Mei 27, 2007

Di Ruas Jalan Jendral Sudirman Jogja, Setahun Kemarin

Posted in Tumpah Hati pada 10:56 pm oleh Hanif al-Falimbani

Pertanyaannya, mengapa saya menampilkan tumpahan hati dari Kang Mas TITOK mengenai apa yang terjadi 27 Mei, setahun kemarin. Karena saya tahu cerita beliau lebih pantas untuk ditampilkan, daripada cerita hidup yang saya alami di waktu yang sama. Untuk Kang Mas Titok, afwan saya telah menampilkan tulisan antum tanpa izin dari antum, saya ambil dari milisnya Sobat Muda, yang antum kirim ke sana. Terakhir, semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua. AlhamduliLlah.

Di Ruas Jalan Jendral Sudirman Jogja, Setahun Kemarin

Jam di tanganku menunjukkan pukul 05.57 WIB saat aku berhenti di Perempatan Tugu Jogja menunggu lampu menyala hijau. Hanya ada waktu tiga menit untuk sampai di Masjid Kampus UGM dengan tepat. Sebab, pagi itu, tepat pukul 06.00 WIB aku harus memulai halaqohku. Keterlambatan bisa menjadi sebuah masalah. Begitu lampu merah mati, aku pacu “Astrea Star” AB3100HT dengan kecepatan maksimal. Aku ingat betul, itu adalah Sabtu pagi yang cerah, 27 Mei 2006.

Sekitar 300 m berjalan ke arah timur dari Tugu Jogja, tepat di atas Jembatan Gondolayu (Jl. Jend Sudirman), tiba-tiba motorku terasa oleng, oleng dengan hebat, hingga hampir saja aku terjatuh dalam kecepatan tinggi. Aku menduga itu terjadi karena ban belakangku kempes. Aku menepi dan berhenti, tapi kali ini, aku merasakan tubuhku juga oleng, naik-turun. Kemudian ku sadari bahwa segala sesuatu ikut bergetar dengan dahsyat. Aspal yang ku injak seperti terapung di atas air yang bergejolak. Aku merasa seperti berdiri di atas rakit, diterjang ombak yang datang secara bergelombang. Semua orang berhenti, dan sebagian lagi berlarian keluar dari kios-kios di sekitar jalan. Terdengar suara gemuruh yang keras dan mengerikan, entah dari mana asalnya. Tiang listrik, kabel-kabel, papan-papan reklame, semuanya bergoyang dan saling berbenturan. Teriakan dan jeritan membuat aku menjadi semakin kalut. Aku tidak bisa berfikir jernih waktu itu. Bingung, belum memahami apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa detik berlalu, di tengah situasi seperti itu aku baru tersadar, ternyata telah terjagi gempa yang sangat dahsyat. BElum pernah kurasakan gempa yang sebesar itu. Sesaat kemudian, gempa mereda, aku merasa semua kembali normal seperti semula dan tidak terjadi apa-apa. Maka aku pun melanjutkan perjalananku ke Maskam (sebutan populer untuk Masjid Kampus UGM). Aku menyaksikan gempa itu di bagian utara Kota Jogja.

Aku hanya sebentar di Maskam. Halaqoh aku batalkan, karena ibuku menelphon, mengabarkan bahwa kampung kami mengalami kerusakan berat. Aku pulang. Aku tinggal di Bantul, kabupaten di sebelah selatan yang mengalami kerusakan paling parah, tepatnya di Dukuh Mrisi. Meski Jogja bagian utara tidak mengalami kerusakan parah, tapi ternyata bagian selatan dilaporkan luluh-lantak. Aku tak sabar ingin segera melihat kondisi keluarga setelah tahu bahwa Bantul mengalami rusak berat. Tak henti-hentinya hatiku bertanya-tanya : bagimana kondisi ibu, bapak, adek-ku, budeku, dan semua kerabat yang ada di rumah.

Aku keluar dari pagar UGM dari pintu alternatif, melewati perumahan dosen sebelah selatan Masjid. Keluar dari pagar kawasan UGM langsung bertemu dengan sisi utara RS Pantirapih. Kulihat pasien baru berdatangan dalam jumlah yang tidak biasa, dan pasien yang ada di dalam dikeluarkan untuk mengantisipasi gempa susulan. Mereka berbaring di halaman utara. Jalan dari Bundaran UGM ke selatan ditutup untuk kendaraan yang tidak berkepentingan, karena begitu banyaknya pasien baru yang harus memasuki RS Pantirapih melewati jalan itu. Aku yakin, mereka sakit karena gempa. Aku heran, ternyata gempa ini membuat banyak orang terluka. Aku bergerak ke barat, ke arah perempatan “Mirota Kampus”. Lampu menyala merah. Tepat di depan mataku ada mobil bak terbuka mengangkut beberapa orang yang duduk dengan tatapan kosong. Di antara mereka ada laki-laki yang dibaringkan dengan luka di kepala, ada juga seorang nenek terluka bersandar di atas bak mobil itu. Aku yakin mereka akan ke RS Dr. Sarjito. Dan ternyata, mobil seperti itu tidak hanya satu, kulihat di depan ada beberapa mobil lain yang juga mengangkut korban. Di antara mereka yang sakit, ada yang sekujur tubuhnya diselimuti debu putih, persis seperti habis terkubur. Aku baru sadar, ternyata Jogja baru saja tertimpa bencana besar. Setelah itu, tak kuhitung lagi berapa ambulan yang ku temui di jalan. Suara sirine yang kudengar di sepanjang jalan benar-benar menusuk-nusuk ulu hati. Semua itu membuatku ingin segera sampai ke rumah melihat kondisi keluargaku. (cerita di perjalanan yang penuh ketegangan dan kekhawatiran terlalu panjang untuk diceritakan, apa lagi dalam perjalanan ini, aku melihat ratusan ribu warga Jogja lari ke utara karena berita bahwa tsunami telah menerjang jogja bagian selatan. Saat itulah perasaanku semakin kacau, mengingat posisi keluarga yang jauh ada di selatan).

Uh.., Sepertinya baru kemarin, tapi tak terasa, peristiwa itu telah setahun berlalu. Yah, tepat setahun. Gempa merenggut lebih dari enam ribu jiwa, dan delapan orang di antaranya adalah tetanggaku. Puluhan warga Dusun Mrisi terluka. Ratusan rumah roboh dan rusak berat, termasuk rumah tempat aku dibesarkan. Alhamdulillaah, seluruh keluarga kutemui dalam keadaan selamat. Situasi yang kacau membuat perjalananku dari kampus sampai ke rumah memakan waktu hampir dua jam (biasanya 30 menit). Sempat sedih melihat kerusakan yang terjadi. Tapi semua orang mengalaminya. Kami memikul kesedihan itu bersama-sama. Sejak hari itu, sebagian wilayah Bantul berubah menjadi kawasan reruntuhan. Bahkan sampai hari ini jejak gempa itu belum sepenuhnya hilang. Bagiku, peristiwa ini membawa sekian hikmah yang tak kuasa untuk kutuliskan. Kini, rumah kami sekeluarga telah layak huni, meski pun cuma sederhana dan masih dalam tahap penyempurnaan. Semoga Allah tidak memberi cobaan yang lebih berat dari apa yang telah kita alami. Dan semoga Dia memberi kita kesabaran dan sifat tawakal.

[Kamarku, 26 Mei 2007, Titok P.]

4 Komentar »

  1. anung said,

    hebat..
    halaqoh ba’da subuh…
    tidur klo aku😀

  2. SubhanaLLah.. YA MAs Anung, tidur setelah baca dan hafalan Qur’an ya..😀

  3. aban tetep ga suka vanilla said,

    Ini ngomongin diruas jalan pa ngomongin tidur ba’da shubuh sih???

  4. KLINIK DESAIN alternatif
    gue disener frilen, bisa gambar ket en tridi, tarip dibawah harga pasar, cocok buat peminat berkantong tipis en pas-pasan hehehe… rancang bangun tempat ibadah maksimal 50% tarip normal (20rb/m2)
    kalo berminat hubungi sohirindisainer@gmail.com atawa klik http://picasaweb.google.com/sohirindisainer


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: