April 20, 2008

Sutrah Bagi Orang Shalat (Bag. 1) : Pengertian & Hukum Sutrah

Posted in FIKIH, Islam tagged , , , , pada 3:27 am oleh Hanif al-Falimbani

Yang kami maksud dengan sutrah adalah sesuatu yang diletakkan si mushalli (orang yang shalat) di depannya. Bisa berupa tongkat, kayu, atau ina-in , dan sebagainya, yang dimaksudkan untuk membatasi tempat shalatnya, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa menyertainya dan memungkinkan baginya untuk bisa melaksanakan shalat dengan thuma’ninah tanpa dilewati oleh manusia atau hewan yang bisa memutuskan atau mengganggu shalatnya itu.

Menjadikan sesuatu sebagai sutrah didalam shalat itu hukumnya sunat. Dari Sabrah bin Ma’bad radhiyaLlahu ‘anhu, ia berkata : RasuluLlah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا صلى أحدكم فلْيستترْ لصلاته ولو بسهم. رواه أحمد والحاكم

“Jika salah seorang dari kalian melaksanakan shalat, maka hendaklah dia menetapkan sutrah untuk shalatnya, walaupun dengan satu anak panah.” (HR Ahmad dan al-Hakim)

Dari Ibnu Umar radhiyaLlahu ‘anhu :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا خرج يوم العيد أمر بالحَرْبة فتُوضع بين يديه، فيصلي إليها والناس وراءه، وكان يفعل ذلك في السفر، فمِنْ ثمَّ اتخذها الأمراء. رواه البخاري ومسلم

“Bahwa RasuluLlah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, apabila keluar pada hari raya, beliau memerintahkan (kepada pelayannya) untuk membawa tombak, lalu diletakkan didepannya. Dan beliau shallaLlahu ‘alaihi wa sallam shalat ke arah (tombak) itu, sedangkan orang-orang berada di belakangnya. Beliau shallaLlahu ‘alaihi wa sallam seringkali melakukan hal itu di dalam perjalanan, kemudian dicontoh oleh para umara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar radhiyaLlahu ‘anhu :

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي إلى راحلته. رواه مسلم وابن حِبَّان وابن خُزَيمة والدارمي

“Bahwa Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam shalat ke arah hewan tunggangannya (untanya).” (HR. Muslim, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, dan ad-Darimi)

Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dengan lafadz:

«إن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي إلى بعيره»

“Sesungguhnya Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam shalat ke arah untanya.”

Hadits ini merupakan penjelasan atas riwayat yang pertama.

Dari ketiga hadits ini bisa disimpulkan, bahwa RasuluLlah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam menjadikan sesuatu sebagai sutrah, dan beliau shallaLlahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kaum Muslim untuk menetapkan sutrah. Karena itu, menjadikan sesuatu sebagai sutrah itu hukumnya sunat, bukan mubah. Hukum sutrah ini sunat, bukan wajib, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى في فضاء ليــس بين يديه شـــيء. رواه أحمد

“Bahwa RasuluLlah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam shalat di tanah lapang, dan didepannya tidak ada sesuatu pun.” (HR. Ahmad)

Lalu dimanakah si Mushalli meletakkan sutrahnya?

Yang paling utama adalah meletakkan sutrah itu di depannya dengan sedikit bergeser ke kanan atau ke kiri, tidak boleh tepat di arah yang menjadi kiblatnya. Dari al-Miqdad bin al-Aswad radhiyaLlahu ‘anhu, ia berkata:

ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم صلَّى إلى عمود ولا عود ولا شجرة إلا جعله على حاجبه الأيمن أو الأيسر، ولا يصمُد له صمْداً. رواه أحمد

“Aku tidak melihat RasuluLlah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam ke arah tiang, kayu atau pohon, kecuali menjadikannya berada di sebelah kanannya atau sebelah kirinya, dan beliau tidak lurus mengarah ke situ”. (HR Ahmad)

Disunnahkan untuk berdiri di dekat sutrahnya, dan jangan menjauhinya, sehingga terlalu lebar dari yang diperlukannya untuk bersujud. Sebab, sutrah itu diletakkan tidak lain dalam rangka menetapkan satu area tertentu sebagai tempat shalat. Oleh karena itu, tempat tersebut tidak perlu terlalu luas dan melebihi kadar yang dibutuhkannya. Dari Sahl bin Abi Hamtsah radhiyaLlahu ‘anhu, ia berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا صلى أحدكم إلى سُترة فلْيَدْنُ منها لا يقطع الشيطــان عليه صلاته. رواه النَّسائي وابن حِبَّان

“RasuluLlah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap ke sutrah, maka hendaklah dia mendekat ke sutrah itu, agar setan tidak memutuskan shalatnya.’” (HR. an-Nasai dan Ibnu Hibban)

Al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan hadits ini dengan lafadz:

إذا صلى أحدكم فلْيُصلِّ إلى سُترة وليدنُ منها، لا يقطع الشيطان عليه صلاته

Jika salah seorang dari kalian shalat maka hendaklah dia menghadap sutrah, dan mendekat ke sutrah itu, sehingga setan tidak akan memutuskan shalatnya.”

Setan disini maksdunya adalah setiap yang lewat di depan si mushalli, bisa berupa manusia atau hewan yang lewat, tepat di tempat shalatnya. Penjelasan lebih gamblang akan kami paparkan nanti.

Tatkala berdiri tegak di area shalat, hendaknya jarak sutrah dari pijakan kedua kaki tidak lebih dari tiga hasta atau dua meter. Dari Abdullah bin Umar radhiyaLlahu ‘anhu, ia berkata:

ثم صلى أي النبي صلى الله عليه وسلم وجعل بينه وبين الجدار نحواً من ثلاثة أذرع. رواه النَّسائي

“…Kemudian beliau shalat—yakni Nabi saw—dan antara dirinya dengan dinding itu jauhnya sekitar tiga hasta.” (HR. an-Nasai)

Ahmad meriwayatkan hadits ini dengan lafadz:

ثم صلَّى وبينه وبين القبلة ثلاثة أذرع

“Kemudian beliau shallaLlahu ‘alaihi wa sallam shalat, dan antara dirinya dengan kiblat itu sejauh tiga hasta.”

Seandainya dia (si Mushalli) menjadikan panjang area shalatnya itu setengahnya saja dari ukuran tadi, maka dia telah mendapatkan sunnah juga. Dai Sahl bin Sa’ad as-Sa’idiy, ia berkata:

كان بين مصلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وبين الجِدار ممرُّ الشاة. رواه مسلم والبخاري وابن حِبَّان

“Adalah jarak antara tempat shalat RasuluLlah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dan dinding itu, kira-kira cukup untuk berlalunya kambing.” (HR. Muslim, Bukhari dan Ibnu Hibban)

RasuluLlah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam telah menjadikan dinding itu sebagai sutrahnya, dan rentang area tempat shalat beliau shallaLlahu ‘alaihi wa sallam tidak lebih dari satu meter, yakni sekedar jarak yang diperlukan kambing untuk lewat.[]

bersambung ke Bagian 2: Sutrah Imam…….

[Tulisan tentang sutrah ini dibagi ke dalam 5 bagian:

Sutrah Bagi Orang Shalat (Bag. 1) : Pengertian & Hukum Sutrah

Sutrah Bagi Orang Shalat (Bag. 2) : Sutrah Imam

Sutrah Bagi Orang Shalat (Bag. 3) : Menahan Orang yang Lewat Ketika Sutrah Telah Diletakkan

Sutrah Bagi Orang Shalat (Bag. 4) : Sesuatu yag Lewat yang Bisa Memutuskan Shalat

Sutrah Bagi Orang Shalat (Bag. 5) : Shalat Kearah Orang yang Sedang Tidur atau Binatang Ternak

Tulisan ini disalin ulang dari kitab :

Tuntunan Shalat Berdasarkan qur’an dan Hadits”, Karya Syaikh Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, penerbit Pustaka Thariqul Izzah, Cetakan I: Maret 2008, penerjemah Uwais al-Qarni.

Dan teks haditsnya dari kitab aslinya yang berjudul الجامع لأحكام الصلاة (Al-Jami’ li Ahkamish Shalah Juz Kedua) . Karya Syaikh Abi Iyas Mahmud Bin Abdul Lathif bin Mahmud (‘Uwaidhah) –hafidzahuLlah ta’ala—.]

6 Komentar »

  1. Rhean_Hamzah said,

    Gung…
    klo jaket dijadiin sutrah pie Gung??

  2. Akh Aban, tolong dibaca lagi di bagian awalnya deh ..

    Yang kami maksud dengan sutrah adalah sesuatu yang diletakkan si mushalli (orang yang shalat) di depannya. Bisa berupa tongkat, kayu, atau ina-in , dan sebagainya, yang dimaksudkan untuk membatasi tempat shalatnya, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa menyertainya dan memungkinkan baginya untuk bisa melaksanakan shalat dengan thuma’ninah tanpa dilewati oleh manusia atau hewan yang bisa memutuskan atau mengganggu shalatnya itu.

    Jadi ya boleh-boleh saja.. di bagian kelima nanti akan dijelaskan lebih rinci lagi tentang sajadah.. apakah bisa dijadikan sutrah atau tidak.. kalau mau fotokopi bukunya silahkan saja akh.. sekarang saya bawa kok.. kan sekarang saya di palembang.. hehe.. belum tau ya..

  3. aban tetep ga suka vanilla said,

    Gung…
    ini ada pendapat yg bilang kalo sutrah itu wajib…

    KEWAJIBAN MENGHADAP SUTRAH

    Sutrah (pembatas yang berada di depan orang sholat) dalam sholat menjadi keharusan imam dan orang yang sholat sendirian, sekalipun di masjid besar, demikian pendapat Ibnu Hani’ dalam Kitab Masa’il, dari Imam Ahmad.

    Beliau mengatakan, “Pada suatu hari saya sholat tanpa memasang sutrah di depan saya, padahal saya melakukan sholat di dalam masjid kami, Imam Ahmad melihat kejadian ini, lalu berkata kepada saya, ‘Pasanglah sesuatu sebagai sutrahmu!’ Kemudian aku memasang orang untuk menjadi sutrah.”

    Syaikh Al Albani mengatakan, “Kejadian ini merupakan isyarat dari Imam Ahmad bahwa orang yang sholat di masjid besar atau masjid kecil tetap berkewajiban memasang sutrah di depannya.”

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Janganlah kamu sholat tanpa menghadap sutrah dan janganlah engkau membiarkan seseorang lewat di hadapan kamu (tanpa engkau cegah). Jika dia terus memaksa lewat di depanmu, bunuhlah dia karena dia ditemani oleh setan.”
    (HR. Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang jayyid (baik)).

    Beliau juga bersabda:

    “Bila seseorang di antara kamu sholat menghadap sutrah, hendaklah dia mendekati sutrahnya sehingga setan tidak dapat memutus sholatnya.”
    (HR. Abu Dawud, Al Bazzar dan Hakim. Disahkan oleh Hakim, disetujui olah Dzahabi dan Nawawi).

    Dan hendaklah sutrah itu diletakkan tidak terlalu jauh dari tempat kita berdiri sholat sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat dekat sutrah (pembatas) yang jarak antara beliau dengan pembatas di depannya 3 hasta.”
    (HR. Bukhari dan Ahmad).

    Adapun yang dapat dijadikan sutrah antara lain: tiang masjid, tombak yang ditancapkan ke tanah, hewan tunggangan, pelana, tiang setinggi pelana, pohon, tempat tidur, dinding dan lain-lain yang semisalnya, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

    menurutmu pie Gung???

  4. aban tetep ga suka vanilla said,

    Sumbernya itu dari situs sholat-kita.cjb.net

  5. agung hanif said,

    untuk akh Aban,

    Kalau dilihat dari tulisan Syaikh Abu Iyas diatas, beliau mengambil kesimpulan bahwa sutrah tidak wajib dengan cara menggunakan dalil dimana Rasul صلى الله عليه وسلم pernah shalat di tanah lapang, dan didepannya tidak ada sesuatu apapun, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas :

    أن رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى في فضاء ليــس بين يديه شـــيء. رواه أحمد

    “Bahwa RasuluLlah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam shalat di tanah lapang, dan didepannya tidak ada sesuatu pun.” (HR. Ahmad)

    Karena memang kalimat perintah tidak langsung jatuh kedalam tuntutan wajib dilaksanakan, hingga ada qarinah-qarinah yang menjelaskan kewajibannya, dan tidak ada dalil yang menunjukkan kebolehan melakukan sebaliknya tanpa uzur.. lengkapnya monggo didonlot kitabnya syaikh ‘Atha’ bin Khalil DISINI..

  6. Supermance said,

    wah, baru tau nih gw, thx buat ilmunya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: