Maret 20, 2008

Pendapat Imam Yusuf al-Qardhawiy dan Syaikh Dr. al-Buthi tentang Hadits Ahad Dalam Aqidah

Posted in Tumpah Hati pada 1:30 pm oleh Hanif al-Falimbani

Gelar ”Imam” yang disematkan didepan nama Syaikh Yusuf al-Qardhawiy pada judul diatas silahkan antum semua terjemahkan sebagai rasa tsiqoh (percaya) saya terhadap komentar akhiina Zulkifli di sebuah tulisan saya, dan agaknya memang tulisan saya itu sedikit menyentuh relung-relung gharizatul baqa’ beliau.

 

Dalam komentarnya, akhiina Zulkifli sedikit menyentil salah satu gerakan Islam internasional yang saat ini sedang naik daun, namun itu tidak terlalu menjadi masalah bagi saya. Sehingga pada awalnya saya tidak terlalu risau dengan komentar-komentar beliau, namun ada rasa bersalah yang lama-kelamaan muncul dalam hati saya jika tidak menanggapi salah satu bagian dari komentar beliau tersebut, bukan tentang sentilan-sentilan beliau terhadap Hizbut Tahrir Indonesia dan para anggotanya karena memang saya tidak mempunyai kepentingan untuk itu, tetapi yang saya risaukan adalah tentang masalah hadits ahad dan posisinya dalam aqiidah.

 

Akhiina Zulkifli, dalam komentarnya sangat menghormati dua ulama besar pada zaman ini, yaitu Syaikh Yusuf al-Qardhawiy dan Syaikh Dr. Said Ramadhan al-Buthi –hafidzahumaLlah–. Tidak beda, saya juga sangat menghormati beliau berdua, bahkan diantara buku yang saya koleksi ada beberapa buku karya beliau berdua. Nah, untuk itulah tulisan ini dibuat, yaitu untuk menjelaskan bahwa dua ulama besar itu ternyata mempunyai pendapat yang justru menjadi sasaran serang Akhiina Zulkifli dalam komentarnya tentang hadits ahad dalam aqidah.

 

Saya kira, saya tidak perlu berbasa-basi lagi, baiklah, berikut ini pendapat Syaikh Yusuf al-QardhawiyhafidzahuLlah— tentang hadits ahad dalam aqidah dalam kitabnya al-Sunnah Mashdaran Lil-Ma’rifah Wal Hadlaarah (as-Sunnah sebagai dasar bagi Ilmu Pengetahuan dan Peradaban) di bagian kedua, ”Sunnah Sebagai Ilmu Pengetahuan”, pada Bab ”Sunnah dan Ilmu Agama”, dan dalam Sub Bab berjudul ”Muhakkik Hanbaliyyah dan Jumhur” :

 

“Saya (Syaikh Yusuf al-Qardhawiy) melihat, diantara kelompok pengikut madzhab Hanbali berbeda pendapat dalam masalah ini, sejalan dengan perbedaan mereka tentang riwayat dari Imam Ahmad dalam masalah ini. Kemudian saya memperoleh kejelasan bahwa sebagian besar muhakkik ahli ushul dalam madzhab ini (Hanbaliyah/Hanabilah) lebih condong kepada pendapat yang mengatakan bahwa hadits ahad –atau khabar ahad—tidak memberikan faidah ‘Ilmu Yaqiiniy. Dengan ungkapan lain, tidak mempunyai implikasi keyakinan (i’tiqadiy) dan kepastian (qath’i).

 

Ini sebagaimana disebutkan Qadli Abu Ya’la dalam buku Ushul fiqihnya al-‘Uddah, dan Abu al-Khattab dalam al-Tamhid. Ibnu Qudamah dalam al-Rawdlah dan Ali Taymiyah dalam al-Musawwadah.

 

Para ahli tahkik berkata: Khabar Ahad tidak membentuk ilmu yaqiiniy dan kepastian (Qath’i). Imam Ahmad dalam riwayat al-Atsram berkata : ”Apabila ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sanad yang shahih memuat suatu hukum atau fardhu, aku segera tahu akan hal itu dan aku segera mendekati Allah dengannya, tetapi aku tidak bersaksi bahwa Nabi mengatakannya.”.

 

Mereka (Para ahli tahkik dari madzhab hanbaliyah) menambahkan : ”Ada bukti nash yang mengatakan bahwa Imam Ahmad beramal dengan hadits Shahih, tetapi ia tidak memastikannya sebagai sumber kepastian dan keyakinan. Ini adalah pendapat Jumhur Ulama.1

 

–selesai–

 

Sedangkan pendapat Syaikh Dr. Said Ramadhan al-ButhihafidzahuLlah—mengenai hadits ahad dalam aqidah dapat dilihat dalam kitabnya yang berjudul ”As-Salafiyyah” Marhalah Zamaniyah Mubarokah Laa Madzhab Islamiy (Istilah Salafiyyah adalah sebuah fase sejarah yang barokah, bukan sebuah madzhab)2. Pada Bab I, ”fakto-faktor yang mendorong munculnya manhaj ilmiah beserta penjelasannya” didalam Sub Bab ”Metodologi komprehensif / Manhaj yang Utuh”

 

 

 

Khabar Shahih dan sikap akal manusia terhadapnya adalah menerima dan mempercayainya dengan cara menguatkannya bukan memastikan. Karena masih memungkinkan masuknya campuran prasangka di dalam khabar tadi karena faktor lupa atau salah atau linglung yang terjadi dari sebagian perawinya. Meski kemungkinan ini sulit terjadi karena melihat lengkapnya syarat-syarat keshahihan di dalamnya, tetapi kemungkinan itu tetap berpeluang terjadi. Dan, kemungkinan ini tidak dapat lenyap dari sana (hadits shahih) atau juga mustahil.

 

Dari sini, maka khabar shahih berada pada posisi zhan (prasangka) tertinggi, tanpa naik ke tingkatan atasnya. Tingkatan yakin dan qath’i (pasti) adalah tingkatan dimana kita tidak perlu melihat orang-per-orang perawinya.

 

Bagian Kedua ini (Hadits Shahih), tidak dapat membentuk hujjah yang mewajibkan di bidang i’tiqad (keyakinan/aqidah), yang mana seseorang akan terjerumus kepada kekufuran jika ia tidka meyakini dengan pasti (Qoth’i) kandungan khabar shahih yang tidak sampai pada tingkatan tawatur (mutawatir) dan hanya berada dalam wilayah Ahad. Bahkan, ia tidak boleh meyakini dengan pasti (qoth’i) khabar itu.

 

Dalam bidang hukum-hukum yang berupa tindakan (amal) yang terdiri atas ibadah, muamalah, dan lain-lain, maka kabar meyakinkan yang mutawatir datang dari Rasulullah telah menunjukkan bahwa seorang muslim dalam hal ini diizinkan berpegang pada dalil-dalil dzanni. Dimana ia menemukan hadits Rasulullah yang mengandung hukum dalam ibadah atau hukum syara’ yang lain, maka pendapat yang unggul dan lebih dipercaya dalam hadits itu adalah kebenarannya karena lengkapnya syarat-syarat keshahihan di dalamnya. Karena itu, wajib atas dia berpegang pada hadits itu, mengambil petunjuk darinya serta komitmen dengan kandungannya.

 

Adapun dalil yang meyakinkan atas masalah itu adalah berita mutawatir dari RasuluLlah tentang pengiriman para sahabat secara perorangan oleh beliau ke berbagai negara, dan kabilah-kabilah tetangga maupun yang jauh. Tujuannya supaya mereka mengajari penduduk negara-negara itu tentang hukum-hukum syariat Islam yang berupa ibadah dan lain-lain.”

–selesai–

 

 

 

Perlu saya (hanif) katakan, bahwa pendapat HT dalam masalah ini tidak jauh beda bahkan mungkin bisa dikatakan sama dengan pendapat Syaikh al-Qardhawiy dan Syaikh al-Buthi tersebut. Berikut ini saya kutipkan pernyataan Syaikh al-‘Allamah Taqiyuddin an-NabhanirahimahuLlah—dalam kitab Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah jilid 1 Pada Bab ‘KHABAR AHAD TIDAK BISA MENJADI HUJJAH DALAM MASALAH AKIDAH‘ dan sejauh yang saya tahu—karena saya juga belum menjadi anggota HT–, kitab ini adalah kitab mutabannat (kitab yang diadopsi secara resmi oleh HT), berikut petikannya :

 

 

“Sedangkan perkara yang mengharuskan (adanya) kepastian dan keyakinan, maka ia harus mengambil dalil Sunnah berdasarkan kepercayaan terhadap seseorang bahwa Rasul pernah mengatakannya, dan dia tidak mengambil dalil dari seseorang bahwa orang itu diduga kuat mengatakan (perkataan) dari Rasul, karena dzan (dugaan) tidak layak dijadikan sebagai dalil untuk diyakini. Sebab, yang dibutuhkan disini adalah kepastian dan keyakinan, yang tidak terpenuhi kecuali dengan sebuah (dalil yang) meyakinkan.

 

Hukum syara’ cukup (melalui) ghalabatu adzz-dzan (dugaan kuat) seseorang bahwa hal itu adalah hukum Allah. Kemudian wajib mengikutinya. Berdasarkan hal ini maka boleh (menggunakan) dalil dzanni, baik dzanni dari sisi sumbernya (tsubut) maupun dzanni dari sisi penunjukkan dalilnya (dilalah).

–selesai–

 

Terakhir, saya (hanif) mengajak kepada antum semua yang pernah termakan oleh isu yang menyesatkan tentang HT, terkhusus mengenai khabar ahad dan implikasinya dalam aqidah, diharapkan merevisi anggapannya yang keliru tersebut, sembari saya mengajak kita semua agar tidak serta merta menerima informasi yang tidak bersumber dari asalnya. Karena telah banyak sekali opini-opini yang menyesatkan tentang HT yang bersumber dari buku WAMY atau buku-buku lainnya dan ternyata diemban begitu saja tanpa di-telaah lebih jauh oleh mereka yang mengagumi dan menghormati ulama-ulama (diantaranya Syaikh al-Qardhawiy dan Syaikh al-Buthi) yang ternyata ulama-ulama tersebut pendapatnya sejalan dengan pendapat HT. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, menghormati pendapat HT dalam masalah hadits ahad dalam aqidah sama saja dengan menghormati pendapat ulama-ulama yang antum –rahiimaniy wa rahiimakumuLlah— semua hormati.

 

Terakhir, dan sekali lagi saya tegaskan, saya disini memposisikan diri sebagai wakil dari diri saya sendiri, tidak mewakili gerakan manapun (termasuk HT), sehingga apa yang ada dalam tulisan ini menjadi tanggung jawab saya pribadi.

 

WaLlahu a’lam bish-Shawab.

 

[hanif al-falimbani, yogya, 170308, 12.48]

 

1Untuk menguatkan pendapat ini, Syaikh Yusuf al-Qardhawiy lantas membuat catatan kaki berikut ini, “Lihat masalah ini dalam al-Mu’tamad oleh Abu Husein al-Bashriy 2/556, al-‘Uddah oleh Abu Ya’la 3/898, al-Burhan oleh Imam al-Haramayn al-Juwainiy 1/ 599, al-Ihkam oleh al-Amidy 2/32, al-Rawdlah oleh Ibnu Qudamah 99, Fawaatih al-Rahmut 121/2, al-Musawwadah oleh ali Taymiyah 240, dan al-Ihkam oleh Ibnu Hazm 1/107.

2Kitab ini dibuat oleh Syaikh al-Buthi untuk meng-counter beberapa pemahaman teman-teman salafi.

 

Untuk tulisan-tulisan yang berkaitan secara tidak langsung dengan artikel ini,  silahkan klik link dibawah ini :

# Bagai Cabe Merah Dan Cabe Hijau
# Khobar Ahad Dalam Aqidah

50 Komentar »

  1. zulkifli said,

    tuk akhi Hanif

    Dalam konteks Adzab Kubur saya lebih sepakat mengambil pendapat tokoh-tokoh Salafy walaupun ketaatan saya terhadap Qiyadah (pemimpin)saya (yaitu Imam syaikh Yusuf AlQhorodhowy dan Syaikh Ramadhan AlButhi) tidak akan berubah sedikitpun dan saya tetap mengikuti jejak langkah fiqh dakwah beliau berdua.

    ulumul Hadis baru ada setelah pengkodifikasian hadis yang puncaknya ada pada masa Imam AlBukhory, namun keyakinan terhadap adanya siksa kubur itu telah ada pada zaman para sahabat dan tabi’in sehingga tradisi salaf lebih dikedepankan daripada akal,dan keahadan hadis siksa kubur itu tidak merusak keshohihannya dan membuat umat harus ragu terhadapnya. saya cantumkan beberapa tafsir dalil qur’an dan hadis.

    Ayat-Ayat Al-Qur’an Yang Berkaitan dengan Adzab Qubur

    1. Tafsir QS Ibrahim, XIV/27:
    يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُعن البراء بن عازب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” المسلم إذا سئل في القبر يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله فذلك قوله ( يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة ) وفي رواية عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت ) نزلت في عذاب القبر يقال له : من ربك ؟ فيقول : ربي الله ونبيي محمد

    Berkaitan dengan ayat: “Sesungguhnya ALLAH meneguhkan bagi orang-orang yang beriman kata-kata yang teguh di kehidupan dunia maupun di akhirat, dan menyesatkan orang yang zhalim, sesungguhnya ALLAH melakukan apa yang dikehendaki-NYA.” (QS Ibrahim, 14/27) [1]. Nabi SAW bersabda: Ketika ditanya di dalam kubur, maka mereka menjawab dengan mengucap syahadah, itulah makna ayat ini. Dalam matan hadits yang lain, Nabi SAW bersabda tentang ayat ini bahwa ia diturunkan tentang azab kubur, ditanya pada seseorang: Siapa RABB-mu? Maka ia menjawab: RABB-ku adalah ALLAH.

    2. Tafsir QS At-Taubah, 9/101:
    وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ

    Dalam hadits shahih dikatakan bahwa makna “mereka diazab 2 kali” dalam ayat tersebut salah satunya adalah azab di kubur[2].

    3. Tafsir QS Ghafir, 40/46:
    النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

    Dalam hadits shahih dinyatakan bahwa makna api yang didekatkan kepada Fir’aun setiap pagi & sore hari sebelum datangnya Hari Kiamat adalah azab kubur[3].

    Hadits-Hadits Shahih Tentang Fitnah Qubur

    Hadits-hadits shahih dalam masalah ini amat sangat banyak, diantaranya seperti saat berceramah beliau SAW pernah menceritakan tentang azab kubur, sehingga gaduhlah mereka yang mendengarnya[4].

    Demikian pula dari Aisyah ra berkata: “Tidak pernah kulihat Nabi SAW setelah selesai shalat melainkan meminta perlindungan dari azab kubur.[5]” Juga pada saat shalat Kusuf, beliau SAW memerintahkan untuk berlindung dari azab kubur[6]. Dan menurut Imam Nawawi – dalam syarah-nya atas Muslim – ada lebih dari 60 hadits shahih yang marfu’ berkaitan dengan masalah ini.

    Hadits-hadits shahih & hasan tentang adzab qubur amatlah banyak, bahkan sebagian ulama muhadditsin menyatakan bahwa hadits-hadits tentang adzab qubur mencapai derajat Mutawattir Ma’nawi.[7] Dengan demikian terbantahlah orang yang mengatakan bahwa azab qubur tidak bisa diterima karena haditsnya adalah hadits ahad[8].

    1. Menceritakan/berkhutbah tentang Fitnah Qubur[9]:
    قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيبًا فَذَكَرَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ الَّتِي يَفْتَتِنُ فِيهَا الْمَرْءُ فَلَمَّا ذَكَرَ ذَلِكَ ضَجَّ الْمُسْلِمُونَ ضَجَّةً

    2. Berlindung dari Fitnah & Adzab Qubur[10]:
    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْفَقْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

    3. Mendoakan orang lain agar selamat dari Adzab Qubur[11]:
    سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَاعْفُ عَنْهُ وَعَافِهِ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَثَلْجٍ وَبَرَدٍ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِقَالَ عَوْفٌ فَتَمَنَّيْتُ أَنْ لَوْ كُنْتُ أَنَا الْمَيِّتَ لِدُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ذَلِكَ الْمَيِّتِ

    4. Memerintahkan Agar Saat Tasyahud Akhir Kita Berlindung dari Adzab Qubur[12]:
    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” إذا فرغ أحدكم من التشهد الآخر فليتعوذ بالله من أربع من عذاب جهنم ومن عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات ومن شر المسيح الدجال ” . رواه مسلم

    5. Termasuk Anak Kecil yang Meninggal Boleh Didoakan Agar Selamat dari Azab Qubur[13]:
    وعن سعيد بن المسيب قال : صليت وراء أبي هريرة على صبي لم يعمل خطيئة قط فسمعته يقول : اللهم أعذه من عذاب القبر . رواه مالك

    4. Saat Shalat Kusuf Nabi SAW juga Berlindung dari Azab Qubur[14]

    Beberapa Masalah Berkaitan dengan Adzab Qubur

    1. Mungkinkah orang Mendengar Orang yang Diazab Dikuburnya?

    a. Secara Zhahir-nya Semua manusia & Jin Tidak Bisa Mendengarnya, berdasarkan hadits:
    إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ …

    “Sesungguhnya mereka diazab dengan siksa yang hanya dapat didengar oleh seluruh binatang-binatang…”[15]

    b. Tetapi Nabi SAW ternyata dalam beberapa kesempatan bisa mendengarnya dengan izin ALLAH SWT:
    لولا أن لا تدافنوا لدعوت الله عز و جل أن يسمعكم ( من ) عذاب القبر

    “Jika seandainya aku tidak khawatir kalian meninggal/hilang pendengaran kalian aku akan berdoa agar ALLAH ‘Azza wa Jalla membuat kalian bisa mendengar azab qubur.”[16]

    c. Maka jika ALLAH SWT menghendaki maka orang lainpun bisa saja mendengarnya, berdasarkan hadits berikut:
    دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم و أنا في حائط من حوائط بني النجار فيه قبور منهم قد ماتوا في الجاهلية ، فسمعهم و هو يعذبون…

    “Masuk kekamarku Nabi SAW dan aku sedang kampung Bani Najjar, disana ada kuburan mereka yang sudah meninggal dimasa jahiliyyah, lalu mereka mendengar suara orang-orang tersebut diazab di dalam kuburnya…”[17]

    2. Surat Al-Mulk Bisa Menghindarkan Dari Azab Qubur[18]:
    سورة تبارك هي المانعة من عذاب القبر

    3. Pembacaan Surat Al-Mulk tersebut Afdhal Dilakukan Tiap Malam[19]:
    من قرأ تبارك الذي بيده الملك كل ليلة منعه الله عز وجل بها من عذاب القبر وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نسميها المانعة وإنها في كتاب الله عز وجل سورة من قرأ بها في كل ليلة فقد أكثر وأطاب

    4. Orang yang Mati Di Hari Jumat atau di Malam Jumat Diselamatkan dari Adzab Qubur[20]:
    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله فتنة القبر “

    5. Orang yang Mati Syahid Diselamatkan dari Azab Qubur[21]:
    عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” كل ميت يختم على عمله إلا الذي مات مرابطا في سبيل الله فإنه ينمى له عمله إلى يوم القيامة ويأمن فتنة القبر “

    6. Orang yang Shalih, Dikuburnya Tidak Merasa Takut Terhadap Fitnah Qubur[22]:
    أما فتنة الدجال فإنه لم يكن نبي إلا قد حذر أمته و سأحذركموه بحديث لم يحذره نبي أمته إنه أعور و إن الله ليس بأعور مكتوب بين عينيه كافر يقرأه كل مؤمن ; و أما فتنة القبر فبي تفتنون و عني تسألون فإذا كان الرجل الصالح أجلس في قبره غير فزع ثم يقال له : ما هذا الرجل الذي كان فيكم ؟ فيقول : محمد رسول الله جاءنا بالبينات من عند الله فصدقناه فيفرج له فرجة قبل النار فينظر إليها يحطم بعضها بعضا فيقال له : انظر إلى ما وقاك الله ثم يفرج له فرجة إلى الجنة فينظر إلى زهرتها و ما فيها فيقال له : هذا مقعدك منها و يقال له : على اليقين كنت و عليه مت و عليه تبعث إن شاء الله و إذا كان الرجل السوء أجلس في قبره فزعا فيقال له : ما كنت تقول ؟ فيقول : لا أدري فيقال : ما هذا الرجل الذي كان فيكم ؟ فيقول : سمعت الناس يقولون قولا فقلت كما قالوا فيفرج له فرجة من قبل الجنة فينظر إلى زهرتها و ما فيها فيقال له : انظر إلى ما صرف الله عنك ثم يفرج له فرجة قبل النار فينظر إليها يحطم بعضها بعضا و يقال : هذا مقعدك منها على الشك كنت و عليه مت و عليه تبعث إن شاء الله ثم يعذب .

    7. Azab Qubur Sebagian Besar Disebabkan Najis yang Tidak Bersih Saat Buang Air Kecil & Ghibah[23]:
    أكثر عذاب القبر من البول

    Pendapat Para Ulama Salafuna Ash-Shalih Tentang Azab Qubur
    1. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata[24]: “Yang dinamakan fitnah kematian adalah termasuk di dalamnya su’ul-khatimah & fitnah kedua Malaikat saat di dalam kubur, bahwa sesungguhnya manusia diberi cobaan di dalam kuburnya.”

    2. Imam As-Suyuthi berkata[25]: “Telah ditakhrij oleh Tirmidzi & di-hasan-kannya, juga oleh Ibnu Abid Dunya, Al-Ajuri dalam Asy-Syari’ah & Al-Baihaqi dalam kitab Azab Al-Qabri dari Abu Hurairah berkata bersabda Nabi SAW : Jika mayit telah dikubur maka datang 2 orang malaikat yang hitam legam, yang satu bernama Munkar & yang satu lagi dinamai Nakir.”

    3. Imam Al-Ghazali berkata[26]: “Adapun mengenai azab qubur, maka telah ditunjukkan oleh dalil syariatyang sebagiannya mencapai mutawatir dari Nabi SAW & para sahabat, bahwa mereka berdoa berlindung darinya dan telah masyhur hadits Nabi SAW melewati 2 kuburan yang sedang diazab dan juga telah ditunjukkan oleh dalil Al-Qur’an : Dan telah tetap bagi keluarga Fir’aun azab yang seburuk-buruknya, yaitu api yang dihadapkan padanya tiap pagi & petang hari.”

    4. Imam Ibnul Qayyim berkata[27]: “Dan adapun azab kubur adalah benar dan orang-orang yang beriman diberikan cobaan di kubur mereka dan mereka ditanyai (oleh malaikat), tetapi ALLAH SWT meneguhkan lisan siapa yang dikehendaki-NYA mereka untuk bisa menjawab.”

    5. Imam Al-Baqilani berkata[28]: “Dalil akan pastinya azab kubur adalah firman ALLAH SWT: Dan barangsiapa yang berpaling dari Al-Qur’an ini maka baginya kehidupan yang sempit. Berkata Abu Hurairah bahwa maksudnya azab kubur, demikian pula sabda Nabi SAW : Kubur itu adalah satu taman dari taman-taman surga atau satu lubang dari lubang-lubang neraka. Demikian pula ayat tentang siksaan bagi Fir’aun, serta hadits doa Nabi SAW untuk dilindungi dari azab kubur.”

    6. Imam Al-Baihaqi bahkan menulis satu kitab tersendiri berjudul “Itsbat ‘Azabil Qabr” (Pastinya Azab Kubur).

    7. Imam Al-Bukhari-pun menulis dalam kitabnya bab khusus[29] menjelaskan tentang azab kubur, demikian pula Imam Muslim[30], demikian para Imam Ash-habus Sunan sebagaimana dapat dilihat dalam seluruh kitab-kitab hadits mereka.


    Catatan Kaki:

    [1] HR Bukhari, V/160 & Muslim, XIV/33-34

    [2] HR Bukhari, V/159, Bab Ma Ja’a Fi ‘Adzabil Qabri

    [3] HR Bukhari, V/159, Bab Ma Ja’a Fi ‘Adzabil Qabri

    [4] HR Bukhari, no. 1373

    [5] HR Bukhari, no. 1372 dan Muslim, Kitabul Masajid, no. 125-126

    [6] HR Bukhari no. 1050 dan Muslim, Kitabul Kusuf, no. 8

    [7] Lih. Al-Ayat Al-Bayyinat Fi ‘Adami Sima’il Amwat ‘ala Madzhabil Hanafiyyatis Sadat, I/81, Imam Al-Alusi

    [8] Faham seperti ini adalah mazhab Mu’tazilah & telah dibantah oleh Jumhur Ulama, diantaranya dalam tulisan Imam Ibnu Rajab, 1/81 & Ibnul Qayyim, hal. 50

    [9] HR Bukhari, V/164, bab Maa Ja’a fi Adzabil Qabri

    [10] HR Bukhari, IV/200-202; Muslim, VIII/75; Ibnu Majah, no. 3838; Ahmad, VI/57; Nasa’i, II/315; Tirmidzi, II/263

    [11] HR Muslim; III/59; Nasa’I, I/21; Ibnu Majah, no. 1200; Ahmad, VI/23

    [12] HR Muslim, III/248

    [13] HR Malik, II/192; di-shahih-kan Albani dalam Al-Misykah, I/380

    [14] HR Bukhari, IV/168; Muslim, IV/449

    [15] HR Bukhari, XIX/455; Muslim, III/243

    [16] HR Muslim, VIII/161; Ahmad, III/201; Ibnu Hibban, no. 786; Nasa’i, I/201

    [17] HR Ahmad, VI/362; berkata Albani : Shahih berdasarkan syarat Muslim, lih. Ash-Shahihah, III/429

    [18] HR Hakim, III/214; Tirmidzi, II/146; Abu Na’im, III/81; Di-shahih-kan oleh Albani, dalam Ash-Shahihah, III/131

    [19] HR Nasa’i & Hakim, Di-hasan-kan oleh Albani dalam At-Targhib, II/91

    [20] HR Ahmad, no. 6582 & Tirmidzi, dan di-hasan-kan oleh Albani dalam Misykah Al-Mashabih, I/305

    [21] HR Tirmidzi, II/3; Abu Daud, I/391; Al-Hakim, II/144 dan Ahmad, VI/20; dan di-shahih-kan oleh Albani dalam Shahih At-Targhib wa Tarhib, II/31

    [22] HR As-Suyuthi, no. 2241 & Di-hasan-kan oleh Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’, VI/188

    [23] HR Bukhari, V/170, bab Adzabil Qabri minal Ghibati wal Bauli; Ibnu Abi Syaibah, I/24; Ibnu Majah, no. 348; Hakim, I/183; Ahmad, II/326

    [24] Ikhtiyar Al-Awla fi Syarhil Haditsi Ikhtisham Al-Mala’il A’la, I/21

    [25] Al-Haba’ik fi Akhbaril Mala’ik, I/26

    [26] Al-Iqtishad fil I’tiqad, I/68

    [27] Ijtima’ al-Juyusy Al-Islamiyyah ‘ala Ghazwil Mu’athilah wal Jahmiyyah, I/27

    [28] Al-Inshaf, I/15

    [29] Al-Jami’us Shahih, Kitab Al-Jana’iz, Bab Ma Ja’a fi Azab Al-Qabri; lih. Juga syarah-nya dalam Al-Fath, III/232

    [30] Shahih Muslim, Bab Istihbab At-Ta’awwudz min ‘Adzabil Qabri, juz III/240

  2. Sekali lagi, antum tidak bicara dalam konteks pembahasan.. afwan.. Tidak akan saya tanggapi.. Harap maklum..

  3. aban tetep ga suka vanilla said,

    Tuk nyang mo komen..
    Coba dibaca dulu sebelum ngasih komentarna..
    jangan sampe nantina malah berantem ga jelas juntrunganna..
    wassalam

  4. zulkifli said,

    tuk mas hanif

    seperti saya katakan untuk tradisi penyikapan terhadap sunnah saya lebih mengikuti kaum salaf atau salafiyun daripada syaikh-syaikh ikhwan karena ulumul hadis dan disiplinnya baru ada setelah adanya usaha pembukuan hadis

  5. Afwan, kalau boleh tau, maksud masnya Sunnah yang mana Mas? as-Sunnah maksudnya? Karena setahu saya
    as-Sunnah menurut ulama Ushul Fiqih (ushuliyyun) berbeda pengertiannya dengan as-Sunnah menurut ulama hadits (Muhadditsun), atau yang anda maksdu as-Sunnah menurut Ulama Fiqih (Fuqaha)

    Juga maksud anda dengan salaf atau salafiyyun, yang anda maksud itu apakah Ulama-ulama salaf ataukah ulama-ulama salafy (Wahhabi) saat ini? karena jikalau anda konsisten mengikuti apa yang disebut ulama-ulama Salaf, apakah Imam Ahmad bin Hambal-hafidzahuLlah- itu bukan Ulama salaf? Ataukah yang anda sebut ulama salaf itu adalah ulamanya Saudi pada saat ini?

    Lantas bagaimana tanggapan anda dengan kisah dari al-Miswar bin Makhramah, ia berkatabahwa Umar bin Khaththab bermusyawarah dengan para sahabat tentang janin seorang wanita, kemudian al-Mughirah bin Syu’bah berkata, “Saya menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keputusan (tentang diyat memukul perut seorang ibu sehingga sampai menjatuhkan janin yang ada di dalam perutnya) dengan budak laki-laki atau perempuan. al-Mughirah berkata, “Kemudian Umar berkata, ‘DATANGKAN KEPADAKU ORANG YANG MENYAKSIKAN BERSAMAMU TERHADAP KEPUTUSAN NABI shallallahu ‘alaihi wa sallam ITU.’ al-Mughirah berkata, “Kemudian Muhammad bin Maslamah memberi kesaksian tentang keputusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu” (HR. Muslim dalam Kitab Shahih Muslim halaman 1311, juz III.)

    Perhatikan kata-kata Umar bin Khaththab ra: “‘DATANGKAN KEPADAKU ORANG YANG MENYAKSIKAN BERSAMAMU TERHADAP KEPUTUSAN NABI shallallahu ‘alaihi wa sallam ITU.

    Pertanyaan untuk Mas Zulkifli, dengan penolakan Umar bin Khaththab ra terhadap hadits dari al-Mughirah ini, apakah Umar bisa disebut sebagai orang yang mengingkari hadits dari salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sedangkan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang Adil termasuk al-Mughirah, bahkan Allah sendiri yang mengukuhkan keadilan para sahabat yang mulia.. Lantas apakah dengan kisah diatas mas Zulkifli masih meyakini bahwa para sahabat berpendapat bahwa hadits yang diriwayatkan oleh seorang itu sampai kepada tingkat yaqiniy? Kalau begitu, yang dilakukan oleh Umar itu bagaimana menurut anda?

  6. zulkifli said,

    45.

    Assalamualaikum
    to mas hanif

    mas hanif lama nggak “sharing” nih, gimana kabarnay? bukan sekedar basa-basi tapi ane harap antum baik-baik aja.

    mas anu mau tabayyun nih, ane dapetin salah satu situs HT memuat list ulama-ulama yang harus dihindari di kolom kanan situsnya yang mayoritas disitu tercantum nama-nama ulama Ikhwan dan Salafy mereka adalah ulama-ulama kami dan lebih memiliki integritas dan kapabilitas yang diakui dari ulama-ulama HT di jagat raya ini.

    kalau ulama-ulama kami oleh HT difatwakan untuk dihindari berarti ukhuwah antar kita pun hendaknya perlu dihindari juga dong?antum bisa terangkan kenapa HT berbuat seperti itu?

    Scholars to be Avoided
    1. Khaalid Al-Anbaree
    2. Rabee bin Hadee Al-Madkhali
    3. Abdulaziz aal Shaykh
    4. Abdurahman as Sudais
    5. Saleh al Fawzan
    6. Aid al-Qarni
    7. Zaki Badawi
    8. Sa’ad al Barek
    9. Yusuf al-Qaradawi
    10. Sayyid Tantawi
    11. Saleh ibn Ghanem as Sadlaan
    12. al-Bouti
    13. Hamza Yusuf Hanson
    14. Dr. Muzammil H. Siddiqi
    15. Dr. Abdul Hakim Jackson
    16. Dr. Ahmad Shleibak
    17. Dr. Akbar Muhammad
    18. Dr. Deina Abdulkadir
    19. Shaikh Hassan Qazwini
    20. Dr. Ihsan Bagby
    21. Dr. Jamal Badawi
    22. Dr. Muhammad Adam Sheikh
    23. Shaikh Muhammad Al-Hanooti
    24. Shaikh Muhammad Nur Abdallah
    25. Dr. Salah Soltan
    26. Dr. Taha Jabir Alalwani
    27. Shaikh Yahya Hindi
    28. Shaikhah Zainab Alwani
    29. Dr. Zulfiqar Ali Shah
    30. Dr. Mukhtar Maghraoui
    31. Dr. Nazih Hammad
    32. Hisham Kabbani
    33. Shamsi Ali

    situsnya ini http://www.islamicthinkers.com

  7. Alkifah said,

    Mas Zulkifli, bukankah Anda sudah dapat penjelasan dari Mas Titok bahwa situs itu bukanlah milik HT? Saya tak menduga Anda malah menyebarkan fitnah itu ke blog lain. Bertaubat Akhi, jangan sampai kebencian Ant. kepada Dakwah Hizbut Tahrir (tanpa dasar yang jelas) membuat Ant. sulit meraih syurga di Hari Perhitungan kelak!

  8. zulkifli said,

    tuk alkifah

    bulshit! buka sendiri tuh situs dan cermati lambang dan pemikirannya ,antum mahasiswa UGM kan fasih tidak bahasa inggerisnya ?

    afwan tuk pembaca saya bersikap seperti tak sebanding dengan sikap pemimpin HT dan pengikutnya yang sembrono dan jufaatul ikhwah(penghujat saudara-saudaranya sendiri)

  9. syauqi said,

    bismillaah..

    sebelumnya kenalan dulu ya.. ana syauqi.. ga sengaja berkunjung ke blog ini, soalnya tadi butuh banget kitab nidham.. gugling2 akhirnya bisa donlot disini.. jazakallah khairan..

    mengenai hadis ahad ini emang permasalahan paling ribet.. waktu SMA ane ikut berbagai macam pengajian.. harakah2 sampai ustadz2 salafy.. khusus untuk HT biasanya kasus hadis ahad ini yang sering jadi sasaran..

    waktu ana halaqah di HT, ana tanya2 musyrif ama temen2 senior2 ana mengenai masalah ini, soalnya di pengajian salafy(yang ana ikuti juga) masalah ini sering dijadiin tools buat “menasehati” HT.. temen2 ana yang ikut pengajian salafy pun akhirnya berpikir miring soal HT.. (biasalah sindrom grasroot sotoy..)

    nah temen ana yang ikut pengajian salafy plus halaqah HT pun berusaha menanyakannya kepada musyrifnya di HT.. ya jelaslah karena perkara hadist ahad ini termasuk perkara ushul hadist yang memang sangat2 tinggi bahasannya, kader setingkat musyrif mana bisa memberikan penjelasan memadai.. temen ana akhirnya meninggalkan halaqah gara2 perkara ini..

    sementara itu ana sendiri tidak putus harapan.. ana terus mencari literatur2 HT maupun salafy yang membahas ini.. dan ana dapati(dari lietartur-literaturnya) keduanya mengklaim bahwa para ulama salaf(kalo literatur HT tidak menggeneralisir seluruh ulama)..

    dari sini ana ingin mengecek tentang seperti apa sikap para ulama salaf yang sebenernya.. dari sini ana membaca langsung kitab2 ushul haditsnya.. dari berbagai ulamanya.. dan nukilan2 ulama salafnya..

    dan akhirnya yang ana sadari adalah, bahwa perkara ushul hadist ini luar biasa rumit.. jauh lebih rumit daripada kalkulus.. kesimpulan ana akhirnya adalah untuk memahami benar2 perkara ini, kita harus jadi seorang ahli ushul.. heuheu..

    yah tapi alhamdulillah, ana mendapatkan pencerahan baru soal hadist.. dengan terminologi ushul hadist, ana dapatkan bahwa hujjah2 yang sering dijadikan tool untuk “menasehati” banyak kelemahannya..

    meski begitu ana sadar sepenuh hati bahwa memang perkara serumit ini sangat rentan dengan perbedaan2 istimbath.. oleh karena itu ana tidak begitu concern lagi dengan kegiatan saling “menasehati” yang banyak dipermasalahkan kalangan2 harakah di grassroot.. perbedaan istimbath dikalangan mereka sangat wajar sekali.. sehingga ana sama sekali tidak peduli dengan perbedaan pendapat..

    jika ada temen2 ana yang dengan perbedaan pendapat ini melontarkan argumen2 miring tentang saudaranya, langsung ana “serang” dengan pertanyaan2 seputar masalah ushul.. dan yah, seperti biasa orang2 di grassroot itu ga tau apa2.. ana berusaha menyadarkan kepada mereka bahwa mereka itu cuman muqallid.. jangan sotoy..

    sampai saat ini sih mengenai perkara2 ushul hadist, ana hanya beri’tibba pada Imam Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah.. jarang ada grassroot yang tahu tentang beliau.. padahal beliau ini yang paling besar pengaruhnya dalam perjalanan ilmu ushul hadist(makanya grassroot itu biasanya sotoy).. tidak ada satu kitab ushul hadistpun setelah kitab beliau(al-jami’ li adab assami’ wa akhlaq arrawi’ dan risalah al-Hadist) yang tidak menukil dari kitab beliau..

    HT, Salafy, semuanya banyak menukil dari kitab beliau.. terkait masalah hadist ahad, beliau sejalan dengan jumhur ulama yang lain(yang mengatakan jumhur adalah DR. Ajjaj Al-Khatib rahimahullah, ulama di universitas Damaskus) yaitu bahwa hadist ahad itu tidak melahirkan ilmu yakin..

    yah, tapi yang perlu dipahami adalah bahwa para ulama salaf telah sangat luar biasanya, dengan pengorbanannya yang luar biasa, dan kecerdasannya yang luar biasa, menyusun ijtihad-ijtihad yang diperlukan meski sangat rumit sekalipun(sebagaimana ushul hadist) agar kita2 yang 14 abad setelah Rasul salallahu’alayhi wassalam dapat menjalankan sunnahnya dengan ilmu yang terang, meski diantara mereka sendiri juga terjadi perbedaan pendapat..

    Al-Khatib Al-Baghdadi, AnNawawi, AnNaisaburi, Imam Ahmad rahimahumullah yang telah menyusun hujjah2 seputar ushul hadist, ijtihad mereka belum tentu benar, tetapi pengorbanan mereka sangat luar biasa.. semoga Allah azza wa jalla merahmati mereka..

    dan tentu saja ana berkeinginan untuk bisa memahami perkara ushul Hadist ini sampai punya ijtihad sendiri, tidak sekedar bertaqlid(ana mengadopsi hujjahnya Imam Ibnu Hazm seputar Ijtihad, yaitu bahwa taqlid itu haram-didalamnya termasuk ittiba’)

    semoga Allah memberikan keluasan Ilmu kepada teman2 disini.. ana lihat banyak perdebatan seputar gerak dakwah harakah disini.. mudah2an ikhwah filah sekalian tetap menjaga keilmiahan forum.. dan sebagai grassroot, ada baiknya ikhwah sekalian juga ikut membaca kitab2 para ulama salaf terdahulu untuk dapat mengetahui sepak terjang keilmuan para ulama kita.. supaya ikhwah sekalian tidak sekedar bertaqlid kepada qiyadah atau ustadz, melainkan menjadi mujtahid tersendiri.. teruskan perjuangan menegakkan dakwah Islam antum.. semoga Allah selalu melindungi kita dari perkara2 yang menjauhkan kita dari-Nya.

    wallahu’alam bishawab..

  10. syauqi said,

    gimana apanya akh?? minta tanggapan ana soal artikel tersebut??

    punten, emang kita lagi bahas hadist ahad apa siksa kubur akh?? mungkin sebaiknya dijelaskan dulu maksudnya akh..

    yang jelas sih yg ana pahami dan ana adopsi sampai saat ini, Al-Qur’an itu merupakan ilmu yakin bukan hanya karena mutawatir.. tapi juga karena aktualisasi dari ayat-ayat QS ath Thur 33-34, QS Hud 13, QS al Baqarah 23..

    sedangkan kodifikasi hadist tidak memiliki hujjah yang sama dengan Al-Qur’an.. oleh karena itulah ada ilmu ushul hadist yang jauh berbeda isinya dengan ulumul Qur’an.. dan dari ilmu ushul hadist yg ana adopsi, ilmu yakin hanya dapat didapat dari khabar yang mutawatir..

    kalo masalah azab kubur, maka perlu dijelaskan terlebih dahulu, apa itu azab kubur?? dalil2 yang menjelaskan definisi azab kubur apa saja?? dan bagaimana status dalilnya?? kemudian seperti apa istimbathnya..

    wallahu’am bishawab..

    jadi gimana akh hmcahyo?? mo bahas azab kubur??

  11. :: Untuk Mas Zulkifili

    Wa’alaykumussalaam..

    AlhamduliLlah baik-baik saja Mas.. Semoga demikian halnya juga dengan antum..

    Mas.. Kalau saya lihat, situs itu bukan situs resmi HT, jadi kayaknya ndak tepat kalau disebut-sebut situs HT, benderanya sama, kan itu benderanya umat Islam.. Hehe..

    Dan saya lihat di situs itu disebutkan alasan-alasan kenapa ulama-ulama diatas disarankan untuk dihindari, jadi pengelola situs itu punya alasan kuat untuk memberikan warning.. jadi mohon dilihat alasannya, nah kalau tidak benar, tolong dinasehati si pengelola website-nya.. kalau saya ya ndak bisa apa-apa lagi mas.. wong saya bukan pemilik web itu..

    Waduh, ngomong-ngomong tentang HT lagi, saya ndak berani Mas ngomong atas nama HT.. saya bukan “empunya”.. lagian ulama-ulama itu ada nun jauh disana, jadi ya jelas nggak bisa deket-deket dong sama ulama-ulama itu.. tapi saya bisa kasih komentar, gini.. selama saya ngaji di HT, saya sering disarankan untuk membaca literatur-literatur dari manapun, dari HT sendiri, dari PKS, dari Ikhwanul Muslimin, dari salafy, dari mana aja.. silhakan.. ndak masalah, karena pemikiran-pemikiran itu semua sejatinya dipetakan kedalam 2 wilayah, pemikiran Islam dan pemikiran non Islam. Pemikiran Islam adalah pemikiran yang pendapatnya dilandasi dengan dalil, jika ada dua pendapat islami maka dicari pendapat yang kuat diantara keduanya dari hujjah yang dikemukakan oleh masing-masing pendapat. Sedangkan Pendapat yang Tidak Islami dicari titik kelemahannya dan dibantah lalu dibangun pemikiran yang benar. Gitu..

    Oya Mas Zulkifli, pertanyaan saya di komentar sebelumnya kok belum dijawab ya? Mohon jawabannya ya Mas..

    :: Untuk Akh Syauqi

    AlhamduliLlah.. saya dapet temen baru nih, calon mujtahid lagi.. SubhanaLlah.. Saya do’akan semoga Allah memudahkan jalan antum untuk menjadi mujtahid, oya, selamat datang di blog saya yang sangat-sangat terbatas ini, maklum empunya juga terbatas banget ilmunya.. Wah antum kayaknya anak pesantren ya.. bisa bagi-bagi ilmu ke saya nih.. kalau antum punya tulisan bagus, kirim aja ke e-mail ana : agunghanif@gmail.com

    Wah, sepertinya, semakin saya kenal antum, semakin bodoh saya ini.. nggak tau apa-apa.. JazakaLlah Mas atas informasi dan nasehatnya.. Seperti komentar antum, teruskan perjuangan menegakkan dakwah Islam antum.. semoga Allah selalu melindungi kita dari perkara2 yang menjauhkan kita dari-Nya.

    Allahuakbar!!!

    Oya, tentang link yang dikasih sama Mas HMcahyo itu kan Ustadz Ahmad Syarwat, LC mencoba untuk mengklarifikasi bahwa HT tidak mengingkari siksa kubur.. jadi maksudnya MAs HMcahyo itu mau menegaskan bahwa HT memang tidka mengingkari siksa kubur, gitu tho..

    Tapi kalau antum mau nulis tentang adzab kubur blog saya sangat senang untuk menampilkannya.. HEhe..

    :: Untuk Mas HM Cahyo

    Syukron atas link-nya..

  12. syauqi said,

    amiin.. jazakallah khairan akh..

    btw.. punten ana cuman bingung apa yang diminta sama akh HMcahyo..
    jadinya ngalor ngidul ke siksa kubur.. di blog orang lagih.. heuheu..

    afwan jiddan jadi aneh alurnya..

  13. petualangharakah said,

    Sekali lagi saya selaku pengamat harakah islamiyah mengatakan : Salafy, HT, IM, Hidayatullah, NU, Muhammadiyah, Persis, MMI, AlQaeda, dan harakah2x ahlusunnah adalah ada baik(benar) dan kurang baiknya(salah), Dan tak ada yang ma’sum selain Rasulullah Muhammad SAW, termasuk syaikh albani. syaikh bin baz, syaikh qardhawi, dan syaikh2x yang lainnya, namun demikian pasti ada dalil yang paling shahih diantara dalil2x yang ada, maka ikutilah itu. Ijtihad boleh2x aja, tapi dengan syarat tertentu. Sekali lagi manhaj Nubuwah mengimani hadits ahad dalam aqidah, perkara ada yang berijtihad tidak mengimani, maka itu tanggung jawab pribadi. Jadi salafy menyesatkan boleh2x saja karena itu adalah masalah prinsip, dan HT tak mengimani boleh2x saja, itu tanggung jawab pribadi, bahkan salafy dan HT saling bunuhpun sesuatu yang alami.

  14. Riski Ramdani said,

    Untuk Zulkifli.

    saya pendatang baru nih. seru juga ikut mengamati dikusinya. saya ingin menginformasikan buat mas Zulkifli bahwa web (situs) tersebut bukan milik HT. kalau mau melihat web HT di seluruh dunia, kalau ga salah di web HTI (www.hizbut-tahrir.or.id) sudah di pampang di sana. jelasnya tanya aja sama orang HT web apa saja yang punya HT. Biar ga jadi fitnah mas! soalnya kesalahan mas dalam menentukan identitas sebuah tulisan (maksud saya web) itu sangat mendasar. jadi kalau salah bisa berbahaya karena jadi fitnah!

  15. Farid said,

    Komentar dari blog mantanht
    http://mantanht.wordpress.com/2008/07/30/hizbut-tahrir-aqidah-aqidah-nabi-yang-diragukannya/#comment-299

    Syaikh Taqiyyuddin (pendiri HT) berkata :

    “….Apa saja yang tidak terbukti oleh kedua jalan tadi, yaitu akal serta nash al qur’an dan hadits mutawatir, HARAM baginya untuk mengimaninya (menjadikan sebagai aqidah)…”.

    (Lihat Peraturan Hidup dalam Islam, Penulis: Taqiyyuddin an Nabhani, Judul asli: Nidzomul Islam, Penerjemah: Abu Amin dkk, Penerbit: Pustaka Thariqul ‘Izzah Indonesia, Cetakan II (revisi), April 1993, halaman 12, paragraf ke-4 , baris ke-7 dari atas).

    Kesimpulan:
    Pendiri HT berpendapat akan HARAMnya mengambil hadits ahad sebagai aqidah.

  16. Untuk Farid di KPTU (UGM) :

    HARAM mengambil hadits ahad sebagai dalil dalam masalah Aqidah bukan berarti meng-HARAM-kan Hadits Ahad tersebut, saya mohon antum jangan alergi dulu dengan masalah ini, mohon dicermati lagi dengan hati yang jernih dan jiwa yang tenang. Hadits Ahad berfaedah kepada ghalabatu adzz-dzan (dugaan kuat), sehingga dugaan kita terhadap hadits Ahad adalah Dugaan kuat bahwa hal itu akan terjadi, bukan mengingkari hadits tersebut.

    Saya ingin mengambil contoh dari apa yang saya berikan di blog-nya Mantan HT namun tidak pernah bisa dijawab oleh san pengelola blog tersebut. Ini contohnya:

    Antum pernah mendengar hadits dari Imam Muslim : “Engkau akan dibangkitkan dengan kening ,tangan, dan kaki yang bercahaya pada hari kiamat, dengan menyempurnakan wudhu ……” (HR. Muslim No. 246). Tetapi tahukah antum bahwa Syaikh Al-Albani rahiimahuLlah mengklaim bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam kitab ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu’ 2/14 no. 1425’. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra. Bagaimana komentar antum?

    Apakah antum berani mengatakan bahwa aqidah Imam Muslim dan Syaikh Al-Albani berbeda hanya karena Syaikh al-Bani mendho’ifkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim?

    Sesungguhnya inilah titik tekan saya, bahwa ketika kita menempatkan hadits ahad yang shahih sebagai suatu dalil dan aqidah, maka akan banyak sekali aqidah yang berwarna-warni. Oleh karena itu sikap kita seharusnya adalah menerima khabar ahad yang shahih tetapi tidak meyakininya, karena bisa saja ada ulama yang mendho’ifkan hadits tersebut sehingga ulama tersebut tidak mengimaninya..

    Untuk lebih lengkapnya, silahkan antum baca lagi tulisan-tulisan dibawah ini:

    https://hanichi.wordpress.com/2007/03/03/bagai-cabe-merah-dan-cabe-hijau/

    dan

    https://hanichi.wordpress.com/tulisan-luar/

    Kalau antum sudah membacanya, maka arah diskusi kita akan terlihat, saya faham dengan orang yang membaca dan belum membaca tulisan diatas, mohon dicermati dengan teliti dan jiwa yang bersih. Syukron..

  17. Ini adalah Komentar dari pengelolakomaht dengan e-mail pengelolakomaht@yahoo.co.id:

    Jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan anda yang belum terjawab :

    1. Pertanyaan anda :

    Begini saja, saya akan ajukan satu pertanyaan ke antum dan silahkan antum menjawabnya..
    Ada sebuah kisah dari bal-Miswar bin Makhramah, ia berkata bahwa Umar bin Khaththab bermusyawarah dengan para sahabat tentang janin seorang wanita, kemudian al-Mughirah bin Syu’bah berkata,
    “Saya menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keputusan (tentang diyat memukul perut seorang ibu sehingga sampai menjatuhkan janin yang ada di dalam perutnya) dengan budak laki-laki atau perempuan. al-Mughirah berkata, “Kemudian Umar berkata, ‘DATANGKAN KEPADAKU ORANG YANG MENYAKSIKAN BERSAMAMU TERHADAP KEPUTUSAN NABI shallallahu ‘alaihi wa sallam ITU.’ al-Mughirah berkata, “Kemudian Muhammad bin Maslamah memberi kesaksian tentang keputusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu”
    (HR. Muslim dalam Kitab Shahih Muslim halaman 1311, juz III.)

    Perhatikan kata-kata Umar bin Khaththab ra: “‘DATANGKAN KEPADAKU ORANG YANG MENYAKSIKAN BERSAMAMU TERHADAP KEPUTUSAN NABI shallallahu ‘alaihi wa sallam ITU.”
    Pertanyaan untuk antum mengenai penolakan Umar bin Khaththab radhiyaLlahu ‘anhu terhadap hadits dari al-Mughirah ini, apakah Umar bisa disebut sebagai orang yang mengingkari hadits dari salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sedangkan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang Adil termasuk al-Mughirah, bahkan Allah sendiri yang mengukuhkan keadilan para sahabat yang mulia..
    Lantas apakah dengan kisah diatas antum masih meyakini bahwa para sahabat berpendapat bahwa hadits yang diriwayatkan oleh seorang itu sampai kepada tingkat yaqiniy? Kalau begitu, yang dilakukan oleh Umar itu bagaimana menurut anda?

    Jawaban saya :

    Jika anda mau jujur dalil atsar shahabat Umar yang anda bawakan sebenarnya tidak menyangkut materi aqidah akan tetapi berisi syariat hukum tata cara pengadilan dan persaksian dalam Islam (Qadha’ wa Syahadah) dan memang dalam perkara ini mengharuskan saksi sebagaimana QS Al Baqarah 282 dan hadits shohih dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah memutuskan perkara atas dasar sumpah dan saksi, sehingga sikap Umar sudah tepat yaitu meminta saksi karena ini perkara pengadilan, bukan karena Umar meragukan shahabat akan tetapi memang dalam syariat pengadilan Islam (Qadha’) mengharuskan saksi.
    Sehingga dalil yang anda bawakan tidak ada kaitannya dengan dalil pengambilan aqidah dari hadits ahad dan tidak bisa digunakan pijakan meragukan aqidah dari hadits ahad yang shohih.

    Dalil dalam perkara ini justru yang lebih relevan adalah riwayat shahih dari shahabat Umar dan putranya (abdullah bin Umar) sbb :
    “Abdullah bin Umar bertanya pada ayahnya, yaitu Umar bin Khathab tentang hadits bertemakan ‘aqidah ru’yatullah yang disampaikan Sa’ad bin Abi Waqqash kepadanya, maka Umar berkata padanya : “Jika Sa’ad meriwayatkan sesuatu kepadamu dari Nabi, maka jangan engkau bertanya lagi kepada selainnya tentang sesuatu itu”(maksudnya ambilah riwayat itu)”. (Atsar shahih riwayat Bukhari, No.202)

    Riwayat diatas jelas-jelas berisi perintah Umar kepada anaknya untuk mengimani aqidah dari hadits ahad, jadi inilah yang lebih kuat.

    2. Pertanyaan anda :

    Antum pernah mendengar hadits dari Imam Muslim : “Engkau akan dibangkitkan dengan kening ,tangan, dan kaki yang bercahaya pada hari kiamat, dengan menyempurnakan wudhu ……” (HR. Muslim No. 246). Tetapi tahukah antum bahwa Syaikh Al-Albani rahiimahuLlah mengklaim bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam kitab ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu’ 2/14 no. 1425’. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra. Bagaimana komentar antum? Apakah antum berani mengatakan bahwa aqidah Imam Muslim dan Syaikh Al-Albani berbeda hanya karena Syaikh al-Bani mendho’ifkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim? Sesungguhnya inilah titik tekan saya, bahwa ketika kita menempatkan hadits ahad yang shahih sebagai suatu dalil dana aqidah, maka akan banyak sekali aqidah yang berwarna-warni. Oleh karena itu sikpa kita seharusnya adalah menerima khabar ahad yang shahih tetapi tidak meyakininya, karena bisa saja ada ulama yang mendho’ifkan hadits tersebut sehingga ia tidak mangimaninya..

    Jawaban saya :

    Hadits yang anda sebutkan diatas adalah hadits Fadhail Amal yaitu fadhilah melaksanakan wudhu. Jadi bukanlah hadits aqidah.
    Fadhail amal berbeda dengan aqidah karena fadhail amal hanyalah penyemangat dalam melakukan amal ibadah.
    Fadhilah amal boleh menggunakan hadits dhoif asalkan tidak terlalu sangat, sementara aqidah harus dengan hadits shohih.
    Aqidah adalah keyakinan yang berdiri sendiri adapun fadhail amal hanya ada jika terdapat amalan ibadah yang telah shohih dalilnya.
    Aqidah berdiri di depan syari’at Ibadah sedangkan Fadhail Amal berada di belakang syari’at ibadah.
    Tanpa suatu amalan ibadah aqidah tetap ada namun tanpa suatu amalan ibadah fadhail amal tidak pernah ada.
    Contoh Fadhail Amal lainnya misal, “Barangsiapa Sholat Dhuha 12 Rakaat akan dibangunkan untuknya istana di Surga”.
    Kesimpulannya tidak ada perbedaan aqidah antara Imam Muslim dengan Albani maupun dengan kaum muslimin lainnya.


    Untuk NO. 1

    Saya (Hanif) : Wahai pengelolakomaht, sedari awal saya memang tidak mengatakan hadits tersebut adalah hadits tentang aqidah, namun saya ingin mengatakan kepada antum bahwa dalam masalah selain aqidah saja, dalam kasus hadits diatas adalah masalah hukum peradilan saja para sahabat tidak langsung percaya, apatah lagi dalam masalah aqidah. Dan saya jujur, apa yang antum katakan bahwa hadits di atas itu adalah tentang Umar yang meminta Mughirah mendatangkan saksi atas suatu perkara, maka itu adalah pendapat yang jauh dari kebenaran, antum bisa lihat pada bagan awal hadits bahwa “bahwa Umar bin Khaththab bermusyawarah dengan para sahabat tentang janin seorang wanita,..” jadi tentang hukum janin seorang wanita, dan sahabat Mughirah bukan menyatakan bahwa dia menjadi saksi tentang suatu perkara mengenai janin seorang wanita, tetapi Mughirah mengabarkan suatu ketetapan dari RasuluLlah Shallahu ‘alaihi wa sallam mengenai diyat bagi orang yang memukul wanita hingga wanita tersebut menjatuhkan janinnya, dan Umar meminta Mughirah mendatangkan saksi lain yang melihat Rasul SAW menetapkan seperti apa yang diutarakan oleh Mughirah. Jadi yang terjadi dalam hadits tersebut bukan sedang dalam sidang pengadilan, tetapi sedang membicarakan ketetapan dari Rasul tentang masalah janin. Kalau hadits diatas berbicara tetnang Umar yang meminta Mughirah mendatangkan saksi atas suatu perkara, maka harus ada tertuduh dan korban, sednagkan dlam hadits tersebut tidka disebutkan, yang disebutkan hanyalah mengenai ketetapan Rasul tentang suatu masalah, jadi analisa yang antum utarakan sangat dangkal dan menolak fakta yang sesungguhnya.. Jadi, dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa Umar tidak Yaqin 100% akan hadits yang diriwayatkan oleh seorang sahabat.

    Untuk NO. 2

    Baik, kalau begitu saya tanya kepada antum, antum yaqin 100% atau tidak bahwa orang yang wudhu nanti pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan kening ,tangan, dan kaki yang bercahaya? Antum yaqin 10%?!! Kalau antum konsisiten bahwa hadits ahad dapat menghantarkan kepada qath’i (yaqin 100%) dan antum juga berpendapat bahwa hadits diatas adalah shahih maka antum harus meyakininya, begitu juga Imam Muslim, pasti meyakininya karena shahih, dan barangsiapa yang tidak meyaqininya berarti aqidahnya telah cacat, begitu kan akhiy?!! Itu kalau antum menagnggap bahwa hadits ahad dapat menghantarkan kepada qath’i (yaqin 100%). Kalau tidak ya AlhamduliLlah..

  18. Farid said,

    Bismillah

    Maaf mas hanif, wah pengagum detektif nie.. ….nichi kodou. Ampe bisa tau darimane ngakses inet <>. Ga percuma kuliah di ilmu komputer ugm. Selamat ya… pasti bisa lebih canggih nie.

  19. Farid said,

    Perkataan

    ”Hadits Ahad berfaedah kepada ghalabatu adzz-dzan”

    .
    Waduh mas, kan dah dijelaskan ama mantanHT di webnya. Saya nukilkan lagi diskusi terakhir kalian di
    “artikel hizbut-tahrir-aqidah-aqidah-nabi-yang-diragukannya” mengenai dzon

    Dan karena dhon itu ada yang bermakna yakin maka berarti tidak semua jenis dhon tidak bisa diambil sebagai aqidah ya akhi

    Dan inilah sebenarnya kesimpulan dari diskusi tentang dalil ayat-ayat al Qur’an .

    BERARTI ANDA DAN SAYA TELAH SEPAKAT BAHWA :

    1. ayat-ayat yang dibawakan HT untuk mengharamkan dhon sebenarnya hanya memuat larangan dhon tertentu saja sesuai dengan isi dan asbababun nuzul ayat. Bukan semua jenis dhon.

    2. tidak semua dhon diartikan dugaan akan tetapi bisa juga diartikan yakin sehingga tidak semua dhon diharamkan dalam aqidah.

    APAKAH ANDA SETUJU DENGAN KESIMPULAN INI ?

    Jika ya diskusi kita lanjut dengan tahapan dalil dari as sunnah,
    jika tidak dimana letak tidaknya .
    Silahkan…

    Ketika kalian berdiskusi, diambil kesepakatan dimulai dengan dalil Quran karena memang seorang muslim jika ada perselisihan harus dikembalikan ke Quran dan Al Hadits. Dan ternyata ketika dihadapkan pada kesepakatan malah tidak menjawab malah mengatakan bahwa pak mantanHT tidak menjawab pertanyaan, satu-satu dulu mulai dari Quran, Al Hadist as Ashohihah, dst. Coba cek lagi http://mantanht.wordpress.com/2008/07/30/hizbut-tahrir-aqidah-aqidah-nabi-yang-diragukannya/#comment-59

  20. Farid said,

    Berkaitan dengan pen-dhoifan salah satu hadits dari Imam Muslim yang menurut anda menjadikan Aqidah berwarna-warni, Sungguh ucapan yang tidak pantas diucapkan apalagi ditujukan kepada kesimpulan bahwa meyakini hadist ahad yang shohih menyebabkan aqidah berwarna-warni.??

    Sesungguhnya inilah titik tekan saya, bahwa ketika kita menempatkan hadits ahad yang shahih sebagai suatu dalil dan aqidah, maka akan banyak sekali aqidah yang berwarna-warni.

    ucapan ini akan kembali kepada anda.
    Perhatikan ucapan Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani [semoga Alloh mengampuninya]:

    Jadi, akidah seorang Muslim itu harus bersandar kepada akal atau pada sesuatu yang telah terbukti dasar kebenarannya oleh akal. Peraturan Hidup Dalam Islam
    Judul Asli: Nizham Al-Islam , Hal 21, baris ke-16, cetakan 2, Maret 2007

    Mana yang lebih mengarah ke Aqidah warna-warni????
    Tiga terbitan buku dengan halaman yang berbeda, kalau dari pak mantanHT dihalaman 12, cetakan tahun 1993, kalau cetakan tahun 2003, ada di halaman 14 baris terakhir dan halaman 15 paragraph pertama, ini yang ada di rumahku. Yang saya quote diatas berasal dari link download di web mas hanichi. Semoga hanya masalah fontasi.

    Tentang Shahih Muslim, perhatikan ucapan Syaikh Muhammad bin Nashiruddin Abu Abdirrahman [rahimahulloh] terhadap Shahih Muslim dalam sebuah artikel:

    Sebagai seorang Imam Ahlusunnah pada zaman ini, Syaikh Al Albani selalu berusaha mengikuti jejak generasi awal umat Islam. Dalam ilmu hadits pun beliau tidak datang dengan kaidah-kaidah baru. Sikap beliau terhadap Sahihain bisa kita simak langsung dari pernyataan beliau berikut, “Dan Sahihain adalah kitab paling sahih setelah Kitabullah, dengan kesepakatan para ulama muslimin, dari kalangan ahli hadits dan yang lain. Keduanya istimewa dibanding kitab sunah yang lain karena tak tersaingi dalam menghimpun hadits-hadits paling sahih dan meninggalkan hadits-hadits lemah dan matan yang munkar. Mereka telah diberikan taufik yang tidak didapatkan oleh orang-orang yang berusaha mengikuti jejak mereka dalam menghimpun hadits-hadits sahih seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al Hakim, dan sebagainya, sehingga diketahui secara umum bahwa jika suatu hadits diriwayatkan Syaikhain atau salah satunya, berarti hadits itu sahih.”
    Beliau melanjutkan, “Tidak ada keraguan dalam hal ini, dan inilah kaidah asalnya menurut kami. Tapi ini tidak berarti bahwa setiap huruf atau kata dalam Sahihain memiliki kedudukan yang sama dengan huruf dan kata dalam Al Quran, dimana tidak mungkin ada kesalahan dari sebagian perawinya. Sama sekali tidak, karena kami tidak meyakini ada kitab yang ma’shum selain Kitabullah. Imam asy-Syafi’I berkata, ‘Allah enggan menyempurnakan kitab selain Kitab-Nya.’ Tidak mungkin ada seorang ulama pun yang bisa mengatakan demikian, jika ia mempelajari Sahihain dengan jeli dan teliti, tanpa fanatisme, dan dalam koridor aturan ilmiah yang baku, bukan mengikuti hawa nafsu, atau pemikiran yang jauh dari Islam dan kaidah para ulamanya.” (Muqaddimah Syarah ath-Thahawiyyah: 24).

    Koreksi terhadap kitab shahih muslim bukan hanya dilakukan oleh Syaikh Al Albani, tetapi sejak dulu sudah ada beberapa ulama yang mengkritik sebagian hadits Sahihain, maupun kitab Sahihain secara khusus, di antaranya Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ad Daraquthni, Abul Walid Al Baji, Ibnu ‘Abdil Hadi, Abu Mas’ud Ad Dimasyqi, Abu ‘Ali Al Ghassani, dan Ibnu Tamiyyah. Yang paling terkenal dengan kritiknya adalah Imam Ad Daraquthni yang mengkritik 110 hadits di Sahih Bukhari dan 132 hadits di Sahih Muslim.
    Banyak juga ulama hadits yang berusaha menjawab berbagai kritik tersebut. An Nawawi berkata, “Dan telah terjawab semuanya atau sebagian besarnya.” Memang tidak semua terjawab dengan baik. Ibnu Hajar berkata: “Di antara kritikan tersebut ada yang jawabannya tidak kuat.” (Fathul Bari 1/505).
    Berkaitan dengan hadist yang dinukil, ternyata dishahih Bukhari juga ada, di Shahih Muslim dengan nomor yang berbeda tapi matan sama juga ada. SHOHIH menurut para ulama. Sehingga tidak serta merta menjadikan Aqidah itu berwarna-warni. Cek dan teliti dulu. Mereka para ulama, yang seharusnya kita tempatkan pada posisinya. Pada cetakan al-wa’e terbaru, di salah satu artikelnya mencantumkan referensi dari syaikh Al Albani walaupun tidak ada satupun tulisan yang memuat tulisannya Syaikh Al Albani, lebih banyak pendapat Syaikh An Nabhani.

    Wallu’alam.

  21. Farid said,

    Berkaitan dengan tulisan sampyan dan mas Titok, tidak menjadikan pendapat HT terkhusus berubah. Jika seandainya tulisan-luar itu adalah tulisan resmi dari HT terkhusus HTI, maka dapat diindikasikan bahwa HT telah mengakui Hadist Ahad yang Shohih.

    Jika ada yang salah mohon dijelaskan dan saya memohon ampun kepada ALLOH atas semua kesalahan yang telah saya lakukan serta kepada mas pengelola jika ada kata-kata dari ku yang tidak pantas saya ucapkan.

    Wassalam.

  22. Farid said,

    Posting kedua jadi ndak ada, ta post lagi dah

    Perkataan

    ”Hadits Ahad berfaedah kepada ghalabatu adzz-dzan”

    .
    Waduh mas, kan dah dijelaskan ama mantanHT di webnya. Saya nukilkan lagi diskusi terakhir kalian di
    http://mantanht.wordpress.com/2008/07/30/hizbut-tahrir-aqidah-aqidah-nabi-yang-diragukannya mengenai dzon

    Dan karena dhon itu ada yang bermakna yakin maka berarti tidak semua jenis dhon tidak bisa diambil sebagai aqidah ya akhi

    Dan inilah sebenarnya kesimpulan dari diskusi tentang dalil ayat-ayat al Qur’an .

    BERARTI ANDA DAN SAYA TELAH SEPAKAT BAHWA :

    1. ayat-ayat yang dibawakan HT untuk mengharamkan dhon sebenarnya hanya memuat larangan dhon tertentu saja sesuai dengan isi dan asbababun nuzul ayat. Bukan semua jenis dhon.

    2. tidak semua dhon diartikan dugaan akan tetapi bisa juga diartikan yakin sehingga tidak semua dhon diharamkan dalam aqidah.

    APAKAH ANDA SETUJU DENGAN KESIMPULAN INI ?

    Jika ya diskusi kita lanjut dengan tahapan dalil dari as sunnah,
    jika tidak dimana letak tidaknya .
    Silahkan…

    Ketika kalian berdiskusi, diambil kesepakatan dimulai dengan dalil Quran karena memang seorang muslim jika ada perselisihan harus dikembalikan ke Quran dan Al Hadits. Dan ternyata ketika dihadapkan pada kesepakatan malah tidak menjawab malah mengatakan bahwa pak mantanHT tidak menjawab pertanyaan. Satu-satu dulu lah, mulai dari Quran, Al Hadist as Ashohihah, dst. Coba cek lagi http://mantanht.wordpress.com/2008/07/30/hizbut-tahrir-aqidah-aqidah-nabi-yang-diragukannya/#comment-59

    Berkaitan dengan diskusi Pak mantanHT dengan Anda, maka saya cukup jadi pembaca saja. Silahkan Anda teruskan dengan beliau.
    Disini saya bukan siapa-siapa, bukan pembela salah satu dari kalian, yang saya bela adalah hujjah dan dalil yang terang dan jelas dari Quran dan Al Hadist As Shohihah.

  23. priyodjatmiko said,

    Saya ingin mengomentari artikel utama (kembali ke artikel utama).

    Yaitu penukilan pendapat Syaikh al qaradhawi dan Al Buthy tentang hujjah hadits ahad dalam aqidah.

    Komentar ini singkat, mungkin lain kali saya sertakan lengkap dengan rujukan, Insya Allah.

    Ulama salaf memang berbeda pendapat, apakah hadits ahad menghasilkan ilmu yaqin dengan sendirinya atau sekedar dzhanni? Perincian mengenai masalah ini menghasilkan khilaf sebanyak 7 pendapat tapi ringkasnya ada 3 pendapat, dimana memang pendapat jumhur adalah hadits ahad tidak menghasilkan keyakinan tapi dzhanni, ini pendapat jumhur.

    Kekeliruan sebagian shahabat HT adalah mereka menarik kaidah umum ini untuk menolak aqidah mengenai adzab qubur dll, padahal ulama salaf yang berpendapat hadis ahad hanya menghasilkan tingkatan dzhanni tidak menolak sebagian perincian aqidah yang dikeluarkan dari hadis ahad. Dan pendapat Syaikh al Buthy dan Qardhawi juga sama dengan ulama salaf tersebut.

    Untuk lebih jelasnya silahkan lihat di kitab As Sunnah an Nabawiyah al Muftara Alaih karya Salim al Bahsanawi disitu beliau menjelaskan kaidah hadis ahad yang tidak menghasilkan ilmu yang yaqin dan penerapannya dalam menyikapi permasalahan-permasalaahn aqidah.

    Sederhananya, jika antum tidak percaya penjelasan Ustadz Salim Bahsanawi silahkan cek pendapat ulama-ulama pendahulu yang berpendapat hadits ahad tidak menghasilkan ilmu yang yaqin, cek pendapat mereka mengenai adzab qubur, kedatangan Dajjal, Imam Mahdi di akhir jaman dll, silahkan cek, termasuk pendapat Syaikh qardhawi dengan al buthy, mereka membenarkan keyaqinan tentang adzab qubur dll.

  24. for me: hadits ahad adalah salah satu rujukan aqidah yang harus kita yakini; sejauh ianya shohih, valid dan tidak meragukan.

  25. For me juga : hadits ahad adalah salah satu rujukan dalam hukum syara’ bukan dalam perkara aqiidah, sehingga sejauh hadits tersebut shahih, maka wajib diterima walau tidak sampai kepada derajat yakin, dan ini pendapat shahih dari para jumhur ulama’.

  26. petualangharakah said,

    HT masih sombong saja dalam masalah hadits ahad, sombong=menolak kebenaran, Sebagian besar hadits adalah hadits ahad, baik itu dalam hal aqidah, fiqih dsb.

  27. pengelolakomaht said,

    Saya berharap anda berkenan membandingkan atsar Umar yang saya hadirkan sebagai dalil dengan atsar Umar yang anda gunakan sebagai dalil.
    Manakah dari keduanya yang lebih sesuai dalam perkara aqidah yang bersumber dari riwayat ahad ?
    Jika kita mau jujur, maka kesimpulan sikap shahabat Umar bin Khathab menurut dalil-dalil yang saya bawa dan dalil-dalil yang anda bawa mestinya sebagai berikut :

    1. Dalam periwayatan hadits untuk perkara hukum qadha’ wa syahadah maka Umar mengharuskan adanya saksi.
    2. Dalam periwayatan hadits untuk perkara aqidah maka Umar tidak mengharuskan adanya saksi, bahkan melarang mencari saksi.

    Jika anda masih menganggap bahwa adanya saksi perawi lain adalah persyaratan diterimanya hadits oleh Umar, maka mafhum mukholafahnya berarti anda juga menganggap setiap hendak meriwayatkan hadits maka sang periwayat wajib menghadirkan saksi.

    Padahal faktanya, ketika anak-anak umar bin khathab meriwayatkan hadits dari Nabi dan hadits tersebut adalah hadits aqidah yang ahad, mereka tidak menghadirksn saksi saat meriwayatkannya, karena begitulah prinsip yang diajarkan Umar kepada mereka.

    Berikut bukti-buktinya :

    1. Ketika Hafshah bintu Umar meriwayatkan hadits dibawah ini, ia tidak menghadirkan saksi sebagai persyaratannya :
    Hafshah bintu Umar berkata : Tidakkah kau tahu Rasulullah bersabda : “Dia (Dajjal) keluar hanyalah karena satu amarah yang ia rasakan”. (HSR Muslim No. 2932)

    2. Ketika Abdullah Ibnu Umar meriwayatkan hadits dibawah ini, ia tidak menghadirkan saksi sebagai persyaratannya :
    Abdullah bin Umar berkata : Rasulullah bersabda : “… Ketahuilah dia (dajjal) itu buta sebelah matanya, adapun Allah tidaklah demikian”. (HSR Bukhari Muslim No. 2930)

    Hal tersebut diatas adalah bukti betapa Umar mengajarkan kepada anak-anaknya (Hafshah dan Abdullah) untuk tidak mempersyaratkan adanya saksi saat periwayatan hadits aqidah secara ahad.

    Bahkan Umar sendiri tidak pernah menghadirkan saksi saat beliau meriwayatkan hadits dari Rasulullah.
    Contoh :
    Dari Umar bin Khathab, ia berkata : Rasulullah bersabda : “… Apabila (seseorang menjawab lafadz muadzin) dengan jawaban sepenuh hatinya maka ia akan masuk Surga”. (HSR Muslim)

    Dalam meriwayatkan hadits diatas Umar tidak menghadirkan saksi atau dengan kata lain beliau tidak pernah mempersyaratkan adanya saksi, kecuali dalam perkara Qadha’ wa syahadah.

  28. titok priastomo said,

    Priyodjatmiko berkata

    Kekeliruan sebagian shahabat HT adalah mereka menarik kaidah umum ini untuk menolak aqidah mengenai adzab qubur dll, padahal ulama salaf yang berpendapat hadis ahad hanya menghasilkan tingkatan dzhanni tidak menolak sebagian perincian aqidah yang dikeluarkan dari hadis ahad. Dan pendapat Syaikh al Buthy dan Qardhawi juga sama dengan ulama salaf tersebut.

    Komen saya: Kekeliruan anda adalah menyangka bahwa HT menolak hadits ahad dan menolak siksa kubur atau seluruh info dari hadits ahad. Padahal, HT tidak menolak hadits ahad, hanya menempatkannya sebagai informasi yang tidak sampai pada tataran qoth’i alias dzanniy, tapi bukan berarti ditolak.

    KomaHT
    Anda tidak bisa membedakan antara proses penyampaian riwayat dan pengambilan riwayat sebagai dalil. Penyampaian riwayat tidak butuh saksi, lain halnya dengan penyampaian tuduhan/dakwaan dalam peradilan.
    Lain lagi bagi si pendengar, dia menganggap riwayat yg diterimanya itu sebagai dalil yang lemah, sedang, kuat, atau qoth’i tergantung faktor lain. Jumlah jalur periwayatan menentukan penilaian.

  29. pengelolakomaht said,

    Ini kan kita bicarakan bagaimana sikap Umar terhadap aqidah hadits ahad ya akhi…

    Anda atau teman2 anda mengklaim umar menolak jika cuma satu shahabat yang menyampaikan aqidah, betul gak ?

    Jika iya berarti mafhum mukholafahnya kan berarti ketika umar atau shahabat yang lain meriwayatkan aqidah dari Nabi harus ada shahabat lain yang membenarkan perkataannya, sebab jika tidak ada pasti diprotes shahabat dan ditolak perkataannya, begitulah konsekuensi paham anda jika anda mau mendalaminya saudaraku..

    Makanya saya sangat berupaya menyadarkan kekeliruan anda dan kelompok anda bukan karena saya benci saudaraku…
    Tapi karena “The Domino Effect” dari fatwa kelompok anda sangat mengerikan bagi aqidah ummat.

    Dari segi mafhum mukholafah saja sudah bertabrakan, belum sisi yang lain saudaraku…

  30. titok said,

    Menyampaikan hadits itu tidak perlu saksi, meski dalam aspek aqidah. Ini dari sisi si periwayat hadits. Tapi, menganggap apakah yang diriwayatkan itu sebagai suatu hal yang qoth’i atau dzanni, itu masalah lain.

    Seseorang meriwayatkan hadits yang mengandung masalah ghoib itu tidak apa-apa. Jika ternyata hanya jalur dia yang meriwayatkannya, maka dianggap hadits ahad, dan berfaedah dzanni. Yang seperti ini dibenarkan, tapi tidak qoth’i. Tapi, jika ternyata ada beberapa jalur lain yang juga meriwayatkannya sampai derajat mutawatir, maka dianggap hadits mutawatir, dan dianggap qoth’i. Hadits ini bukan hanya dibenarkan, tapi mengingkarinya kafir.

  31. pengelolakomaht said,

    Wah saya sependapat dengan anda bahwa menyampaikan hadits itu tidak perlu saksi dan yang tidak sependapat justru saudara kita yang mulia akhi HANICHI AGUNG HANIF,
    kata beliau kenapa ya Umar ketika ada yang menyampaikan hadits tentang diyat memukul perut seorang ibu sehingga sampai menjatuhkan janin yang ada di dalam perutnya kok Umar meminta saksi.

    Perhatikan kata-kata Umar bin Khaththab :
    “‘DATANGKAN KEPADAKU ORANG YANG MENYAKSIKAN BERSAMAMU TERHADAP KEPUTUSAN NABI shallallahu ‘alaihi wa sallam ITU.”
    (HR. Muslim dalam Kitab Shahih Muslim halaman 1311, juz III.)

    Mungkin saya serahkan saja beliau ini kepada anda sebab anda dan beliau kan sama-sama di Hizbut Tahrir.

    Untuk anda (Yth. akh Titok) saya mau nanya nih,
    Kalau ada muslim yang tidak mengimani adanya pertanyaan munkar nakir itu dosa besar apa dosa kecil ya ?

  32. titok said,

    Apa arti mengimani?

  33. pengelolakomaht said,

    Pengertian menurut siapa ? ahlus sunnah atau qadariah ? Madzhab maliki dan syafi’i atau hanafi ? saya atau anda ?
    Saya mengalah saja, silahkan gunakan pengertian iman menurut anda atau kelompok anda dan jawablah pertanyaan saya saudaraku.

    Kalau ada muslim yang tidak mengimani adanya pertanyaan munkar nakir itu dosa besar apa dosa kecil saudaraku ?

  34. priyodjatmiko said,

    titok priastomo berkata,

    Komen saya: Kekeliruan anda adalah menyangka bahwa HT menolak hadits ahad dan menolak siksa kubur atau seluruh info dari hadits ahad. Padahal, HT tidak menolak hadits ahad, hanya menempatkannya sebagai informasi yang tidak sampai pada tataran qoth’i alias dzanniy, tapi bukan berarti ditolak.

    Komen saya (priyo): Lho bagian mana yang saya bilang HT menolak Hadits ahad?

  35. mujahid muda said,

    assalamualaikum salam ukhuwah untuk semuanya….
    waduh makin panas aja nih…..
    dinginkan dulu akh…pake es batu..heheh……
    boleh tau ga hadist ahad itu apa????ana kurang faham..soalnya ini titik tekannya pada azab kubur..

    apakh syaikh yusuf qardhawi memang menolak hadist ahad..

  36. Hadits Ahad itu hadits yang perawinya tidak terlalu banyak yaitu :
    Gharib : jika satu shahabat yang meriwayatkan.
    Aziz : jika dua shahabat yang meriwayatkan.
    Masyhur : jika tiga atau lebih namun masih bisa dihitung jari.
    Semua diatas disebut hadits ahad, jadi jika ada hadits diriwayatkan oleh Abu Bakar, lalu diriwayatkan pula oleh Umar bin Khathab, lalu diriwayatkan lagi oleh Ustman bin Affan, lalu diriwayatkan juga oleh Ali bin Abi Thalib, maka Hadits tersebut masih disebut Hadits Ahad.

  37. abu fathimah said,

    Setahu saya memang beberapa ulama menganggap hadist ahad tidak sampai kepada derajat yaqin seperti an nawawi. tetapi tidak berarti mereka tidak berhujjah dengannya. Setahu saya HT tidak mengambil hadits ahad dalam masalah aqidah saja tetapi tidak dalam masalah yang lain. Menurut saya Ini merupakan pendapat yang aneh. Bagaimana tidak, dalam sebuah hadits terdapat banyak faedah. Bisa dalam Aqidah, Akhlaq, Muammalah. Kita ambil contoh haditst yang sangat masyhur dan merupakan hadits ahad : “Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia niatkan” (HR. Bukhari dan Muslim).
    Imam Syafii : Hadits ini merupakan 1/3 ilmu dan di dalamnya tergantung 70 masalah fiqh.
    Imam Ahmad : Hadits ini merupakan pokok agama Islam. Ada 3 ushul hadits dalam Islam:
    Hadits 1: Setiap amal tergantung pada niatnya
    Hadits 2: amal yang tidak ada dariku maka tertolak
    Hadits 3: yang halal sudah jelas dan yang haram sudah jelas.
    Para ulama telah menjadikan hujjah hadits ini dalam semua masalah yang dikandungnya, entah dalam masalah aqidah atau lainnya.

    Jadi kalau ada orang yang tidak mengambil hadits ini dalam masalah aqidah berarti ada bagian yang di tolak dalam satu sisi dan di terima dalam sisi yang lain. Sungguh ini kaedah yang sangat aneh dan tidak bisa diterapkan oleh orang yang berakal sehat.
    Kalau orang tersebut menolak dalam masalah aqidah, maka bagian text hadits mana yang ditolak??? padahal dalam satu kalimat ucapan nabi terdapat berbagai macam faedah ilmu.
    Allah telah menganugrahkan nabi dengan jawamiul kalam (kata-kata singkat tetapi maknanya luas). Sehingga tidak bisa seseorang untuk menolak sebuah makna dan menerima makna yang lain

    abu fathimah

  38. khadim said,

    assalamualaikum.
    bismillah..

    jadikan situs ini sebagai silaturrahim kita….!!!
    dan berbeda pendapat itu masyru’ alias boleh…
    dan itu sudah terjadi pada saat masa emas di 3 kurun.
    yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas.
    sedangkan yang masih ragu-ragu, bisa di tanya langsung dengan ahlinya.
    jangan kita baru ikut kajian sebentar dan berani ngomong yang macam-macam.

    itu kurang etika namanya…
    bagi kita semua terus semangat belajar dan menggali ilmu islam.
    jangan di permasalahkan HT, ikhwan,salaf atau pun salafyyin dsb, yang di permasalahkan itu salafi alias salah fikir.

    gara-gara sibuk dengan hal yang kecil, islam makin lemah dan mudah masuk pemikiran sekuler, liberal. dan ini yang harus di perangi tuntas.

    salam kenal tuk semua ya…..

  39. abu faraas said,

    assalamu’alaikum…jujur saja ikhwan..ana bingung dengn pernyataan dari sebuah tulisan lepas seorang syabab HT yang berbunyi “:

    Yang dimaksud dengan “pembenaran secara pasti” adalah pembenaran yang tidak mengandung keraguan sedikit pun. Dengan kata lain, sebuah keyakinan yang tidak mengandung kemungkinan/peluang salah walau hanya 1%. Maka batasan ini mengecualikan pembenaran yang tidak bersifat jazm/pasti dari lingkup pengertian iman, seperti pembenaran-kuat (gholabatudz-dzon). Jadi sekedar pembenaran-kuat yang tidak jazm tidak bisa disebut iman.

    Yang dimaksud “sesuai dengan fakta” adalah pembenaran tersebut memang sesuai dengan realitas, bukan keyakinan yang membabi-buta. Sebuah keyakinan dikatakan benar tatkala keyakinan itu memang sesuai dengan realitas.

    Maksud dari “berdasarkan bukti” adalah bukti yang menunjukkan bahwa keyakinan itu memang sesuai dengan realitas. Pembenaran merupakan dampak dari pengetahuan. Jika kita mengetahui bahwa realitas bumi itu bulat, maka kita akan membenarkan bahwa bumi itu bulat. Dan pengetahuan manusia terhadap realitas itu didapat melalui bukti. Jika kita tidak mendapatkan bukti apa pun yang menunjukkan bahwa bumi itu bulat, maka kita tidak akan pernah tahu bahwa bumi itu bulat -seperti manusia pada masa lalu. Tapi adanya perjalanan mengitari bumi membuat orang tahu secara pasti bahwa bumi itu bulat….”.

    dari perkataan ini ana (yang awam dan perlu penjelasan) memahami bahwa masksud ucapan syabab terebut adalah :
    1. iman adalah keyakinan 100 % ga boleh kurang meski 0,00001%.
    2. Iman itu harus didukung dengan dalil yang qath’i
    3. kemudian keimanan ini harus berdasarkan bukti (realitas). dan menurut beliau dicontohkan..kita percaya bahwa bumi ini bulat SETELAH ADA BUKTI SESUAI KENYATAAN (yang terindera oleh mata telanjang) bahwa bumi itu bulat. baik itu dilihat dengan kapal makhluk plenet dari luar angkasa (numpang naik kapal alien)…atau melakukan penjelajahan bumi…..

    ana cuma mau nanya…..apa syabab HT ini pernah ketemu malaikat ? melihat dengan mata sendiri dan menjadi sebuah REALITA bagi dirinya sehingga ia beriman akan adanya malaikat ? apakah dia juga melihat JIN ? Melihat NERAKA ? Syurga ?.

    hmmm……ana bingung …..ulama seperti ibnu taimiyah, ibnu qoyim, ibnu katsir , imam syafi’i dan lain-lain…mereka beriman akan adanya azab kubur dn nikmat kubur….dan pada saat mereka mengimaninya …mereka belum pernah masuk kubur dan merasakan sendiri, sehingga menurut syabab HT ini menjadi sebuah relita yang terindera……tapi para imam dan ulama ini beriman dengan azab kubur ini…..

    ana bingung…syabab HT ini lebih pintar dari pada para imam dan ulama tersebut…atau….memang beliau (syabab HT) sedang bemimpi ?…atau…..mohon dijelaskan saja..afwan..jangan tersingung ya..ana awan…eh awam..syukron

  40. abu faraas said,

    mas muadz bin jabbal..pernah diutus sendirian ke YAMAN…secara ahad….membawa prmasalahan aqidah…tapi penduduk yaman ga bilang dzhon….meski muadz menyampaikan sendirian..padahal penduduk yaman saat ini banyak ynag masih kafir mas….nashrani dan majusi….tapi mereka beriman….muadz bin jabbal menyampaikanmasalah aqidah (keimanan) juga hukum sholat, dll……kok bisa HT begini ya ???……..au ah gelap

  41. titok priastomo said,

    Tuk Abu Faraas

    Ana bingung kenapa antum bingung.

    Kan sudah dijelaskan, dalil itu ada dua: naqli dan ‘aqli. Saya yakin sepenuhnya bahwa surga, malaikat jin itu ada dalam kenyataan, 100% tanpa keraguan, krn ada dalil naqli berupa al-quran dan as sunnah yang menunjukkannya.

    Jadi, kalo antum baca, yang lengkap. Kalo bacanya lengkap, tentu tidak bingung.

  42. rio said,

    Syukran informasix. Sgt bermanfaat…

  43. jabon said,

    syukron katsiron ya…..atas infonya

  44. blog yang sangat menagumkan bagi saya khususnya

  45. jabon said,

    bener master di sini sangat ermanfaat

  46. setiyo said,

    kunjungi forum diskusi menarik ini :
    http://bekleedautocar.blogspot.com

    • rizal said,

      Jika yang menganggap hadits ahad yufidu zhonn sehingga ditolak dalam masalah aqidah datang menyampaikan masalah aqidah pd ana , maka ana tolak . Bukan karena isinya tapi karena ia datang sendirian seperti khobar ahad , walaupun pendapatnya di ikuti oleh orang banyak . Jika perawi hadits yg tsiqoh di tolak karena khobar ahad , maka antum lebih layak untuk ditolak .

  47. ardhy said,

    assalamualakum,
    kalau saya lebih percaya pendapat imam syafi’i dari pada qordowi atau taqiyudin :
    Orang pertama yang tidak menerima hadits ahad adalah Ibrahim bin Ismail bin Aliyah (193 H). Dia merupakan salah satu tokoh Jahmiyah. Setelah Imam Syafi’i mendebatnya dan membatalkan hujjah-hujjahnya, dan dia tetap mengingkari hadits ahad, maka Imam Syafi’i mengatakan : “Ibn Aliyah telah sesat. Dia duduk di pintu al-Dhawall (…???…) menyesatkan manusia”. (Mausu’ah Ahlis Sunnah 1/513).

    Ada orang bertanya kepada Imam Syafi’i rahimahullah, dia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menetapkan demikian dan demikian.” Lalu orang itu bertanya kepada Imam Syafi’i rahimahullah : “Bagaimana menurutmu?”
    Maka Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Maha Suci Allah! Apakah kamu melihat saya dalam bai’at, kamu melihat saya diikat? Saya berkata kepadamu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menetapkan, dan kamu bertanya, ‘bagaimana pendapatmu?’ ”[ Lihat Mukhtashar Ash Shawwa’iq Al Mursalah ala Al Jahmiyah wa Al Mu’aththilah 2/350, karya Ibnul Qayyim diringkas oleh Muhammad bin Al Masih, diedarkan oleh Lembaga Kajian Ilmiyah dan Fatwa Riyadh dan lihat Ar Risalah Imam Syafi’i halaman 401, tahqiq Ahmad Syakir terbitan Al Muhtar Al Islamiyyah cetakan II 1399 H, dan lihat Syarah Ath Thahawi halaman 399 karya Ibnu Abil Izz). Kemudian Imam Syafi’i rahimahullah menjawab : “Apabila saya meriwayatkan hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, lalu saya tidak mengambilnya, maka saya akan meminta kamu agar menjadi saksi bahwa akal saya telah hilang “[Lihat Mukhtashar Ash Shawwa’iq 2/350.].

    Imam Syafi’i rahimahullah tidak membedakan antara hadits ahad atau mutawatir, hadits tentang aqidah atau amaliyah. Namun yang dibicarakannya hanya berkisar tentang shahih atau tidaknya suatu hadits.
    Imam Asy-Syafi’i di dalam Ar-Risalah, (hal 412), “Sesungguhnya beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seorang kepada suatu kaum, dengan membawa kabar. Jika beliau menginginkan, mungkin beliau langsung mendatangi kaum itu dan berbicara
    kepada mereka atau beliau mengutus kepada mereka beberapa
    orang, namun beliau hanya mengutus seorang yang diketahui kejujurannya.”
    Kemudian pada hal 457 beliau berkata, “Seandainya boleh bagi seseorang untuk menetapkan bahwasanya seluruh kaum muslimin baik sekarang maupun dahulu telah sepakat akan
    kehujjahan Hadits ahad, niscaya akan ku katakan hal itu. Tetapi saya tidak ingat adanya perselisihan di kalangan ulama akan kehujjahan Hadits ahad.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: