Juni 11, 2007

Dunia ini “Kecil” Baginya

Posted in al-Mustanir, Tumpah Hati pada 12:42 am oleh Hanif al-Falimbani

Tadi malam aku berbincang dengan seorang teman akrab, sungguh aku mencintainya karena Allah. Dia adalah seorang pengemban dakwah yang ingin melanjutkan kehidupan Islam. Dimataku, dia seorang yang sangat mengagumkan, kehidupannya sederhana, bahkan sangat sederhana. Bayangkan, untuk mondok saja dia tidak sanggup membayar. Padahal hanya butuh uang sekitar 200ribu saja sebulan untuk makan, tempat tinggal dan iuran belajar di pondok, tapi saat ini dia keluar karena tidak sanggup membayar.

Tadi malam dia cerita tentang sesuatu yang membuatku tersentak. Yang membuatku tertawa di hadapannya, tapi jika dia tahu, sungguh hatiku menangis. Dia orang yang mempunyai tekad baja, kemauan yang keras, dan prinsip yang teguh. Dia menuturkan, beberapa bulan setelah keluar dari Pondok Pesantren yang cukup ternama di Indonesia karena masalah finansial, dia mencari pondok lain yang gratis, alias ndak mbayar sama sekali. Setelah dia tanya sana-sini, akhirnya dia dapat informasi bahwa di daerah Magetan, Jawa Timur ada Pondok yang gratis tak berbayar, bahkan makanpun ditanggung.

Setelah beberapa bulan persiapan, akhirnya dia berangkat ke Magetan untuk mondok di pondok pesantren yang dimaksud. Dia berangkat ke sana dengan bersepeda, ya bersepeda, SubhanaLlah, luar biasa.. Dia butuh waktu 18 Jam mengayuh pedal dari Bantul ke Magetan. Dan sepeda yang dipakai bukanlah sepeda balap atau sepeda mahal, tapi hanyalah sepeda onthel, begitu orang jawa memanggilnya. Sepeda yang berat, tidak ada lampu dan sudah tua. Cerita yang menyertainyapun sangat mengharukan.

Baru sampai di daerah Solo, ban sepedanya bocor. Tapi karena hanya bocor halus saja, dia pompa bannya dan melanjutkan kembali perjalanan, dia tidak ingin menambal atau mengganti bannya karena uangnya tidak cukup. Tapi sayangnya, dia harus memompa ban sepedanya tiap 15 menit sekali. Bayangkan bagaimana letihnya.

Belum lagi ketika malam. Karena sepedanya tak berlampu, dan jalan yang dilewatinya adalah daerah hutan tak ada penerangan jalan sebatangpun, ditambah rute yang berlika-liku menanjak-menurun dan pohon-pohon rindang yang dedaunnya menghalangi sinar rembulan, akhirnya jalan yang dilaluinya tak terlihat sama sekali. Dia hanya bisa memacu sepedanya ketika ada kendaraan mobil, motor, bis, atau truk lewat, karena saat itulah ada cahaya yang menerangi jalannya yang berliku. Dan banyak lagi cerita lainnya yang seakan-akan membuat lintasan kehidupanku yang penuh penderitaan tidak berarti apa-apa dimatanya. Sehingga membuat aku begitu malu untuk mengeluh kepadanya ketika ada masalah, karena ku tahu betul, kegembiraan hidupnya lebih menyakitkan daripada kesedihan yang aku alami.

Tapi yang membuatku lebih terharu adalah dia tidak rela jika dakwahnya terhenti. Tadi malam dia memanggilku ke tempat kerjanya karena tidak bisa pulang ke rumah sedangkan paginya jam 6 di harus mengisi halaqoh. Ban sepedanya bocor, dan dia tidak sempat menambal, jarak dari tempat kerjanya ke rumah 50-an kilo. “Kalau saja waktunya sempat aku akan jalan, tapi aku nggak sanggup, sudah malam, trus sampe rumah pasti capek banget, halaqoh juga pastinya ndak akan maksimal, anterin aku ya Gung,” Begitu pintanya.

Orang-orang seperti dia begitu menginspirasi diriku. Keteguhannya, pengorbanannya, keistiqomahannya. Entahlah, jika aku berada diposisinya, apakah aku sanggup? Apakah aku mampu? Apakah aku bisa?

Orang-orang seperti dia memandang dunia tak lebih daripada setetes air dari lautan, sebagaimana sabda Rasul, “Perbandingan dunia dan akhirat itu seperti salah seorang dari kalian memasukkan jarinya di laut, kemudian perhatikanlah apa yang menempel ketika ia angkat (itulah dunia)” (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Sedangkan aku disini mash menganggap dunia ini begitu besarnya.

Orang-orang seperti dia memahami betul untuk apa dia dihidupkan di bumi ini.

Orang-orang seperti dia menghayati benar penjelasan Allah tentang dunia ini, “Katakanlah, ‘kenikmatan dunia itu sangatlah sedikit, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi siapa yang bertakwa.’” (TQS. An Nisaa’ [4]: 77). “Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara). Dan sesungguhnya akhirat itu negeri yang kekal” (TQS. Al Mukminun [40]: 39). Sedangkan aku disini masih bisa tidur di kasur yang empuk.

Orang-orang seperti dia merasakan jelas bagaimana Allah memberikan ujian kepadanya, “Apakah kalian mengira akan dibiarkan (begitu saja), sedangkan Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang yang berjihad diantara kalian dan tidak mengambil teman setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian kerjakan.” (TQS. At Taubah [9]: 16).

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. ” (TQS. Al-Ankabut [29]: 2-3).

Berbahagialah orang-orang yang menganggap, dunia ini “kecil” baginya.

Ya Allah yang Maha Pemurah Yang Maha Pengasih, jadikanlah aku orang yang tidak terlelap dengan kelembutan dunia, Jadikanlah aku orang yang tidak berbinar dengan gemerlapnya dunia, dan jadikanlah aku orang yang kuat menghadapai ujian dan cobaanMu ya Allah…

[Hanif al-Falimbani, Yogyakarta, 10 Juni 07, 11.00 pm]

8 Komentar »

  1. aban tetep ga suka vanilla said,

    Ya Allah yang Maha Pendengar…
    semoga aq bisa sepertinya…

  2. mikan_atama said,

    Subhanallah…
    saya jadi tertampar. 18 jam naik sepeda ke jawa timur??
    hebat sekali ya beliaunya itu.. klo saya, udah cengeng, nakal, main melulu lagi… semoga aku juga bisa jadi kayak beliau…

  3. ::aban tetep ga suka vanilla ::
    Amiin.. ya mujibassaailiinn
    :: mikan_atama ::
    mikan atama itu dari fruit basket?
    cengeng? nakal? main melulu? Siapa? Anti? Masa’ sih? Asumsi tu.. 😀
    Amiinn ya Robbal ‘aalamiin..

    Do’akan saya juga semoga bisa seperti beliau ya.. Insya Allah..

  4. andalas said,

    Masya Allah…
    sebuah perjuangan yang luar biasa, semoga ia tetap berada dalam karunia-Nya

  5. mikan_atama said,

    mikan = orange
    atama = head
    julukan buat kyon-chan🙂
    asumsi? lha wong saya yg ngalamin sendiri kok… tapi pengen ya kayak beliaunya itu..

    Amin…

  6. :: Andalas ::
    BUkan luar biasa lagi mas, tapi speechlessss… Amin..
    ::mikan_atama::
    Jadi artinya “kepala jeruk” atau “jeruk berkepala”? Julukan? Maksudnya apa? Kok dijuluki kayak gitu? Mungkin kepalanya manis ya..🙂 memangnya kepala bisa dimakan?😀

  7. aban tetep ga suka vanilla said,

    ::Hanichi::
    BUkan luar biasa lagi mas, tapi speechlessss… Amin..

    Gung…gung..mang sama ya??luar biasa ma speechless???
    speechless itu artinya ngga bisa berkata apa2 kan??
    trus yg dimaksud si Andalas kan, perjuanganna yang luar biasa kan??trus mang ada perjuangan yg speechless??
    Klo perjuangan yg bikin kita speechles, itu baru bisa dimengerti..
    Klo perjuanganna yg speechless???itu mah…

  8. Mas Dhuha said,

    Akhi, ana ngundang antum untuk mengunjungi cah-hamfara.blogspot.com
    Semoga semakin kuat tali silaturrahim ini
    Semakin memperkuat jalinan kebangkitan
    Semakin cepat datangnya nasrullah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: