Maret 5, 2007

Lulus UGM, Mau Jadi Jongos atau Pengkhianat?

Posted in Tumpah Hati pada 12:47 am oleh Hanif al-Falimbani

Kalian itu kuliah disini bukan mau jadi apa-apa selain jadi kader-kader Kolonialis!!

Begitulah kurang lebih teriak Bang Soni-panggilan gaul Revrisond Baswir-kepada ratusan audiens yang memadati UC (University Center) UGM. Orang yang mengagumi Bung Karno inipun mengaku, kalimat itupula yang dia ucapkan didepan para mahasiswanya. Bang Soni pun menuturkan bahwa dia sangat sedih ketika melihat banyak mahasiswa yang rela antri untuk bayar registrasi, tapi saat dia lulus cuman jadi-maaf- jongos. Berarti mereka itu antri untuk jadi jongos.

Itulah sepenggal kejadian dalam Seminar Nasional yang bertema “Disfungsi Intelektual dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam (Refleksi kasus Natuna)”, seminar ini diadakan oleh KIMM (Kajian Ilmiah Mahasiswa Muslimah) dan BEM FE UGM. Pembicara yang hadir yaitu Dr. Ing. Kusnanto (Ketua Jurusan Teknik Fisika UGM), Revrisond Baswir (Dosen FE UGM/Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM), dan Ir. Dwi Condro Triono, M.Ag (Anggota MUI, HTI, Dosen STEI Hamfara). Ditambah dua orator, dari BEM FE UGM dan Ketua Muslimah HATI (Harmoni Amal Titian Ilahi)-ITB.

Seminar ini diawali dengan orasi dari BEM FE UGM. Orator mengajak metode pendidikan yang ada saat ini agar memandang masalah dari berbagai sudut pandang, karena siapa tahu, salah satu sudut pandangnya adalah sudut pandang yang benar. Orasi kedua dilanjutkan dengan pemaparan data-data yang sangat rijit mengenai Sumber Daya Alam yang ada di Indonesia, dan apa yang telah, sedang dan akan dilakukan ITB dalam me-resource-nya, hal ini dipaparkan oleh Ketua Muslimah HATI-ITB yang juga mahasiswi Teknik Kimia ITB. Satu hal yang menarik dari data rinci yang dia paparkan adalah bahwa ternyata Indonesia tidak perlu pusing-pusing memikirkan sumber energi alternatif, seperti solar, biodiesel, biofuel, atau bio-bio yang lain. Karena sejatinya Indonesia itu punya kekayaan alam yang luar biasa banyaknya, yang mestinya memikirkan energi alternatif itu adalah negara-negara yang menjajah Indonesia dengan perusahaannya seperti Chevron, Halliburton, Exxon, dll, karena merekalah sebenarnya yang tidak punya SDA.

Seminar mulai memasuki pemaparan dari para pembicara. Pembicara pertama, Dr. Ing. Kusnanto menilai bahwa diperlukan sikap profesionalitas dalam mengolah SDA, agar hasil yang didapat lebih maksimal dan sempurna. Suasana menjadi hangat ketika seminar memasuki pemaparan Bang Soni. Beliau langsung mengambil tempat di podium, dan mengatakan bahwa tidak setuju dengan judul Seminarnya, judul yang diusulkannya adalah “Pengkhianatan Intelektual dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam”. Dengan berapi-api, beliau melanjutkan bahwa mahasiswa lulusan UGM yang masuk ke perusahaan-perusahaan asing yang menyedot kekayaan alam Indonesia tidak beda dengan pengkhianat bangsa. Walau gaji yang mereka dapatkan itu besar namun jika dibandingkan dengan kekayaan alam negeri ini yang disedot, sungguh tidak ada apa-apanya, sehingga pantaslah mereka disebut sebagai-maaf- kacung murahan.

Selain itu, beliau memaparkan betapa peran mafia berkeley dalam menggolkan UU Penanaman Modal asing di pertengahan tahun 60-an menjadi gerbang awal para ‘penjajah’ untuk kembali menjajah Indonesia. Karena ketika Soeharto pertama kali menjadi presiden waktu itu didirikan apa yang disebut dengan CGI (Consultative Group of Indonesia), dan yang menjadi ketuanya adalah Belanda. Bisa dibayangkan, betapa bodohnya kita, lepas dari penjajahan fisik ke penjajahan ekonomi yang lebih parah, keluar dari lubang biawak, masuk ke lubang buaya.

Belum selesai sampai disini, dengan semangat demonstran yang menggebu-gebu, bapak yang sudah separuh baya ini mengatakan tanpa tendeng aling-aling bahwa sebenarnya yang menjadikan Indonesia terpuruk seperti ini adalah UGM, dan juga universitas-universitas lain seperti ITB dan UI. Mengagetkan memang, beliau beralasan bahwa stakeholder, pemegang kebijakan mulai dari Presiden, menteri dan pejabat-pejabat terkait mulai dari era kemerdekaan sampai sekarang merupakan lulusan universitas yang katanya terkemuka ini. Saat ini saja, setidaknya Menko Ekuin dan Menteri Keuangan dipegang oleh lulusan UGM. Dan ini kembali membuktikan, peran UGM amat buruk dalam membangun kepribadian bangsa, karena kurikulum yang diajarkan adalah kurikulum yang memang didesain agar para lulusannya menjadi antek-antek kolonialis. Walau pintar tapi yang ada dalam pikiran mereka tidak jauh dari kaya, rumah mewah, istri cantik atau suami ganteng, punya anak pun diusahakan nantinya mewarisi jabatan mereka sebagai jongos. Dan banyak lagi data-data lain yang akan membuat kita tercengang, tertawa, sekaligus sedih, betapa nestapanya negeri ini.

Di sesi terakhir, Ustadz Condro-begitu, Bang Soni memanggilnya- memaparkan sebuah tingkatan pendidikan yang betul-betul brilian dan orisinil. Dengan gaya bicara yang diselingi humor-humor renyah, beliau membelalakkan mata kita bahwa pada faktanya, pendidikan yang ada di Indonesia mulai dari Play group sampai S3 hanya sampai pada tingkatan ketiga dari enam tingkat pendidikan yang beliau konsepkan. Tingkat pertama merupakan tingkatan anak Playgroup sampai SMA, yaitu bisa meng-identifikasi fakta. Tingkatan kedua, yaitu tingkatan dimana seseorang mampu melihat lebih mendalam dari sebuah fakta, atau bisa dikatakan dia adalah seorang yang mengerti tentang ilmu murni dari suatu fakta, anak MIPA misalnya, kimia murni, fisika murni, matematika murni, dsb.

Tingkatan ketiga adalah tingkatan dimana seseorang mampu melakukan rekayasa dari ilmu murni yang didapatkannya, contohnya adalah engineering, tingkatan ini banyak dipegang oleh anak-anak jurusan teknik, teknik kimia, teknik fisika, dan juga jurusan sosiatri yang merekayasa ilmu sosiologi. Para pencari ilmu tingkat S2 maupun S3 pun tidak keluar dari Tingkat tiga ini, hanya saja bidang yang mereka geluti lebih spesifik. Nah.. pendidikan di Indonesia ini didesain mandeg sampai pada tingkatan ketiga ini. Lantas bagaimana tingkatan keempat, kelima dan keenam?

Ustadz Condro yang juga anggota Majelis Ulama Indonesia ini men-jlentreh-kan dengan tenang dan kalem bahwa tingkatan keempat itu adalah tingkatan dimana orang yang telah mencapai tingkatan ketiga berhenti sejenak lalu merenungi, Untuk apa dia hidup? Darimana dan akan kemana mereka setelah kehidupan ini? Mendalam sekali, hingga orang yang telah mendapatkan jawaban yang benar dari pertanayan-pertanyaan itu akan menjadikan jawaban itu sebagai asas dalam kehidupannya, poros bagi langkahnya, dan menjadi kacamata ketika dia memandang sesuatu. Atau dalam bahasa Islam, unsur yang menjadi kacamata, poros dan asas itu dinamakan Aqidah.

Tingkatan kelima dan keenam adalah ketika Aqidah yang telah diyakininya sebagai kebenaran itu diterapkan dalam kehidupan nyata, inilah yang dinamakan Syariah. Bukan hanya diangan-angan atau dibuku-buku. Sehingga masalah-masalah yang ada pada dunia yang maju ini mampu dipecahkan oleh orang yang telah mencapai tingkatan keenam dengan menggunakan standar/aqidah yang menjadi way of life-nya tadi, inilah tingkatan yang hanya bisa dicapai oleh orang yang bernama Mujtahid. Hal ini sangat beralasan, karena seorang mujtahid, sebelum mengeluarkan fatwa tentang suatu fakta, maka dia harus tahu sedalam-dalamnya fakta yang akan dia hukumi itu. Misal saja, seorang mujtahid haruslah tahu fakta tentang internet atau jaringan sedalam-dalamnya ketika ia ingin memfatwakan hukum aktivitas Hacker atau Cracker dalam pandangan Islam.

Walhasil, sesungguhnya merupakan harga yang pantas jika mujtahid seperti Imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah, Hambali namanya tetap harum hingga sekarang, kitab-kitabnya yang berumur ribuan tahun hampir tiap hari dirujuk oleh para ulama jaman sekarang. Atau orang seperti Ibnu Rusyd, pengarang kitab perbandingan madzhab terkenal di kalangan anak IAIN (sekarang UIN), Bidayatul Mujtahid. Kitabnya yang lain tentang kedokteran yang berjudul Kulliyyat fi ath-Thibb (16 jilid) juga menjadi kitab rujukan di hampir seluruh Universitas di Eropa hingga saat ini.

Pertanyaannya, klo memang Islam itu rahmat bagi seluruh alam, apa iya, ada dalil tentang pengelolaan sumber daya alam? Jawabnya, Ada, Islam dalam Sistem Ekonomi Islam juga mengatur pengelolaan sumber daya alam. Salah satu contoh kecilnya, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih yang sangat terkenal :

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ الْمَاءِ وَالْكَلإَِ وَالنَّارِ

al-Muslimuuna syurokaau fii tsalatsin al-ma’i wal kala’i wan naari” [Kaum Muslimin itu berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput (hutan), air, dan api (energi) (HR Abu Dawud dan Ahmad)].

buku KhilafahDan satu hal yang paling penting adalah bahwa Sistem Ekonomi Islam itu akan sempurna dan benar-benar dirasakan rahmatnya oleh seluruh alam ketika sistem pemerintahan yang mengatur kehidupan masyarakatnya juga merupakan sistem yang didasarkan kepada al-Quran dan As-Sunnah, sistem itu tiada lain tiada bukan adalah sistem Khilafah Islamiyyah.

Oke, sekarang mumpung masih didunia, silahkan anda memilih, karena anda memang masih bisa memilih; Lulus dari UGM, ingin menjadi jongos atau pengkhianat? Ataukah ingin melepaskan diri dari itu semua, yaitu dengan melepaskan penghambaan kepada manusia menuju penghambaan sepenuhnya kepada Allah robbul izzati? Jawaban ada ditangan anda, ya benar, ada ditangan anda. Ya Allah saksikanlah, saya telah menyampaikannya..

[Hanif al-Falimbani]

(Yogyakarta, 5 Maret 2007, 06.30am)

33 Komentar »

  1. ichinichi benkyou said,

    stack holder = pemegang tumpukan/dhompolan/ombyokan, atau
    stakeholder kah?

  2. deKing said,

    mengajak metode pendidikan yang ada saat ini agar memandang masalah dari berbagai sudut pandang, karena siapa tahu, salah satu sudut pandangnya adalah sudut pandang yang benar

    Benar juga, tapi…
    Metode pendiikan yg ada saat ini saja sdh mengalami kerepotan dlm hal assessment, gmn kl pakai sdt pndng yg bervariasi?

  3. :: Kagem ichinichi benkyuo ::

    YA gini klo orang bodoh sok bisa bahasa Inggris, padahal yo cuman krungu dari Bang Soni, eh.. ternyata tulisannya salah. Aku kira artinya kiasan, kebanyakan konsep struktur data sih di kepala.

    Betul Ichinichi, yg betul itu stakeholder, matur nuwun atas ilmunya.

    Ehh.. tapi sebentar, pas aku googling, kok ternyata kata yang aku tulis betul??!!

    Lihat aja di SINI, SINI di halaman 34 di bagian bagannya, dan DISINI juga DISINI .

    Apa iya, mereka semua salah, bisa saja-lah, tapi ya… aku kira yang penting maksudnya, yaitu pemangku kebijakan, penentu kebijakan, pemutus suatu kebijakan, pemegang kebijakan dll yg sejenis. Yang penting yaa.. nyambung-lah maksudnya.. Yoi kan.. Matur nuwun atas komentarnya.

    :: Kagem Kang De King ::

    Betul juga ya Kang tambah hancur, pendidikan terus jadi kelinci percobaan. KEnapa kita gak ke Sistem Pendidikan ISlam aja? KAn sudah jelas.. tentunya dalam bingkai Khilafah..

  4. igun said,

    Waduh.. isi diskusinya mengolok-olok lulusan PT.
    Sayang ga ada solusi Konkretnya..

    he..he..he..

  5. Bukannya mengolok-olok Kang, tapi membeberkan fakta dan mebelalakkan mata, tentang fakta sebenarnya dibalik Exxon, Halliburton, Chevron, Slambersi, or yg lain, tidak lain, mereka itu penjajah, penjajah Kang..!!

    Dan yang bicara itu ndak sembarangan, nama setenar Revrisond Baswir, Dosen FE UGM, Staf Kementrian BUMN, dan kata beliau, tahun ini saja beliau menolak ditawari jadi staf ahli oleh dua orang menteri, ya karena itu, berseberangan ide. Dan sebenarnya banyak cerita yg tidak saya ekpose. Jadi itu bukan mengolok-olok, tapi menghujat sesuatu yang memang pantas untuk dihujat.

    Kita DIJAJAH KANG, KITA DIJAJAH…!!!

    Solusi konkretnya ya itu tadi, Islam yang diterapkan di tengah-tengah kehidupan dalam bingkai Khilafah Islamiyah..

    Klo antum mau tau konsepnya, silahkan baca buku semisal Sistem Ekonomi alternatif Perspektif ISlam terbitan Risalah Gusti karya Taqiyuddin an-Nabhani, atau Sistem Keuangan dalam Islam karya Abdul Qadim Zallum terbitan Pustaka Thariqul Izzah. Atau buku-buku yg lain. KONGKRET, demi Allah, KONGKRET..!!!

    Hehehe..

  6. agusxwae said,

    He he, udah kuliah lama, ip pas2an, UN dak terkenal
    kayaknya ndak bakat jadi jongos nih He he he

    Emmmm
    Btw aq copy artikelnya boleh ya?, kalo ndak boleh kirim email aja ntar tak hapus dari kompie ku,

  7. :: Kagem Kang agusxwae ::

    Kang, yang dilihat oleh Allah kan bukanlah berapa lama kuliah, atau berapa IP-nya, atau apa Universitasnya, tapi yang dilihat adalah Siapakah Yang Paling Baik Amalnya…

    Bisa saja, orang dipedalaman sana yang terus-menerus berjuang menegakkan kalimatuLlah lebih baik amalnya daripada kita-kita yang hidup di kota-kota besar. Walaupun mereka tidak terkenal, tetapi mereka bener-benar terkenal mata Allah dan para Malaikatnya, SubhanaLlah.. Nggeh mboten Kang🙂

    Mau dikopi? jangan! nanti komputernya rusak.. Di-copy saja..🙂 monggo.. Saya malah merasa tersanjung.. heee..

  8. antobilang said,

    Dan yang bicara itu ndak sembarangan, nama setenar Revrisond Baswir, Dosen FE UGM, Staf Kementrian BUMN, dan kata beliau, tahun ini saja beliau menolak ditawari jadi staf ahli oleh dua orang menteri, ya karena itu, berseberangan ide

    kok sepertinya (pak) soni pun juga jongos, bedanya hanya kalau mhs2 itu adalah jongos perusahaan kapitalis, menjadi pengkhianat bangsa…nah kalau (pak) soni ini juga pengkhianat.
    kenapa saya bisa bilang begini, kitas emua tahu bagaimana kinerja BUMN kita? bobrok! lebih busuk dari apapun, kalau dia sendiri masih belum bisa memperbaiki BUMN ga usah ngomong macem2 kayak gitu….

    fyuh!

    sayang sekali kok anda mengidolakan orang seperti dia, ck ck ck

  9. kok sepertinya (pak) soni pun juga jongos, bedanya hanya kalau mhs2 itu adalah jongos perusahaan kapitalis, menjadi pengkhianat bangsa…nah kalau (pak) soni ini juga pengkhianat.
    kenapa saya bisa bilang begini, kitas emua tahu bagaimana kinerja BUMN kita? bobrok! lebih busuk dari apapun, kalau dia sendiri masih belum bisa memperbaiki BUMN ga usah ngomong macem2 kayak gitu….

    fyuh!

    sayang sekali kok anda mengidolakan orang seperti dia, ck ck ck

    Aduh Kang..kang, yang njenengan kutip itukan belum lengkap, kan saya jg bilang klo sebenarnya banyak cerita yg tidak saya ekpose. Nah salah satunya ya cerita Bang Soni ketika menjabat staf ahli kementrian BUMN, beliau mengatakan kurang lebih “bahwa klo Indonesia mau maju, maka bubarkan BUMN..!!” Wiuhh sadis tho.. hehe..🙂

    Kita perlu orang-orang yang sadar klo Kita sedang dijajah, karena kita memang masih dijajah..!!!

  10. ALKIFAH said,

    Akan tetapi, diskusi yang diusung di atas bukanlah tanpa semangat yang membangun. Di sini, kita ingin menggagas sistem seperti apa sebenarnya yang dapat menjamin ter-realisasinya sistem pendidikan Islam?

    Sistem itu adalah sistem pendidikan di dalam Daulah Khilafah yang akan melahirkan generasi yang berkepribadian Islam guna membangun peradaban yang gemilang. Insya Allah…😉

  11. Amiin.. setuju banget..

    Ahlan wa sahlan Akh al-Kifah.. Mohon nasehat dan kritiknya jk tulisan-tulisan sy ada yg salah.🙂

  12. firdaus said,

    Apapun pilihan kita, kita tidak bisa memilih kosekuensi dari pilihan itu di yaumil akhir kelak

  13. kfighters said,

    semoga dengan adanya diskusi / seminar tersebut, ato paling tidak, dengan tulisan diatas, semakin banyak orang2 yang “terbuka” pikirannya, yang mau -at least- melihat adanya kebanaran islam, untuk selanjutnya menyandarkan hidup dan kehidupan ini hanya kepada islam.

    alhamdulillah, /me mau lulus dengan IP yang dibawah pas-pasan😀, jadi kaya’nya [walaupun gak pengen banget] nggak bakalan bisa diterima di perusahaan2 asing macam freeport, exxon, halliburton dkk. ya, alhamdulillah, saya nggak ada kesempatan jadi jongos.
    😀😀

    ps : salam kenal kagem kang hanichi kudou :p

  14. :: Kagem Akh Firdaus ::

    Yupp.. itu terusannya.. gak bisa milih di akhirat dan juga gak bisa kembali ke dunia, ayatnya itu Mas Titok yang hafal.🙂

    :: Kagem Akh kfighters::

    Salam kenal juga Akh.. tenang aja akh.. yang kita cari kan IP-nya yg dikeluarkan oleh Allah..🙂

  15. anak baru ngaji said,

    kok diskusinya jadi jongos – jongosan ya, sebenarnya begini sebagai mahasiswa maka kita harus berusaha mencari solusi baik soslusi jangka pendek , maupun jangka panjang terhadap permasalahan kapitalisasi pendidkan dan juga bahan tambang. bagaimana Islam mapu membangun sistem pendidkan yg baik dan pengelolaan SDA, bagusnya mas Hanichi nulis tentang itu kan ada ustnya yg bantuin

  16. BismiLlah

  17. B.M said,

    Wah gw bukan jongos! enak aja!! mending gw melarat daripada jadi jongos!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!, Sebagai mahasiswa tugas gw cm lulus… ketimbang mikiran hal yang belum bisa gw apa2in…
    huehuehue, MY TIME WILL COME….FOR I WILL RISE THE NATION heuheuheu
    me and my bloody dream
    Ini yang namanya PENDIDIKAN moral Dan Nasionalisme yang kurang!!!! makanya Moral Moral Moral hihihihi
    luculah indonesia semakin tua semakin pikun….
    anak smp merkosa anak tk….
    ntar anak tk merkosa anak balita…
    hahahah masi mending ketimbang etiopia
    lagian hidup semelarat-melaratnya masih bisa dinikmati…banyak bgt ya yang takut hidup ga bduit…

  18. miff said,

    “melepaskan penghambaan kepada manusia menuju penghambaan sepenuhnya kepada Allah robbul izzati”..itu kokretnya buat org2 miskin tanpa modal di daerah urban gmana ya? atau sentra UKM yg ngga punya akses pasar ?……..

  19. igun said,

    Waduh mas.. kata temen saya buku-buku tersebut konseptual sekali.. Kalaupun menyentuh wilayah konkret, itupun masih dalam tahap ekonomi mikro.

    Andai saja mas.. misal Indonesia ini diganti dengan kekhalifahan. Gimana dengan sistem nilai tukar mata uang? Gimana dengan Bank? Gimana dengan pengukuran GNP, GDP, dsb. ? Gimana dengan kebijakan pembuatan uang? Gimana dengan konsep investasi pembangunan?

    Saya rasa buku tersebut masih jauh dari pembahasan hal tersebut. Dan cita-cita anda (kekhalifahan) susah sekali untuk diimplementasikan. Ya itu tadi.. ga konkret..

    Mungkin lebih baik, semangat anda yang berlebih mendukung khilafah, digunakan untuk melakukan riset sistem ekonomi islam yang aplikatif..
    Itu lebih solutif dan konkret..

  20. :: B.M ::

    Masnya.. mikirin ya tentu saja belum ngapa-ngapainlah..

    Mesti abang ini belum baca seluruhnya artikel saya ya…

    :: Miff ::

    Afwan masnya, yang saya tulis itu ada pada tataran aqidah.. sedangakan apa yang anda tanyakan itu ada pada tataran penerapan, orang itu berbuat tidka bisa terlepas dengan keyakinan yang mendasarinya. Orang kafir berbuat baik sebaik apapun itu tetap saja masuk neraka, dan perbuatannya itu tetap dipandang buruk, karena dia tidka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

    Kalau kita mau berbicara pada tataran penerapan, maka dalam Islam dalam Sistem khilafah ada yang namanya Baitul Mal. Disana nantinya Khalifah bisa memeberikan bantuannya kepada orang-orang miskin agar punya modal, begitu juga dengan zakat.

    ::igun::

    Ahh.. Masa’ sih.. Yang namanya konsep itu kalau dipraktekkan pasti akan konkret. betul ndak? dan yang konkret pastilah memerlukan konsep. Nah, kalau konsep saja kita tidak ideal, bagaimana mungkin prakteknya juga ideal?

    Tentang ekonomi Mirko? Masa’ sih…??!!!

    Berarti orang yang antum ajak bicara itu juga ndak punya bukunya, wong disana juga dibahas sistem pertukaran mata uang, Ada juga tentang kebijakan fiskal, moneter, dan hubungan ekonomi dengan negara luar.. Bukan makrokah itu? SubhanaLlah.. Tolong dibeli dulu, dibaca dulu, baru komentar mas…

    Oya, dalam buku yang lain kayak Politik ekonomi Islam karya Dr. Abdurrahman al-Maliki bahkan disebutkan tentang bagaimana kurs pertukaran mata uang, problem perbuurhan, perdagangan luar negeri, dll..

    So, banyak-banyaklah membaca mas… jangan bertanya kepada orang yang gak pernah baca..😀

  21. siwahid said,

    sEK-SEK MAS… kalo bilang bekerja di perusahaan asing itu cuma membantu asing menjajah/menguras kekayaan bangsa… mungkin dari satu sis benar….
    Tapi coba lihat dari sisi yang lain… dengan lebih seksama… Kalo tidak ada pihak asing yang MEMBANTU mengambilkan kekayaan kita… Terus apa bisa kita yang BODOH ini (khususnya untuk saat ini) bisa mengambilnya sendiri. Trus pake apa juga… Mo pake EMBER sama tali, trus gali pake cangkul….
    Sedikit aku kutipkan pandanagn dari pakar pendidikan… untuk saat ini perlu belajar dari asing… Untuk proses transfer teknologi.. dan saat kita sendiri mampu.. orang-orang ini harus mau kembali.
    Terus pandangan dari ahli politik… Kalo semua orang baik menganggap politik itu kotor.. tetntu orang orang di pemerintahan dipenuhi orang-orang yang tidak baik.. trus jadi apa negara ini.. begitu juga di perusahaan asing.. kalo tidak ada orang baik yang interupsi ke sana.. apa tidak lebih berantakan kekayaan kita…
    Mungkin kalo ane boleh berpandangan… yang paling perlu diluruskan adalah niat kita dalam bekerja… Dimana PUN kita bekerja.. kalo memang ingin memajukan bangsa ini (not just for money).. ya.. itu sebuah pilihan yang semoga saja baik.

  22. LeicaM8 (males login) said,

    Assalamualaikum!
    Boleh tahu solusi konkrit lain selain menjadi jongos dan pengkhianat?
    “…menuju penghambaan sepenuhnya kepada Allah robbul izzati…” yang ini saya mah setuju banget. Banget malah! Mungkin Mas Kudou bisa carikan profesi yang mendukung untuk itu😀
    Menurut saya sih. semua tergantung pada niat (saya setuju pendapat siwahid). Toh, dengan semua pengalamannya menjadi “jongos/pengkhianat” itu bukan berarti menjadikan ia manusia yang sia-sia bukan? Bila niatnya lurus, bisa saja setelah mengumpulkan pengalaman dari hasil menjadi “jongos/pengkhianat”, dia malah menemukan solusi yang tepat bagi bangsa ini. Dengan kata lain, dia memiliki nilai lebih untuk menggerakkan perubahan.
    Saya menyimpulkan malah, 90% perindustrian kita adalah “pengkhianat” kalau begitu, karena hampir semua ada sangkut pautnya dengan kepentingan asing. Kalau semua itu ditiadakan, kembalilah kita ke zaman batu sekalian.
    Ngomong-ngomong, mumpung topiknya sesuai, saya ingin mengajukan sedikit kritik. Di berbagai kampus, masa-masa ini adalah “musim semi” bagi banyak lembaga dakwah kampus. Saya salut dengan mahasiswa-mahasiswa anggotanya yang menurut saya cerdas-cerdas. Namun, kekurangannya ada pada pelaksanaannya. Selama ini yang ada hanya adu pikiran, demo-demo, teriak-teriak mendukung tegaknya khilafiah, dan lain-lain. Apa artinya itu semua bila tak ada perubahan yang signifikan? Adakah semua itu telah menyentuh dan membuat perubahan yang lebih baik pada kehidupan rakyat kecil? Perubahan yang Mas Kudou ingini dan saya ingini adalah perubahan yang membawa rakyat kita ke arah yang lebih baik, menuju kehidupan yang sejahtera dan berdaulat. Selagi hanya dapat berbicara dan berdebat, saya rasa belum saatnya mengeluarkan pernyataan seperti judul postingan ini (apalagi menganggap diri dan kelompoknya yang paling benar).

    NB: Mas Kudou mahasiswa UGM kan? Bila berani mengeluarkan pernyataan seperti itu, berarti mas bersedia KELUAR dari UGM dong?

  23. […] njongos, njoni dengan perusahaan asing menjadikan pertentangan, dengan menggadaikan segala idealisme […]

  24. templank said,

    klo mo sistem pendidikan islam… yang menej harus yang bener bener… tau tentang itu….
    masalhnya siapakah?

  25. vino said,

    si walinya butuh di ceramahin tuh mas

  26. macanang said,

    kalo memang mampunya jadi jongos kan nggak apa2 to, wong rejekinya inysa Alloh halal..😀

    *lulusan UGM yang jongos rendahan..*

  27. sano said,

    assalamualaikum,
    salam kenal ya..ikutan komen nih..

    Kalo dipikir2 negeri ini hebat juga ya, mau jadi jongos aja persyaratannya berat, harus lulusan uni atau institut ternama dengan IPK sekian koma sekian, gimana kalo mo jadi tuannya? lebih susah kali ya? atau sebaliknya?

    quote:
    …untuk saat ini perlu belajar dari asing… Untuk proses transfer teknologi.. dan saat kita sendiri mampu.. orang-orang ini harus mau kembali.

    maaf numpang ketawa dulu, hahaha…ups
    jargon ini udah digembar-gemborkan sejak negeri ini mulai menggadaikan kekayaannya, tapi mana buktinya? apa alih teknologi itu sudah terjadi? sampe sekarang negeri ini masih sangat tergantung sama asing dalam hal teknologi ini. jangan2 ini cuma lip service doang lagi…atau orang2 kita nya yg terlalu bodoh sehingga susah banget mempelajari teknologi yg akan dialihkan itu (kalo yg ini saya gak percaya 100%, lha wong yg bisa masuk kesitu para lulusan terbaik PT ternama negeri ini hehehe)

    ya mudah2an aja masih ada orang2 yg rela keluar dari zona nyaman itu, kemudian berbalik dan menyelamatkan kekayaan negeri ini. tapi sampai sekarang yg sering terdengar justeru sebaliknya, yg tadinya waktu mahasiswa aktivis, udah masuk zona nyaman itu malah pada keenakan dan berguguranlah mereka satu demi satu hiks hiks

  28. […] Lulus UGM, Mau Jadi Jongos atau Pengkhianat? […]

  29. زهير said,

    Itu HATI kepanjangannya Harmoni Amal Titian Ilmu, bukan Titian Ilahi..😛

  30. eecho said,

    Assalamualaikum,
    salam kenal

    Saya pikir kita tidak harus merasa inferior karena tidak bisa melakukan apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan multinasional, karena tidak akan fair jika dibandingkan dengan kondisi saat ini. Dimana para lulusan-lulusan kita tidak diberikan akses yang cukup untuk mengeksplorasi ilmunya dalam dunia nyata. Khususnya dunia industri teknologi tingkat tinggi.

    Apa yang dilakukan Freeport disana tidak lebih hanya mengeruk tanah dan mengambil kandungan-kandungan emas didalamnya, yang dapat dilakukan pula oleh masyarakat di Bombana dengan hanya bermodalkan alat sederhana.

    Selain itu jika dilihat dari roadmap para perusahaan tersebut yang ingin memperpanjang kontrakkarya pengelolaan-pengelolaan SDA di Indonesia, maka terlihat bahwa mereka tidak pernah beritikad membuat negeri ini menjadi mandiri.

    Menuju kemandirian adalah sebuah proses, sangat bodoh jika kita membiarkan ketergantungan pada perusahaan-perusahaan kapitalis tersebut. Maaf, klo kita hanya jadi pegawai, maka eksplorasi teknologi hanya sebatas jadi operator (pengguna). Untuk industri teknologi tingkat tinggi diperlukan peran negara dalam memfasilitasinya.

    Tetapi sebenarnya ini hanya sedikit masalah yang muncul dari akar permasalahannya yaitu tidak diterapkannya aturan-aturan islam.

    “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-araf 96)

  31. rira said,

    baru lihat, ada yang mesti diralat, tidak terlalu esensial sih, tapi jadinya laporan/tulisan ini kurang akurat
    1. HATI–HARMONI AMAL TITIAN ILMU (bukan ilahi, hehe)
    2. koordinator muslimah HATI waktu itu (orator) bukan mahasiswa teknik kimia, tapi kimia…

  32. rira said,

    eh, ternyata sudah ada yang ralat duluan,saya gak teliti juga, suka malas baca komen, jadi pahlawan kesiangan nih:) maaf2

  33. I really like it when individuals get together and share thoughts.
    Great site, keep it up!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: