Januari 1, 2008

Imam Al-Auza’i dan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar di Hadapan Penguasa Zhalim

Posted in Khilafah, syariat tagged , , , pada 6:42 am oleh Hanif al-Falimbani

Kisah yang berasal dari Ulama Salafush Shalih dibawah ini ditujukan untuk menanggapi sebuah tulisan di situs muslim.or.id tentang Mengembalikan Kemuliaan Ummat , Khurofat Demonstrasi , Adakah Demokrasi Islam ? , dan Akankah Kita Memberontak ? , sejatinya, disini hanya menyoroti tentang menasehati penguasa dikhalayak ramai, silahkan simak dan tanggapi dengan hati yang lapang, jujur dan ikhlas.

[hanif al-falimbani, yogya, 010108, 0557am] :

Dari Sulaiman bin Abdurahman bin ‘Isa: Kami diberitahu oleh Abu Khulaid Utbah bin Hammad al-Qari’, kami diberitahu oleh Al-Auza’I, dia berkata:

Abdullah bin Ali –seorang penguasa yang lalim—telah menyuruh seseorang untuk datang kepadaku. Dia meminta orang suruhannya itu untuk mengahdapkan aku (al-Auza’i) kepadanya. Akupun memenuhi panggilannya untuk menghadap walau dengan terpaksa.

Ketika aku menghadap, orang-orang terbagi menjadi dua kubu, yaitu kubu yang pro dan yang kontra kepadanya.[1] Lantas Abdullah bin Ali berkata :

Apa pendapatmu dengan misi[2] yang sedang aku jalankan saat ini?

Aku menjawab, “Semoga Allah memebanahi keadaan amir. Dulu aku memang memiliki hubungan baik dengan Dawud bin Ali (saudara Abdullah bin Ali).

Abdullah bin Ali berkata, “Pasti kamu mau memberitahukan sebab-sebab hal itu kepadaku.

Aku berfikir sejenak untuk kemudian berkata kepadanya, “Baiklah, aku akan berkata jujur kepadamu. Sebenarnya dulu ketika ikut berperang, aku telah bertempur dengan tekad akan membunuh musuh atau aau yang terbunuh

Kemudian ia (al-Auza’i) menyebutkan kepada Abdullah bin Ali sebuah hadits tentang niat yang telah diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id[3]. Sedangkan ditangannya (Dawud bin Ali) ada sebilah pedang tajam yang biasa dipergunakan untuk menghabisi nyawa seseorang. Kemudian dia (Dawud bin Ali) berkata:

Wahai Abu Abdurrahman (al-Auza’i), apa pendapatmu jika aku membunuh anggota keluarga ini?”

Aku (al-Auza’i) menjawab, “Muhammad bin Marwan telah memberitahuku tentang sebuah hadits yang berasal dari Mutharrif bin Asy-Syakhir, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaa, dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda (yang artinya):

Tidak halal membunuh orang muslim kecuali dengan tiga buah alasan: orang tua (al-azzaaniiy/seorang yang telah menikah) yang berzina, membunuh seseorang karena dia telah mengahbisi naywa orang lain dan orang yang meninggalkan agamanya, yakni orang yang meniggalakan jama’ah (bughot terhadap khalifah).” [HR Bukhari Muslim][4]

Abdullah bin Ali kembali berkata, “Kalau begitu tolong jelaskan kepadaku tentang keKhilafahan yang merupakan wasiat Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam kepada kami?

Aku Berkata, “Seandainya keKhilafahan itu benar-benar wasiat dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, pasti Ali radhiyallahu ‘anhu tidak akan membiarkan ada seorangpun yang memegangnya.[5]

Abdullah bin Ali berkata, “Kalau begitu bagaimana menurutmu dengan harta Bani Umayyah?

Aku menjawab, “Jika memang benar harta itu halal bagi mereka, maka dia menjadi haram bagimu. Namun jika harta itu haram bagi mereka, maka bagimu akan lebih haram lagi.

Akhirnya dia menyuruhku menyingkir. Dan akupun keluar dari hadapannya.

Adz-Dzahabi berkata : “Abdullah bin Ali adalah seorang penguasa lalim. Dia suka menumpahhkan darah di muka bumi dan sangat sulit untuk dinasehati. Sekalipun seperti itu, Imam al-Auza’i tetap saja mengatakan kebenaran kepadanya sekalipun resiko yang harus ditanggungnya sangat pahit. Tidak seperti kebanyakan ulama suu’, dimana mereka suka mencari muka dihadapan penguasa. Mereka malah tidak berusaha untuk menahan dan membendung kezhaliman serta kesewenang-wenangan penguasa. Akan tetapi mereka malah diam seribu bahasa, padahal mereka mampu untuk menjelaskan mana yang haq dan mana yang bathil.

[Siyar A’laamin-Nubalaa’, Imam Adz-Dzahabi, (VII/124-125)]



[1] Disini terlihat bahwa Imam Al-Auza’I berhadapan dengan penguasa pada waktu itu ditengah-tengah keramaian, atau ditengah-tengah orang banyak.

[2] Maksudnya misi menjadi Khalifah disebuah keKhilafahan melalui jalan pewarisan tahta.

[3] Yang dimaksud dengan hadits niat adalah: “Sesungguhnya amal perbuatan itu hanya tergantung niat..” al-Hadits dan telah diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam pembahasan Bad’ul Wahyi (Fathul Baari I/15) dan Muslim 1907 dalam Kitaabul Imaarah (Shahih Muslim III/1515).

[4] Diriwayatkan oleh al-Bukhari didalam pembahasan Ad-Diyaat tentang Firman Allah Ta’alaa: “Annan-Nafsa bin-Nafsi,” 6868 (Faathul Baari XII/209) dan diriwayatkan juga oleh Muslim didalam pembahasan Al-Qasaamah 1979 (Shahih Muslim III/1302)

[5] Maksudnya, andai saja kekhilafahan itu dijalankan dengan metode pewarisan tahta (kerajaan/seperti di Saudi Arabia), niscaya keponakan Rasul, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tidak akan membiarkan Abu Bakar Shiddiq radhiyallahu ‘anhu atau siapapun untuk menjadi khalifah (pengganti Rasul dalam hal pemerintahan) melainkan jabatan itu hanya untuk dirinya sendiri (Ali bin Abi Thalib). Sehingga kita melihat, betapa banyak ulama suu’ pada saat sekarang yang bernagkulan mesra dengan para raja di negeri-negeri kaum Muslimin, seperti di Saudi Arabia, dll. Pantaskah mereka disebut sebagai ulama yang mengikuti manhaj SalafushShaalih dimana para ulama SalafushShaalih berani menyampaikan nasehat mengenai hal ini dihadapan penguasa bahkan ditengah-tengah keramaian, sedangkan mereka asyik berangkulan dengan para penguasa lalim itu dan mendapatkan kucuran dana sehingga mazhabnya tersebar luas? Na’udzubiLlah..

9 Komentar »

  1. ahmad irfan said,

    Itulah kekurangan ulama2 kita sekarang ini Akhi….tidak lagi tegas dan berwibawa terhadap Musuh…malah menjadikan mereka sahabat dan kerabat… Sementara kaum Muslimin yang melakukan penentangan terhadap penguasa boneka dan pemimpin negara kafir yg jahil dan dhzolim itu , mereka malah di cap Fundfamentalis , ekstrimis, dan sesat…….!!!

  2. Berangkulan dengan musuh…idem kaya’ Musharrap di Pakistan???
    Semoga kaum Muslim cepat bangkit, buat memusnahkan orang2 yg demikian dari bumi ini..(weirz..rada sadis nih omonganq…)

  3. ::ahmad irfan::

    Iya, tapi kita do’akan saja semoga mereka sadar akan kekhilafan mereka dan kembali ke jalan yang benar dengan menegakkan syariah dan khilafah sebagai tuntutan dari keimanan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla..

    ::aban tetep ga suka vanilla::

    sadis?? baru tau tho.. hehe becanda Ban.. Yup setuju banget Akhii..

  4. oRiDo said,

    emang susah.. susah..
    banyak org yg dengan jelas2 melihat ketidakbenaran, tapi diam saja..
    banyak org yg mencari selamat sendiri…
    hhhh….

    semoga kita istiqamah utk menegakkan kebenaran..

  5. ariefr said,

    Emang ulama2 sekarang ada beberapa yang “capek”, jd perlu “dipijetin”. Semoga Allah membukakan hati yang tertutup untuk islam. Amien.

    -kfighters

  6. ::oRiDo ::

    Iya Kang.. betul.. semoga kita tetap istiqomah..

    ::ariefr ::

    Amiien… dipijetin? Iya tuh.. supaya mereka segarbugar lagi, pemahamannya juga segar bugar..

  7. towfeeq said,

    Mas, mohon ditulis arabnya dari Imam Adz-Dzahabi dari kitab as-siyar. Dari mana mas mengambil kesimpulan bahwa Al-Imam Al-‘Auzai menasehatinya di tengah-tengah khalayak? Bukankah dari terjemahan di atas beliau berada di hadapan/di sisi penguasa. Tentu cara menasehati seperti inilah yang dipraktekkan oleh salafush shaleh.
    Adapun yang dilakukan sebagaian orang sekarang mereka melakukannya di jalanan bukan dihadapan/di sisi penguasa sebagaimana praktek salafush shaleh.
    Mas hanif mengatakan bahwa salafush shaleh berani menyampaikan nasehat dihadapan penguasa bahkan ditengah-tengah keramaian.
    Ya mereka memang menasehati penguasa di hadapannya tapi adakah riwayat bahwa mereka melakukannya di tengah-tengah keramaian?
    Masya allah, Adakah? Siapa?
    Bahkan riwayat-riwayat menunjukkan salafush shaleh menasehati penguasa dengan diam-diam di hadapan atau di sisi penguasa tersebut..

    Bagaimana????

    Allahu a’lam

  8. Hanif said,

    :: Untuk Mas Towfeeq

    Pertama, dari pertanyaan antum, sepertinya antum belum membaca catatan kaki yang beberapa saya buat sendiri.. Di catatan kaki nomor 1 saya menuliskan : “Disini terlihat bahwa Imam Al-Auza’I berhadapan dengan penguasa pada waktu itu ditengah-tengah keramaian, atau ditengah-tengah orang banyak.” Kenapa saya bisa bilang seperti itu? Karena keterangannya berbunyi : “Ketika aku menghadap, orang-orang terbagi menjadi dua kubu, yaitu kubu yang pro dan yang kontra kepadanya. Lantas Abdullah bin Ali berkata.”

    Kalaupun antum menganggap Imam al-Auza’i tidak di hadapan khalayak ramai, lantas apa tanggapan antum terhadap riwayat kisah ini sendiri?! Kisah ini diriwayatkan dari orang ke orang yang bersumber dari Imam Al-Auza’i sendiri.. Nah, pertanyaannya? Mengapa Imam al-Auza’i sampai hati menceritakan kisahnya itu kepada orang lain yang tentunya ini merupakan tindakan menceritakan aib penguasa kepada khalayak ramai.. Gimana pendapat anda Mas Taufiq?

    Kedua, kalau antum ingin mendapatkan riwayat-riwayat yang labih banyak, silahkan baca artikel yang berjudul Ulama Wajib Mengoreksi Penguasa.

    Ketiga, Saya ingin mengutip disini tulisan dari Nur Faizin Muhith (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dan Calon Mufti di Darul Ifta’ Mesir.) di harian REPUBLIKA yang berjudul “Masiirah&Muzhaharah (Kesalahan Demonstrasi)” :

    Demonstrasi adalah pernyataan protes yang dikemukakan secara massal (KBBI 1997), baik protes itu ditujukan kepada seseorang maupun kelompok atau pemerintahan. Dia juga biasa disebut dengan istilah unjuk rasa. Ensiklopedi Britannic online memberikan definisi demonstrasi dengan a public display of group feelings toward a person or cause. (tahun 2008).

    Di seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia, demonstrasi seakan menjadi sebuah cara bagi orang-orang lemah yang terbungkam untuk menyuarakan inspirasi kepada pihak yang kuat. Secara khusus di Indonesia semenjak demo akbar yang digelar mahasiswa menurunkan Presiden Soeharto pada 1998 lalu, demonstrasi selalu menjadi kejadian yang menghiasi berita-berita harian masyarakat Indonesia.

    Dalam bahasa Arabnya demonstrasi diterjemahkan dengan muzhaharat (demonstrasi) dan juga masirah (long-march). Dua kata yang hampir mirip tetapi dalam pandangan Islam memiliki muatan hukum yang tidak sama. Jika yang pertama sering mendekati pada hukum haram (hurmah), yang kedua seakan sangat jelas diperbolehkan (ibahah).

    Jika kembali pada Alquran, dua kata tersebut dengan arti sebagaimana definisinya di atas tidak dapat kita temukan meskipun kata muzharat dan masirah dengan definisi lain dapat dijumpai. Begitu juga di dalam hadis-hadis Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa demonstrasi adalah sebuah fenomena baru yang muncul dikarenakan kebebasan berpendapat yang sering terbungkam, tidak terdengar, atau mungkin sengaja tidak didengarkan.

    Dalam sejarah Rasulullah SAW dan kepemimpinannya selama di Makkah dan Madinah, kita belum pernah membaca kejadian demonstrasi yang menuntut Rasulullah atas hak atau kebijakannya karena beliau memang seorang Rasul dan pemimpin yang telinganya sepenuhnya diberikan untuk mendengarkan umatnya yang terpimpin.

    Sungguh beliau dalam hal ini adalah contoh bagi para pemimpin. Namun, sebaliknya, ada beberapa kejadian yang dilakukan oleh Rasulullah beserta para sahabatnya yang mirip dengan demonstrasi yang sekarang menjadi berita suguhan sehari-hari di media-massa. Kejadian-kejadian itu antara lain pertama tatkala umat Islam di Makkah sedang berkumpul di rumah Al-Arqam, Umar bin Khaththab yang masih kafir tiba-tiba datang dan meminta izin masuk. Lalu, Rasulullah menemuinya menyatakan masuk Islam. Spontan terdengar takbir seluruh penghuni rumah.

    Umar kemudian bertanya. Bukankah kita berada di atas kebenaran ya Rasulullah? Lalu kenapa dakwah masih secara sembunyi-sembunyi? Saat itulah semua sahabat berkumpul dan membentuk dua barisan, satu dipimpin Umar bin Khaththab dan satu lagi dipimpin Hamzah bin Abdul Muththalib. Mereka kemudian berjalan rapi menuju Kabah di Masjidil Haram dan orang-orang kafir Quraisy menyaksikannya. (Imam As-Suyuthi: kitab Tarikh Al-Khulafa` halaman: 114 ).

    Kejadian ini dalam terminologi di atas adalah masirah atau long-march yang jelas diperbolehkan. Atau bahkan dianjurkan jika dalam kondisi tertekan sementara kita dalam posisi lemah seperti kondisi umat Islam saat pertama kali dakwah di Makkah yang ditekan oleh kaum kafir Quraisy di Makkah.

    Kedua, ketika turun perintah dari Allah SWT kepada Rasulullah untuk berdakwah secara terang-terangan (QS Asy-Syu’ara: 214) beliau kemudian memanggil seluruh kerabatnya dan kabilah-kabilah di Makkah untuk berkumpul di bukit Shafa. Setelah berkumpul, beliau kemudian berorasi tentang agama yang dibawanya secara argumentatif dan logis. (kitab Tafsir Ibn Katsir, vol: 3, halaman: 350)

    Meskipun ini dilakukan Rasulullah sendiri, tetapi orasi tentang Islam dan dakwahnya dengan mengumpulkan penduduk Makkah ketika itu mirip dengan demonstrasi yang terjadi sekarang. Yang jelas Rasulullah ingin menyuarakan suara Allah yang selama ini ditekan dan disembunyikan.

    Ketiga, pada waktu umrah qadha tahun tujuh Hijriyyah, Rasulullah datang bersama sahabat Muhajirin dan Anshar ke Makkah untuk melakukan umrah yang sempat dilarang kafir Makkah di tahun sebelumnya. Dalam umrah ini, Rasulullah memerintahkan kepada umat Islam agar terlihat gagah dan kuat untuk menepis anggapan kafir Makkah bahwa umat Islam di Madinah menjadi lemah karena penyakitan. (kitab Uyûn Al-Atsar, vol: 2, halaman: 185)

    Dalam kejadian-kejadian di atas, sama sekali tidak pernah kita jumpai perbuatan pengrusakan atau perbuatan-perbuatan anarkis yang sudah layaknya sering dilakukan oleh para demonstran saat ini. Lebih-lebih ketika keinginannya tidak dapat dipenuhi atau aspirasinya tidak disetujui.

    Kesalahan demonstrasi
    Sebagaimana disinggung di atas, mudzaharat adalah demonstrasi yang dilarang dan masirah adalah demonstrasi yang diperbolehkan atau dianjurkan. Yang membedakan keduanya adalah tindakan-tindakan para demonstran ketika menyampaikan suara dan juga bentuk tuntutan atau protes itu sendiri.

    Ada beberapa kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan dalam demonstrasi, antara lain pertama mendahului suara Tuhan. Artinya, demo dilakukan untuk menentang suara yang sudah jelas-jelas menjadi perintah Tuhan di muka bumi. Dalam hal inilah Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului (suara) Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Hujurat: 1).

    Menyuarakan protes menentang perintah Allah dan Rasul-Nya adalah mendahului suara-Nya yang dilarang dalam ayat tersebut. Kedua, over-acting dalam berorasi mengungkapkan protes sehingga terkesan berlebih-lebihan. Di dalam Alquran Allah telah mengingatkan agar tidak terlalu mengeraskan suaranya berlebih-lebihan. Firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengeraskan suaramu melebihi suara Nabi. (QS Al-Hujurat: 2). Berlebihan pada umumnya memang dilarang dalam Islam.

    Ketiga, provokasi yang hanya bertujuan meluapkan emosi tanpa dibarengi dengan saran untuk selalu tertib dan bergerak sesuai kesepakatan. Provokasi seperti itulah yang disebut sebagai hasutan. Hasutan dilarang dalam Islam. Seharusnya provokasi dibarengi dengan penekanan kesabaran pada diri para demonstran sehingga demonstrasi bisa hidup dan berjalan dengan aman.

    Keempat, desolasi yang merugikan baik terhadap pihak bersangkutan yang didemo maupun yang tidak bersangkutan. Larangan ini ditegaskan Allah dalam berbagai ayat Alquran, di antaranya firman-Nya: Sesungguhnya Allah tidak menyukai (membenci) orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al-Qashash: 77).

    Kelima, melakukan penyiksaan diri sendiri, seperti aksi mogok makan sehingga beberapa mereka harus dilarikan ke rumah sakit. Penyiksaan terhadap diri sendiri dilarang dalam Islam, apalagi jika sampai membahayakan nyawa. Allah menegaskan: Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. (QS Al-Baqarah: 195).

    Ikhtisar:
    – Islam membolehkan demonstrasi sepanjang tak keluar dari koridor Alquran dan Hadis.
    – Menyampaikan aspirasi yang merugikan diri sendiri dan orang lain jelas haram.

  9. towfeeq said,

    Maksud saya, antum bawakan sumber primernya dari kitab As-Siyar. Antum dah baca sendiri dari kitab As-Siyar karya Adz-Dzahabi belum?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: