Maret 17, 2007

Ketika Para Stoisis Membangun Kembali “Gedungnya”

Posted in al-Mustanir pada 8:10 pm oleh Hanif al-Falimbani

*Ini cuplikan dari beberapa bagian yang kusukai dari buku “Iblis Menggugat Tuhan”. … Inti analogi Iblis yang aku suka adalah bahwa semua kejadian di alam semesta tidak bisa lepas dari kehendak Tuhan. Iblis menjadi biang dosa pun adalah sebuah grand-plot dari Tuhan. Iblis tidak bisa disalahkan dalam usahanya menyesatkan manusia!Jadi, jika ada mata Pedang yang mengarah ke lehermu, maka siapakah yang akan kamu maki dan salahkan? Pedang itu sendiri ataukah Sang Penggenggam Pedang?

Cuplikan paragraf diatas benar-benar menyentak kembali ingatanku tentang siapakah para Stoisis itu.

Stoisis atau Stoikis dalam bahasa arabnya sering disebut dengan rawwaqiyyun, yaitu para penganut filsafat Stoisisme (Stoicsm). Sedangkan Stoicsm diambil dari bahasa Yunani, Stoa. Stoa adalah nama sebuah gedung yang digunakan untuk mengajarkan filsafat stoisisme ini. Aliran filsafat ini didirikan oleh Zeno pada tahun 305 SM atau menurut sumber lain mengatakan 308 SM. Zeno sendiri hidup diantara tahun 336-264 SM.

Lantas pertanyaannya, kenapa aku jadi ingat para Stoisis ini ketika membaca paragraf diatas dan juga komentar-komentar dari Kang Raja Iblis? Padahal terjadi rentang waktu ribuan tahun antara Zeno dan Kang Mas Joe.

“Ruang Kosong”, Para Stoisis penganut Stoisisme mempunyai pandangan Fatalisme, atau mereka menyebutnya sebagai “Ruang Kosong”. Teori “Ruang Kosong” ini dicetuskan oleh Zeno, hal ini dapat dilihat ketika Aristoteles membantah teori ini dalam On Sophistical Refutations:

Dalam kasus argumentasi Zeno tadi yang menjelaskan tentang gerakan (sembarang perbuatan), maka ini adalah tidak mungkin” (Aristoteles, On Sophistical Refutations, Book I, Part 24).

Zeno berpendapat bahwa tidak ada gerakan (motion) secara mutlak yang terjadi dengan sendirinya. Pendapat ini juga bisa ditemukan dalam keterangan dari Aristoteles dalam buku Physics:

Everything that is in motion must be moved by something [Segala sesuatu yang bergerak, pasti digerakkan oleh sesuatu]” (Aristoteles, Physics, Book VII, Part 1).

Menariknya, Kaum muslimin terpedaya oleh teori-teori filsafat ini. Hal ini dapat dilihat dari munculnya aliran dari kaum Muslimin yang disebut Jabariyyah. Awalnya jika ditilik dari perkembangan sejarah, aliran ini merupakan reaksi dari aliran Mu’tazilah. Mengapa? Karena pada waktu itu tengah berkembang paham Freewill-Mu’tazilah, paham yang berpendapat bahwa La Qadar (tidak ada takdir), yang berarti manusia itu tidak terikat dengan apapun (termasuk Allah) ketika berkehendak dan berbuat. Paham ini dimunculkan pada masa tabiin (pasca sahabat) pertama kali oleh Ma’bad al-Juhani sekitar tahun 70H/691M.

Paham La Qadar ini diambil oleh Ma’bad dari Susan, orang Kristen yang kemudian memeluk Islam dan kembali menjadi Kristen. Kabar ini dikemukakan oleh al-Awza’i (al-Nasysyar, Nasy’ah), Ibnu Hajar, Muslim bin Yasar (Tahzhibut Tahzhib). Kabar ini diperkuat oleh bukti bahwa ada kesamaan ide Ma’bad dan Epikureanisme, yang menyatakan:

Whereas our own actions are autonomous, and it is to them that praise and blame naturally attach” [Ketika perbuatan pribadi kita adalah bebas, dan itu kembali kepada mereka, dimana pujian dan celaan merupakan suatu hal yang alamiah/wajar] (Epicurus, Letter to Menoeceus).

Kemudian ide ini turun-temurun hingga dipahami oleh Washil bin ‘Atha’, orang yang dikenal sebagai pendiri Mu’tazilah karena dia keluar dari majelis Hasan al-Basri karena berbeda pendapat dalam persoalan pelaku dosa besar. Washil bin ‘Atha’ ini seangkatan dengan Jahm bin Shafwan, yang sangat terkenal dengan paham Jabariyyah, Fatalisme, yang berbeda secara diametral dengan Freewill-nya Mu’tazilah. Jabariyyah berpendapat bahwa manusia berada di dalam keterpaksaan (determinis), tidak memiliki kemampuan atau kekuasaan untuk memilih dan bertindak, dapat dikatakan bahwa manusia seperti kapas yang diterbangkan angin, paham ini mirip bahkan bisa dikatakan sama dengan teori “ruang kosong” kaum rawwaqiyyun atau Stoisis tadi.

Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Kaum Mu’tazilah berkiblat kepada kaum Epikureanisme, sedangkan Jabariyyah memiliki kesamaan dengan paham Stoisisme. Paham Epikureanisme bertolak belakang dengan paham Stoisisme, sebagaimana halnya Mu’tazilah berseberangan dengan paham Jabariyyah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendapat yang mengatakan, “bahwa semua kejadian di alam semesta tidak bisa lepas dari kehendak Tuhan.” Adalah paham yang mirip dengan pendapat para Jabariyyun atau para Rawwaqiyyun atau para Stoisis walaupun direfleksikan dengan kisah iblis.

Karena itu, mengapa tulisan ini aku kasih judul “Ketika Para Stoisis Membangun Kembali Gedungnya”, karena telah lama paham ini runtuh dan reruntuhannya telah dibuang ke kotak sampah peradaban, namun ternyata ada segelintir orang yang mencoba mengais-ngais kembali sampah itu lalu ditumpuk kembali untuk menjadi gedung yang mempunyai desain lebih halus.

Langsung saja, tanpa perlu basa basi lagi, bahwa kedua paham ini, yaitu paham Stoisisme (Jabariyyah) maupun Epikureanisme (Mu’tazilah) adalah paham yang bathil (salah) bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa paham ini adalah paham yang menyesatkan kaum muslimin. Argumen ini bukan tanpa dasar, ini bisa dilihat dari dua sisi, secara empirik dan normatif.

Secara empirik, manusia adalah makhluk yang kemampuannya terbatas, menghitung jumlah pasir yang terlihat di pantai Krakal saja tidak bisa, apalagi mau mencoba meraba-raba suatu yang tidak terlihat, kehendak Allah? Merubah titik didih air dari 100 derajat ke 99 derajat saja tidak bisa, bagaimana mungkin menentukan dengan pasti bahwa perbuatannya adalah kehendak Allah? Menghitung jumlah bintang dilangit saja tidak bisa, bagaimana mungkin bisa tau bahwa perbuataanya itu tidak ada sangkut pautnya dengan Sang Pencipta? Sunggupun apa yang dikatakan oleh para filosof adalah perkataan yang tidak punya nilai kebenarannya sama sekali, karena bagaimana mungkin, mereka yang tidak pernah bertemu maupun melihat Allah, Sang Pencipta, dapat mengetahui secara pasti apa yang dilakukan dan dikehendaki oleh Alllah ‘Azza wa jalla? Apa yang dilakukan oleh para filosof tidak bernilai apapun selain hanya sebuah khayalan yang mengawang-awang entah kemana. Na’udzubiLlahi min dzalik.

Oleh karena itu, hendaknya kita kembalikan saja persoalan ini kepada fakta perbuatan manusia itu sendiri, yaitu perbuatan manusia yang bisa terindera dengan panca indera kita. Ketika anda pagi-pagi berangkat kuliah, apakah pada waktu itu terhimpun dalam diri anda kehendak bahwa anda memang ingin kuliah? Jawabannya pasti YA, karena kalau tidak ada dua kemungkinan, anda tidur sambil berjalan, atau memang anda sudah gila.

Ketika suatu saat anda naik motor di jalan raya dan ingin berbelok ke arah kanan tiba-tiba saja, tanpa anda kehendaki ada motor lain dari arah belakang yang menyeruduk pelindung knalpot anda sehingga motor anda terhuyung-huyung. Pertanyaannya, apakah motor yang tiba-tiba menabrak anda dari belakang itu adalah kehendak anda? Tentu saja TIDAK. Motor yang tiba-tiba menabrak anda dari belakang itu berada diluar kekuasaan atau kehendak anda.

Dari kedua fakta perbuatan manusia diatas, ternyata dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbuatan yang berada dalam kuasa atau kehendak manusia dan ada yang berada di luar kuasa atau kehendak manusia. Dan seluruh perbuatan manusia dapat dimasukkan ke dalam dua wilayah itu saja, yaitu ada di dalam kehendak manusia, atau diluar kehendak manusia.

Fakta bahwa aku lahir bukan dari rahim Tamara Blezensky misalnya, adalah perkara yang berada diluar kehendakku, dan hal ini tidak akan dihisab pada hari kiamat nanti. Karena Allah tidak akan memberikan dosa kepadaku karena aku lahir dari rahim ibuku yang sangat aku sayangi, atau Allah juga tidak akan memberikan pahala karena aku lahir dari rahim Tamara Blezensky. Lahir dari rahim siapa adalah suatu hal yang berada diluar kuasa atau kehendakku dan juga anda semua.

Demikian juga sebaliknya, fakta bahwa ada orang yang sadar bahwa dia berkehendak untuk melakukan khalwat dengan lawan jenis adalah perkara yang berada dalam kuasa dan kehendak orang tersebut. Karena itu, Allah akan memberikan dosa atas perbuatannya itu, dosa ini bukan karena dengan siapa dia berkhalwat, tetapi karena memang dia telah berkhalwat.

Seorang Muslimah atau Muslim pengemban dakwah akan mendapatkan dosa sebagaimana seorang Muslim atau Muslimah yang tidak mengemban dakwah ketika mereka berkhalwat, berikhtilath, atau memandang lawan jenis dengan syahwat. Sama saja, yang dpandang bukan siapakah dia, tetapia pa yang diperbuat, karena perbuatannya itu adalah perbuatan yang dia lakukan secara sadar dan berada dalam kuasanya, dalam arti, dia punya kemampuan untuk tidak melakukan hal yang demikian, dan ketika dia melakukannya maka dia mendapat dosa.

Inilah pemahaman yang dipahami oleh para pendahulu Islam yang shaleh. Masalahnya, ingin atau tidak ingin kita mengikuti mereka adalah perkara yang berada dalam wilayah kekuasan dan kehendak kita. Dan tentu saja, keputusan akan hal ini akan dihisab oleh Allah kelak di yaumul hisab.

Aku akan petikkan sebuah kisah. Ketika Sa’ad bin Abi Waqqas radhiyaLlahu ‘anhu, –panglima perang yang diutus Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyaLlahu ‘anhu untuk menaklukan Persia– menemukan buku-buku filsafat lama dalam rampasan perangnya, Beliau ingin membawa buku-buku tersebut agar dapat dimanfaatkan oleh kaum muslimin, tetapi keinginan beliau ini langsung ditolak oleh ‘Umar :

Campakkan buku-buku itu ke dalam air. Jika apa yang terkandung dalam buku-buku tersebut adalah petunjuk yang besar, maka Allah telah memberikan kepada kita petunjuk-Nya yang lebih besar (al-Quran dan as-Sunnah). Jika ia berisi kesesatan, Allah telah memelihara kita dari bencana tersebut.” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hlm 530-531)

Hal ini layak kita renungi dan selami karena hal ini sejalan pula dengan ayat yang berbunyi :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ

وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا

Artinya : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (TQS. al-Ahzhb [33]: 36)

ShadaqaLlaahu ‘azhiim
(Maha Benar Allah dengan Segala FirmanNya).

(Hanif al-Falimbani, Yogyakarta, 18 Maret, 02.25am)

18 Komentar »

  1. joesatch said,

    Bagus. Paling tidak nggak langsung menelan mentah2, hehehehe.
    Bagus. Sebelum baca buku itu seharusnya memang punya dasar yang kuat dulu. Tapi bukan berarti buku2 yang kayak di atas itu buat dihindari. Sama sekali tidak! Justru itu bisa jadi media latihan kekritisan kita🙂 Next, silahkan baca Bijbel atau Bagavadghita, atau apapun itu. Sekali lagi, buat belajar berpikir kritis, supaya ke-Islam-an kita bukan sekedar ikut-ikutan, tapi berangkat dari pemahaman yang sebenarnya bahwa memang Islam yang paling cocok.

  2. anung said,

    aku pengenut aliran jabarriyah..

    khusus ketika ujian dan itu pilihan ganda

    hehehe

  3. anung said,

    pengenut –> pengenet –>penganut…

    yg bener penganut ;p

  4. Aleks said,

    Hhm, jadi inget pelajaran Everyday Life di Uni nih

    Menurut salah satu buku yang aku baca, segala kegiatan sehari-hari-ngejar angkot, masuk sekolah, pulang sekolah-sebenarnya SUDAH DIATUR oleh ideologi dan kebudayaan negara masing-masing.

    Intinya, walaupun kita merasa udah menjadi free-thinker, ternyata disadari atau tidak kita masih dibatasi oleh kebudayaan dan ideologi yang udah diajarkan kepada kita sejak lahir.

    Kira-kira pada nyambung ga ya?

  5. :: Kang Joe ::

    Yoi Bang Joe, Kita memang harus harus kritis. Ya, buku seperti itu memang tidak harus dihindari, tapi kemarin saya coba lagi baca-baca buku para filsuf kepala saya jadi pusing, entah kenapa? Mungkin saya memnag gak mampu baca yg kayak gituan dulu.. Heee…🙂 Islam paling cocok? pastilah Bang..🙂

    :: Mas Anung ::

    Wah klo itu mah sama Nung, apalagi klo openbook, pasrah.. srahh. srahh..🙂

    :: Mas Aleks ::

    Klo menurut saya Mas, Ideologi yang bener-bener ideologi itu ditempuh dari jalan menalar dengan akal. YA, dari lahir sih.. iya, tapi juga wajib berpikir juga..🙂

  6. Evy said,

    Blog ke empat yg bahas iblis menggugat, BTW wah Hanichi udah berdamai neeh ama si Joe….naa gitu doong, dont judge people from the first sight pleasee….

  7. Blog keempat mbak?? yang kesatu sampe yang ketiga alamatnya dimana aja ya mbak?

    Berdamai?? lho memangnya saya sama Bang Joe pernah marahan tho? kayaknya ndak pernah, atau Sudah lupa tuh..🙂

  8. rajaiblis said,

    segala sesuatunya entah itu kebaikan atau keburukan telah aLLah izinkan untuk bergerak ! tinggal manusia itu yg memilih !
    maka berpikirlah dengan iman … sehingga otak menjadi cerdas !
    dan … tidak perlu menyalahkan apapun dan siapapun atas keterbatasan manusia !
    karena sudah jelas aLLah katakan bahwa sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian yg nyata !

    baik yg ada di benak anda, maka kebaikanlah yg anda dapatkan
    buruk yg ada di benak anda, maka keburukanlah yg anda terima !

  9. baik yg ada di benak anda, maka kebaikanlah yg anda dapatkan
    buruk yg ada di benak anda, maka keburukanlah yg anda terima !

    Pada bagian ini saya kurang setuju, selebihnya saya sepakat. maaf, kenapa saya tidak sepakat dalam hal ini? Saya hanya melihat apa yang antum katakan, saya tidak melhat landasan ontologisnya atau landasan filologisnya. Dalam arti, yang saya tanggapi adalah zhohirnya saja.

    Alasannya begini, jikalau kebaikan dan keburukan itu ada dalam benak manusia, maka apakah orang yang mencuri atau membunuh orang tanpa haq itu adalah kebaikan menurut benak kita?? Padahal mungkin saja, menurut benaknya itu adalah kebaikan.. atau lihat saja ketika anggota DPR sekarang lagi ribut-ribut soal apakah presiden harus S-1?? Setiap mereka pasti mengatakan yang terbaik dari benak mereka, padahal jelas terlihat mereka saling berseberangan pendapat, lantas mana yang benar?

    Sesuatu yang benar adalah sesuatu yang tidak dilahirkan dari benak manusia, dalam arti, sesuatu yang benar adalah sesuatu yang barada diluar segala kepentingan manusia, kepentingan yang memang terinstall secara alami sejak mereka dilahirkan. Sehingga kebenaran itu ada di dalam petunjuk dari Sang Pencipta MAnusia, dan petunjuk yang paling otentik dan otoritatif hanya al-Quran dan as-Sunnah. Oleh karena itu mutlak dan mutlak bahwa al-Quran dan as-Sunnah adalah kebenaran yang mutlak…

  10. rajaiblis said,

    aNE paham maksud eNTE …
    cuma mungkin eNTe belum sepenuhnya paham apa yg hendak aNE sampaikan …

    mari kita telaah satu kasus …
    dalam konteks korupsi …
    jelas perbuatan korupsi adalah salah …
    namun apa anda berani memastikan bahwa orang yg korupsi sudah pasti bakal mendapat keburukan (menjadi penghuni neraka jahanam nan abadi) ?

    kasus berikut …
    mari kita melihat dari sudut pandang berbeda …
    setelah sekian abad korupsi …
    keluarganya lantas berantakan …
    sang ibu menjadi penjudi … dan silau akan kemilau emas berlian
    anaknya yg lelaki menjadi pemabuk dan pencandu …
    anaknya yg wanita terperangkap dalam pergaulan bebas hingga melahirkan tanpa diketahui siapa bapaknya !

    the question is …
    apakah eNte berani memastikan bahwa keluarga tersebut otomatis menjadi penghuni neraka jahanam nan abadi ?

  11. rajaiblis said,

    … nyambung dikit …
    apa pendapat anda soal Umar bin Khotob ?
    banyakan mana ? masa saat umar bergelut dengan angkara murka, atau masa setelah umar “memakai pakaian muhammad” ?

  12. Ahh.. masa’ sihh Kang saya gak paham, Mmmm gitu ya.. Makasih atas nasehatnya

    Tapi saya yakin kok, niat antum pasti baik.

    Aduhh.. Gini Kang, saya kan ndak pernah menjeneralisir seperti itu. Orang bedosa, lantas masuk neraka abadi, pernah ndak?? Ndak pernah tho Kang..🙂

    Dosa atau nggak bukan saya atawa Kang Raja Iblis yg nentukan, apalagi surga ato neraka, tapi Allah, nggeh mboten. Nahhh.. kenapa saya tahu? Karena Allah yg memberitahukan kepada saya melalui al-Quran dan as-Sunnah.

    Dan seorang Muslim yang melakukan dosa besar itu disebut sebagai orang fasik, tidak kekal di neraka, tapi klo dia tobat sebelum nyawa di kerongkongan, maka insya Allah, dosanya termapuni.

    Jangankan memastikan kelaurga itu masuk neraka abadi, saya pun ndak bisa memastikan saya benar-benar masuk surga.. Tapi kita kan selalu berusaha dan berusaha untuk selalu memenuhi kriteria orang-orang yg masuk surga, nggeh mboten..Masya Allah..

    Waduhh.. klo tentang Umar, kan ada hadits yang mengatakan bahwa beliau dijamin masuk surga, jadi pastilah banyakan masa setelah umar “memakai pakaian muhammad” . Kan Umar melakukan kejahatannya sewaktu dia belum masuk Islam.. nggeh mbotenn..🙂

  13. rajaiblis said,

    sekali lagi aNE tegaskan …
    silahkan ajukan sholat yg khusu, infaq yg banyak, puasa yg afdol, sujud di sepertiga malam, mabrur hajinya … untuk “membeli” ciptaan yg bernama surga dan menjauhi benda “najis” yg bernama neraka !
    dan itu tidak salah …
    sekali lagi aNE tegaskan bahwa tidak ada yg mengatakan bahwa semua itu kurang baik !
    umumnya … itu adalah “keinginan” setiap manusia !

    mungkin sungguh jauh berbeda dengan “keinginan” manusia kebanyakan …
    diri ini cuma ingin kembali darimana berasal !

    innalillahi wa inna ilaihi rojiun … !

  14. Afwan, kata-kata antum menurutku masih banyak ke-ambiguan. Tapi saya berusaha untuk mengerti.

    Benar, bukan hanya sholat yg khusu, infaq yg banyak, puasa yg afdol, sujud di sepertiga malam, mabrur hajinya … untuk “membeli” ciptaan yg bernama surga dan menjauhi benda “najis” yg bernama neraka, tetapi juga berdakwah, berjihad, mencegah kemungkaran dan mengajak kepada yang ma’ruf. Gitu tho KAng..🙂

    Sepakat lah…

  15. aban tetep ga suka vanila said,

    weirz…
    koq pada ribut seh…
    damai dunk mas Agung lan Kang Raja Iblis..

  16. Nice opinion. Wah, tapi perlu juga di-cross check dengan buku “Iblis: Kawan atau Lawan”..

  17. Syukron atas atensinya. Wah kayaknya saya bakal jadi ahli per-iblis-an ini..😀

  18. shoesiro said,

    semuanya tergantung niat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: