyah Khalisah adalah kelompok yang berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kekuatan apapun, serta tidak mempunyai pengaruh dan kemampuan. Manusia diibaratkan seperti benda mati. Ini merupakan pandangan kelompok Jabariyyah Jahm bin Safwan. Sedangkan Jabariyyah moderat menyatakan, bahwa manuisa mempunyai kemampuan, namun tidak mempunyai pengaruh.v

 

Al-Imam al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah – dalam kitab Nizhomul Islam mengemukakan, Jabariyyah berpendapat bahwa Allah menciptakan hamba beserta perbuatannya. Ia (manusia –pen) “dipaksa” melakukan perbuatannya dan tidak bebas memilih. Ibaratnya, bagaikan bulu yang diterbangkan angin ke mana saja.vi

 

Senada dengan kedua pendapat diatas, Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, menjelaskan bahwa golongan Mujbarah atau Ijbarilah (Jabariyyah) berkata: “Segala perbuatan (manusia) hanya terjadi dengan qudrat dan iradat-Nya”. Manusia tidak mempunyai qudrat dan iradat. Manusia hanya merupakan wadah bagi apa yang Allah kehendaki. Dengan kata lain, apa-apa yang dikerjakan manusia sebenarnya hanya majazi saja (tidak nyata). Jika kita mengatakan, “Si fulan menulis, si fulan memukul, si fulan membuat kebajikan atau kejahatan”, sama saja artinya seperti kita mengatakan, “Pohon itu telah berbuah, batu itu telah bergerak, matahari telah terbit.” Tidak ada perbedaan antara manusia dan benda mati, kecuali hanya bentuknya/penampakannya saja (zhohirnya saja). Selain itu, benda mati dikendalikan baik secara zhohir dan batinnya, sedangkan Manusia dikendalikan pada batinnya, tetapi tidak pada zhohirnya.vii

 

Syaikh Muhammad Abu Zahrah rahimahullah – juga menuliskan, “Tepatnya ajaran aliran ini (jabariyyah) mengatakan bahwa, “Perbuatan bukan sama sekali dari hamba, tetapi dikaitkan kepada Allah. Hamba tidak mempunyai hak kekuasaan, dia hanya dipaksa dalam semua pekerjaannya, dia tidak memiliki perbuatan, kehendak, maupun plihan.”viii Ibnu Hazm mencontohkan, “Kaitan antara perbuatan dengan manusia hanyalah seperti jika engkau mengatakan : “Zaid telah meniggal, artinya Allah mematikannya. Jika sesuatu itu berdiri, maka Allah-lah yang mendirikannya.”ix

 

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzanhafizhahullah—menuliskan pendapat golongan Jahmiyah (jabariyyah) dalam hal menetapkan takdir, “Sesungguhnya seorang hamba tidak mempunyai keinginan/kehendak dan tidak mempunyai pula usaha, dia hanyalah dipaksa dalam perbuatan-perbuatannya”x

 

Terakhir, Imam Sa’duddin at-Taftazanyxi menyebutkan golongan ini (jabariyyah) berpendapat bahwa manusia sekali-kali tidak menguasai dirinya dalam setiap perbuatan, apakah baik atau jahat. Manuisa bukan subyek, melainkan hanya sebagai objek (kehendak dari luar). Dengan kata lain, manusia dipaksa oleh kekuatan dari luar dirinya, yakni atas kehendak dan kekuasaan Allah. Ia tidak mempunyai kebebasan berkehendak (laa hurriyatul iradah), dan tidak memiliki kekuasaan untuk berbuat sesuatu.

 

Tanggapan Terhadap Faham Jabariyyahxii

 

Ide di atas telah menyebar dan merasuk ke dalam pembahasan aqidah, semenjak akhir masa Khilafah Abbasiyyah dan berlanjut terus hingga sekarang. Akibatnya, muncullah orang-orang yang gagal usahanya dengan menyandarkan diri kepada ide tersebut, sekaligus menjadikannya sebagai alasan kegagalan mereka. Begitu pula orang-orang yang malas dan bodoh, telah menyandarkan diri kepada ide tersebut, sekaligus menjadikannya sebagai dalih kemalasan dan kebodohan mereka, sehingga banyak orang yang bersikap pasrah terhadap kezhaliman yang menimpa mereka, kemiskinan yang mencabik-cabik kehidupan mereka, kehinaan yang melanda mereka dan kemaksiatan yang mendominasi perbuatan mereka. Sikap ini disebabkan merasuknya ide tersebut kedalam aqidah mereka, dimana mereka menganggap bahwa tindakan ini merupakan penyerahan diri kepada qadha dan qadar yang berasal dari Allah.

 

Pemikiran seperti ini sebenarnya tidak pernah dikenal oleh para shahabat –ridwanullah ‘alaihim—. Andaikan ide tersebut ada pada kaum Muslimin pada saat itu, tentu mereka tdak akan melakukan futuhat (penaklukan-penaklukan) dan mereka tidak akan menanggung banyak kesulitan-kesulitan (karena melakukan futuhat itu—pen) serta membiarkan diri mereka diarahkan kemana saja.

 

Para Shahabat –ridwanullah ‘alaihim—juga tentu akan mengatakan: “Apa yang telah ditaqdirkan pasti akan terjadi baik anda berbuat maupun tidak”. Namun demikian, kaum muslimin yang bijaksana dari kalangan shahabat saat itu, telah menyadari bahwa suatu benteng tidak akan bisa ditaklukkan tanpa adanya pedang (perang); musuh hanya akan dapat dikalahkan dengan kekuatan; rizki akan diperoleh dengan suatu usaha; penyakit harus dihindari; peminum khamr (yang muslim) wajib didera; pencuri harus dipotong tangannya; penguasa harus dimintai tanggung jawabnya dan manuver-manuver politik harus direkayasa dan dilakukan terhadap musuh.

 

Sesungguhnya Allah SWT telah mengajarkan kepada kita untuk selalu mengikatkan setiap sebab dengan musababnya, serta menjadikan sebab menghasilkan musabab (akibat), seperti misalnya api mempunyai sifat membakar sehingga tidak terjadi pembakaran tanpa sebab api, begitu pula dengan pisau yang digunakan untuk memotong, tentu tidak akan terjadi pemotongan tanpa adanya pisau. Allah SWT telah menciptakan manusia, lalu dalam dirinya dijadikan kemampuan untuk melakukan sesuatu. Begitu pula Allah SWT telah memberikan ikhtiar kepada manusia untuk memilih jalan yang dikehendaki. Dia bisa makan ataupun berjalan kapan saja ia kehendaki. Ia belajar maka akan pandai, membunuh akan dikenakai hukuman (qishash), meninggalkan jihad akan memperoleh kehinaan, diam dari usaha mencari rizki maka dia akan miskin.

 

Qadha adalah segala perbuatan atau kejadian yang dilakukan atau menimpa manusia secara paksa. Misalnya, manusia melihat dengan mata bukan dengan hidung; mendengar dengan telinga bukan dengan mulut dan tidak mempunyai kuasa atas detak jantungnya. Kilat yang menyambar di langit atau gempa yang menggoncang bumi sehingga manusia terkena bahaya, atau jatuhnya seseorang dari atap kemudian menimpa orang lain sehingga ia mati. Semua perbuatan tersebut termasuk ke dalam pengertian qadha. Oleh karena itu manusia tidak akan dihisab atau dimintai tanggungjawab atas semua kejadian tersebut di atas, dan tidak ada hubunganya dengan perbuatan manusia yang dilakukan karena pilihannya sendiri.

 

Sedangkan Qadar adalah khasiyat suatu benda yang menghasilkan sesuatu atau mengakibatkan terjadinya sesuatu. Misalnya kemampuan membakar yang dimiliki oleh api; kemampuan memotong yang dimiliki oleh pisau, naluri melestarikan keturunan yang diperuntukkan bagi manusia dan lain sebagainya. Namun demikian, semua khasiyat-khasiyat tersebut tidak mampu melakukan suatu perbuatan kecuali dengan adanya pelaku yang menggunakan khasiyat-khasiyat benda tersebut, yaitu manusia. Sehingga, apabila manusia melakukan suatu perbuatan dengan pilihannya sendiri maka dialah yang dianggap sebagai pelaku, bukan qadar (khasiyat) yang ada pada benda tersebut. Sebagai contoh, jika seseorang membakar rumah dengan api, maka manusialah yang dikatakan sebagai pembakar, bukan api yang mempunyai khasiyat membakar. Oleh karena itu, manusia akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatan pembakaran tersebut, sebab dialah yang telah memanfaatkan qadar/khasiyat dari api menurut kehendaknya sendiri.

 

Dengan demikian, manusia mampu memberikan pengaruh dalam usaha mencari nafkah hidup atau dalam perjalanan hidupnya. Dia mampu meluruskan penguasa yang zhalim atau memberhentikannya. Dia mampu pula untuk meruntuhkan sistem kehidupan yang tidak Islami seperti sekarang ini dan menggantikannya dengan sistem kehidupan yang Islami dalam naungan Khilafah Islamiyyah jika dia memang berusaha untuk itu. Dia juga mampu mempengaruhi setiap perbuatannya yang tergolong dalam perbuatan yang memang dikehendakinya.

 

Oleh karena itu, paham Jabariyyah mengenai Qadha’ wa Qadar tiada lain merupakan salah satu khurafat dan khayalan semata. Iman kepada qadha wa qadar baik dan buruknya dari Allah adalah iman bahwa semua perbuatan yang berada di luar kehendak dan kemampuan manusia itu berasal dari Allah SWT, dan seluurh khasiyat yang terkandung di dalam materi diciptakan oleh Allah SWT, tanpa andil manusia sedikitpun.

 

Rezeki dan ajal sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Dalam kondisi semacam ini setiap mukmin harus meyakini bahwa urusan ajal dan rezeki hanyalah di tangan Allah SWT, tanpa ada sedikitpun campur tangan manusia di dalamnya. Semoga penjelasan ini mampu menjernihkan dan menuntun akal kita untuk selalu berjalan diatas jalan yang lurus. WaLlahu a’lam bi as-Shawab.

 

(Yogyakarta, Hanif al-Falimbani, 23 Mei 2007, 8.20pm)

 

i A.Said Aqil Humam ‘Abdurrahman, Penjelasan Menyeluruh Tentang Qadha’ dan Qadar (Bayaan asy-Syamil ‘an Mas’aalah al-Qadha’ wa al-Qadar Radd ‘alaa Ra’y al-Mu’tazilah, Jabariyyah wa Ahlu Sunnah), (Bogor: al-Azhar Press, 2004), hlm. 89.

ii Muhammad Maghfur W, Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam, (Bangil: al-Izzah, 2002), hlm 41, (dalam catatan kakinya tertulis: Al-Razi, Mukhtar al-sihhah, hlm. 91; Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab, Juz I, hlm. 116.).

iii Ibid, (dalam catatan kakinya tertulis: al-Qasimi, tarikh jahmiyah wa al-mu’tazilah, hlm. 28).

iv Ibid, (dalam catatan kakinya tertulis: al-Syahrastaniy, al-Milal wa an-Nihal, hlm. 72).

v Ibid.

vi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Peraturan Hidup dalam Islam (Nizhomul Islam), (Bogor: Pustaka Tahriqul ‘Izzah, 2003), hlm. 22.

vii Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah & Pengantar Ilmu Kalam/Tauhid, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1999), hlm. 112.

viii Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Sejarah Mazhab Islam Aliran Politik & Aqidah (Tarikh al-Mazhahib), (Bangil: al-Izzah), hlm. 113.

ix Ibid, hlm. 113-114.

x Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Membongkar Firqoh-firqoh sesat, (Pustaka As-Salaf), hlm. 35.

xi Tim Penyusun.Yusuf Wibisono et al., Islam Mulai Akar ke Daunnya, (Kampus IPB Darmaga: BKIM IPB Press, 2003), hlm. 56.

xii Sebagian besar tulisan dalam bagian ini banyak dikutip dari buku karya Syaikh Muhammad Muhammad Ismail, Re-Freshing Pemikiran Islam (al-Fikru al-Islamiy), (Bangil: al-Izzah, 2004), Bab al-Qadariyah al-Ghaibiyah, hlm. 103-106. Dan juga Buku karya Syaikh Muhammad Muhammad Ismail, Bunga Rampai Pemikiran Islam (al-Fikru al-Islamiy), (Gema Insani Press), Bab al-Qadariyah al-Ghaibiyah.

About these ads

13 Komentar »

  1. anung berkata,

    hehe…
    kalo ujian….gakpapa ah :D

  2. aban tetep ga suka vanilla berkata,

    asyik…tambah bahan lagi buat dikaji :-D

  3. Abu Salma berkata,

    Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
    Terima kasih kepada saudaraku Hanif al-Falimbanji atas uraiannya… apabila diizinkan, saya memiliki beberapa catatan kecil.
    1. Asy’ariyah dan Maturidiyah di dalam masalah al-Qodho’ wal Qodar adalah juga dituju oleh Syaikh Taqiyudin rahimahullahu sebagai Jabariyah, dimana beliau berkata dalam ad-Dusiyah hal 21-22, sebagai berikut,

    “Mereka (Ahlus Sunnah) mengklaim bahwa pandangan mereka adalah pandangan yang baru, bukan pandangan mu’tazilah dan bukan pula jabariyah. Mereka (Ahlus Sunnah) berkata tentang pandangan mereka (yakni al-Kasb) bahwa pandangan mereka tersebut bagaikan susu putih yang bersih yang keluar diantara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya. Itulah konklusi pendapat ahlus sunnah. Setelah diperinci, nyatalah dan jelaslah bahwa perkataan mereka dan perkataan Jabariyah hakikatnya sama, dan mereka (Ahlus Sunnah) termasuk Jabariyun, yang mereka kebingungan diantara dalil-dalil mu’tazilah dan Jabariyah…”

    Bagaimana pandangan antum dengan ucapan syaikh dan apakah menurut antum Asy’ariyah dan Maturidiyah tergolong dalam ahlus sunnah atau mutakallim?
    2. Antum mengatakan :

    Kata Qadha’ wa Qadar dengan menggunakan wawu ‘athaf /(و) (qadha wa qadar) tidak terdapat dalam al-Quran maupun as-Sunnah. Dikarenakan, Al-Quran maupun Sunnah tidak pernah menggunakan istilah “qadha’” dan “qadar” secara bersamaan (qadha wa qadar), melainkan di dalam al-Quran dan as-Sunnah hanya dikenal istilah “qadha’” saja dan “qadar” saja.

    Saya jawab : Istilah Qodho’ dan Qodar ini telah disebutkan secara bergandengan dalam hadits-hadits shohih, misalnya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Kebanyakan penyebab kematian di kalangan ummatku setelah ketetapan kitabullah dan qodho’ serta qodar-Nya adalah karena penyakit ‘ain.” (HR. Thabrani dan selainnya, dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari` (X/167)).
    3. Koreksi ketika menyebut Syaikh Shalih Fauzan dengan rahimahullahu, beliau masih hidup sehingga lebih tepat hafizhahullahu atau wafaqohullahu…
    Saya sarankan antum juga perlu menelaah buku
    1. Al-Qodho’ wal Qodar tulisan Syaikh Utsaimin rahimahullahu, telah diterjemahkan oleh Datul Haq. Tipis
    2. Qodho dan Qodar karya Syaikh Muhammad al-Khumayis, setahu saya juga sudah diterjemahkan. Hardcover berwarna kuning, namun saya lupa penerbitnya.
    3. Qodho wa Qodar karya Umar Asyqor. Juga telah diterjemahkan, namun saya lupa penerbitnya…
    Silakan ditelaah lagi sebagai bahan masukan…
    Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

  4. Hanichi Kudou berkata,

    ‘Alaikumussalaam Wr. Wb. JazakaLlah Khoiran Atas saran dan nasehatnya..
    Tetang pernyataan Syaikh an-Nabhani, saya kira dalam hal ini beliau melakukan penelaa’ahan terhadap fakta Qadha’ wa Qadar menurut Ahlu Sunnah (Asy’ariyah). Dan memang seperti itu adanya. Asy’ariyah dan Maturidiyah memang tergolong ke dalam mutakallimin dan juga Ahlu Sunnah (dalam pengertian suatu kelompok tertentu yang memang mengklaim diri mereka sebagai Ahlu Sunnah).
    Tentang adanya istilah Qadha’ wa Qadar dalam as-Sunnah, Afwan, nanti semuanya akan saya edit, yang salah dan kurang benar. Terima kasih juga atas informasi bukunya dan AlhamduliLlah Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan-hafizhahullah ternyata belum meninggal, maafkan atas kekhilafan saya dalam hal ini, karena memang saya minim informasi mengenai hal ini. Jngan bosan-bosan menasehati saya ya Akhi. JazakaLlahu khoiran katsiro.
    Wa’alakumussalaam Warohmatullahi Wabarokatuh

  5. CandyShopGirl berkata,

    Hi!

    What do you think about Apple Iogo? >:)

  6. panji berkata,

    menurut saya karangan qodo dan qodar nya sudah bagus dan menarik tapi bagaimana caranya bikin cerita di intenet dan dapat cerita ini darimana dan saya maubeli buku sejarah qodo dan qodar dan siapa yang meng arang cerita tentang qodo dan qodar di internet slamkenal panji dari negara indonesia

    asalam mualaikum waromatulo hiwaba rokatu goodbay dibalas balasan nya aku tungu di indonesia

  7. honey berkata,

    apakah yang qmu mkcd dgn cmua nekh
    bnr ?????????
    qwu bingng nekh
    emang che dha bgues cmua pndptnya>>>>>>>>

  8. sifa berkata,

    wah antum ini ternyata ga memahami kitab2nya sendiri.. (makanya jgn hanya baca kitab terjemahan- belajar arabnya biar tau klo kitabnya salah)
    ini nih gejala terkikisnya ajaran islam murni skr. baru bisa bahasa arab udah berkoar orasi sana sini.. padahal SALAH KAPRAH.
    cari info gi..biar ngerti kalo yg diikuti tuh salah

    • Syeikh Niskala berkata,

      Ass Wr Wb
      Segala sesuatu terjadi karena kehendakNYA / ijinNYA
      marilah kita belajar untuk bersikap BIJAK dalam ucapan dan tindakan, disertai dengan rasa KASIH dari NURANI kita terhadap sesama manusia, insya ALLAH akan lebih indah terdengarnya ucapan kita.
      Wass

    • shafiya berkata,

      hm.. sebaiknya mbak sifa belajar dari berbagai kitab, jangan cuma kitab karangan ustadznya doang.. biar kepalanya ga sempit.. Saya kasian sama orang2 yg terlalu condong pada kelompoknya, tanpa mau menambah tsaqofah islam dari ulama lain, padahal tsaqofah islam itu luas sekali..

  9. emha berkata,

    Bagi Sifa
    Boleh engkau menasihati orang… tapi tlg dijaga akhlak dan etika ya..
    Hendaknya belajar lagi tentang akhlak Rasul, bagaimana beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. bisakah kita memberi nasihat tanpa melukai. yang benar memang harus disampaikan. tapi apakah sudah tidak ada cara selain cara yang menyakitkan?… wallaahu a’lam.
    adakah rasul menyakiti sahabatnya ketika dia berdakwah??

  10. pengelolakomaht berkata,

    Tentang Qadha dan Qadar telah hadir juga bahasannya di :

    http://mantanht.wordpress.com

    di artikel terbaru mei 2010
    Barakallahufikum.

  11. Syeikh Niskala berkata,

    ASS WR WB
    ” BETUL SEKALI..secara HAKIKAT tidak ada perbuatan manusia yang ada hanyalah perbuatanNYA, dan inilah TAKDIR yang memang berada pada wilayah keimanan / diluar kesadaran ”
    ” sedangkan manusia WAJIB BERUSAHA karena ini berada pada wilayah kesadaran atau SYARIAT / HUKUM / MEKANISME ”
    makasih ya mas
    WASS


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: