08.01.07
It’s The High Time For Khilafah To Lead The World..!!!

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
May Allah SWT shower His blessings on our daily duties of and activities in calling for the re-establishment of His Deen. Ameen.
Since the collapse of the last Islamic Ottoman-Caliphate in Turkey 83 years ago, generations of muslims have virtually lived without dignity, protection, and justice they rightfully deserved. Moreover, muslims and non-muslims alike have been subjected to colonization and suffered under Capitalism. In order to regain the status as a respectable and just Ummah, muslims will have to return to Islam and to resume the comprehensive implementation of the Sharia by the re-establishment of the Khilafah. These are the reasons that Hizbut Tahrir Indonesia will conduct the 2007 International Khilafah Conference :
Day and date : Sunday, 12th August 2007/ 28 Rajab 1428H
Time : 07.00-12.30 PM Indonesian Local Time
Place : Gelora Bung Karno Main Stadium Jakarta, Indonesia
Number of Participants : 100.000 people
Topic : “It’s The High Time For Khilafah To Lead The World”
- Hizbut Tahrir Indonesia Office:
Anakida Building 7th floor Suite 202,
Prof. Soepomo Street 27 Tebet, South Jakarta District, JAKARTA
Phones: 62-21-8500440, 71220254, 8305848
Fax : 62-21-8500440, 8312111
Email : info@hizbut-tahrir.or.id
Contact Person : Fanani (62-815-8366436 / 62-21-70031924)
International Khilafah Conference 2007
Hizb ut-Tahrir Indonesia have organised the largest International Khilafah Conference the world has ever seen, bringing together Islamic activists from all around the world. The conference will be held in Jakarta, Indonesia on 12th August 2007, corresponding to 28th Rajab 1428 which is the Hijri date of the destruction of the Khilafah.
Over one hundred thousand people are expected to attend, it is being held in HGelora Bung Karno Stadium, which has the joint 10th largest capacity of all stadiums in the world, equal with the Melbourne Cricket Ground.
Speakers from: Australia, England, Palestine, Sudan & Japan. There will also be local speakers including leaders and prominent personalities from various Islamic groups.
International Speakers
1. Dr. Imran Waheed (Hizb ut-Tahrir Britain)
2. Sheikh Ismail Al Wahwah (Hizb ut-Tahrir Australia)
3. Sheikh Issam Ameera (Hizb ut-Tahrir Palestine)
4. Syeikh Uthman Abu Khalil (Hizb ut-Tahrir Sudan)
5. Prof. Dr. Hassan Ko Nakata (Japan)
Local speakers
* Hafidz Abdurrahman, MA (Hizb ut-Tahrir Indonesia)
* KH. Abdullah Gymnastiar (Popular scholar who regularly appears on Indonesian TV)
* Prof. Dr. H. M. Amin Rais ( Former leader of Muhammadiyah)
* KH. Ma’ruf Amin (Majelis Ulama Indonesia)
* DR. H. Adyaksa Dault, SH, M.Si.
* KH. Drs. Hasyim Muzadi (General chairman of the Central Board of Nahdlatul Ulama)
* Prof. Dr. Din Syamsuddin (Current leader of Muhammadiyah)
* KH. Habib Riziq Shihab (General Chairman of the Islam Defending Front, FPI)
* KH. Zainuddin MZ (Reform Star Party, PBR)
Date: 12 August 2007/28 Rajab 1428
Venue: HGelora Bung Karno Stadium, Jakarta, Indonesia
[VERSI BAHASA INDONESIA]
Hizbut Tahrir Indonesia mengundang kaum muslim pada acara:
Konferensi Khilafah Internasional
Ahad, 12 Agustus 2007 M
28 Rajab 1428 H
Pukul 08:00 – 12:30 WIB
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta
Susunan Acara :
- Pembukaan (Hari Mukti dan Adi Maretnas)
- Pembacaan Kitab Suci Al Quran
- Sambutan Jubir HTI (Ismail Yusanto)
- Parade Bedug + Pembacaan Puisi (Taufik Ismail)
- Testimoni Tokoh Nasional
- Orasi Pembicara (Hizbut Tahrir)
- Teatrikal Lapangan Raya-Liwa
- Refleksi (Jamil Azzaini)
- Doa Penutup (Arifin Ilham dan Ary Ginanjar)
Insya Allah menghadirkan pembicara dari: Eropa, Australia, Palestina, Sudan, Inggris, Jepang dan Indonesia serta tokoh-tokoh nasional dari NU, Muhammadiyah, MUI, Darut Tauhid, Majelis Mujahidin, Menpora, dan Ormas-ormas Islam.
- Pembicara:
- Dr. Imran Waheed (Hizbut Tahrir Eropa)
“Tanda-tanda Kehancuran Peradaban Barat” - Syeikh Ismail Al Wahwah (Hizbut Tahrir Australia)
“Dunia Membutuhkan Khilafah” - Syeikh Issam Ameera (Hizbut Tahrir Palestina)
“Tanda-tanda Tegaknya Khilafah” - Syeikh Usman Abu Khalil (Hizbut Tahrir Sudan)
“Tantangan Setelah Tegaknya Khilafah”
- Dr. Salim Frederick (Hizbut Tahrir Inggris)
- Prof. Dr. Hassan Ko Nakata (Cendekiawan Muslim Jepang)
“Peran Perjuangan HT Membangun Peradaban Islam ke Depan” - Hafidz Abdurrahman, MA (Ketua Umum DPP HTI)
“Perjuangan Hizbut Tahrir Indonesia Menuju Khilafah” - KH. Abdullah Gymnastiar
- Prof. Dr. H. M. Amin Rais
- KH. Ma’ruf Amin
- DR. H. Adyaksa Dault, SH, M.Si.
- KH. Drs. Hasyim Muzadi *
- Prof. Dr. Din Syamsuddin
- KH. Habib Riziq Shihab
- KH. Zainuddin MZ
- Ustadz Abu Bakar Baasyir
Orasi Tokoh:
* dalam konfirmasi
- 1. VVIP : Rp. 100.000
2. VIP : Rp. 75.000
3. Reguler : Rp. 20.000
Mari kita mengajak keluarga, kerabat, tetangga, masyarakat dan para tokoh masyarakat dalam acara besar yang insya Allah akan dihadiri oleh 100.000 massa. Dengan dukungan Anda semua mari bersama-sama kita perjuangkan tegaknya Syariah dan Khilafah segera !
- Kantor Hizbut Tahrir Indonesia:
- Gedung Anakida Lt.7 Suite 202,
- Jl. Prof. Soepomo No.27 Tebet Jakarta Selatan
- Telp: 021-8500440, 71220254, 8305848
- Fax : 021-8500440, 8312111
- Email : info@hizbut-tahrir.or.id
- Contact Person : Fanani (0815-8366436 / 021-70031924)
[VERSI BAHASA JERMAN]
Hizb ut Tahrir verwacht 100.000 mensen voor haar Internationale Khilafa Conferentie 2007 in Jakarta, Indonesië
donderdag 31 mei 2007
Hizb ut Tahrir Indonesië (HTI) organiseert de grootste internationale Khilafa conferentie ooit, islamitische politieke activisten van over gans de wereld tezamenbrengende. De conferentie is gepland om plaats te vinden in Jakarta, Indonesië, de 12e augustus 2007. Deze datum komt overeen met de 28e Radjab 1428, welke de datum (28 Radjab) is waarop volgens de Hijri kalender de Khilafa-staat afgeschaft werd door Moestafa Kemal.

Meer dan 100.000 mensen worden verwacht voor de conferentie, die gehouden zal worden in het Gelora Bung Karno Stadion.
Sprekers zullen afkomstig zijn uit Australië, Groot-Brittannië, Palestina, Soedan en Japan. Er zullen eveneens sprekers zijn in de nationale taal van Indonesië, waaronder zowel vooraanstaande representanten van HTI als vooraanstaande leden van andere Islamitische partijen en bewegingen.
Internationale Sprekers
1. Dr. Imran Wahied (Hizb ut Tahrir Groot-Brittannië)
2. Sjeich Ismail Al Wahwah (Hizb ut Tahrir Australië)
3. Sjeich Issam Amiera (Hizb ut Tahrir Palestina)
4. Sjeich ‘Oethman Aboe Khalil (Hizb ut Tahrir Soedan)
5. Prof. Dr. Hassan Ko Nakata (Japan)
Indonesische Speakers
* Hafidz Abdoerrahman, MA (Hizb ut Tahrir Indonesië)
* KH. Abdoellah Gymnastiar (Populaire geleerde in Indonesië die geregeld op televisie verschijnt)
* Prof. Dr. H. M. Amin Rais ( Voormalig leider van Muhammadiyah)
* KH. Ma’roef Amin (Majelis Ulama Indonesia)
* DR. H. Adyaksa Dault, SH, M.Si.
* KH. Drs. Hasyim Moezadi (Voorzitter van Nahdlatul Ulama)
* Prof. Dr. Din Syamsoeddin (Huidige leider van Muhammadiyah)
* KH. Habib Riziq Shihab (Algemeen voorzitter van het Front ter Verdediging van Islam, FPI)
* KH. Zaynoeddin MZ (van de politieke partij PBR)
Datum: 12 augustus 2007; 28 Radjab 1428
Locatie: Gelora Bung Karno Stadion, Jakarta, Indonesië







Nailah Zhufairah berkata,
Agustus 1, 2007 pada 2:48 pm
insya allah, mari berbondong2 ke sana…
Orang Awam berkata,
Agustus 3, 2007 pada 6:17 am
Mau nanya bisa gak mas?
Waktu jaman khilafah dulu, hidup selalu damai ya?
Gak ada sama sekali intrik or konflik gitu?
Terus, selama khilafah berlangsung, apa gak ada khalifah yang “rusak”?
Mohon jawabannya. Terima kasih
oRiDo berkata,
Agustus 3, 2007 pada 5:01 pm
hmmm…
pengen sih dateng..
ntar deh coba ajak istri..
mudah2an mau..
Dhimas Lazuardi berkata,
Agustus 3, 2007 pada 10:43 pm
dateng ah…!! bareng2 lagi se-Bandung raya sepertinya…
Hanichi Kudou berkata,
Agustus 4, 2007 pada 10:52 am
:: Nailah Zhufairah, oRiDo, dan Dhimas Lazuardi ::
Insya Allah, semoga kita ketemu disana ya..
Wah.. Mas Orido sudah menikah tho.. ada yang segera menyusul nih Mas..
:: Orang Awam ::
Yo’i.. yo’i..
Dulu, damai.. AlhamduliLlah..
Intrik dan konflik..?? Kebetulan ada..
Khalifah yang “rusak”? Mungkin ada.. sayang, saya ndak sempat liat..
Jawaban saya diatas ndak memuaskan memang, tapi saya ingin sampeyan puas, silahkan lihat di SINI, SINI, DAN DISINI.
JAzakaLLah Khoiran..
danalingga berkata,
Agustus 4, 2007 pada 10:59 am
ho….ho..ho… khilafah? no thanks.
Hanichi Kudou berkata,
Agustus 4, 2007 pada 11:06 am
:: danalingga ::
ho..ho..ho.. juga..
Ndak perlu berterimakasih ke saya kok Mas.. saya ndak pernah memberi ataupun menuntut anda untuk menerapkan Khilafah.. tapi coba katakan NO Thanks itu kepada Allah yang telah menurunkan al-Quran dan as-Sunnah yang dibawa oleh RasuluLlah saw, dan diteruskan oleh para sahabat dalam naungan Khilafah..
danalingga berkata,
Agustus 4, 2007 pada 11:18 am
ya..ya..entar kalo ketemu dengan Tuhan akan saya sampaikan. Eh tapi pas ketemu terakhir kemaren sih Dia nggak promosi khafilah tuh.
danalingga berkata,
Agustus 4, 2007 pada 11:19 am
eh salah ketik kan jadinya, khilafah maksude.
Hanichi Kudou berkata,
Agustus 4, 2007 pada 11:30 am
“Dia” maksudnya siapa..?? Allah ‘azza wa jalla..?? Ketemu..?? Maksudnya apa ya? Hati-hati lho Mas.. Semoga cuman becanda ya.. Nanti ditangkepi orang kayak Lia Eden lho..
danalingga berkata,
Agustus 4, 2007 pada 11:55 am
nah pointnya ya pertanyaan pertanyaan kamu yang muncul itu.
pertanyaan saya juga akan sama ketika membaca komen anda yang ini:
yang saya tangkap kalo menurut anda bahwa sistem khilafah itu memang dari Tuhan langsung, lah lantas saya kounter dengan apa yang saya denger dari Tuhan, bahwa Dia tidak mempromosikan khilafah tuh. Nah lantas anda akhirnya mempertanyakan Tuhan yang mana kan? Lah saya juga mempertanyakan Tuhan yang mana tuh yang promosiin khalifah?
Mungkin anda akan bilang Tuhan yang bener bener Tuhan yakni Allah, lah saya juga bakalan kounter bahwa Tuhan yang saya kenal ini adalah Allah sesungguhnya. Nah lantas bisa jatuhnya jadi perang pemahaman ayat ayat.
Jadi ?
*eh kok jadi panjang ya?*
danalingga berkata,
Agustus 4, 2007 pada 11:58 am
oh iya jangan lantas salah tangkap ya kalo saya melarang anda untuk berusaha mewujudkan pemerintahan khilafah itu. Saya tidak ada maksud begitu, saya hanya menyatakan kalo saya pribadi tidak ikut ikutan, karena merasa tidak cocok dengan sistem tersebut.
nailah zhufairah berkata,
Agustus 6, 2007 pada 2:49 pm
waaahh, debat terbuka niy
ali berkata,
Agustus 7, 2007 pada 8:59 am
mas, danalingga…
benang merah dari semua pertanyaan kusut anda adalah,
saya mempertanyakan kembali tentang keyakinan anda pada islam.
apakah anda yakin islam adalah jalan hidup anda?
kalo nggak ya sudah, kita akhiri sampai disini semoga Allah memberi hidayah.
namun bila anda merasa yakin mari kita kupas satu2 :
1. Sistem Khalifah ada sejak jaman Rasul, lalu dilanjut Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Ustman dan Ali.
kita sama2 tau bahwa mereka adalah sahabat2 pilihan (para ta’biin). yang mana jelas tingkat keimanan nya di atas kita mas danalingga.
2. Tuhan tidak mempromosikan Khalifah?
lalu kita sebagai orang yang beragama islam tidak kah sistem kekhalifahan adalah mediasi kita yang paling jelas untuk menuju proses pendewasaan umat dan mendekatkan diri pada tuhannya via islam, seperti yang di contohkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya?.
mudah2an bisa jadi bahan renungan
omar fattah berkata,
Agustus 7, 2007 pada 3:44 pm
he..he..lha wong khilafah kok di konperensikan, mestinya ya diperjuangkan to…dan perjuangan menegakkannya bukan dengan cara-cara yang bathil kayak berparlemen, demokrasi, demonstrasi dll. tapi dengan cara yang haq. Islam tegak dengan KITAB yang menunjukkan dan PEDANG yang menegakkan.!!!
haya alal jihad!!!!
Allahu Akbar!!!
danalingga berkata,
Agustus 7, 2007 pada 9:46 pm
oh benang kusut toh, ya udahlah kalo gitu. Selamat berusaha.
taufik berkata,
Agustus 8, 2007 pada 10:44 am
akh dana, anda tidak cocok dengan sistem khilafah, lalu dengan sistem apa anda cocok?? apa sih yang membuat anda tidak cocok dengan sistem khilafah??
setuju akh omar, tegakkan khilafah tapi ga pake cara bathil.. dan demonstrasi adalah cara bathil.. btw, maksudnya akh omar dengan pedang yang menegakkan kaitannya dengan keadaan sekarang apa?? memberontak kepada pemerintah??
danalingga berkata,
Agustus 8, 2007 pada 10:51 am
@taufik
Untuk saat ini saya lebih nyaman dalam sistem pemerintahan yang sekular.
Entah mungkin lain kali saya bisa berubah lagi.
vino berkata,
Agustus 8, 2007 pada 1:20 pm
idenya. melawan sistem kan. mari !!!
omar fattah berkata,
Agustus 8, 2007 pada 7:14 pm
> akh taufik
yang pertama buka dulu Al Qur’an ; Al Maidah ayat 44. disana dijelaskan status pemerintahan kita, kafir atau bukan.
kemudian apakah dengan peperangan? ana jawab, apakah mungkin kita menegakkan hukum Islam sementara mereka telah menyusun kabinet mereka dengan orang-orang yang anti syariat, mereka menolak berhukum dengan undang-undang Al Qur’an dan orang-orang yang menuntut untuk penegakkan syari’at mereka jebloskan ke dalam penjara. apakah mungkin kita menegakkan hukum Islam dan Daulah Islamiyah serta meninggikan kalimat-Nya dengan tanpa menggunakan peperangan ?
Wiseman Flew berkata,
Agustus 9, 2007 pada 12:03 pm
Semoga sukses dan berlangsung dengan damai. Namun maaf, saya tidak setuju — saya KTP-nya Islam, namun memiliki paham sekularis
Kalau dengan adanya acara tersebut bisa terjalin ukhuwah yang labih baik, maka saya bersyukur. Tapi kalau mengarah kepada promosi pembentukan teokrasi, maka saya akan menentang… Teokrasi seringkali terbukti gagal total…
Yah, tapi, ya, semoga lancar, deh
Video Dukungan Para Tokoh dan Alim Ulama Terkait Acara “International Khilafah Conference 2007″ « Hanichi Kudou berkata,
Agustus 11, 2007 pada 8:52 am
[...] 11, 2007 Video di bawah ini berisi dukungan terkait dengan diselenggarakannya acara akbar “Konferensi Khilafah Internasional 2007 ” berikut komentar dari para tokoh dan alim Ulama terkait dengan perjuangan penegakan Syariat [...]
“Konferensi Khilafah International 2007″ Dalam Berita « Hanichi Kudou berkata,
Agustus 11, 2007 pada 10:20 am
[...] Agustus 11, 2007 Dibawah ini adalah berita terkait dengan akan diselenggarakannya Konferensi Khilafah Internasional 2007 : [...]
handoko berkata,
Agustus 13, 2007 pada 2:24 pm
Teokrasi itu apa sih, pengalaman gelap teokrasi eropa kok dijadikan tolok ukur untuk mengukur Sistem Islam. Kalau teokrasi eropa menyatakan bahwa suara raja adalah suara tuhan, dan tuhan tidak penah salah, karenanya apapun yang di lakukan raja tidak pernah salah. Jelas semboyan seperti ini tidak ada dalam Sistem Islam, karena Khalifah adalah manusia biasa bisa salah dan bisa khilaf, dan kalau Khalifah salah Islam mewajibkan umat islam untuk muhasabah atau memberikan nasehat kepada khalifah/penguasa meski nyawa menjadi taruhannya. Jadi jelas tidak bisa dipersamakan teokrasi eropa dengan Islam.
Kopral Geddoe berkata,
Agustus 13, 2007 pada 3:06 pm
Mas, yang anda jabarkan itu namanya monarki absolut, bukan teokrasi
Godbless Facism ??? « Sebuah Perjalanan berkata,
Agustus 19, 2007 pada 2:06 pm
[...] Bukankah fasis namanya orang orang yang hendak membubarkan NKRI demi apa yang disebut pemerintahan agama itu? [...]
joyo berkata,
Agustus 19, 2007 pada 9:29 pm
Salam,
Dalam pamflet saya baca,” Kekuatan apa yang akan menggetarkan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya?”.
Mau tanya Mas, Allah punya musuh ya? siapa dan apa maksutnya? mohon dijelaskan.
Salam
Kopral Geddoe berkata,
Agustus 19, 2007 pada 9:48 pm
Tambah lagi, di pamflet yang sama, tertera “Khilafahlah yang akan meruntuhkan kesombongan mereka.”
Kok kesannya mau mendirikan khilafah didasarkan atas rasa iri, dengki, dan kebencian atas umat lain?
“…Menghapuskan kekejaman dan penjajahan di seluruh negeri-negeri Islam.”
Walaupun saya Muslim (minimal di KTP tertera begitu), secara obyektif, mesti diakui negeri Islam selama ini menjajah diri mereka sendiri, dan kemudian mengkambinghitamkan peradaban barat sebagai respon atas dignity yang terkoyak.
Hanya masukan
Hanif al-Falimbani berkata,
Agustus 26, 2007 pada 9:39 pm
::danalingga::
#1 Khilafah itu sistem dari Tuhan cara tahunya ya ndak seperti yang antum kira, memang didalam al-Quran tidak ada yang menyebutkan kata Khilafah, tetapi ada yang menyebutkan kata Khalifah, yaitu di Surat al-Baqarah ayat 30, mengenai ayat ini, Ulama tafsir terkemuka, Imam al-Qurthubi dalam buku tafsirnya al-Jami li Ahkam al-Qur’an al-Azhim (Juz 1/264) menjelaskan, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban (mengangkat khalifah) di kalangan umat Islam dan para imam mazhab, kecuali pendapat yang diriwayatkan dari al-a’sham (yang tuli) terhadap syariat”.
Selain itu dalam hadits riwayat Imam Ahmad (yang artinya),
Selanjutnya akan datang suatu kekhilafahan yang berjalan di atas manhaj kenabian. (HR Ahmad).
Hadits diatas adalah hadits Shahih, sebagaimana kita ketahui, hadits adalah ungkapan yang bersumber dari RasuluLlah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan maknanya bersumber dari Allah swt. Sehingga jelaslah sudah bahwa khilafah itu memang perintah dari Allah.. Saya sarankan Masnya untuk lebih mendalami apa itu Khilafah… Caranya ya dengan mengaji di tempat yang memang intens menjelaskan tentang khilafah ini, agar tidak terjadi praduga yang salah..
#2 Sebagai seorang muslim tentunya menjadi idaman bila syariat islam itu menjadi rahmat bagi seluruh alam. MAka jika Masnya telah meyakini dengan sepenuh hati, jiwa dan raga bahwa Islam itu memang rahmatan lil ‘alamiin, kenapa Masnya merasa tidak cocok dengan Khilafah.. Lha wong Khilafah itu melaksanakan Syariat Islam kok, ya jelas Rhamatan lil ‘alamiin, Lha rahmatan kok ditolak ya nggak cocok dengan keyakinan Masnya..
#3 Mas danalingga, sekarang nyaman dalam pemerintahan seperti ini mungkin karena Masnya sudah mapan, dalam artian memang standar hidup Masnya tidak ada masalah lagi, tapi masalahnya bukan itu Mas, masalahnya itu ini menyangkut kewajiban juga, menegakkan Syariat Islam itu wajib, klo ndak wajib saya juga emoh teriak-teriak kayak gini, tapi ya karena wajib, mau gimana lagi, suka ndak suka Mas.. Inggih mboten..
Terakhir, saya do’akan semoga Mas danalingga selalu dalam rahmat dan lindungan dari Allah sehingga berubah untuk mendukung penegakan Syariat Islam dan Khilafah di Indonesia.. Amiin
::Nailah Zufairah::
Saya kira bukan debat, tapi sharing pendapat, bukan begitu Mas Danalingga
::Ali::
Eh.. Mas Ali, Mas Danalingga itu saya yakin sudah yakin kok sama Islam, hanya saja informasi tentang Khilafah ini tidak berimbang, jadi ada sedikit kesalahpahaman yang Insya Allah bisa diselesaikan kok.. Inggeh mboten..
::Omar Fattah::
#1 He..he.. juga.. lha wong Konferensi Khilafah itu merupakan bagian dari perjuangan kok malah disalahkan tho.. Wealah.. Masnya ini temen-temen dari al-muhajirun tho.. ya udahlah Mas.. wong sama-sama memperjuangkan Khilafah kok saling melemahkan.. ayo bergandengan tangan menegakkan Khilafah dengan damai dan tanpa kekerasan..
#2 Mas Omar, betul memang sistem sekarang itu sistem kufur, tapi orangnya belum tentu kafir. Kan JIhad itu intinya melawan orang kafir dengan sebab-sebab yang memang disyariatkan, nah.. untuk sekarang ini, memerangi penguasa secara fisik itu tidak disyariatkan, tapi memerangi penguasa secara pemikiran dan politik. Inilah aktivitas yang juga dilakukan oleh Rasul Saw ketika mendirikan Daulah Islam di MAdinah, dengan perjuangan pemikiran dan politik, serta tanpa kekerasan.. inilah minhajin nubuwwah itu.. inggeh Mboten..
Haya ‘alal Khilafah, Haya ‘alal jihad..!!! Allahukabar..!!!
::Taufik::
Mas Taufik, Mungkin Mas Danalingga itu belum kenal dan belum paham luar-dalam, coba klo udah kenal dan paham Insya Allah makin cinta.. betul gak Mas dana
::Vino::
Yup melawan sistem yang rusak, kufur dan batil seperti Kapitalsime, Sekularisme, Demokrasi, Sosialisme, Nasionalisme.. Mari juga..!!
::Wiseman Flew ::
Masnya ini namanya banyak sekali ya.. Alhamdulillah berlangsung dengan Suskes dan damai Mas.. Paham sekularis.. Ahh.. itukan sekarang, coba masnya ngaji deh insya Allah bisa dijelaskan lagi..
AlhamduliLlah ukhuwah umat Islam semakin erat dengan adanya KKI kemarin itu, saya juga bersyukur MAs.. Khilafah itu bukan teokrasi kok mas, walau Khilafah itu software-nya dari Allah swt, tapi yang menginstallnya kan manusia juga jadi ya Khilafah itu sistem yang manusiawai sekali.. Teokrasi memang terbukti gagal mas.. Tapi Khilafah.. wong lebih dari 1000 tahun kok apa yo dibilang gagal juga.. ya nggak tho..
Ya terima kasih atas dukungannya..
::handoko::
Yup setuju BeGeTe… Ini yang harus kita sosialisasikan akh.. banyak orang keliru memahaminya..
::Kopral Geddoe::
Ini nama lainnya ya..
Terus yang Theokrasi itu seperti apa Mas..
::joyo::
Ya Insya Allah Allah itu punya musuh, wong Allah sendiri yang bilang dalam al-Quran, misal dalam Surat al-Anfaal ayat 60 yang artinya : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.”
Dengan kata lain, Musuh Allah adalah orang-orang yang memusuhi Kaum Muslimin yang berjuang dan berdakwah demi tegaknya kalimat Allah dimuka bumi.
::Kopral Geddoe (lagi)::
Masnya.. Jangan disejajarkan dong antara negara dengan umat tertentu, jelas beda tho.. Yang dimaksud kesombongan mereka itu adalah kesombongan Negara yang merasa adidaya dan menolak diterapkannya SIstem Islam, dalam Islam Kesombongan itu ada dua pengertian, yakni pertama Merasa diri lebih dari orang lain, dan yang kedua itu Menolak Kebenara.. Jadi yang dimkasud dari Kesombongan mereka itu adalah menolak kebenaran Islam.. gitu mas..
Obyektif dari sudut pandang mana Masnya..?? Wong cetho welo-welo Negeri Muslim itu dijajah kok, apa Irak yang diinvasi sama AS itu namanya ndak dijajah?
Memang kehormatan umat Muslim saat ini terkoyak, cobalah masnya lihat di Irak, Palestina, Libanon, yang oyektif dong Mas.. wong ditelevisi banyak kok.. Selain itu Khilafah adalah kewajiban yang dibebankan kepada seluruh kaum muslimin…
Dan sebaiknya Masnya Ngaji lah.. Biar ndak selalu salah faham seperti itu.. Hanya masukan
Kopral Geddoe berkata,
Agustus 26, 2007 pada 11:01 pm
Alhamdulillah, deh
Lha, teokrasi itu ‘kan pemerintahan berbasiskan dogma agama? Khilafah ini memangnya nggak pakai Al-Qur’an? Ya saya juga kurang mengerti, sih, mohon dijelaskan
Argumentum ad antiquitatem.
Masalahnya apa ‘kebenaran Islam’ itu sudah paralel dengan sistem kekhalifahan yang ingin diterapkan? Sistem dhimmi dalam khilafah (eh, khilafah yang ini pakai yang begituan tidak?) itu menyalahi prinsip keadilan Al-Qur’an, lho.
Lha Irak dan Afghanistan sebelum diinvasi AS itu sama terjajahnya!
Wong sewaktu AS (yang memang agak kurang ajar itu) menumbangkan Saddam Hussain dan Taliban, masyarakatnya bersorak-sorai, kok.
Justru obyektivitas itu yang agak susah dimengerti stereotip Islam sekarang. Ngelihat apa-apa pakai kacamata Islam. Pakai buletin dakwah yang nota bene pastinya bias. Kehormatan Islam mana yang terkoyak? Upaya merajutnya yang bagaimana? Apa dengan melarang pangkasan rambut yang pakai hairgel kayak di Iran baru-baru ini? Lha wong umat Islamnya sendiri di jalan pada ngomel. Saya harap bertindak itu demi kebaikan umat, bukan kehancuran musuh.
Umat itu perlu dicerdaskan, bukan misuh-misuh melulu. Daftar ilmuwan yang muslim selama ini terlalu minim. Kalau diingatkan, selalu alibinya Ibnu Sina lah, Al-Razi lah, padahal banyak ilmuwan ‘Islam’ zaman dulu itu ‘kan freethinker semua. Sedikit yang masih mengakui kalimah
* * *
Btw, makasih sudah menanggapi komentar saya dengan elegan. Saya menghargainya
Odi berkata,
Agustus 27, 2007 pada 5:12 pm
“Dia” maksudnya siapa..?? Allah ‘azza wa jalla..?? Ketemu..?? Maksudnya apa ya? Hati-hati lho Mas.. Semoga cuman becanda ya.. Nanti ditangkepi orang kayak Lia Eden lho..
)
……………………………………………………………………………………………
Pernyataan yang ini maksudnya juga bercanda kan ? Atau memang udah buat rencana bikin gudeg eh Gulag ala HT ? (kalau yang ini beneran bercanda lo
Tentang keharusan mendirikan khilafah/negara -islam -whatsoever sudah baca ini ? http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=304593&kat_id=3
Jelas ditulis disitu syariat tidak sama dengan negara Islam.
Oya bisa dijelaskan lebih detil maksud slogan : It’s The High Time…? Maksudnya waktu yang tinggi gitu ? Saya cari di kamus Oxford terbitan para kafir Inggris kok tidak/belum ada paduan kata “high” dan “time”
omar fattah berkata,
Agustus 27, 2007 pada 10:07 pm
#1 mas hanichi, saya bukannya berniat ingin melemahkan perjuangan penegakan syariat yang sedang anda dan kawan2 anda jalankan, tetapi sekedar mengingatkan agar jalan perjuangan yang ditempuh tidak menyeleweng dari jalan islami. soalnya sering saya lihat kawan2 HTI kok berdemonstrasi, bukankah demonstrasi itu anak kandung demokrasi?
oh ya, saya bukan dari almuhajirun, tapi saya seorang muslim yang mencoba mencari kebenaran yang shahih dengan pemahaman ahlussunnah wal jamaah mengikuti para salafushalih.
#2 apakah pemerintah kita bukan pemerintah kafir?
berikut dari Al Quran 5:44. “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”
apakah pemerintah kafir wajib diperangi?
dari hadits Ubadah Ibnush Shomit Radliyallahu ‘anhu
“Rasululloh memanggil kami, lalu kami berbai’at kepadanya untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan senang atau tidak senang, baik dalam keadaan susah atau mudah, dan baik pemimpin itu lebih mengutamakan dirinya. Dan agar kami tidak menggulingkan penguasa dari kekuasaannya.” Beliau bersabda: “Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata yang kalian mempunyai alasan dari Allah.” (Hadits ini Muttafaq ‘Alaih sedangkan lafadznya menggunakan lafadz Muslim).
semoga Allah memberikan hidayahnya kepada kita sekalian, amin.
hambaAllah berkata,
Agustus 28, 2007 pada 2:56 pm
wah…HTI gede sekali ya…?
tapi 1 pertanyaan terakhir sebelum sy betul-betul yakin dgn Khilafah..!!!
KENAPA KALIAN MENOLAK HADIST AHAD YG SHOHIH???
BUKANKAH UMAT ISLAM BISA MENGAMBIL DASAR HUKUM DARI HADIST AHAD ITU SEJAUH KEDUDUKAN HADISTNYA TIDAK MAU’DU ATAUPUN DAIF..?
Kalau kalian bisa menjawab dengan baik, berarti kalian memang benar-benar benar..jika tidak, wahai saudaraku bertaubatlah dari sesuatu yang tidak pernah dicontohkan Nabi Kita…,
“KALAU ANDA INGIN KHILAFAH JAYA. TEGAKKAN DAHULU TAUHID YG BAIK DI DIRI KALIAN MASING-MASING, MAKA ALLAH AKAN MENEGAKKAN KHILAFAH DI NEGERI INI.”
Syeikh Muhammad Nasiruddin Al-Bani.
1 pertanyaa terahir,
Pernahkah mendengar istilah ‘Ingkar Sunnah’,
dengan tidak meyakini adanya hadist ahad yg shohih, maka tidak tertutup kemungkinan ‘kalian’ dijuluki Ingkaru Sunnah…
Rasulullah SAW bersabda :
“Barang siapa yang tidak suka dengan Sunnahku, maka dia bukan golonganku” . (HR.Buckary / Muslim)
Hanif al-Falimbani berkata,
Agustus 28, 2007 pada 8:07 pm
:: Kopral Geddoe::
Oke Mas.. Biar ndak rancu antara Teokrasi dan Khilafah, biar saya beberkan dulu 4 pondasi atau 4 Pilar yang wajib dimiliki oleh Khilafah, yaitu :
1. Kedaulatan di Tangan Syariat, maksudnya segala bentuk hukum dan perundang-undangan yang ada wajib bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah yang memang representasi dari Syarii’ (Allah Swt).
2. Kekuasaan ada di tangan Ummat, maksudnya Khalifah/Imam/Amirul Mukminin itu diangkat oleh Ummat yang nantinya bertugas untuk menerapkan hukum Islam dalam kekuasaannya.
3. Satu Kepemimpinan bagi seluruh Kaum Muslimin, maksudnya ya Satu Kepimimpinan Islam untuk seluruh dunia.
4. Hanya Khalifah yang berhak mentabbani (mengadopsi) hukum-hukum Syara’, maksudnya dalam kehidupan publik, hanya Khalifah yang berhak mengadopsi hukm syara’ tertentu untuk dilaksanakan di kehidupan publik.
Sebenarnya, titik tekan ada di poin pertama dan kedua. Konsep Teokrasi yang mempunyai pondasi berupa teori “kedaulatan Tuhan” tak dapat dilepaskan dari konsep teokrasi yang berkembang di Barat pada Abad Pertengahan (abad ke-5 s/d ke-15 M). Menurut The Concise Oxford Dictionary, hal. 1321, istilah teokrasi dikaitkan dengan pemerintahan atau negara yang diperintah oleh Tuhan, baik secara langsung maupun melalui kelas kependetaan.
Konsep “kedaulatan Tuhan” mempunyai arti bahwa yang memiliki kekuasaan tertinggi atau kedaulatan adalah Tuhan. Selanjutnya, Tuhan mewakilkan kekuasaan-Nya kepada raja atau Paus.
Karena mewakili Tuhan, maka segala perilaku raja atau Paus selalu terjaga dari kesalahan/suci (ma‘shûm, infellible). Jadi, negara teokrasi—yang menjalankan teori kedaulatan Tuhan—merupakan negara yang dipimpin oleh gerejawan atau raja yang menganggap segala perilaku mereka terjaga dari kesalahan dan suci. Maka dari itu, apa yang mereka (raja/gerejawan) halalkan di bumi, tentu halal pula di langit. Apa yang mereka haramkan di dunia, tentu diharamkan pula di langit begitu kira-kira..
Lantas, dimana letak perbedaan antara Khilafah dan Teokrasi??
Pertama, dalam Teokrasi (Kedaulatan Tuhan), Penguasa adalah wakil Tuhan di muka bumi, sedangkan Khalifah dalam negara Khilafah adalah wakil Ummat (bukan wakil tuhan) dalam hal penerapan Syariat Islam.
Kedua, dalam Teokrasi (Kedaulatan Tuhan), penguasa bersifat ma’shum (tidak pernah salah) sedangkan dalam Islam seorang Khalifah bukan orang ma’shum, bisa saja dia berbuat dosa dan kesalahan. Karena itulah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar disyariatkan.
Ketiga, dalam dalam Teokrasi (Kedaulatan Tuhan), penguasa atau gerejawan membuat UU tanpa acuan yang jelas. Sedangkan dalam Islam, penguasa mengadopsi hukum-hukum syariat berdasarkan ijtihad yang sahih dengan acuan dan pedoman yang jelas, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.
Jadi, teranglah sudah bahwa teokrasi itu bukan Khilafah dan Khilafah tidak mengenal istilah Teokrasi.
Tentang “Argumentum ad antiquitatem”, Kopral.. kan saya disana bukan untuk menjelaskan tentang mengapa kita harus menjalankan Khilafah.. Tapi kan saya hanya mengungkapkan bukti saja, bahwa ternyata ini lho.. Khilafah Islam itu pernah diterapkan selama lebih dari satu millenium.. Masak sih.. masa selama itu dibilang gagal..?? Nah… klo tentang mengapa Khilafah itu wajib diterapkan, maka jelas sudah, acuannya adalah al-Quran dan as-Sunnah, dan bahwa Ijma’ shahabat juga telah menunjukkan bahwa hal itu memang wajib, bukan dari sejarah Kopral.. Dan sebagai Muslim yang punya keyakinan bahwa Islam adalah rahamtan lil ‘alamiin.. maka konsekuensinya kita harus yakin pula bahwa Khilafah itu nantinya akan membawa Rahmat, tidak akan gagal..
Maksudnya sistem Dhimmi itu menyalahi prinsip keadilan al-Quran itu gimana maksudnya… Wong Kafir Dhimmi itu darahnya dilindungi sebagaimana darah akum Muslimin kok.. Bahkan kafir Dhimmi itukan cuman disuruh bayar jizyah.. bandingkan dengan Umat Islam, ada yang namanya zakat, rikaz, dharibah, dll. Dan jika Kafir Dhimmi itu tidak mampu membayar jizyah, maka kewajiban membayar jizyah itu dihapus sementara dan Negara Khilafah nantinya akan memberikan bantuan kepada kafir dhimmi itu untuk berusaha, jk dia memang sudah tidka kuat lagi, semisal dia sudah tua renta, maka dia dibebaskan dari jizyah.. tuhhh.. masih gak adil..??
Oke, masalah Irak, Afghanistan, dll itu memang terkait dengan perspektif masing-masing, jika yang digunkan adalah perpektif sekularis-liberal, maka bisa saja itu tidak termasuk penjajahan..
Ya iyalah.. jelas Kopral… Untuk kebaikan Ummat, gimana ummat bisa dibilang baik jika ummat masih terus dibantai oleh musuh, bagaimana ummat bisa dikatakan baik jika Ummat masih tidak nampak kehormatannya sama sekali, bagaimana ummat bisa dikatakan baik jika Ummat tidak melaksanakan jihad..?? Bagaimana bisa..??
Daftar ilmuwan Muslim minim? Wah.. itukan kan daftar yang dikeluarkan oleh Barat.. Ya jelas aja sentimen ke-Barat-an itu juga ada.. Umat yang cerdas itu bukan ummat yang jumlah imuwannya banyak.. Tapi umat yang cerdas itu umat yang sadar akan visi dan misinya didunia.. Yaitu hanya untuk mengabdi kepada Allah.. Dunia ini kan hanya sementara.. sedangkan akhirat kekal selamanya..
***
Btw, saya makasih juga Kopral, sudah mau meluangkan waktunya di blog saya yang tragis ini, gimana enggak.. wong komen saya sudah masuk ke daftar Spam Akismet.. Jadi ya gak bisa komentar lagi di blog lain.. Yaaahh… mau gimana lagi.. Andai saja saya bisa ketemu sama Kopral.. Pasi sudah saya ajak ngaji..
:: Odi::
Weh.. weh.. bentar Mas Odi, tolong jangan kaitkan seluruh komentar saya dengan yang namanya HT, karena saya memang bukan anggota HT, setidaknya belum menjadi anggota HT.
Inggih.. saya sudah baca Mas.. Masalahnya bukan terletak pada nama Mas.. tapi pada pelaksanaannya.. Hanya saja untuk memudahkan.. ya istilahnya disebut saja Daulah Islamiyyah atau Khilafah Islamiyyah atau Darul ISlam atau Imamah.. Klo soal nama memang banyak Mas.. Tapi apa ya ada.. Syariat Islam diterpakan menyeluruh oleh negara tapi negaranya ndak disebut sebagai negara Islam..?? itukan cuman mainan retorika aja.. Metode syar’i untuk menerapkan Syariat Islam ya cuman Khilafah/Imamah/Daulah Islamiyah/Darul Islam..
Lagian gak ada tuh.. saya lihat pernyataan dalam link yang Masnya tunjukkan pernyataan yang berbunyi.. Syariat tidak sama dengan Negara Islam.. Yang ada hanya “Perjuangkan Syariat, bukan negara Islam” apa dari kata-kata itu dapat diambil kesimpulan bahwa Syariat itu beda sama Negara Islam..??
Sejatinya sih.. memang beda.. Syariat itukan yang mau dijalankan dalam daulah Islam, tanpa Syariat daulah Islam tak bisa dikatakan Daulah Islam, dan tanpa Daulah Islam syariat tak kan bisa dijalankan dengan sempurna kecuali hanya sebagian kecil saja..
Oya, tentang High Time, itu saya juga cuman kopi paste dari situs resminya aja kok Mas.. Saya kira mungkin mau dibuat kesan puitis didalamnya.. Klo ndak ada paduannya ya dipadu-padukan ajalah.. kan ndak berdosa.. Hehe..
:: Omar Fattah::
#1 Bener Mas.. saya juga ndak setuju sama yang namanya demonstrasi, dan Insya Allah saya ndak pernah melakukannya, yang pernah saya lakukan itu namanya Masîrah Mas.. yang artinya perjalanan.. Klo Demonstrasi itu namanya Muzhaharah..
Bagi kaum Sosialis, muzhâharah (demonstrasi) itu dilakukan dengan disertai boikot, aksi pemogokan, kerusuhan, dan perusakan (teror). Targetnya agar tujuan revolusi mereka berhasil dilakukan..
Klo masîrah itu cuman sarana untuk menyampaikan pendapat dan tuntutan, ataupun bantahan terhadap opini atau kebijakan yang dijalankan oleh para penguasa; bukan hanya pemerintah, tetapi semua kelompok yang memegang kekuasaan—bisa legislatif, eksekutif, yudikatif, partai yang sedang berkuasa, ataupun kelompok yang menjadi sandaran kekuasaan; seperti polisi dan militer. Hal ini sebagai wujud dari dakwah dan muhasabah kepada para penguasa atau objek yang dituju..
Wah.. Klo bukan al-Muhajirun apa dong.. Salafy?? Tapi kayaknya bukan juga.. wah.. masnya pasti “orang yang paling bener” ya.. Syukurlah kalau begitu..
#2 Mas Omar Fattah.. Kan hadits itu berlaku ketika Negara berada dalam kategori Darul Islam.. wong ada kata-kata bai’atnya kok.. Berarti kan maksudnya Khalifah.. Nah.. klo penguasa yang sekarang ini.. apa ya juga dibai’at untuk menjalankan al-Quran dan as-Sunnah?? Ndak tho Mas.. Ya beda dong menyikapinya.. Gampangnya, syarat yang diminta oleh hadits itu (Khalifah yang diba’at) tidak terpenuhi untuk diperangi, jadi ya ndak bisa diperangi dong..
Iya Mas.. Semoga Allah memberikan hidayah dan taufik serta Rahmat dan ridho-NYA kepada kita semua.. Amiin..
::Hamba Allah::
Wah.. wah.. Mas “Hamba Allah” terlalu banyak menelan pesan-pesan yang keliru tentang HT ya, walaupun sya bukan anggota HT, tapi saya tahu persis, apa yang antum katakan itu hanya prasangka yang tidak ada nilai kebenarannya sama sekali.. Mas..
Pertama, HT tidak pernah mengatakan bahwa HT menolak hadits ahad.
Kedua, apalagi tentang Ingkar Sunnah.. Na’udzubiLlah..
Masnya.. mbok ya jangan gitulah.. Selama saya ngaji di HT, walau saya belum jadi anggota HT, saya ndak pernah tuh diajarin klo kita harus menolak hadits ahad, apalagi yang shahih.. Apalgi disuruh ingkar terhadap sunnah.. Fitnah itu Mas.. Mas.. Ndak bener itu..
Maaf, hati-hati kalau memvonis ya Mas… jangan sampai saya meminta pertanggung jawaban atas semua tuduhan Masnya di yaumul hisab nantinya..
Silahkan lihat dengan hati yang jernih dan cerdas tulisan DISINI dan DISINI.. JAzakaLlah..
Kopral Geddoe berkata,
Agustus 28, 2007 pada 10:23 pm
Wah, dijawab
Lha berarti ya sudah, khilafah itu teokrasi. Habis perkara tho?
Kalimat di atas sudah sedemikian jelasnya.
Kalau menurut kamus Oxford yang saya pelototi, maka teokrasi itu adalah pemerintahan yang dipimpin oleh seseorang yang berlatar belakang agama. Sedangkan menurut entry ensiklopedianya; Wikipe dan EB, saya temukan bahwa teokrasi adalah negara di mana hukum-hukumnya didasarkan kepada hukum agama.
Khilafah itu dasar hukumnya Al-Qur’an-As-sunnah, atau buku-buku Marx, ajaran-ajaran Heidegger, dan yang semacamnya? Kalau masih bersumber dari teks-teks suci, maka tetap saja sebuah teokrasi.
Walau memang, teokrasi a la khilafah lebih progresif dibandingkan teokrasi-teokrasi stereotip
Ya, dan itu adalah argumentum ad antiquitatem. Argumen yang serupa adalah ‘Manusia sudah bertahan selama 4000 tahun tanpa komputer, sehingga apabila sekarang komputer semuanya ditinggalkan, tidak akan terlalu bermasalah’. Harap diingat bahwa ini tidak berarti yang baru juga selalu bagus; kalau begitu jatuh kepada fallacy argumentum ad novitatem
Jadi… Usia tidak bisa dijadikan alasan
Kali ini, argumen anda berbau guilty by association
Sejauh pemahaman saya… Saya tidak yakin. Apa dengan ini saya kafir, ya?
Btw, mungkin pemahaman saya salah, coba mas jelaskan beberapa hukum-hukum yang akan diterapkan khilafah ini. Saya benar-benar tulus bertanya, lho
Mungkin mengaji pun tidak akan ‘menyelamatkan’ saya lagi, mas
~sudahKenyangMengaji~
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Meskipun begitu, saya tetap mendukung pemerintahan berbasiskan demokrasi dan sekularisme
Silakan bawa agama ke rumah masing-masing, dan ke tempat ibadah terdekat. Jauhkan dari kepentingan umum.
Btw, terima kasih. Lagi-lagi cara berdiskusi anda cukup elegan. Maaf kalau malah saya yang agak slenge’an. Salut!
Odi berkata,
Agustus 29, 2007 pada 1:13 am
Tentang masalah kata “high-time” , saya sekadar ingin tahu mungkin para simpatisan HT punya kamus Oxford/ kamus bahasa inggris lain yang lebih baru hingga menemukan kata itu
Perbedaan pendapat kita ada di kalimat ini “Metode syar’i untuk menerapkan Syariat Islam ya cuman Khilafah/Imamah/Daulah Islamiyah/Darul Islam..”
Sementara yang saya lihat di beberapa negara non-muslim/sekuler, kelompok muslim disana masih memperoleh kebebasan untuk menjalankan ajaran agama mereka.
Tentu anda bisa menyanggah bahwa syariat yang mereka jalankan belumlah/tidak bisa “kaffah” Menurut saya itu bagian dari tata dunia baru pasca Perang Dunia ke 2 dimana kehidupan yang kita jalani adalah kehidupan yang semakin multikultural/plural. Dalam tata dunia semacam ini kita dipaksa untuk menghargai titik pandang orang lain utamanya dalam lingkup publik. Jadi negosiasi akan nilai-nilai yang kita yakini akan selalu terjadi.
Memang terkesan pragmatis, tapi saya rasa Islam sebagai rahmat seluruh alam tetap akan bisa dirasakan meski tanpa peraturan/pemerintahan Islam.
Terkait argumen anda bahwa Kekhalifahan Islam telah berjalan selama beratus-ratus tahun, saya ada sedikit pertanyaan.
Untungnya meski baru berusia 62 tahun, bangsa ini cukup memiliki akal sehat untuk mengatakan “tidak” pada kecenderungan para pemimpinnya untuk bersikap fasis.
Anda menyebut Kekhalifahan tidaklah sama dengan Teokrasi, berarti bila ada hal yang sama maka hal itu adalah penyimpangan. Salah satu ciri khas Teokrasi adalah adanya ‘Divine Right’ yang diturunkan oleh Raja dan keturunannya. Sementara dalam Kekhalifahan ternyata hal tsb juga terjadi selama beratus-ratus tahun. Kekuasaan (hampir) selalu diturunkan dengan cara yang sama dengan Teokrasi alternatifnya biasanya perebutan lewat jalan kekerasan.
Dari yang saya baca sih sejak khulafaur rasyidin, tidak pernah ada semacam pemilihan calon khalifah (mungkin saya kurang teliti).
Berarti ada dua kemungkinan, Kekhalifahan sama/mirip dengan Teokrasi atau Kekhalifahan adalah sistem yang memungkinkan terjadi penyimpangan selama beratus-ratus tahun.
Mungkin ada yang protes emang NKRI tidak pernah menyimpang ? Tentu NKRI juga mengalami penyimpangan-penyimpangan, lha wong memang bukan negara yang mendapat stempel langsung dari Allah SWT dan sekadar mencantumkan “Ketuhanan YME” dalam dasar negaranya
aban tetep ga suka vanilla berkata,
Agustus 30, 2007 pada 12:56 pm
Gung…intina mas Kopral Geddoe itu ga setuju dgn Khilafah.
Yo wis toh…jgn dipermasalahin lagi omonganna…dia kan selama hidupna, hidup di jaman yg sekuler dan juga tolok ukur dia ya dari sekuler. Liat aja…rang referensi dia aja kamus OXFORD yg jelas2 ya oxford itu ya buatan orang yg notabene-na orang KAPITALIS SEKULER.
Klo dia tetep ndak setuju, yo wis. Cari orang lain lagi yg setuju dengan penerapan sistem khilafah. Mang orang cuma dia aja??
Tugas penjenengan kan cuma menyampaikan. Klo orang yg dikasih penyampaian ga mau nerima, ya udah….kebangkitan manusia kan diperoleh dari kebangkitan berpikirna toh???
KKI kemaren juga udah bikin semangatq buat halaqoh+berjuang menegakkan KHILAFAH semakin kuat. Dan Alhamdulillah tgl 28-29 Agustus kemaren dah dibentuk PW GEMA Pembebasan SUMSEL sebagai wujud dalam mengemban tugas dakwah dan memprovokasi bahwa Islamlah satu2na ideologi yg Rahmatan lil ‘alamin pasca KKI di kampus2 khususna di wilayah SUMSEL.
Hingga pada saatna nanti maka kalimat yang akan ditegakkan adalah kalimat tauhid
Laa Ilaha Illallahu Muhammadurrosululloh!!!!
Allohu Akbar!!!!!
Kopral Geddoe berkata,
Agustus 30, 2007 pada 1:28 pm
@ aban
Lha iya, saya memang orang sekuler, cuma bukan kapitalis
aban tetep ga suka vanilla berkata,
Agustus 30, 2007 pada 1:50 pm
Satu lagi…yg perlu ditanyakan adalah kenapa mas Kopral Geddoe ga setuju dengan khilafah???pa karena di sistem khilafah ada hukuman potong tangan, qishas, rajam????
hukum potong tangan itu diberikan kepada orang yang mencuri.Kalo mas Kopral takut sama hukuman itu jangan-jangan mas Kopral adalah…..
hukum qishas itu diberikan kepada orang yg telah membunuh.Kalo mas Kopral tidak setuju dengan hukuman itu, jangan-jangan mas Kopral…..
hukum rajam itu diberikan kepada orang yg berzina. Dan kalopun mas Kopral juga moh dgn hluman itu maka jangan-jangan mas Kopral juga……
klo nanti orang ga da yg mau nyuri lagi trus kita merasa aman dari pencurian apa mas Kopral ga seneng???apa ada orang yg mikir koq rumahq dah lama ga da yg nyuri???seneng apa ngga klo khilafah menjamin ga da kasus pencurian lagi???
Kalo kita ngerasa aman dari pembunuhan apa mas Kopral ga seneng????apa ada orang yg mikir koq aq ga da yg mau mbunuh ya????seneng apa ngga klo Khilafah melindungi mas Kopral dari pembunuhan???
Kalo nanti da lagi kasus perzinahan pa mas Kopral ga seneng???pa ada orang yg mikir koq udah lama nih istriku ga ada yg menzinahi????seneng apa ngga Khilafah tegak???
Apa sistem yg sekarang sudah menjamin smua itu???apa sistem yg sekarang udah mengurangi smua itu???
aban tetep ga suka vanilla berkata,
Agustus 30, 2007 pada 1:54 pm
yang bilang penjenengan itu kapitalis siapa???rang saya bilang gini….
rang referensi dia aja kamus OXFORD yg jelas2 ya oxford itu ya buatan orang yg notabene-na orang KAPITALIS SEKULER.
pa saya bilang penjenengan Kapitalis???
Kopral Geddoe berkata,
Agustus 30, 2007 pada 3:20 pm
Hoo, mau memprovokasi? Yang jelas hukum seperti itu bagi saya adalah barbar. Syariah yang ditawarkan beberapa pemahaman Islam adalah sistem gender apartheid, dan sudah usang termakan zaman. Ada beberapa versi syariah yang progresif dan cukup bisa saya terima, tapi bagaimanapun syariah adalah hukum yang didasarkan pada teks yang tidak bisa diamandemen. Saya tidak menyetujui hal itu. Hukum progresif basisnya mesti progresif. Tidak stagnan.
Ha, fallacy appeal to confidence.
Apa itu akan benar-benar terjadi?
Perfect solution fallacy.
Kopral Geddoe berkata,
Agustus 30, 2007 pada 3:20 pm
Lha, komenku kesedot akismet.
Kopral Geddoe berkata,
Agustus 30, 2007 pada 3:22 pm
Hoo, mau memprovokasi? Yang jelas hukum seperti itu bagi saya adalah barbar. Syariah yang ditawarkan beberapa pemahaman Islam adalah sistem gender apartheid, dan sudah usang termakan zaman. Ada beberapa versi syariah yang progresif dan cukup bisa saya terima, tapi bagaimanapun syariah adalah hukum yang didasarkan pada teks yang tidak bisa diamandemen. Saya tidak menyetujui hal itu. Hukum progresif basisnya mesti progresif. Tidak stagnan.
Ha, fallacy appeal to confidence.
Apa itu akan benar-benar terjadi?
Perfect solution fallacy.
Saya juga nggak bilang kalau anda menganggap saya kapitalis
Odi berkata,
Agustus 30, 2007 pada 11:39 pm
@ yang nggak suka vanilla
kalau gitu HT juga sekuler-kapitalis dong…Lha wong untuk ngiklanin acaranya pakai bahasanya kaum yang notabene penduduknya Sekuler dan sebagian Kapitalis
Ngomong-omong selain nggak suka vanila, mas juga nggak suka ya mendapat kebebasan menyuarakan pendapat mas ? Nggak suka ya setiap penganut agama mendapat kebebasan menjalankan ajarannya dan nggak usah bayar pajak yang berbeda karena tidak menganut agama negara ? Nggak suka kalau tindak kekerasan-dengan-mengatasnamakan-agama mulai berkurang ?
Odi berkata,
Agustus 30, 2007 pada 11:46 pm
Tentang masalah curi-mencuri, mas yang nggak suka vanila tahu salah satu sebab Turki Utsmani jatuh ? Karena para khalifahnya entah bagaimana berhasil membuat kas negara kosong dan akhirnya berutang dalam jumlah besar. Meski tidak semua saya yakin ada penyalahgunaan keuangan oleh sebagian khalifah.
Pernah dengar ada khalifah yang dipotong tangannya ?
danalingga berkata,
Agustus 30, 2007 pada 11:53 pm
Wah jadi seru di sini, mo numpang mengamati dulu deh.
joyo berkata,
September 1, 2007 pada 12:22 am
Fiuh…saya terlewat banyak diskusi…
).
Jujur baca tulisan2 diatas saya ngerasa ngeri dan “sakit”.
Dimulai dengan pernyataan bahwa Tuhan punya musuh, yang mana pernyataan tersebut bersumber dari sebuah kitab yang tidak bisa diverifikasi apakah benar kitab tersebut dari Tuhan beneran atau bukan (diyakini bisa, tapi jangan maksa orang lain untuk yakin ya
Andai benar Tuhan “menuliskan” kitab tersebut, dan mereka yang tidak mempercayai kitab tersebut menjadi musuh Tuhan, maka saya hanya bisa menghela napas panjang…tidak mengerti kenapa ada 4 milyar lebih (dari 6 milyar) manusia idup yang belum juga membaca kitab tersebut dan menjadikannya pedoman hidup-mati. Apakah ke-4 milyar lebih manusia tersebut sengaja diciptakan sebagai lahan untuk memperoleh surga? klo benar begitu adanya maka saya hanya bisa lagi2 menghela napas panjang…., karena ternyata saya hanya sebongkah arang bagi api surga yang abadi
aban tetep ga suka vanilla berkata,
September 1, 2007 pada 1:13 pm
kalau gitu HT juga sekuler-kapitalis dong…Lha wong untuk ngiklanin acaranya pakai bahasanya kaum yang notabene penduduknya Sekuler dan sebagian Kapitalis
Ngomong-omong selain nggak suka vanila, mas juga nggak suka ya mendapat kebebasan menyuarakan pendapat mas ? Nggak suka ya setiap penganut agama mendapat kebebasan menjalankan ajarannya dan nggak usah bayar pajak yang berbeda karena tidak menganut agama negara ? Nggak suka kalau tindak kekerasan-dengan-mengatasnamakan-agama mulai berkurang ?
saya bkn org HT,setidakna belum…:)klo bahasa yg itu, klo nanti iklanna pake bhs arab ntar org2 pd ngga ngerti lg:) berarti mas odi kudu liat lagi definisi kapitalis sekuler:)
trus masalah yg mas odi tanyakan…tentu semuana saya suka. tp masalahna sekarang knp cm orang2 yg menyuarakan pendapat ttg islam aja yg tidak boleh???knp orang islam yg bener2 menjalankan ajaranna secara kaffah yg dilarang???mksdna ga usah bayar pajak yg berbeda itu yg gmn tho???palagi yg satu ini saya paling suka…orang prinsip HT adalah dakwah dgn mengikuti metode Rasulullah yaitu tidak menggunakan kekerasan dan berjamaah. Jadi kenapa saya tidak suka kalo yg satu ini berkurang atau malah hilang sm sekali???
oddworld berkata,
September 2, 2007 pada 5:49 am
Lo saya kan sekadar ngikutin logikanya mas-yang-nggak-suka-vanilla.
Mas bilang tentang Geddoe “Liat aja…rang referensi dia aja kamus OXFORD yg jelas2 ya oxford itu ya buatan orang yg notabene-na orang KAPITALIS SEKULER.” Berarti karena Kamus Oxford itu buatan sekuler ada kemungkinan menurut anda kalau Geddoe ini nggak bakal nerima Khalifah karena yang dia jadikan rujukan adalah buku karya sekuler.
Karena saya punya kamus Oxford maka saya tahu kalau yang dibahas dalam kamus Oxford adalah tentang bahasa Inggris.
Dengan masih mengikuti logika mas yang menganggap kamus Oxford (tentu berikut isinya) merupakan karya sekuler berarti materi yang mereka bahas juga sekuler.
Nah materi yang mereka bahas ini (tentang kosakata bahasa Inggris) ternyata dipakai sebagai bagian dari Iklan HT. Bahkan sebagai judul banner blog ini.
Akhirnya berkat logika mas tsb saya menyimpulkan bahwa paling tidak ada unsur subversif-sekuler di HT
Penyelenggaraan KKI itu menunjukkan apa ya kalau bukan kebebasan ber-ekspresi ? Oya mungkin masih kurang warga negara Indonesia ini menjamu para tamunya, mungkin Senayan masih kurang luas ?
Apakah NKRI melarang warganya menyelenggarakan ajaran secara kaffah ? Apakah ada peraturan yang melarang anda shalat/ritual lainnya ? Saya bisa menebak yang anda maksudkan ttg ajaran ini adalah melakukan semacam “amar ma’ruf nahi mungkar” Silakan saja berdakwah asal tidak melakukan tindakan yang menjurus ke arah main hakim sendiri. Plus tetap menghormati hak warga negara lain untuk tidak setuju dan mengungkapkan ketidak setujuannya terhadap pandangan HT. Tentang aksi non-violence HT, pendapat saya meski HT tidak terlibat, HT memberi semacam pembenaran atas “tindakan-kekerasan-yang-mengatasnamakan-agama” yang terjadi di Indonesia. Saya tidak mengingat secara pasti statemen HT mana yang terkait hal itu. Yang saya ingat KKI semula akan menghadirkan pak Baasyir dari MMI dimana dalam satu wawancara beliau berpendapat bahwa aksi kekerasan tsb adalah sekadar aksi “kontra-teroris”. Tentu pendapat HT mungkin berbeda dengan pendapat pak Baasyir, tapi secara garis besar mungkin sama. Saya tidak bisa menerima pendapat tsb, karena sama saja menganggap Bangsa Indonesia ini sebagai teroris yang harus dihancurkan oleh para pemuja-agama tsb (meski Baasyir lalu menambahkan bahwa Amerikalah sasaran yang seharusnya dilawan)
Tentang pajak, mas pasti tahu tentang perbedaan pajak bagi muslim dan non muslim. Saya pernah mendengar bahwa non-muslim (beritanya) mendapat pajak yang relatif lebih ringan dan dibebaskan dari kewajiban untuk ikut berperang. Meski begitu ttp saja hal ini akan membuat non-muslim merasa dianaktirikan.
Di belahan dunia lain, kaum muslim di India dan Thailand juga bersikap serupa ketika agama Hindu dan Buddha coba dijadikan agama negara.
oddworld berkata,
September 2, 2007 pada 5:55 am
Oya kalau mas yang nggak suka vanilla ternyata suka sama semua yang saya sebutkan boleh dong saya ngajak mas kembali sebagai bagian dari NKRI ?
Mas Hanichi juga boleh lo.
aban tetep ga suka vanilla berkata,
September 12, 2007 pada 12:27 pm
pendapat saya meski HT tidak terlibat, HT memberi semacam pembenaran atas “tindakan-kekerasan-yang-mengatasnamakan-agama” yang terjadi di Indonesia. Saya tidak mengingat secara pasti statemen HT mana yang terkait hal itu.
oia???tindakan kekerasan yang mana yg dibenarkan oleh HT??
klo ada tolong kasih tau saya ya…:)
pendapat HT mungkin berbeda dengan pendapat pak Baasyir, tapi secara garis besar mungkin sama.Saya tidak bisa menerima pendapat tsb, karena sama saja menganggap Bangsa Indonesia ini sebagai teroris yang harus dihancurkan oleh para pemuja-agama tsb.
Tentang pajak, mas pasti tahu tentang perbedaan pajak bagi muslim dan non muslim. Saya pernah mendengar bahwa non-muslim (beritanya) mendapat pajak yang relatif lebih ringan dan dibebaskan dari kewajiban untuk ikut berperang. Meski begitu ttp saja hal ini akan membuat non-muslim merasa dianaktirikan.
ya pendapat kami memang sama. sama2 ingin menerapkan sistem khilafah yang menerapkan syari’at islam secara kaffah tapi hanya saja metode kami yg berbeda. kami berdakwah dgn cara mengikuti metode dakwah rasululloh… dgn tanpa kekerasan. jd klo antum bilang HT setuju dgn cara2 kekerasan spt itu, itu malah membuat saya bertanya2??? orang saya tertarik dgn HT dan ngaji di HT ya karena metodenya itu:) pemuja agama yg seperti apa?? bknna antum sendiri seorang pemuja agama??? antum manusia yg pny naluri untuk mensucikan ssuatu kan??makana antum hidup dgn memeluk agama serta tunduk dan patuh dlm aturan2 yg ada dlm agama antum kan. klopun tidak, maka saya pikir antum……….:)
ttg pajak ya???saya hanya bs sedikit ngasih tau ttg ini. yang saya tau ya memang begitu. itu karena memang mereka tidak diwajibkan untuk berperang lha wong yg diwajibkan berperang itu kan cm org2 islam, laki2. di Al-Qur’an kan ada penjelasannya(saya lupa surat apa ayat berapa??tp klo antum sering baca Qur’an ma artinya pasti antum tau:) ). apa ada dlm al-qur’an dijelaskan orang non-muslim diwajibkan berperang. justru meraka malah harus dilindungi oleh negara selama mereka mau mengakui khilafah serta tunduk dan patuh dgn aturan2 hukum yg berlaku dlm sistem khilafah itu sendiri. bukan malah mereka disuruh atau dipaksa memeluk Islam karena islam sendiri tidak mengajarkan pemeluknya utk memaksa org lain utk memeluk Islam. nah dr situ maka org2 non-muslim itu pun diwajibkan utk membayar pajak(saya lupa istilahna apa??tp kita pakai saja istilah antum) kepada negara. dan jikalopun mereka tidak sanggup membayar, maka meraka dibolehkan tidak membayar pajak dan negara pun harus memberi mereka santunan dan memberi modal yg dr modal itu mereka harus bekerja sampai pny penghasilan sndr hingga akhirna merka bs membayar pajak tsb. mereka dikasih keringanan sperti itu krn mereka tidak terikat penuh pada aturan2 syari’at krn mereka sndr bkn org islam. bukan berarti mereka di anak tirikan, itu ditujukan supaya mengerti seperti apa Islam itu sebenarnya dan dr situ mereka diharapkan sadar dan mendapat hidayh utk memeluk islam. sedngkan non-muslim yg tidak tunduk pd aturan2 khilafah, maka mereka boleh diperangi dan mereka tidak dikenakan pajak sama sekali karena mereka tidak tunduk pd aturan2 khilafah.
Saya cm bs sedikit ngsih penjelasan ttg itu. mgkn nnt mas hanichi bs bantu saya ngasih penjelasan yg lebih detail. klopun saya kurang bs menjelaskan itu krn saya msh bodoh dlm hal ini:) tolong maafkan saya…
aban tetep ga suka vanilla berkata,
September 12, 2007 pada 12:32 pm
Oya kalau mas yang nggak suka vanilla ternyata suka sama semua yang saya sebutkan boleh dong saya ngajak mas kembali sebagai bagian dari NKRI ?
Wah saya mau sekali…..:) NKRI itu singkatan dari Nich Khilafah Rasyidah Is the best tho???? klo itu saya mau sekali:)
oddworld berkata,
September 12, 2007 pada 1:48 pm
Tentang pajak yang harus dibayarkan oleh umat non-muslim di jaman khalifah ada pendapat yang ingin saya share disini. Yang diungkapkan oleh mas-yang-nggak-suka-vanilla memang salah satu versi yang sering kita dengar, sementara versi lain mengungkapkan pendapat semacam ini :
http://en.wikipedia.org/wiki/Dhimmi
Although in general dhimmis had to pay higher taxes (despite not having to pay zakat), Lewis notes that there are varying opinions among scholars as to how much of an additional burden this was.[83] According to Norman Stillman: “Jizya and kharaj were a crushing burden for the non-Muslim peasantry who eked out a bare living in a subsistence economy.”[89] Ultimately, the additional taxation was a critical factor that drove many dhimmis to accept Islam.[6]
Kaum dhimmi memang tidak perlu membayar Zakat sehingga terkesan pajak yang harus dibayarkan ke negara lebih murah plus tidak perlu ikut berperang. Pengertian ‘murah’ ini tentu relatif maknanya, dari yang saya baca pada awal masa ekspansi Islam, jizya yang dibayar memang relatif murah dibanding pajak sejenis yang harus dibayar umat non-muslim kpd penguasa mereka sebelumnya. Baik Kekaisaran Persia ataupun Kekaisaran Romawi. Salah satu sebabnya karena umat Muslim sebagai penakluk saat itu tidak memiliki istana yang megah berikut berbagai kemewahannya semacam yang dimiliki penakluk sebelumnya.
Dalam perkembangannya para penakluk Islam ini ikut membangun pemerintahan dengan gaya yang menyerupai para penakluk sebelumnya hingga biayanya pun meningkat.
Imbasnya jizya yang dikenakan pada umat non-muslim pun meningkat. Sebagai dampaknya terjadi konversi ke agama Islam dalam jumlah besar terkait hal ini.
Selain itu salah satu makna dari jizya ini agar para dhimmi tersebut tidak menyombongkan diri, bersikap rendah hati (make them more humble) di hadapan umat Muslim. Cara pikir semacam ini rasanya kurang pas untuk diterapkan di jaman sekarang. Perlukah kita membuat orang dengan kepercayaan berbeda merasa rendah diri untuk meninggikan status kita ?
Tentang tidak adanya kewajiban umat Muslim untuk berperang, salah satu kekhalifahan yang ingin direkonstruksi HT, kekhalifahan Turki Utsmani, memiliki korps infanteri bernama Janissary. Yang anggotanya diambil dari anak-anak keluarga Kristen/non-Muslim yang dididik dan didoktrin untuk menjadi korps khusus.
http://www.janissary.info/
Pernyataan-pernyataan yang saya maksudkan adalah model pernyataan yang sering dilontarkan oleh beberapa tokoh HT seperti pak Ismail Yusanto ketika menanggapi aksi penangkapan Polri thd segelintir orang yang melakukan tindak-kekerasan-dengan-mengatasnamakan-agama dimana para tokoh tsb sering menyebut bahwa tindakan polisi tsb adalah bagian dari rekayasa asing, atau polisi sekadar menangkapi tokoh-tokoh tsb tanpa bukti jelas dan semacamnya. Ungkapan-ungkapan semacam itu meski tidak secara langsung, saya rasa dapat ditanggapi oleh beberapa pihak yang ingin melakukan tindak kekerasan sebagai bentuk dukungan.
Hanif al-Falimbani berkata,
September 23, 2007 pada 2:18 pm
Afwan kepada semua komentator, kenapa saya sekian lama mendiamkan diskusi yang ada di judul ini, karena saya teringat nasehat dalam kitab min muqowwimat,
“Adapun jika lawan diskusi hanya ingin berdebat, keras kepala, banyak membicarakan hal yang tidak bermanfaat, maka yang menjadi sikap asal adalah tidak berdiskusi dengannya, hal ini dilakukan jika kita memang telah mengetahui karakter lawan diskusi kita sebelum berdiskusi dengannya. Jika baru terungkap ditengah-tengah diskusi, maka ia harus menasehatinya, Apabila ia tidak bisa menjaga diri, maka putuskanlah pembicaraan.”
Jika saja saya tidak di-sms sama Akhuna Aban, mungkin saya tidak pernah menanggapi apa yang antum semua diskusikan dalam judul ini. Tapi satu hal yang perlu diingat, saya tidak pernah menye-pam-kan komentar siapapun yang pernah hinggap di blog ini, dan komentar-komentar dari Oddy dan Kopral Geddoe yang dikenali sbg spam sudah saya tampilkan.. Jadi silahkan saja komentar apapun di blog saya, asal sopan pasti tidak akan saya hapus. dan Insya Allah saya akan menanggapinya sesuai kemampuan dan tenaga meresponnya sesuai dengan kemampuan dan tenaga yang ada pada diri saya, maklum, saya juga manusia biasa…
::Kopral Geddoe::
Masalah Khilafah itu teokrasi atau bukan mungkin kita punya definisi yang berbeda, tapi coba antum hayati dan dalami definisi Khilafah yang telah saya jelaskan pada komentar saya sebelumnya, kan sudha jelas tuh..
Khilafah bagi kaum Muslimin–yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya–adalah sebuah kewajiban yang harus ditegakkan, kalau Kopral pengen tau kenapa kok bisa seperti itu? Silahkan lihat-lihat aajlah di situsnya HTI, disana sudah dijelaskan panjang-lebar, tinggi-luasnya..
Tentang demokrasi dan Sekularisme, maka sejujurnya, ini perlu diskusi lebih lanjut, tapi yang jelas saya menangggap dua ide itu adalah ide kufur..
~~Saya juga salut sama Kopral yang mau susah payah mau komentar di blog saya yang jelek ini, dan maaf dua komentar Kopral kesedot spam, tapi tenang aja Pral.. sudah saya tampilin..
~~
::Oddy::
#1 Khilafah bukan sistem Kerajaan, karena walaupun khalifah itu turun-temurun tapi Khalifah itu hanyalah sebagai pelaksana Syariat Islam, tidak bisa membuat aturan sendiri yang menyimpang dari Syariat Islam..
#2 Turki Utsmani jatuh bukan karena Khalifahnya korup, tapi karena konspirasi barat yang direncanakan ratusan tahun sebelumnya.. Soeharto korup, tapi negara ndak runtuh tuh..
#3 Setahu saya HTI tidak pernah dan tidak akan pernah menggunakan cara-cara kekerasan dalam memperjuangkan tegaknya Syariat Islam dan Khilafah.. BAhkan.. bahkan.. banyak syabab (aktivis Hizbut Tahrir) yang disksa, dkubur hidup-hidup, direbus hidup-hidup hingga menjemput ajalnya.. dan sejengkalpun HT tidak pernah membalas perlakuan para penguasa tiran itu dengan kekerasan.. tidak pernah setitikpun.. saya ulangi lagi, tidak pernah setitikpun.. saya kira anggapan MAs Oddy hanya prasangka bahwa HT menyemangati para teroris adalah anggapan yang tak bernilai sama sekali..
#4 Dua pembicara dari Indonesia (Ust. Abu Bakar Ba’asyir dan Ust. Habib Riziq Shihab) dilarang bicara oleh pemerintah.. sedangkan dua pembicara dari luar negeri (Dr. Imran wahid dan Syaikh Ismail al-Wah-wah) dicekal dan dideportasi sesaat setelah tiba di Cengkareng.. Mana slogan Freedom of Speech itu..??? Yang terlihat jelas adalah orang-orang yang menyelisihi Islam dan Syariat Islam telah mengalami kekalahan intelektual, masak orang mau dakwah kok dilarang.. sedangkan waktu Bush sang penjagal umat Islam datang dikawal dan disembah-sembah.. Inikah negara yang merdeka?? Lantas, bisakah Islam menjadi rahmatan lil alamiin di negara se-demokratis dan se-sekuler Indonesia ini..?? Saya yakin 100% tidak akan pernah bisa.
#5 Jizyah adalah hak yang diberikan Allah Swt kepada kaum Muslimin dari orang-orang kafir, karena adanya ketundukan mereka kepada pemerintahan Islam. Jizyah tersebut merupakan harta umum yang akan dibagikan untuk kemaslahatan seluruh rakyat. Jizyah diambil setelah melewati satu tahun, jadi jizyah diambil tiap satu tahun sekali. Jizyah dapat gugur jika mereka masuk Islam. Dan Jizyah tidak wajib bagi kaum wanita, anak-anak. Jizyah hanya diambil dari prianya. Jizyah
Afwan poro sederek.. mengke dilanjut nggih, stay tune in here.. nyuwun pangapunten.. saya ada urusan habis ini..
oddworld berkata,
September 23, 2007 pada 5:37 pm
Point 1. Jelas selama berabad-abad Kekhalifahan dalam sejarah Islam menggunakan sistem penurunan kekuasaan lewat cara keturunan yang mirip dengan kerajaan, sementara apakah Nabi mencontohkan hal tersebut ? Bukankah para khulafaur rasyidin diangkat dengan semacam pemilihan di antara para sahabat nabi yang dianggap paling kompeten ?
Silakan hal tsb dianggap sebagai sekadar variasi dalam sistem pemerintahan tetapi sistem semacam itu terbukti membawa konflik-konflik yang tidak perlu dalam Kekhalifahan.
Point 2. Dalam keterangan di wiki yang saya baca keadaan keuangan yang memprihatinkan di saat itu adalah salah satu penyebab runtuhnya Kekhalifahan Utsmani. Bilapun hal tsb adalah faktor yang relatif kecil, pertanyaan saya mengapa dalam sistem yang jelas ’syariah’ (dalam batas-batas tertentu) bisa terjadi mismanajemen seperti itu ? Apakah ada hubungannya dengan fungsi kekuasaan yang terlalu banyak diberikan pada Khalifah ?
Point 3.Masalah persepsi, meski demikian bila HT memang berencana memasukkan Indonesia kedalam ,sebut saja, Khilafah Islam model HT, berarti HT berencana menghapuskan eksistensi Republik Indonesia.
Berarti pula tujuan HT sama dengan para separatis dan para pelaku-tindak-kekerasan-dengan-mengatasnamakan-agama.
Meski HT tidak melakukan tindak kekerasan kesamaan tujuan tersebut terus terang menjadikan saya waspada akan HT.
Point 4.Mungkin ada masalah imigrasi yang belum dibereskan oleh para pembicara tersebut atau mungkin pemerintah negara yang ketempatan kedua orang tersebut yang meminta pemerintah Indonesia mendeportasi mereka.
Freedom of Speech yang terbatas inipun masih jauh lebih baik ketimbang apa yang dilakukan Kekhalifahan Utsmani ketika menghadapi orang-orang Armenia yang mencoba menyuarakan keinginan mereka untuk merdeka.
Point 5.Intinya menurut saya jizyah merupakan bagian dari alat pemaksa secara tidak langsung agar umat non-muslim masuk Islam. Pertama dari maksudnya agar mereka mengakui kekuasaan pemerintahan Islam. Sistem pajak yang mengakui persamaan status agama sebagai dasar perhitungan menurut saya lebih pas diterapkan di Indonesia yang plural.
Bilapun mereka saat masuk Islam terhindar dari jizya dan hanya terkena zakat, kita perlu bertanya apakah mereka (umat non-muslim tsb) hanya masuk Islam untuk menghindari jizya ? Agar status mereka di masyarakat setara dengan umat Muslim meski mungkin zakat yang harus dibayar lebih banyak dari jizya.
aban tetep ga suka vanilla berkata,
September 24, 2007 pada 2:07 pm
#1
Mas ini aja2 ada…ndak liat dr beberapa komen di atas. yang kami inginkan adalah KHILAFAH RASYIDAH bukan model khilafah jaman Abbasyiah, Utsmaniyah ato model lain khilafah setelah masa para Sahabat(khulafaur rasyidin)yang kalo kata mas oddworld model-nya HT. Apa itu KHILAFAH RASYIDAH???itu adalah sistem pemerintahan khilafah yg sesuai dgn manhaj kenabian(metode kenabian) dimana masa khilafah seperti itulah yg dijalankan oleh para sahabat(khulafaur rasyidin), bukan model khilafah yg menurunkan kekuasaannya melalui cara keturunan..:) jadi kalo akhi bicara HT ingin menegakkan model khilafah seperti itu, saya hanya bisa tersenyum saja. Lha wong selama saya ikut kegiatan2 HT sy ndak pernah denger tuch HT pngn menegakkan model khilafah seprti itu.:)
#2
Mas…dah dibilang Turki Utsmani jatuh bukan karena Khalifahnya korup, tapi karena konspirasi barat yang direncanakan ratusan tahun sebelumnya.. Soeharto korup, tapi negara ndak runtuh tuh..
Makanya percayalah pada informasi yg bertanggung jawab bukannya yg berjawabtanggung:)(jadi ngopy kalimat nya mas Agung nich).
#3
Kalo mas masih mau gabung ma Indonesia ya monggo.. Saya dah illfeel tuh ma Indonesia…dari jaman 45 dulu Indonesia ga pernah sejahtera…iya sih sejahtera tp yg yg sejahtera cm orang2 diatas sana dan orang2 yg “menjilat demi kepentingan mereka”….:)
Kalo Indonesia dah bs bikin smua rakyatnya sejahtera ga ada lagi kemiskinan…????
Kalo mas memang ikut menyimak berita beberapa tahun terakhir, justru HT ikut menyuarakan agar separatis itu tidak terjadi dan HT juga vokal waktu Timor-Timur hendak melaksanakan jajak pendapat agar tidak lepas dari Indonesia. Lalu apakah kami ingin menghindari eksistensi Indonesia.
Makanya percayalah pada informasi yg bertanggung jawab bukannya yg berjawabtanggung:)
Saya pending dulu untuk 2 poin berikutnya…saya mau pulang dulu. dah mulai sepi ruangan kelas saya:)
aban tetep ga suka vanilla berkata,
September 24, 2007 pada 2:13 pm
maaf numpang ngomen sebntar lagi..
“Adapun jika lawan diskusi hanya ingin berdebat, keras kepala, banyak membicarakan hal yang tidak bermanfaat, maka yang menjadi sikap asal adalah tidak berdiskusi dengannya, hal ini dilakukan jika kita memang telah mengetahui karakter lawan diskusi kita sebelum berdiskusi dengannya. Jika baru terungkap ditengah-tengah diskusi, maka ia harus menasehatinya, Apabila ia tidak bisa menjaga diri, maka putuskanlah pembicaraan.”
maafin saya mas Agung..maklum saya kan baru ngaji. jadi kalo saya terlihat masih mau terlibat diskusi dgn orang seprti itu…saya minta maaf. Astaghfirullohal’adzhim..
oddworld berkata,
September 24, 2007 pada 3:23 pm
Poin 1. Salah satu website yang mendukung penegakan khilafah adalah http://www.khilafah1924.org Dari namanya sudah jelas kalau kekhalifahan yang akan diusung adalah kekhalifahan yang meneruskan nilai-nilai Kekhalifahan Utsmani
Saya setuju bahwa prinsip prinsip pemilihan pada masa Khulafaur Rasyidin masih cukup berbeda dengan Kerajaan-Kerajaan saat itu. Sayangnya kecenderungan kekuasaan absolut pada Khalifah mengantarkan pada munculnya Khalifah model kerajaan selama jangkan waktu yang cukup lama, jauh lebih lama ketimbang jangka waktu Khulafaur Rasyidin. Kecenderungan semacam itu dapat kembali muncul pada Khilafah model HT.
Poin 2.Ada negara yang runtuh karena korupsi/mismanajemen keuangan dan ada negara yang runtuh karena konspirasi negara-negara lain untuk menjatuhkannya serta ada yang gabungan dari kedua-duanya.
Uni Soviet yang jauh lebih berkuasa dari Indonesia pecah karena masalah ekonomi.
Atau begini, bila suatu negara manajemennya baik maka usaha konspirasi dan infiltrasi dari negara-negara lain akan lebih mudah diatasi.
Lagipula dalam penjelasan saya, yang jadi masalah, sistem Khalifah ternyata memiliki kelemahan dalam manajemen keuangan negara karena ada tendensi kekuasaan yang berlebihan di tangan Khalifah
Poin 3. Ah ternyata mas-yang-nggak-suka-vanilla ini masih bersekolah ya, sekolah di mana mas ? Kalau sekolah di Indonesia, alhamdulillah ternyata sistem di Indonesia masih memberi kesempatan kepada mas untuk mengenyam pendidikan. Kalau sekolah di luar negeri, alhamdulillah juga karena sistem pmerintahan negara-bangsa masih memberi kesempatan mas untuk bersekolah
Dari pernyataan-pernyataan HT yang saya tangkap justru HT berkepentingan dengan eksistensi Indonesia agar kelak Indonesia lebih mudah dimasukkan dalam Khilafah model HT, sesuatu yang tidak saya setujui dalam pandangan saya sebagai warga Republik Indonesia.
simon berkata,
Februari 10, 2008 pada 3:05 pm
simon say,
???? bingung sama org Islam yg tidak mau diatur sama aturan yang diyakininya setiap hari “…..hidupku matiku hanya untuk Allah……..” ???????????????????????????
apakah ini orng Islam.
fsiekonomi.multiply.com berkata,
Januari 29, 2009 pada 10:22 am
it has been more than 1 year after kki.
mmm, what has been changed?
there r more seminars, educated society produced.
frankly speaking, they’re a little bit absurd. it’s better for u guys to maintain social programs. no need to worry. people would like to sympathize u guy’s movement. just like ikhwan with their pkpu, rzi, pandu keadilan, relawan banjir. seminars? keep going. judging and demarketing governments, democracy and other muslims fighting @ parliament? ehm, go ahead.
well, whatsoever, hope muslims can reform themselves to be better muslims.
and then, unite, for islam revival.
wallohu a’lam.