Juli 3, 2007

Kejadian di Bangsal Waktu itu..

Posted in al-Mustanir, FIKIH, Khilafah, sirah pada 5:33 pm oleh Hanif al-Falimbani

**Saat itu, jenazah Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wa sallama– belum diurus dan pintu rumah beliau ditutup oleh keluarga beliau.**

Hai orang-orang Muhajirin, kalian hendak pergi kemana?

Kami hendak pergi ke tempat kaum Anshar

Jangan, janganlah kalian mendekati mereka, selesaikan urusanmu sendiri wahai kaum Muhajirin.

Demi Allah, aku akan mendatangi mereka.

Kemudian kami berangkat hingga sampai di Saqifah (bangsal) Bani Saidah, ternyata ditengah-tengah mereka ada orang yang berselimut.

Siapakah orang ini?

Dia Sa’ad bin Ubadah

Kenapa dia?

Ia sedang sakit demam

Setelah kami duduk, salah seorang dari mereka berdiri dan bersyahadat, menyanjung Allah dengan sanjungan yang memang layak diterima-Nya, kemudian dia berkata,

Amma ba’du. Kami penolong Allah, dan tentara Islam, sedang kalian, wahai kaum Muhajirin adalah keluarga besar kami. Sungguh, beberapa orang dari kalian berjalan pelan-pelan, ternyata mereka ingin memutus kami dari asal-usul kami dan mengambil perkara ini sendirian tanpa kami

Setelah dia diam, aku ingin bicara. Aku telah merangkai kata-kata yang menurutku sangat menarik. Aku ingin menyampaikannya di hadapan Abu Bakar, namun Abu Bakar langsung berkata,

Jangan terburu-buru wahai Umar.

Setelah itu, Abu Bakar berbicara dan ia lebih mengerti dan lebih tenang daripada aku. Demi Allah, Abu Bakar mengucapkan seluruh perkataan indah yang telah aku siapkan dengan jelas dan dengan pengungkapan yang lebih baik. Hingga akhirnya ia berkata,

Amma Ba’du. Apa yang kalian sebutkan tentang kebaikan kalian, maka itu hak kalian. Semua orang-orang Arab tidak mengingkari hal ini kecuali golongan orang-orang Quraisy. Sebab, mereka mempunyai nasab dan keturunan terbaik diantara orang-orang Arab. Karena itu, apabila kalian rela untuk memilih, maka pilihlah salah satu di antara dua orang ini.

Kemudian ia mengambil tanganku dan tangan Abu Ubaidah bin al-Jarrah, yang saat itu duduk diantara kami. Sungguh, Tidak ada dari ucapan Abu Bakar yang aku benci kecuali ucapan terakhirnya itu. Lalu aku berkata,

Demi Allah, lebih baik leherku dipenggal daripada aku harus memimpin kaum yang didalamnya terdapat Abu Bakar.

Salah seorang dari golongan Anshar berdiri dan berkata,

Dari kami ada pemimpin dan dari kalian ada satu pemimpin, wahai orang-orang Quraisy.i

Setelah itu, terjadi kegaduhan, suara-suara terdengar semakin meninggi, sehingga aku khawatir perselisihan ini menjadi memuncak. Maka aku segera berkata,

Wahai Abu Bakar, ulurkan tanganmu!

Lantas Abu Bakar mengulurkan tangannya, lalu aku membai’atnya,ii orang-orang Muhajirin turut membai’atnya, kemudian orang-orang Anshar juga membai’atnya.iii

**Riwayat yang dituturkan oleh Umar bin Khaththab-radhiyaLlahu ‘anh– diatas dikolaborasikan secara bebas dari kitab:

  1. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam II. Ibnu Hisyam. (Jakarta : Darul Falah). Cet. IV, 2005. halaman 648-651
  2. Sirah Nabawiyah (Qira’ah siyasiyah li Sirah Nabawiyah). Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, (Bangil : al-Izzah). Cet. I, 2004. halaman 471-472
  3. Tarikh Khulafa’. Imam as-Suyuthi. (Jakarta : Pustaka al-Kautsar). Cet. III, 2001. halaman 72-74
  4. Tahdzib Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam. Abdus Salam Harun. (Jakarta : Darul Haq). Cet. I, 2003. halaman 417-421
  5. al-Bai’at fil Fikri as-Siyasati al-Islami (Bai’at Dalam Perspektif Politik Islam). Dr. Mahmud al-Khalidi. (Bangil : al-Izzah). Cet. I, 2002. halaman 50-55.**

**Syaikh Dr. Mahmud al-Khalidi melanjutkan dengan keterangan sebagai berikut,iv**

Demikianlah pelaksanaan bai’at terhadap Abu Bakar ra. “Ini merupakan bai’at Khilafah pertama kali dalam Islam.v Akad bai’at kepada Khalifah ini dilakukan dengan kerelaan dan pilihan semua sahabat ra. dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengatakan tidak butuh pada Khalifah. Bahkan semua sahabat setelah wafatnya RasuluLlah saw. “Mereka bersegera memba’iat Abu Bakar ra. dan menyerahkan tanggung jawab semua urusan mereka kepadanya.vi

Dengan demikian telah terjadi ijma’ sahabat atas wajibnya ba’iat. Dan sesungguhnya bai’at merupakan metode syar’i (Islam) satu-satunya untuk menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada kepala Negara Islam.vii

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Saqifah Bani Saidah menyatakan dengan tegas bahwa para sahabat memba’iat Abu Bakar ra. untuk menduduki kekhilafahan. Maka dengan bai’at ini, Abu Bakar merupakan kepala Negara Islam yang pertama setelah RasuluLlah saw. Begitu juga pada tiap-tiap masa setelah itu. Semua itu ditetapkan berdasarkan Ijma’.viii Ini menunjukkan, orang yang melakukannya berhak mendapatkan pahala, sebaliknya orang yang meninggalkannya berhak untuk disiksa. Sebab, bai’at merupakan kewajiban yang diperintahkan syara’, sebagaimana shalat dan zakat, lebih-lebih bai’at merupakan metode syara’ satu-satunya untuk mengangkat kepala negara serta hak umat Islam dalam melaksanakan akad penyerahan Kekhilafahan.

**Imam Syafi’i dalam kitabnya Fiqhul Akbar pasal 62 menukil riwayat Saqifah Bani Saidah ini untuk menguatkan pendapatnya bahwa imam (khalifah) untuk satu periode itu tidak boleh lebih dari satu.**

Dalil untuk itu adalah ijma’ para sahabat. Hal itu terlihat dari penolakan mereka untuk diangkat menjadi imam disamping imam lain yang sah pada periode kehidupannya, seperti yang terlihat pada peristiwa Saqifah Bani Saidah, diamana saat itu orang-orang Anshar berkata: “Kami memilih imam kami sendiri dan tuan-tuan (dari Muhajirin) pun memilih sendiri imam tuan-tuan.” Kemudian mereka menyetujui pendapat Abu Bakar dan membatasi keimamahan itu pada satu orang saja, serta membentuk kesepakatan (ijma’) atas hal itu. Menyalahi keputusan yang ditetapkan berdasarkan ijma’ adalah tidak dibenarkan, sebab hal itu akan mendorong munculnya perselisihan dan fitnah, lalu akan mengakibatkan terjadinya perang antara sesama Muslim. Yang demikian itu jelas tidak dibenarkan. RasuluLlah saw berkata: “Apabila ada dua orang yang dibai’at menjadi imam, maka tetaklah (penggal-lah) leher salah seorang diantara mereka berdua.” (Lihat Fiqhul Akbar, Imam Syafi’i, pasal 62)

**Ijma’ sahabat merupakan salah satu dalil syara’ setelah al-quran dan as-Sunnah. Dan dari Ijma sahabat diatas, maka saat ini di setiap pundak kaum Muslimin tidak terdapat bai’at kepada seorang Khalifah yang akan mengatur seluruh urusan mereka. Oleh karena itu, merupakan kewajiban kita bersama untuk mengangkat seorang Khalifah yang akan diba’iat olah kaum muslimin seluruh dunia, yang akan menjalankan Syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyyah seutuhnya, dan meninggikan kalimat Allah dimuka bumi ini dengan dakwah dan jihad. Allahu Akbar..!!!**

**Hanif al-Falimbani, Yogyakarta, 29 Juni 07, 6.13pm**

iDalam sebuah riwayat, ini adalah perkataan Hubab bin Mundir, Lihat al-Faiq Fi Gharibi al-Hadits, I/182, cetakan al-Halabi, 1945

iiDikatakan bahwa Basyir bin Sa’ad, ayah Nu’man bin Basyir adalah yang membaiat Abu Bakar ash-Shiddiq, sebelum Umar bin Khaththab membai’atnya. Lihat as-Sirah Li ibni Katsir, IV/490.

iiiLihat Tarikh at-Thabariy, II/446-447, disebutkan bahwa semua yang hadir di Saqifah (bangsal) membai’atnya. Begitu juga as-Sirah al-Halabiyah, II/481 yang tidak mengecualikan Sa’ad bin Ubadah dari berbai’at.

iv al-Bai’at fil Fikri as-Siyasati al-Islami (Bai’at Dalam Perspektif Poltik Islam). Dr. Mahmud al-Khalidi. (Bangil : al-Izzah). Cet. I, 2002. halaman 59-61.

vShubhu al-A’sya, karya Imam al-Qalqasyandi, IX/274.

viMuqaddimah Ibnu Khaldun, hal. 181.

viiLihat hal itu dalam Irsyadul Fukhul, Karya Imam asy-Syaukaniy, hal. 81, 82 dan 89; Al-Mughni fi Abwabi at-Tauhid wa al-‘Adl, XX/47-48; Minhaju as-Sunnah as-Nabawiyah, I/142; Kasyfu al-Asrar, III/960-961; al-Ihkam fi Ushuli al-Ahkam, I/328.

viii Muqaddimah Ibnu Khaldun, hal. 181.

2 Komentar »

  1. Hufail said,

    Salah ala manittabaal huda.
    Coba anda telusuri sejarah apa yang mengiringi peristiwa saqifah bani saidah. Dimanakah Sahabat sekaligus menantu Nabi SAWW, Sayyidina Ali karomallohu wajhah, dan istrinya Sayyidah Fathimah? MEngapa beliau tidak ikut-ikutan rebutan jabatan khalifah?
    Apakah pantas jasad Nabi Saww belum dikubur, sementara sahabat lain pada sibuk rebutan kekuasaan? Dimanakah akhlaq terhadap Nabi mereka?
    Padahal 80 hari sebelum Nabi Wafat, di momentum Haji Wada’ Nabi sudah mengumumkan pengganti beliau: Peristiwa Ghadir Khum.
    Jika Anda ingin diskusi silakan kunjungi blog saya. Terima kasih.
    Mengapa saat

  2. Syahroni said,

    Izin Copas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: