Desember 22, 2007

Selamatkan Bumi Dengan ISLAM

Posted in berita, Khilafah tagged , pada 2:02 am oleh Hanif al-Falimbani

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. Ar-Ruum[30]:41)

AlhamduliLlah, Ahad tanggal 16 Desember 2007 di Musholla FMIPA kampus Utara UGM diadakan diskusi publik tentang Pemanasan Global yang bertema “Save the earth with Islam”. Acara ini diselenggarakan oleh HTI Cabang UGM.

Acara ini sebenarnya bisa disebut khas atau berbeda dari yang lain, karena biasanya pembicaraan mengenai pemanasan global hanya dikaitkan dengan sudut pandang ilmiah semata. Pembicaraan tentang pemanasan global biasanya hanya dikaitkan dengan apa itu “Efek Rumah Kaca” atau kenaikan suhu bumi yang berbanding lurus dengan meningkatnya kadar CO2 di atmosfir tetapi dalam diskusi ini dikemukakan pula solusinya dalam Islam dengan terlebih dahulu menelusuri akar masalahnya.

Acara ini dihadiri oleh dua orang pembicara, yaitu Prof. Dr. Suratman, M.Sc. yang mewakili Ikatan Geograf Indonesia, dan Ustadz Muhammad Kholid Ridwan, Ph.D dari Hizbut Tahrir Indonesia. Acara ini dimoderatori oleh al-Akh Firdaus dan al-Akh Azmi sebagai pembawa acaranya.

Sebelumnya panitia mendapatkan kabar bahwa Prof. Suratman akan hadir sekitar jam 10, sehingga dengan berbagai pertimbangan, panitia memutuskan untuk memulai acara jam 9 pagi dan jeda waktu yang cukup lama itu diisi dengan pemutaran video dokumenter Konferensi Khilafah Internasional yang diselenggarakan pada tanggal 12 Agustus 2007 kemarin. Namun Alhamdulillah ternyata Prof. Suratman hadir lebih awal dari kabar yang kami terima, mengenai hal ini, panitia juga meminta maaf kepada peserta yang hadir lebih awal, yang harus menunggu cukup lama hingga acara dibuka, panitia mohon maaf atas ke-tidaknyaman-nya.

Prof. Suratman sebagai pembicara pertama memaparkan fakta-fakta yang terjadi di bumi ini terkait dengan pamanasan global dan dampaknya terhadap lingkungan dari sudut pandang geografi.

Pembicara kedua, Ust. Muh Kholid Ridwan, Ph.D, mencoba mengulas fakta pemanasan global serta menelusuri akar masalahnya. Pemanasan global bukan hanya tragedi alam yang terjadi karena meningkatnya suhu bumi akibat dari meningkatnya kadar CO di atmosfir tetapi pemanasan global lebih terkait dengan sistem sosial yang sedang berkembang saat ini. Sistem ekonomi kapitalisme yang merupakan sistem sosial yang diterapkan hampir di seluruh permukaan bumi saat ini diduga kuat menjadi biang dari munculnya pemanasan global.

Sistem Kapitalisme yang menganut paham Materialis membuat gaya hidup seseorang menjadi serakah dan tak pernah merasa cukup. Akibatnya, banyak energi yang harus dihabiskan untuk memenuhi ‘hasrat binatang’ dari manusia-manusia yang menganut paham sesat ini sehingga semakin banyak pula CO2 yang akan dibuang. Ini dikarenakan indikator untuk menentukan tingkat kebahagian seseorang ada pada seberapa besar materi yang dia kuasai, hasilkan dan nikmati. Semakin banyak seseorang menguasai materi-materi atau kekayaan yang ada didunia ini maka semakin bahagialah ia.

Berbeda dengan Kapitalisme, Islam mempunyai pandangan yang berbeda tentang kebahagiaan, bahagia menurut seorang Muslim adalah suatu keadaan dimana aktivitas (amal) yang dikerjakannya mendapat ridla Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan pemahaman seperti ini seorang Muslim dituntut untuk selalu mengaitkan setiap perbuatannya dengan keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan untuk mencapai keridhoan itu paling tidak seorang muslim harus memenuhi dua kriteria dalam melakukan suatu amal, yaitu ikhlas dan benar (sesuai syariat). Jika salah satu dari dua kriteria tersebut tidak terpenuhi maka jangan berharap perbuatan kita akan mendapatkan ridho dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam sesi tanya jawab, dua penanya, yaitu al-Akh Hendra dan al-Akh Subroto mengajukan pertanyaan mengenai solusi atau langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini, karena masalah ini ternyata memang masalah yang bersumber dari sistem sehingga diperlukan solusi yang sistemik juga.

Prof. Suratman menegaskan perlunya konsep yang jelas dalam hidup ini, sehingga dengan konsep itu kita akan mampu melakukan kebijakan-kebijakan agar masalah ini bisa teratasi. Beliau mengatakan bahwa kita diperintahkan oleh Sang Pencipta untuk menjaga bumi ini. Saat ini, konsep yang sedang berjalan adalah konsep dimana ekonomi mengalahkan lingkungan, merupakan konsep yang tidak benar, konsep ini bersumber dari kapitalisme, sehingga jelas, konsep ini adalah konsep yang keliru.

Lebih lanjut, Ust. Kholid, mengatakan bahwa saat ini masalahnya adalah masalah sistemik, yaitu sistem ekonomi kapitalisme. Beliau mencontohkan problem urbanisasi yang sebenarnya disebabkan oleh tidak meratanya pembangunan di negeri ini, sehingga orang desa yang mau sukses harus pindah dulu ke sentra-sentra industri di kota-kota besar. Berbeda dengan Islam yang mengharuskan distribusi kekayaan secara merata ke seluruh rakyatnya.

Alam ini diciptakan oleh Allah, maka manusia harus menyesuaikan pengaturan alam ini dengan aturan yang dibuat oleh Allah untuk mengatur alam ini. Aturan itu antara lain adalah bahwa sumber daya alam yang dibutuhkan oleh semua orang tidak boleh dimiliki oleh individu, misalnya barang tambang (api), air dan hutan (padang rumput).

Karena masalah ini adalah permasalaah sistem, maka solusinyapun harus sisemik pula. Dan sistem yang diturunkan oleh Allah–Sang Pencipta alam semesta ini–hanyalah Islam. Maka solusi yang tepat dan benar adalah dengan mengganti sistem kehidupan yang diatur oleh kapitalisme-sekuler dengan sistem kehidupan yang diatur dengan Islam, sistem ini tidak bisa diterapkan kecuali dalam naungan khilafah.

Khilafah nantinya akan mengambil alih aset-aset sumber daya alam yang dimiliki oleh individu sehingga nantinya dikelola oleh negara. Khilafah nanti mungkin juga akan mengembangkan teknologi untuk menghasilkan energi yang terbarukan, seperti energi surya dalam berbagai bentukanya (solar-cell, solar-farm, solar-tank), energi angin (wind-farm), energi air (dari mikrohidro sampai PLTA), energi ombak, energi suhu laut (Ocean-Thermal-Energi-Conversion, OTEC), pasang surut, panas-bumi (geothermal) hingga energi nuklir yang dapat membantu menurunkan penggunaan energi konvensional sehingga diharapkan dapat mengurangi efek pemanasan global.

Di sisi lain, gerakan pelestarian hutan dan penanaman hutan harus terus digalakkan, baik secara individual, korporasi maupun negara. Di level bawah, para aktivis dakwah perlu mengingatkan umat pada hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi kira-kira, “Andaikan kiamat teradi sore hari, di pagi hari seorang muslim tetap akan menanam sebuah pohon.”

Terakhir, tanpa perubahan sistem secara mendasar maka upaya-upaya untuk mengatasi pemanasan global akan sia-sia belaka. Fakta telah terlihat dengan jelas dengan gagalnya ‘Konferensi Bali’, konferensi yang diselenggarakan oleh UNFCCC ini akhirnya tidak melahirkan keputusan yang pasti dan mengikat untuk mengurangi emisi industri antara 25-40% hingga tahun 2020. ‘Biang kerok’nya tentu saja AS sebagai lokomotif kapitalisme dunia dan negara-negara maju dunia seperti Jepang dan Kanada. Jika AS dan negara maju itu sepakat mengurangi emisi karbon, berarti mereka setuju menngurangi jumlah industri mereka atau mengurangi jumlah produksi industri mereka. Mereka tentu tidak mau, karena penopang utama perekonomian mereka adalah sektor industri. Oleh karena itu, sampai kapanpun tidak akan pernah terwujud solusi yang melegakan bagi seluruh umat manusia ketika kapitalisme-sekular masih meracuni pemikiran mereka, kecuali Islam memang benar-benar diterapkan secara menyeluruh dalam naungan Khilafah. Lantas, kapan lagi kita mau berjuang untuk menerapkan sistem Islam kalau tidak sekarang? Menunggu bumi ini tenggelam?

WaLlaahu a’lam bishshawaab.

~~hanif al-falimbani,yogya,211207,0355~~

Artikel Terkait :

Ketika Bumi Menemui Hari Terakhirnya

Lulus UGM, Mau Jadi Jongos atau Pengkhianat?

Foto-foto dokumentasi acara :

pembicara
[Dari Kiri ke Kanan. Moderator: al-Akh Firdaus; Pembicara 1 : Prof. Suratman; Pembicara 2 : Ustadz Kholid, Ph.D. ]

peserta
[Para peserta tampak khusyuk mendengarkan pemaparan para pembicara ]

backgound
[Dari Kiri ke Kanan. Tilawah al-Qur’an: al-Akh Heru; Pembawa acara : al-Akh Azmi ]

20 Komentar »

  1. precious-soul said,

    sepertinya materi kemarin kurang mendalam… masih global gitu. Soalnya, ketika Khilafah berdiri nanti, tentu berdirinya di atas puing-puing kapitalisme, dengan kata lain, dunia sudah terlanjur rusak oleh kapitalisme. Tentu mengembalikan dunia menjadi baik kembali merupakan sebuah tanggung jawab juga. Kalo membicarakan masalah riset energi terbarukan, yang kita lihat saat ini kapitalisme juga punya, misalnya minyak jarak, dll, tapi itu semua lagi2 cuma jadi alatnya si kapitalis, selain untuk memalingkan masalah penjarahan energi fosil, juga untuk membuat masyarakat menjadi buruh bagi pengusahaan energi alternatif (ntar Barat tinggal pake, kayak biofuel dari kelapa sawit). Saat ini, masyarakat butuh gambaran lebih detail tentang sistem Islam yang katanya bisa menyelesaikan segala permasalahan, baik sistem industrinya, sistem ekonomi, dll. Diskusi publik kemarin itu masih global yang dibicarakan. Tapi bagus kok, walopun saya ga ikut sampai selesai..

  2. Akhi… Ane merindukan Antum semua😉

  3. ::precious-soul::

    Mendirikan Khilafah itu bukan hanya masalah apakah nantinya khilafah bisa mengatasi itu semua tapi intinya, mendirikan khilafah itu adalah tuntutan aqidah.. mesekipun nantinya ketika khilafah sudah berdiri maka ternyata rakyat belum makmur itu tidak berarti apa-apa, yang dituntut oleh syara’ adalah penerapan syariah.. tentang makmur atau tidak itu tinggal masalah profesionalitas kita dalam mengimplementasikan konsep dan izin dari Allah.. saya kira kalau khilafah ini bisa menjadi pemikiran umum ditengah masyarakat maka ketika khilafah tegak nanti masyarakat akan bahu-membahu membangun khilafah, kita akan sama-sama, bersama masyarakat.. Tapi, terima kasih atas saran dan masukkannya.. Gak ikut sampai selesai? Nyesel dong..

    ::Frenky di Singkil::

    Sama Akh.. saya juga rindu sama antum.. gimana dakwah di Singkil..?? Cerita antum disana benar-benar mengahrukan akh.. semoga tetap istiqomah.. AllahuAkbar..!!!

  4. titok said,

    Menurut saya, kita tidak cukup memperbincangkannya dalam tataran perbandingan sistem dan kebijakan saja. Kita akan gagal menjelaskan tetang khilafah jika masyarakat hanya menangkapnya sebagai sebuah rezim yang akan mengatasi setumpuk problem yang diproduksi oleh kapitalisme.

    MEmang benar bahwa problem itu harus diatasi. Dan memang benar bahwa kita harus menyiapkan seperangkat sistem dan kebijakan yang akan kita aplikasikan. Tapi itu masalah kita. Masalah kita yang memang sudah ancang-ancang akan mendirikan khilafah.

    Tapi, jika kita menghadapi ummat, yg paling urgen untuk kita bicarakan kepada mereka adalah perombakan mafaahim, maqoyis dan qona’ah yang lama dengan mafahim, maqoyis dan qona’ah yg baru (islam). Level itu belum sepenuhnya sukses kita lalui. Jangan sampai kita membangun sudut pandang yg salah tentang sistem islam, bahwa ia adalah pahlawan yg akan mengentaskan kita dari malapetaka kapitalisme. Pandangan yang salah itu akan menjadi malapetaka yg lebih destruktif dari kapitalisme.

    Apa yg dikatakan ustadz kholid sangat tepat. Beliau masuk dari permasalahan kultur “serakah” yang terbangun oleh peradaban kapitalis. Kultur itu harus diserang dari aspek mabda’ yg membangunnya.

    Solusi yg diitawarkan oleh islam harus integral. Ini bukan sekedar masalah menghadirkan energi alternatif yang ramah lingkungan, tapi juga merombak kebudayaan masyarakat industrialis-kapitalis-modern. Untuk itu, ini terkait juga dengan politik pendidikan yang akan membina karakter/kepribadian umum masyarakat. Bagaimana membentuk masyarakat seperti yg diutarakan oleh ustadz kholid, yaitu masyarakat yg mengukur kebahagiaannya bukan dari kemanfaatan dan materi. Ini bukan masalah orang fisika bung! Tapi ini masalah bagi para idiolog, ini masalah para da’i, ini masalah bagi sebuah negara yg memiliki misi yg jelas dalam mendidik warganya!

    Maka dari itu, kita bisa dikatakan gagal menjelaskan permasalahan jika ummat masih melihat masalah pemanasan global sebagai pemanasan global saja. Kita gagal jika mereka hanya berharap dari islam untuk mengehentikan pemanasan global. Sebab, masalah yg ingin kita jelaskan sebenarnya lebih dalam dari itu. Iya kan?

  5. Iya.. itu mas.. konsep kebahagiaan..

    buat apa makmur didunia tapi sengsara di akhirat..

  6. precious-soul said,

    hmmm, menarik sekali. Tapi bukankah kita sering mengatakan islam adalah solusi segala permasalahan manusia? Bukankah kita sering mengkampanyekan Selamatkan Indonesia dengan Syariah, dan sebagainya. Ya, tentu untuk menyelesaikan segala permasalahan tersebut, misal global warming, tentu harus secara sistemik, karena ideologi Islam tidak akan berhasil jika diterapkan secara parsial. Namun, pada tahap dakwah saat ini, umat tentu ingin tau, seperti apakah Islam mengatur masalah industri, dan ekonomi, sehingga nantinya akan muncul sistem industri yang tidak mengejar keuntungan semata. Juga seperti apa sistem pendidikan yang nantinya akan mencetak ilmuwan dan industriawan yang mau memikirkan umat. Jadi pada tahap dakwah sekarang, tidak cukup hanya sapujagat membahas bahwa khilafah itu wajib, namun juga harus mulai menggambarkan pada umat, seperti apa khilafah itu nantinya. Begitu lho maksud saya..

  7. ::precious-soul::

    Iya.. itu betul juga, tapi tidak mudah jika menjelaskannya dalam suatu forum yang hanya terdiri dari 2-3 jam..

    Islam merupakan sebuah solusi bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.. bisa jadi kehidupan sekular seperti sekarang ini membuat rakyat makmur di dunia, itu mungkin saja, tetapi apakah kemakmuran itu akan menjamin juga rakyatnya akan makmur di akhirat..??

    Meyakini Islam sebagai sebuah solusi adalah tuntutan aqidah..Wa maa arsalnaaka illa rohmatallil ‘aalamiin..

    Sehingga ketika nantinya khilafah berdiri tetapi belum terasa kemakmuran di tengah-tengah masyarakat, maka sejatinya Islam tetap terasa sebagai sebuah solusi, yaitu solusi agar umat terlepas dari sisitem yang kufur..

    Justru menurut saya, mengetuk sisi-sisi aqidah dari umat sudah sangat cukup untuk mengajak umat mengembalikan kehidupan Islam dalam naungan khilafah.. karena solusi-solusi yang lebih rinci yang berkaitan dengan aspek teknologi dan sebagainya bisa dipikirkan sama-sama.. seperti kata Mas Titok, jangan posisikan kita seolah-olah sebagai pahlawan yang akan mengatasi seluruh permasalahan rakyat.. tetapi posisikan kita sebagai orang-orang yang berusaha mengajak ummat untuk bersama-sama memikirkan solusi setiap permasalahan yang ada saat ini dalam bingkai kehidupan Islam..

    Di samping solusi, penerapan syariah Islam oleh negara juga merupakan wujud ketakwaan umat kepada Allah SWT. Buat apa makmur tapi buakn dalam bingkai syariat yang diterapkan secara keseluruhan. Ketakwaan umat inilah yang akan menghasilkan keberkahan hidup, sebagaimana yang telah Allah janjikan.

    وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

    Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka. (QS al-A‘raf [7]: 96).

    SubhanaLlah.. apa yang dituntut oleh Allah sebelum Allah nantinya akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..?? Keimanan dan Ketakwaan

    Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.

  8. josep said,

    FUCK YOU

  9. ::josep::

    Merupakan suatu hal yang sangat manusiawi jika anda membenci orang seperti saya.. tapi saya harap yang anda benci hanya saya saja, bukan apa yang saya perjuangkan..

    Bersabarlah..

  10. julfan said,

    “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. Ar-Ruum[30]:41)

  11. ShodaqaLlahul ‘Adhiim.. Maha Benar Allah dengan segala Firman-NYA..

    Mari kita kembali ke jalan yang benar, kepada jalan syariat dan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah..

  12. Umat said,

    Mohon maaf, nimbrung comment :
    Secara imani, saya memang sangat yakin bahwa aturan Islam memang yang paling baik, na’udzu billah tsumma na’udzu billah ketika kita tidak meyakini, kita termasuk orang yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Maidah ayat 44. Tapi, secara logis, saya juga butuh gambaran, bagaimana sebenarnya gambaran lebih rigit mengenai aturan Islam ketika menyelesaikan permasalahan manusia yang macamnya semakin banyak ini. Saya kurang sepakat dengan pernyataan saudara Hanif “karena solusi-solusi yang lebih rinci yang berkaitan dengan aspek teknologi dan sebagainya bisa dipikirkan sama-sama”. Justru seorang yang ingin melakukan suatu perubahan, seharusnya paham betul, bagaimana gambaran perubahan yang akan dituju. Jangan sampe kita mengulang sejarah. Pasca reformasi, karena belum jelas arah perubahannya ke mana, akhirnya tetep aja ga beda dengan zaman orde baru, bahkan sekarang lebih liberal.
    Jadi menurut saya, tetep konsep secara lebih rigit harus segera dipersiapkan dan dipaparkan ke tengah-tengah masyarakat agar mereka semakin puas (punya qona’ah tinggi mungkin kalau bahasanya saudara Titok) terhadap solusi Islam, apalagi kalau berhadapan dengan para pakar, kan gak cukup kalau cuma berbekal konsep aqidah, tapi harus berbekal pula dengan konsep Islam dalam menyelesaikan masalah di bidang pakar tersebut. Subhanallah, saya melihat, teman-teman di kampus punya potensi besar untuk menggali itu.Sangat besar kemungkinannya, pemerintahan Islam nanti akan mengambil kebijakan bahkan kebijakan teknis sebagaimana yang telah dipersiapkan saat ini.
    Waffaqonallah

  13. titok said,

    Untuk ummat

    Afwan fawqa afwin. Tidak ada yang menolak pandangan antum. Agak percuma bicara seperti itu sama mas agung, dan semua yang berkomentar di sini, udah tahu! he-he!
    Tapi permasalahan yang antum utarakan itu terlalu dangkal jika dihadapkan pada realitas problematika ummat. Afwan jiddan. LEvel permasalahannya pada wilayah mafaahim, maqoyis dan qona’ah. Ya, memang pembahasan seperti yang antum kemukakan itu cocok bagi orang-orang yang telah memiliki aqliyah yang islami. MEreka tinggal bertanya-tanya tentang detail masalah teknis. Tapi, sebagian besar penduduk negeri ini tidak mendukung khilafah bukan karena mereka tidak tahu detail-detail seperti yang antum uraikan. MEreka memang tidak tahu. Tapi ketidak tahuannya itu karena mereka nggak mau tahu. Nggak mau tahunya itu karena mereka memiliki cara pandang yang salah terhadap islam. Cara pandang yang salah terhadap islam itu karena mereka memiliki cara pandang yang lain terhadap agama dan hubungannya dengan problematika kehidupan. Jadi masalahnya itu lebih bersifat filosofis radikal mas, bukan teksnis!
    Makanya kita tidak boleh mencukupkan diri pada tataran praksis. Kalau cuma mikirin gimana solusi level praksis, maka orang sosialis juga punya konsep. Pertarungan justru lebih seru dan mati-matian pada tataran pemikiran idiologis. Internalisasi krangka epistemik ke dalam pemikiran umat harus selalu menjadi orientasi opini, sekali pun kita sedang membahas isu-isu non pemikiran-idiologis. Caranya ya setiap permasalahan ditarik lebih dalam lagi hingga menyentuh problem filosofis. Makanya apa yang disampaikan Pak Kholid itu udah ship menurut saya!
    Seperti yang disarankan oleh syaikh An Nabhaniy dalam Dukhulul Mujtama’, maka meluluhkan pemikiran umat itu dengan uslub aqo’idi. Ubah cara pandang, ubah pemahaman-pemahaman, ubah standar nilai, ubah perasaan.
    Dan jangan katakan bahwa tema-tema seperti itu kampungan, tidak intelek, tidak marketeble. Orang yang mengatakan seperti itu patut dipertanyakan sejauh mana kedalaman fikrahnya dan kedalaman pemahamnya mengenai akar problematika ummat. Dan patut dipertanyakan penguasaan dan ketrampilannya dalam mengolah serta dan menyampaikan perkara-perkara mendasar.
    Afwan. Udah dulu ya! Mau ada rapat!

    Oya, untuk umat, antum ini mewakili umat yang mana? Umat islam di sini kan kebanyakan masih sekuler. Kalo umat benar-benar seperti antum, wah udah tegak tu khilafah! Cari nama yang lain donk, biar saya tahu siapa antum! He-he! Afwan

  14. hanif (hanichi.wordpress.com) said,

    ::Umat::

    Kayaknya, jawaban saya nanti saja yang panjang, soalnya sudah masuk waktu Ashar..

  15. precious-soul said,

    wah, saya tau siapa Umat!!!🙂

  16. ::Umat::

    Sejujurnya, apa yang kita bicarakan, yang diantara kita terlihat berseberangan ini sebenarnya hanya sedikit sekali perbedaannya, sama seperti kata Mas Titok, “Tidak ada yang menolak pandangan antum.”

    Jadi, saya sebenernya setuju sama antum/antunna.. Gitu..

    ::Mas Titok::

    JazakaLlah Mas atas jawaban panjang antum.. kayaknya jawaban antum sudah lebih dari apa yang ingin saya jawab..

    ::precious-soul::

    Afwan,tapi, Kayaknya ada yang ketularan saya jadi orang sok tau nih.. atau memang Sherlock nagsih jurus baru ke anti? bagi-bagi dong.. hehe..

  17. fira said,

    numpang ngopi… matur nuwun.

  18. Monggo.. monggo.. sekecak a ke mawon nggih.. tapi klo mau nambah silahkan beli di angkringan sebelah.. hehe..

  19. maxbreaker said,

    Assalamu’alaikum Mas, ini fadhiel…
    Saya setuju mas, Islam kan memang rahmatan lil ‘alamin…
    mas saya kalau ibadah madzhabnya suka campuran, bener ga mas?
    mampir ya mas ke blog saya…
    komentar yang kek komentarnya joseph ga diserahkan kepada akismet mas?

  20. Wa’alaykumussalaam..

    Ibadah madzhabnya campuran? tergantung Fadhiel, kalau Fadhiel mampu mentarjih salah satu pendapat, itu boleh-boleh saja, tapi kalau tidak mampu, sebaiknya kita mengikuti satu pendapat ulama mujtahid saja, karena biasanya satu rangkaian ibadah itu terkait satu sama lain, artinya kalau kita mau ikut pendapat salah satu ulama, kita ikuti pendapat ulama itu dalam satu paket ibadah, misal, tata cara shalat dan tata cara wudhu’ itu satu paket, karena shalat tidak sah jika kita tidak bersuci dengan cara berwudhu’. Kalau saya sarankan, ikuti saja misalnya salah satu buku panduan shalat, Fiqus Sunnah Sayyid Sabiq, atau Fiqih Islamnya Sulaiman Rasyid, atau ahkamush Sholahnya Prof. Ali Raghib, dll.

    Diserahkan ke akismet? Nggaklah.. nggak apa-apa, nyantai aja, itung-itung buat muhasabah diri.. hehe..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: