Februari 3, 2009

Ibnul Mubarak dan Popularitas

Posted in Teladan pada 9:13 pm oleh Hanif al-Falimbani

Al-Hasan berkata[1] : “Pada suatu hari aku pernah bersama-sama dengan Ibnul Mubarak. Maka kami mendatangkan wadah air minum (karena kita semua pada waktu itu memang sedang kehausan). Orang-orang langsung minum dari wadah air minum tersebut. Setelah itu Ibnul Mubarak mendekati wadah air minum untuk kemudian ikut meneguk airnya. Sedangkan keberadaan beliau di tengah-tengah mereka tidak diketahui oleh mereka. Karena jika mereka mengetahui keberadaan beliau, tidak diragukan lagi bahwa mereka akan antri dan memberikan prioritas kepada beliau. Setelah usai meneguk air, Ibnul Mubarak berkata kepadaku: “Seharusnya kehidupan itu berjalan seperti ini. Identitas kita tidak diketahui dan keberadaan kita tidak diagung-agungkan.”

Al-Hasan berkata bahwa ketika mereka sedang berada di Kuffah, Abdullah bin Mubarak (Ibnul Mubarak) sedang membacakan catatan kitab manasik kepada al-Hasan (yang telah dicatat dari hasil pengajian gurunya  tersebut). Beliau tiba-tiba berhenti ketika sampai pada kalimat : “Abdullah yang mengatakan hal ini sehingga kami meriwayatkan dari beliau.” Lantas Ibnul Mubarak berkata: “Siapakah yang menulis kalimat ini dan mengaku berasal dari perkataanku?” al-Hasan berkata: “Penulisnya adalah orang yang menulis kalimat itu.” Maka Ibnul Mubarak terus berusaha menghapus tulisan itu dengan tangannya sampai akhirnya hilang. Setelah itu beliau berkata: “Siapakah sebenarnya aku ini sehingga perkataanya sampai diabadikan?”[2]

Dari al-Hasan bin al-Hasan al-Maruzi, dia berkata Abdullah bin Mubarak berkata : “Jadikan kamu seorang yang suka Khumul[3] dan tidak suka popularitas. Namun jangan sampai Kamu menujukkan pada orang lain bahwa dirimu tidak menyukai popularitas yang malah menyebabkan dirimu terkenal. Karena pengakuanmu sebagai orang zuhud merupakan upaya untuk menghilangkan kezuhudan dalam dirimu sendiri. Sebab dengan demikian, tanpa sengaja Kamu akan mendatangkan pujian dan sanjungan orang lain pada dirimu.”[4]

Muhammad bin al-Mutsanna berkata: kami diberitahu oleh Abdullah bin Sinaan, dia berkata: “Dulu aku pernah bersama-sama dengan Ibnul Mubarak dan Mu’tamar bin Sulaiman di Tharasus. Lantas ada orang-orang yang meneriakkan: “Ada pengerahan massa lawan.” Maka Ibnul Mubarak dan orang-orang keluar rumah. Ketika kedua kelompok sudah berbaris, tiba-tiba ada seorang berbangsa Romawi muncul. Dia mengajak kaum Muslimin untuk berduel satu lawan satu. Ada seorang laki-laki dari kalangan Muslim yang maju ke depan untuk memenuhi tantangan seorang kafir tersebut. Orang kafir itu bergelut sangat dahsyat sehingga berhasil membunuh seorang Muslim yang menjadi tandingannya. Dia terus saja menantang kaum Muslim satu persatu sehingga dia berhasil membabat enam orang Muslim. Mulailah dia berlagak sombong di antara kedua kelompok dengan terus menantang berduel. Terang saja tidak ada seorangpun yang berani maju setelah itu.

Tiba-tiba Ibnul Mubarak menoleh ke arahku sembari berkata: “Wahai fulan, jika aku terbunuh nanti, maka begini begitu!” Tidak lama kemudian beliau menggerakkan kudanya dan mengajak duel musuh yang sudah semakin congkak. Hampir satu jam mereka berduel, dan akhirnya orang kafir tadi terbunuh. Sekarang tiba giliran Ibnul Mubarak yang menantang duel pihak kafir. Tantangan itu disambut oleh orang kafir lain yang akhirnya jatuh di bawah hunusan pedangnya. Beliau terus menantang orang kafir sampai akhirnya berhasil membunuh enam orang peduel. Ibnul Mubarak terus mengajak musuh untuk berduel satu lawan satu. Namun kelihatannya mereka mulai keder terhadap keperkasaan beliau. Akhirnya beliau memukul kudanya dan menyingkir meninggalkan kedua kelompok yang sedang berhadap-hadapan. Beliau menghilang sehingga kami semua tidak lagi merasakan apa-apa. Ternyata aku menemukan beliau sudah berada di tempat semula, disebelahku.[5]


[1] Beliau adalah salah seorang santri Ibnul Mubarak, namanya diperkirakan al-Hasan bin ar-Rabi’, al-Hasan bin ‘Arafah dan al-Hasan bin ‘Isa bin Masarja. Entah mana yang dimaksud dari ketiga nama yang telah dikemukakan. Lihat dalam Siyaar A’lamin-Nubalaa’ VIII/380.

[2] Shifatush-Shafwah IV/135.

[3] Yang dimaksud dengan khumul adalah menyamar dan tidak terkenal. Namun khumul bukan berarti bermalas-malasan. Lihat dalam kamus Al-Muhiith pada entri kata Kha-ma-la.

[4] Shifatush-Shafwah IV/137.

[5] Siyaar A’lamin-Nubalaa’ VIII/408-409.

8 Komentar »

  1. precious soul said,

    ibnul mubarak hebat ya.. jadi intinya kita ga boleh suka popularitas (sombong), tapi juga ga boleh nunjukkin kalo kita ga suka popularitas (pamer rendah hati) kan..? Kadang2 ga kerasa ya dua hal itu.. Rasa sombong kan gampang banget nongolnya.. Kita berusaha menampakkan bahwa kita ga sombong juga bisa jadi merupakan kesombongan lain ya.. Astaghfirullah..

  2. hanif said,

    Yup, tepat sekali.. begitulah.. Semoga Allah selalu meridhoi amal shaleh kita..

  3. real said,

    Subhanallah.. beda sekali dengan apa yang terjadi sekarang di jalan-jalan itu ya.. mereka semua inign terkenal.. tepai entah, apakah mereka juga ingin “terkenal” di hadapan Allah ta’ala saja..

  4. Alkifah said,

    Semangat juangnya patut di tiru…. Subhanalllah…

  5. adivictoria1924 said,

    assalamu’alaikum…salam ukhuwah akhi…minta ijin copas ke blog ana ya

  6. doumy said,

    salam perjuangan…

  7. adivictoria1924 said,

    assalamu’alaikum🙂

    ana undang ke sini ya🙂
    http://adivictoria1924.wordpress.com/2009/04/10/koreksi-atas-buku-wamy-dan-buku-derivatnya/#comments

  8. diajeng said,

    Assalamualaikum🙂 La haula wala quwwata illa billaah al-aliyil adhim🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: