April 20, 2007

Kisah Ubaid bin Umair tentang Ghadhdhdul Bashar

Posted in al-Mustanir, Tumpah Hati pada 3:53 pm oleh Hanif al-Falimbani

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

 

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

 

Artinya : “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.” (TQS. An-Nuur : 30-31)

matawanitaAbdullah bin Muslim al-‘Ajali menceritakan bahwa di kota Mekkah ada seorang laki-laki yang mempunyai istri yang cantik jelita. Pada suatu hari, sang istri berkaca dan memperhatikan wajahanya yang cantik jelita itu. Lalu, ia berkata kepada suaminya, “Menurut kamu, adakah seseorang yang tidak tergoda dan tertarik ketika melihat wajahku yang cantik ini?” Sang suami berkata, “Ada.” Sang istri berkata, “Siapa?” Sang suami menjawab, “Ubaid bin Umair.” Sang Istri berkata, “Kita buktikan, izinkan aku untuk merayu dan menggodanya.” Sang suami berkata, “Baiklah aku izinkan kamu.”

Kemudian sang sitri pergi menemui Ubaid bin Umair dengan berpura-pura ingin meminta fatwa dan bertanya tentang suatu masalah. Lalu Ubaid bin Umair mengajak ke salah satu sisi Masjidil Haram.

Namun tiba-tiba si wanita terebut membuka tutup wajahnya. Sehingga, terlihatlah wajahnya yang cantik jelita bak belahan purnama. Ubaid bin Umair pun kaget dan spontan berkata, “Celaka kamu wahai hamba Allah!” Si wanita berkata, “Sesungguhnya aku telah tergoda dan tertarik kepada kamu. Karena itu, tolong pertimbangkan keinginanku ini.”

Ubaid bin Umair berkata, “Aku akan mengajukan kepadamu beberapa pertanyaan. Jika kamu mau menjawabnya dengan jujur, maka aku akan pertimbangakan keinginanmu ini.” Si wanita berkata, “Kamu tidak melontarkan pertanayan kepadaku kecuali akan aku jawab dengan jujur.”

Kemudian Ubaid bin Umair berkata, “Katakan kepadaku dengan jujur. Jika sekarang malaikat maut datang dan mencabut nyawamu, apakah kamu senang jika sekarang aku memenuhi keinginanmu ini?” Si wanita berkata, “Tentu saja tidak.”

Lalu Ubaid bin Umair berkata, “Bagus, berarti kamu memang jujur. Ingatlah tatkala semua makhluk dihidupkan kembali pada hari kiamat untuk menerima buku catatan amal mereka masing-masing. Dan, kamu sendiri tidak tahu apakah kamu akan menerima buku catatan amal kamu dengan tangan kanan atau kiri. Apakah kamu senang jika aku memenuhi kenginanmu ini?” Si wanita menjawab, “Tentu saja tidak.”

Ubaid bin Umair berkata, “Bagus, kamu menjawab dengan jujur. Ketika datang waktu penimbangan amal, lalu kamu tidak tahu apakah timbangan amal kebaikanmu lebih berat atau lebih ringan. Apakah kamu senang jika aku memenuhi keinginanmu ini?” Si wanita menjawab, “Tentu saja tidak.”

Kemudian Ubaid bin Umair berkata, “Bagus, kamu menjawab dengan jujur. Lalu, ingatlah ketika kamu dihadapkan kapada Zat Yang Maha Adil untuk diadili. Apakah kamu senang jika aku memenuhi keinginanmu ini?” Si wanita menjawab, “Tentu saja tidak.”

Ubaid bin Umair berkata, “Bagus, kamu menjawab dengan jujur.” Lalu, ia berkata lagi kepadanya, “Hai hamba Allah, takutlah kamu kepada-Nya. Karena sesungguhnya Allah telah memberi karunia dan nikmat kepada kamu.”

Lalu, si wanita tadi pun kembali ke rumahnya. Setelah tiba di rumah sang suami langsung bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu perbuat terhadapnya (Ubaid bin Umair)?” Si Si istri menjawab, “Kamu memang orang yang hina, kita berdua memang benar-benar orang yang hina.”

Setelah kejadian itu, si istri berubah total. Sehari-harinya ia hanya disibukkan dengan shalat, puasa, dan ibadah-ibadah yang lainnya. Sehingga, suaminya menggerutu kesal dan berkata, “Celaka aku, apa sebenarnya yang telah dilakukan Ubaid bin Umair terhadap istriku sehingga berubah seperti sekarang ini. Dahulu setiap malam istriku bertingkah bak pengantin baru, tapi sekarang Ubaid bin Umair telah mengubahnya menjadi seorang rahib (orang ahli ibadah).”

(Ibnul Jauzi, Dzammul Hawaa, hlm. 265,266.)

RasuluLlah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

Pandangan mata adalah panah beracun dari iblis. Siapa yang meninggalkan karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberikannya keimanan yang dirasakan kenikmatannya dalam hati.”

(HR Hakim, Thabrani, dan Baihaqi, diambil dari buku “Menahan Pandangan Menjaga Hati” (Ghadhdhul Bashar) karya Abdul Aziz al-Ghazuli, terbitan Gema Insani Press)

SubhanaLlah (Maha Suci Allah)..

Hanif al-Falimbani (Yogyakarta, 21 Maret 2007, 02.23pm)

14 Komentar »

  1. anung said,

    Pertaminax!!!!

    **sambil tutup mata**
    hehehe…bercanda kang

    Sang suami berkata, “Baiklah aku izinkan kamu.”

    suami yg goblok tuh kang

  2. Wehh.. kamu itu Nung, jahat banget bilang orang Goblog, jangan dong.. dia itu gak goblog tapi Gila..😀

  3. pramur said,

    Numpang nimbrung nih Bos…
    Saya punya stiker ghodul bashar di laptop. Ada sisa pemberian teman. Mau?

    Eh, yang betul huruf latin untuk ghadul bashar itu = ghadul bashar atau ghadhdhul bashar? dhonya sabdu?

  4. Mau mau Mur.. Kapan aku bisa menjemputnya?

    Klo aku gini Wo’, aku membedakan pengucapanya, kalau pengucapannya mendekati pengucapan aslinya dalam al-Quran, biasanya aku tulis italic, coz, kt ghadhdhul bashar itu kata benda yang diambil dari kata kerja perintah dari ayat :

    يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ

    Dho’-nya di tasydid. Tapi kalau tulisan Ghadul Bashar, itu kalimat yang aku kira sudah diadaptasikan ke tulisan latin yang dibaca dengan dialek Indonesia.

  5. anung said,

    jadi inget si PEPE “GADHULUS” huekekekeke
    aku juga minta stikernya donggg😀

  6. PEPE “GADHULUS” itu apa sih Nung??

    Minta stikernya?? Ngantri dong, ambil nomor antriannya disana..😀

  7. peyek said,

    Sungguh pelajaran berharga bagi para suami dan isteri kita

  8. aban tetep ga suka vanila said,

    Gung kirimin aq juga e…
    pengen jg stickerna…
    btw tuch suami mang ga beres…masa istri yg cantik diizinin buat ngegoda laki2 lain..klo wa mah ogah..klo wa pny istri cantik yo mending tak nikmatin sendiri….hehe ( jgn yg macem2 pikiranna )

  9. exelent_ipb said,

    Wah mas hanif dah bisa nulis tentang masalah syari’at bagus tuh, kembangin terus ya, ohya salam buat ustadz antum, kapan lulusnya ????? jangan kebanyakan mikir and kuliah di tf, nggak bosen ama fisika.

  10. :: Kang peyek ::

    Betul.. betul.. Kang tapi ada yang perlu dikoreksi dikit, dikiit aja, Harusnya untuk Suami atau istri yang sudah menikah, bukan kita.. Kan saya belom nikah..😀

    ::Aban::

    ban.. ban.. inget, bidadari di surga itu juga cuantik-cuantik lho.. gak dapet yang cantik di dunia, harus dapet yang disurga, gitu tho Kang..🙂

    ::exelent IPB ::

    Eeeehh.. jangan gitu-lah, beliau itu ustadz saya yang ruarrr biasa, saya malah berharap beliau tetep di kampus, ngajarin saya yang masih culun ini.. Tp jelas ndak mungkin ya..

    Tp bentar, exelent itu artinya apa ya? Sy cari di kamus kok gak ada ya, apa kamus sy-nya yg kurang lengkap🙂

  11. aban tetep ga suka vanila said,

    I C…IC…mas Agung…
    maksud ane tak nikmatin sendiri itu…(nanti aja klo antum pulang ke Palembang^_^)
    tetep berjuang…

  12. lina said,

    mas, aku suka mata-nya. maaf ku unduh tanpa permisi…

  13. izin copas..

  14. Tongwie said,

    subhanallah, syukron y akhie that’s great article.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: