Februari 28, 2007

Antara Benci, Rindu, dan Biasa-Biasa Saja

Posted in al-Mustanir pada 11:57 am oleh Hanif al-Falimbani

Kemarin, ketika aku pulang ke Palembang, ada cerita menarik. Suami dari adik kandung ayahku, atau singkatnya Pamanku, tengah diliputi dilema. Dia adalah seorang PNS di Departemen Perhubungan Udara di Palembang. Beberapa minggu yang lalu, dia mendapatkan promosi dari Dirjen Perhubungan Udara untuk pindah kerja di PT Persero Angkasa Pura II (AP II), BUMN yang bergerak di bidang jasa pelayanan ke-bandarudara-an, tepatnya, pamanku ini ditempatkan untuk bekerja sebagai controller ATC (Air Traffic Control) di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.

Pamanku ini bukanlah lulusan STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia), tapi hanya tamatan SMA biasa. Umurnya bahkan sudah mencapai angka 40-an. Tetapi dari segi kemampuan, beliau ini punya seabrek pengalaman tentang ‘dunia udara’. Dan kemampuan lain yang menjadi salah satu faktor penentu adalah beliau ini sangat mahir berbahasa Inggris. Faktor lain, aku kira adanya ‘orang dalam’ di AP II Pusat yang tahu betul bagaimana keseharian pamanku yang tidak pernah lepas dari masjid.

Dilemanya bukan terletak pada faktor-faktor diatas, tetapi terletak pada atasan kantornya sendiri. Anehnya, atasan dan juga teman kerjanya tidak ridho akan kepindahtugasan pamanku ke AP II. Pasalnya, dia juga mengajukan permohonan untuk pindah ke AP II, tetapi gagal. Dengan segala cara, mulai dari membanting pintu kantor sampai mengadu ke Kepala Dinas, dia mencoba untuk menghentikan laju kepindahan pamanku. Dia beranggapan bahwa dialah yang lebih layak untuk mendapatkan promosi itu. Akhir kata, proses kepindahtugasan paman saya menjadi terhambat dan belum terealisasi sampai sekarang.

Dari penggalan cerita diatas, kita dapat memahami bagaimana perasaan pamanku, tetapi tentunya, kita lebih dapat memahami bagaimana perasaan atasan pamanku.

Kata kuncinya adalah perasaan, jika perasaan atasan paman senang atas promosi yang didapat oleh pamanku, tentunya masalah akan selesai. Tapi kenyatannya tidak. Dari sini, banyak orang bependapat bahwa, ‘Oleh karena itu, Jangan gunakan perasaan!’.

Jika ada orang yang beranggapan bahwa jangan gunakan perasaan dalam hidup ini, maka saya katakan kepadanya bahwa Allah ‘azza wa jalla sendiri telah memaklumkan adanya perasaan dalam diri seorang hamba.

Allah SWT berfirman :

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (TQS al-Baqarah [2]: 216)

Benci, itulah perasaan manusia akan perang. Tapi, Allah justru mewajibkannya. Sesuatu yang kita benci, terkadang merupakan sesuatu yang amat baik bagi kita. Dan sesuatu yang sangat kita sukai, terkadang malah merupakan sesuatu yang amat buruk bagi kita. Inilah yang terjadi jika pikiran mengikuti perasaan, bukan perasaan mengikuti pikiran.

Seringkali kita menyukai sesuatu yang salah dan membenci yang benar; menyukai jalan ke neraka dan membenci jalan ke sorga. Kata Nabi SAW, ‘Jalan ke sorga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai syahwat, sedangkan jalan neraka diliputi oleh perkara-perkara yang disukai oleh syahwat’ (huffat al-Jannatu bil al-Makaarihi, wa huffat al-Naaru bi asy-syahawaat).

Perasaan, itulah yang seringkali menguasai diri manusia. Ketika mendapatkan nilai yang bagus, tentu saja ada perasaan gembira dihati; begitu pula saat mendapatkan uang, tulisan dimuat di koran, acara pengajian berhasil, orang yang dikontak mau mengaji, bertemu dengan keluarga atau teman lama, berkumpul bersama orang-orang shalih, pinangan diterima, atau mendapatkan hadiah. Semua orang pasti akan merasa senang.

Kita juga pasti akan merasa bersedih hati, ketika kehilangan uang, ditinggal mati oleh ayah-ibu, judul TA ditolak terus, atau ketika kita mendapat sebuah sms yang berbunyi : “Maaf akhi, bukannya saya tidak menghormati permintaan akhi. Tapi rasanya kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan semoga akhi menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.” Duhai, betapa luluhleburnya hati ini, runtuh berkeping-keping.

Rasa marah juga seringkali muncul ketika harga diri dilecehkan, amanat disia-siakan, janji diingkari, dan lainnya. Itulah realitas perasaan dalam diri manusia, hingga berkumpullah didalam setiap orang perasaan senang-susah, sedih-gembira, ridha-tidak ridha, marah-rela, mendukung-menghalangi, kecewa-bangga, dan lainnya. YA, inilah manusia, sebab hanya benda mati saja yang tidak memiliki perasaan.

Perasaan adalah suatu hal yang sangat manusiawi, namun yang menjadi persoalan adalah standar atau tolak-ukur apa yang wajib digunakan ketika memunculkan perasaan kita? Sebagai seorang Muslim, tentu saja teladan yang terbaik adalah RasuluLlah SAW. Oleh karena itu, layak diketahui oleh kita yang mengaku Muslim bahwa Rasul SAW menyatakan bahwa:

Laa yu’minu ahadukum hatta yakuuna hawaahu taba’aa limaa ji’tubihii

“Tidaklah beriman seorang diantara kalian hingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang aku bawa [Al-Qur’an dan As-Sunnah]” (Hadits Hasan Shahih, Imam An-Nawawi telah meriwayatkannya dalam kitab al-Hujjah dengan sanad Shahih dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash).

Hingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang aku bawa”, Apa yang dibawa oleh Rasul? Tentu saja al-Quran dan As-Sunnah. Berarti, sebagai seorang Muslim, kita wajib menundukkan hawa nafsu kita hanya kepada al-Qur’an dan As-Sunnah saa, jika tidak, maka kita akan dianggap belum sempurna keimanannya.

Saya ingin mengibaratkan arti kata tunduk seperti seorang prajurit kepada seorang Jendralnya. Seorang prajurit pastilah akan selalu tunduk akan setiap perintah dari Jendralnya, walaupun dia disuruh nggelongsor di parit, minum air rawa, push-up 200 kali, atau tidur di pinggir sungai, itu semua pasti akan dilakukannya, karena apa? Karena dia tunduk, jika tidak tunduk ada konsekuensinya, dia akan dihukum. Disini, sang prajurit bisa saja terlihat tunduk di depan jendralnya tetapi hatinya ia memberontak, namun apa yang diminta oleh Rasul? “Hawa nafsunya tunduk kepada apa yang akau bawa”. Luar biasa, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam hal yang tidak terlihat oleh mata, perasaan atau hawa nafsunya mesti tunduk.

Ketika al-Quran menerangkan akan keharaman riba (2:275), bukan hanya secara fisik kita tidak mengambil riba dari uang yang kita tabung di Bank atau beralih menabung ke Bank Syariah, tetapi kita juga dituntut untuk merasa gerah ketika melintas di halaman depan sebuah Bank. Kita akan melihat para pegawai Bank yang berada dalam kantor yang selalu sejuk tidak lebih dari sekadar orang-orang yang berinterkasi dengan keharaman.

Begitu pula ketika ada seorang Muslimah yang ingin kaffah dalam memeluk Islam merasa terhina. Dia merasa terhina ketika ada seorang lelaki yang mengaku menyukai wanita yang berjilbab tetapi gaya berifikir dan bersikapnya tidak mencerminkan bahwa dia memang pantas disebut sebagai seorang yang menyukai muslimah yang berjilbab secara sempurna. Perasaan seorang muslimah seperti ini merupakan hal yang sangat manusiawi dan bahkan sangat baik dalam pandangan syariat.

Begitu pula perasaan seorang lelaki Muslim yang menyukai wanita berjilbab. Ini adalah perasaan yang bahkan diwajibkan, karena tidak ada lagi model wanita yang dirindukan oleh seorang lelaki yang beriman selain wanita yang mengenakan jilbab dan kerudung secara sempurna dan juga wanita yang selalu menjaga tutur katanya didepan lelaki asing, wanita yang tidak berpacaran, dan tidak pula tabarruj.

Begitu pula ketika kita melihat ada seorang yang mengerjakan shalat sunnah rawatib, kita akan merasa senang melihat hal itu, dan kitapun terdorong untuk melakukan shalat itu juga, karena memang ada seruan dari Allah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Bukan malah benci dan beranggapan bahwa orang yang mengerjakan shalat itu sok aksi, sok alim, sok tahu tentang agama, dll.

Sama halnya saat kita menjadi makmum seorang imam yang panjang dalam membaca ayat al-Qurannya. Mestinya kita senang, karena pahala yang didapat akan bertambah banyak, disamping untuk mengecek hafalan kita.

Demikian pula halnya dalam masalah khilafiyah, yaitu perkara-perkara yang memang terjadi perselisihan pendapat dikalangan ulama. Perasaan kita akan selalu mengatakan bahwa perselisihan yang terjadi dalam permasalahan cabang agama adalah hal yang wajar. Perasaan kita akan berucap seperti ucapan terkenal Imam Syafi’i bahwa “Pendapat saya benar tapi masih mungkin mengadung kesalahan, dan pendapat anda salah tetapi masih mungkin mengandung kebenaran”, subhanaLlah. Bahkan ulama sekaliber Imam Syafi’i saja ketika dipersilahkan untuk menjadi Imam shalat dikalangan mazhab Imam Abu Hanifah, beliau lantas mengerjakan shalat sesuai dengan tata cara mazhab Imam Abu Hanifah, luar biasa.

Seorang mukminah yang menyadari bahwa memakai cadar adalah mubah akan biasa-biasa saja ketika melihat seorang wanita yang memakai cadar, karena dia menyadari dengan segenap pikirannya bahwa memakai cadar itu ya boleh-boleh saja. Sebaliknya, seorang mukminah yang menyadari bahwa memakai cadar itu adalah wajib atau sunnah akan menganggap seorang muslimah yang tidak bercadar itu ya monggo saja, wong itu pendapatnya, dan para ulama memang berbeda pendapat dalam hal ini. Yang mestinya diperkarakan adalah ketika ada seorang muslimah yang tidak menutup aurat dan mengenakan jilbab serta kerudung dengan sempurna ditambah lagi berpacaran dan berikhtilath (bercampur baur). Rasa sedih semestinya muncul dalam hati kita ketika melihat hal yang demikian.

Begitu juga dalam masalah khilafiah lainnya. Seorang Muslim tidak merasa resah, gerah apalagi benci terhadap orang yang berbeda pendapat dengannya, karena dia memahami dengan sepenuh hati bahwa khilafiah itu manusiawi. Pada titik ini, sadar atau tidak sadar dia telah menyatukan pikiran dan perasaannya.

Beberapa waktu yang lalu heboh masalah poligami, karena da’i kondang Aa Gym nikah lagi. Bagi kita yang mampu menyatukan pikiran dan perasaan yang Islami, tentu hal ini adalah biasa-biasa saja, toh poligami itu memang mubah (boleh), bukan sunnah apalagi wajib. Mau poligami ya monggo, ndak ya ndak apa-apa, gitu lho. Energi kemarahan dan kekesalan justru harus ditujukan kepada oknum-oknum kaum Muslimin atau oknum-oknum Ulama yang mengharamkan poligami karena alasan jender atau memelintir dan memotong sebagian ayat al-Quran dan Hadits.

Masih banyak contoh lain yang bisa menggambarkan tentang bagaimana bila perasaan berbicara menggunakan standar Islam. Misalnya, ketika kaum Muslimin di Irak saat ini berada dalam ketakutan yang luar biasa, ketakutan yang bahkan merekapun tidak pernah memimpikannya dalam tidur. Semestinya, kita kaum Muslimin yang telah mendengar bahwa kaum Muslim itu satu tubuh, tidak ada waktu lagi untuk tertawa gembira terbahak-bahak, tidak ada waktu lagi untuk berleha-leha. Air mata kita semestinya menetes sebanyak tetesan air mata rakyat Irak yang setiap harinya begelung dengan kesedihan ditinggal mati saudaranya yang dibunuh oleh tentara Kafir.

Energi kemarahan kita selayaknya diarahkan kepada tentara Israel yang ingin menghancurkan al-Aqsa, bukan kepada saudara seaqidah yang beda suku atau beda kampung, hanya karena masalah rebutan wanita. Energi kebencianpun tidak pantas kita habis-habiskan untuk membenci saudara seaqidah yang berbeda harakah, mazhab, atau bendera. Semestinya energi itu kita himpun, dan kita arahkan bersama kepada kaum kafir yang terus-menerus, siang dan malam menghambat kembalinya kehidupan Islam ditengah-tengah kaum Muslimin.

Ada sebuah fragmen kehidupan Rasul yang patut kita renungi, ketika itu ada seorang wanita Quraisy yang mencuri, karena merasa iba dan kasihan terhadap wanita ini, orang-orang Quraisy mencoba bertanya kepada Rasul, mereka beranggapan ada kemungkinan hukumannya akan dikurangi karena wanita tersebut adalah salah satu wanita terpandang. Lalu diutuslah salah seorang sahabat, Usamah bin Zaid, Usamah bin Zaid ini adalah orang yang dikasihi oleh Rasullullah SAW. Lalu Usamah bin Zaid menyampaikan masalah ini kepada Rasul, Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kamu akan melindungi orang yang terkena salah satu dari hukuman Allah Ta’ala?” Beliau SAW lantas berdiri dan berpidao dengan menyatakan :

Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu sekalian adalah bila ada salah seorang yang terpandang diantara mereka mencuri maka mereka membiarkannya, tetapi bila yang mencuri itu orang yang lemah maka mereka melaksanakan hukuman. Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad itu mencuri, niscaya aku potong tangannya” (HR Bukhari dan Muslim)

Sungguh, Rasul SAW telah memberikan teladan yang sempurna dalam menyatukan pikiran dan perasaan atas dasar Islam. Rasulullah SAW marah karena hukum Allah SWT dilanggar dan diinjak-injak. Begitu juga kita, yang semestinya marah ketika hukum-hukum Islam tidak diterapkaan, dilecehkan, bahkan dirusak oleh sebagian kaum Muslimin sendiri. Jika kita telah sampai pada titik ini, berarti kita telah menanamkan Islam dalam diri kita, mengalirkan Islam dalam aliran darah kita, dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya kacamata yang kita pakai dalam memandang setiap masalah. Dan kita tidak merasa keberatan setitikpun menerima ketetapan ini.

Allah SWT berfirman :

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka sekali-kali tidak, demi Rabmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu (Muhammad) sebagai pemutus hukum dalam perkara yang mereka perselisihkan. Lalu, tidak ditemukan dalam diri mereka sendiri keberatan atas apa yang engkau tetapkan, dan mereka berserah diri (menerima ketetapanmu) semenyerah-menyerahnya.” (TQS. An-Nisaa [4] : 65)

Dalam ayat ini disebutkan, “Lalu, tidak ditemukan dalam diri mereka sendiri keberatan atas apa yang engkau tetapkan,” tidak disebutkan “mereka tidak keberatan”. Gaya seperti ini menunjukkan ketegasan arti bahwa memang benar-benar mereka itu tidak keberatan, sampai-sampai bila mereka mencari keberatan tersebut dalam diri mereka sendiri, niscaya mereka tidak akan menemukannya. Disamping tidak ada sedikitpun keberatan dalam jiwa mereka, secara sikap mereka “berserah diri (menerima ketetapanmu) semenyerah-menyerahnya”. Terlihat jelas, pikiran dan perasaannya menyatu dengan Islam; begitupula sikapnya. WaLlahu a’lam bish shawab.

Hanif al-Falimbani

(Yogyakarta, 28 Feb 2007, 04.05am [Tulisan diatas diilhami oleh sebuah buku mungil yang ‘besar’ berjudul “Menyatukan Pikiran dan Perasaan” karya MR Kurnia, juga terinspirasi dari diskusi saya di beberapa blog, Matur nuwun kepada semunya])

6 Komentar »

  1. […] yang remaja. Walau aku sudah dengar jawaban tentang bagaimana hukum pacaran dalam Islam, tetapi perasaanku belum menyatu dengan Islam. Di sekolah, walau aku tidak pernah pacaran, tetapi pada dasarnya akulah yang menjadi pemicu bagi […]

  2. kfighters said,

    puanjang banget🙂 jadi puas mbacanya .. semoga antum dikaruniai Allah tenaga, pikiran dan materi untuk terus menulis dan mempublikasikannya lewat blog ato media cetak. amiin🙂

  3. Amiin.. amiin ya robbal ‘aalamiin.. JazakaLlah akh atas dorongan semangat dan do’anya.🙂

  4. […] Ingat, Satukan pikiran dan perasaan anda. […]

  5. B Ali said,

    Pertanyaan: Apakah Islam agama teroris?
    Jawaban: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.

    Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.

    Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10, 25 atau bahkan 1000? Dalam hal ini, wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia, tapi sebagai benda terhitung dalam satuan, bijian, 2, 3, 4 atau berapa saja. Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak (wahyu Tuhan), maka umat muslim hanya menurutinya saja tanpa menggunakan nalar.

    Banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Disamping itu, pemuka muslim atau siapa saja yang coba-coba memberi tafsiran yang lebih manusiawi tentang Al-Qur’an pasti mendapatkan ancaman terhadap keselamatan fisiknya.

    Jadi umat muslim terjebak.

  6. Anda sendiri kok yang terjebak Mas B Ali.. Yang lainnya ndak tuh aman-aman saja.. Anda terlalu sensitif

    Wong dari dulu itu al-Quran ya itu-itu aja ndak berubah, klo memang al-Quran itu ndak manusiawi pasti orang-orang jaman dulu juga udah merubahnya, tapi buktinya ndak tuh..

    Justru klo al-Quran itu berubah atau ada ayat-ayat yang dianggap ndak sesuai lagi dengan masa sekarang, maka sejatinya manusia itu yang ndak manusiawi.. Wong manusia itu butuh petunjuk dari Sang Pencipta kok dateng petunjuk (al-Quran) dari Allah malah dirubah ato dibilang ndak manusiawi, inikan yang sama sekali ndak manusiawi..

    Coba saya tanya, berapa jumlah butiran pasir di pantai Sanur Bali?? Ndak bisa jawab kan..?? Inilah keterbatasan manusia. GImana mau ngerti kenapa jumlahnya maksimal empat wong ketemu Allah saja ndak pernah..

    Saya kira justru anda yang tidak manusiawi Mas..

    Keyakinan anda bahwa al-Quran itu adalah wahyu Allah sebenarnya teh rusak ketika anda punya pendapat seperti itu..

    Taubat lah mas taubat..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: