Juli 3, 2007

Kejadian di Bangsal Waktu itu..

Posted in al-Mustanir, FIKIH, Khilafah, sirah pada 5:33 pm oleh Hanif al-Falimbani

**Saat itu, jenazah Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wa sallama– belum diurus dan pintu rumah beliau ditutup oleh keluarga beliau.**

Hai orang-orang Muhajirin, kalian hendak pergi kemana?

Kami hendak pergi ke tempat kaum Anshar

Jangan, janganlah kalian mendekati mereka, selesaikan urusanmu sendiri wahai kaum Muhajirin.

Demi Allah, aku akan mendatangi mereka.Baca entri selengkapnya »

Sehari Bareng Mas Zaenal

Posted in Tumpah Hati pada 5:25 pm oleh Hanif al-Falimbani

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari senin, aku dapat pengalaman yang sangat berharga. Mas Zaenal, seorang pengemban dakwah dari Malang, dia telah berjasa memberikan pengalaman baru buatku. Mengapa? Karena hari itu, Baca entri selengkapnya »

Juni 24, 2007

Ketika Bumi Menemui Hari Terakhirnya

Posted in al-Mustanir, Tumpah Hati pada 8:00 am oleh Hanif al-Falimbani

Sebagian besar bencana dan musibah yang kita hadapai merupakan buah dari ilmu dan teknologi.” Hawking

Pernahkah terbayangkan olehmu, apa yang terjadi ketika sebuah asteroid menubruk bumi? Atau ketika Rusia dan USA ontal-ontalan bom nukilr? Atau ketika virus H5N1 (Flu burung) menjadi pandemi? Atau ketika permukaan air laut naik 10 meter? Pernakah terbesit dalam benakmu, apa yang bakal kamu lakukan ketika itu terjadi? Baca entri selengkapnya »

Juni 11, 2007

Dunia ini “Kecil” Baginya

Posted in al-Mustanir, Tumpah Hati pada 12:42 am oleh Hanif al-Falimbani

Tadi malam aku berbincang dengan seorang teman akrab, sungguh aku mencintainya karena Allah. Dia adalah seorang pengemban dakwah yang ingin melanjutkan kehidupan Islam. Dimataku, dia seorang yang sangat mengagumkan, kehidupannya sederhana, bahkan sangat sederhana. Bayangkan, untuk mondok saja dia tidak sanggup membayar. Padahal hanya butuh uang sekitar 200ribu saja sebulan untuk makan, tempat tinggal dan iuran belajar di pondok, tapi saat ini dia keluar karena tidak sanggup membayar.

Tadi malam dia cerita tentang sesuatu yang membuatku tersentak. Baca entri selengkapnya »

Mei 27, 2007

Di Ruas Jalan Jendral Sudirman Jogja, Setahun Kemarin

Posted in Tumpah Hati pada 10:56 pm oleh Hanif al-Falimbani

Pertanyaannya, mengapa saya menampilkan tumpahan hati dari Kang Mas TITOK mengenai apa yang terjadi 27 Mei, setahun kemarin. Karena saya tahu cerita beliau lebih pantas untuk ditampilkan, daripada cerita hidup yang saya alami di waktu yang sama. Untuk Kang Mas Titok, afwan saya telah menampilkan tulisan antum tanpa izin dari antum, saya ambil dari milisnya Sobat Muda, yang antum kirim ke sana. Terakhir, semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua. AlhamduliLlah. Baca entri selengkapnya »

Kritik Ringkas Qadha’ wa Qadar Menurut Jabariyyah

Posted in al-Mustanir, Tumpah Hati tagged , , , , , , , pada 10:40 pm oleh Hanif al-Falimbani

Keterpaksaan dan kebebasan manusia dalam berkehendak telah menjadi polemik sejak zaman romawi kuno. Namun banyak yang tidak sadar bahwa pembahasan semacam ini sebenarnya tidak banyak berpengaruh terhadap kemajuan berfikir manusia., bahkan tidak jarang membuat orang menjadi tidak produktif dalam hidupnya dan terkesan hanya berkutat pada masalah yang mengawang-awang, tidak nyata, dan tidak membuahkan hasil yang menggembirakan ketika menemukan sebuah jawaban, melainkan timbul banyak pertanyaan-pertanyaan baru yang seakan-akan tidak ada habisnya.

 

Oleh karena itu, tulisan ini hanyalah akan menjabarkan pendapat faham Jabariyyah mengenai Qadha’ dan Qodar, beserta sedikit tanggapan terhadapnya. Baca entri selengkapnya »

Mei 13, 2007

Bendera dan Panji Umat Islam (1) : Warna Putih Untuk Bendera (Liwaa’)

Posted in al-Mustanir, FIKIH, Hizbut Tahrir, Khilafah pada 10:57 pm oleh Hanif al-Falimbani

Bender&saudarakudiPalestin

bendera besar

 

 

Risalah ini adalah tulisan yang diketik ulang dari sebuah buku yang sangat bernilai tinggi, buku yang telah menjelaskan dengan mengagumkan bagaimana seharusnya seorang Muslim menjunjung tinggi bendera dan panjinya, dan menyungkurkan bendera dan panji lainnya. Baca entri selengkapnya »

April 21, 2007

Habis TRIJI Terbitlah FORJI

Posted in Tumpah Hati pada 5:17 am oleh Hanif al-Falimbani

Judul diatas bukan dimaksudkan untuk mengingat hari Kartini yang jatuh hari ini, tapi hanya sebagai perumpamaan dari judul Buku yang katanya ditulis oleh Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang” jadi analogi yang dapat ditarik “Triji itu gelap dan Forji itu terang”. Itu benar, Triji yang saya maksudkan adalah 3G, yaitu suatu teknologi broadband (pita lebar) yang di Indonesia berjalan didalam bingkai telepon seluler, kita pasti sudah mengenal bagaimana Telkomsel berkoar-koar dengan Slogan “Satu Dunia Berjuta Aksi”. Lantas, mengapa Triji itu saya katakan gelap? Dan apa itu Forji? Mengapa saya katakan Terang? Baca entri selengkapnya »

April 20, 2007

Kisah Ubaid bin Umair tentang Ghadhdhdul Bashar

Posted in al-Mustanir, Tumpah Hati pada 3:53 pm oleh Hanif al-Falimbani

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

 

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

 

Artinya : “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.” (TQS. An-Nuur : 30-31)

matawanitaAbdullah bin Muslim al-‘Ajali menceritakan bahwa di kota Mekkah ada seorang laki-laki yang mempunyai istri yang cantik jelita. Pada suatu hari, sang istri berkaca dan memperhatikan wajahanya yang cantik jelita itu. Lalu, ia berkata kepada suaminya, “Menurut kamu, adakah seseorang yang tidak tergoda dan tertarik ketika melihat wajahku yang cantik ini?” Sang suami berkata, “Ada.” Sang istri berkata, “Siapa?” Sang suami menjawab, “Ubaid bin Umair.” Sang Istri berkata, “Kita buktikan, izinkan aku untuk merayu dan menggodanya.” Sang suami berkata, “Baiklah aku izinkan kamu.” Baca entri selengkapnya »

Maret 26, 2007

Dagelan Teroris Dalam Hipokritnya Laptop

Posted in Media Monitor pada 8:10 am oleh Hanif al-Falimbani

Pagi ini, saya dibuat tersenyum sinis ketika membaca halaman awal sebuah koran Nasional. Ada 4 artikel di halaman awal ini, foto besarnya tentang ulang tahun Uni Eropa yang ke-50. Dalam foto itu para pemimpin negara-negara yang tergabung dalam uni eropa berfoto bersama dan Kanselir Jerman Angela Merkel terlihat berada di tengah dengan warna baju dan ekspresi tubuh yang berbeda sendiri, maklum, dia adalah satu-satunya wanita dalam foto ini, dan memang negaranya, Jerman, menjadi tuan rumah pada perayaan setengah abad uni eropa. Dari keempat artikel yang ada, satu artikel berbicara tentang ulang tahun “persekongkolan” eropa, satu lagi berbicara tentang manajeman ekonomi pemerintah. Sedangkan dua artikel lainnya berisi tentang cerita dibalik orang-orang yang dituduh sebagai teroris.

Halaman kedua, dan sebenarnya ini halaman yang paling saya suka, karena berisi tentang kabar-kabar dalam negeri yang sedang hangat, menurut saya, harusnya halaman kedua ini ada di halaman terdepan. Di halaman ini ada berita yang bagi saya cukup menonjol, karena sekali lagi mampu menyentuh relung hati saya yang paling dangkal, kenapa? Karena ada berita Ketua DPR memastikan bahwa pemberian laptop kepada 550 anggota DPR akan tetap ada, Masya Allah. Dan kabar yang saya dengar dari mulut Roy Suryo, bahwa dana yang dialokasikan untuk satu unit laptop adalah 21 juta rupiah, wacks…, dan kata Roy juga, bahwa sebenarnya hanya dengan 7 juta saja, sebenarnya DPR bisa mendapatkan komputer dengan merek terkenal. Bayangkan 3 kali lipat, mungkin mereknya 3 kali lipat lebih terkenal juga ya.. Apa mungkin anggota DPR mau make Apple..??

Mungkin para petani akan bilang, “Dimana mata kalian wahai wakil rakyat.. Ketika gabah kami dihargai murah, karena impor beras yang kalian setujui… Mending uangnya untuk menutupi kerugian yang kami derita, kami sudah panas-panasan setiap hari, tapi tetap saja rugi, beda dengan anda, tiap hari duduk di tempat yang empuk lagi sejuk sambil tidur-tiduran lagi, untung lagi, dapat laptop lagi, mana rasa perwakilan anda terhadap derita yang terus-menerus kami alami.. mana mata kalian wahai wakil rakyat..??!!!”

Lanjut ke halaman Internasional yang berisi satu berita aneh dan satu berita lucu. Yang perlu dicatat, dua berita ini bukan berita kocak yang biasa ditaruh di kilasan kawat. Berita anehnya adalah tentang Sekjen PBB, Ban Kii-moon, yang ogah ketemu sama perdana menteri Palestina Ismail Hanieya. Alasannya simpel, karena Hanieya dari Hamas, dan Hamas gak mau mengakui Israel. Aneh.. Kan?? Lembaga yang menginginkan perdamaian dunia kok dirinya sendiri gak bisa berdamai dengan rakyat Palestina yang selalu tertindas.

Berita yang lucu, lagi-lagi datang dari anak cucu Umar bin Khaththab-radhiyaLlahu ‘anh-. Indonesia, Qatar dan Afrika Selatan, yang terpilih menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB menyatakan setuju atas resolusi DK PBB untuk menjatuhkan sangsi ke Iran karena pengayaan uraniumnya. Padahal ketiga negara ini mengaku sedih atas dikeluarkannya resolusi itu. Lucu, hipokrit, dan Aneh, sedih kok mau-maunya menyetujui. Gampang aja, klo saya jadi delegasi dari USA, saya akan katakan kepada delegasi dari Indonesia begini,

Anda boleh bersedih didepan mata rakyat anda sampai meneteskan air mata sekalipun, tapi anda harus menyetujui resolusi ini, ingat, anda masuk ke sini atas bantuan kami, kalau anda tidak mau menyetujuinya, saya bisa usulkan ke pemerintah saya untuk kembali memboikot suku cadang paralatan perang anda, atau saya akan mengusulkan untuk menambah intelijen di tengah rakyat anda dan menjebak orang-orang yang punya semangat besar dalam berjihad tetapi minim ilmu untuk nge-bom di sana sini, sehingga pemerintahan anda akan semakin jelek dimata umat Islam, karen kerjanya hanya menangkapi para ustadz saja. Atau, saya akan buat media memblow-up berita tentang laptopnya anggota DPR, sehingga anggota DPR gak jadi dapat laptop, yang pada akhirnya mereka akan menjadi semakin naik darah dan akan menanyai anda dengan ganas ketika anda melaporkan laporan pertanggungjawaban anda dari sini, bagaimana..??

Yahh.. sekali lagi, inilah salah satu episode Negeri Yang Terjajah dan terus terjajah, dan parahnya, gak sadar kalau sedang dijajah. Mau gak terjajah..?? Lepaskan penghambaan kepada manusia, kepada penghambaan sepenuhnya kepada Allah rabbul izzati. Caranya bagaimana? Tegakkan Aqidah dan Syariah Islam ditengah-tengah kehidupan masyarakat, dalam bingkai Khilafah Islamiyah dengan jalan damai tanpa kekerasan. Kok bisa?? Makanya, Ngaji doonng.. 😉

Maret 23, 2007

“Berburu” Dinasti Bush, Dinasti Saud

Posted in Tumpah Hati pada 2:24 pm oleh Hanif al-Falimbani

dinastikecilBeberapa bulan yang lalu, teman satu kos saya yang juga kolektor buku, cerita ke saya klo dia kemarin lihat buku bagus berjudul “Dinasti Bush Dinasti Saud” di Toko buku Toga, aku tanya berapa banyak? Ada sekitar 6 buah, dia jawab. Saya langsung katakan, pasti bukunya sudah habis. Persis, sehari setelahnya, saya coba lihat ke sana, dan ternyata benar, buku yang dimaksud sudah ndak ada.

Hari ini, setelah membaca beberapa resensi buku yang dimaksud, yang pada akhirnya menarikku untuk meningkatkan proses penyidikan jadi penyelidikan. Dari mencari jadi memburu, dan setelah memutari beberapa “book base” yang ada seperti Toga, Social, Gramedia, Soping, ternyata yang ada hanya di Gramedia, yahhh.. terpaksalah untuk kedua kalinya dalam sehari saya ke gramedia.. akhirnya saya beli buku di tempat yang paling saya tidak suka, Gramedia, karena disini gak ada diskon sama sekali, dan juga untuk ke lantai tiga tempat penjualan buku harus naik melintasi etalase produk-produk yang harganya selangit. Kayaknya kita dipaksa untuk melihat dagangan mereka sebelum ke toko utamanya.

bush dan pacarnyaAda banyak hal yang menarik dalam buku ini, nanti insya Allah akan saya buat resensi tersendiri. Ada cerita tentang bagaimana keluarga Bin Laden bisa terbang keluar AS pd tanggal 13 September 2001, padahal CIA memerintahkan dr sejak detik black september terjadi sampai 13 Sept jam 10 malam tidak boleh ada pesawat yang mengudara.

Juga tentang dirubahnya fatwa Syaikh Bin Baz tentang dihukumnya orang yang tidak mengakui kalau bumi itu datar, Syaikh Bin Baz-rahimahuLlah- yang juga termasuk anggota Dinasti Saud ini merubah fatwanya untuk tidak menghukum orang yang tidak percaya bahwa bumi itu bulat karena cerita salah satu pangeran kerajaan yang pernah ikut penerbangan antariksa, dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa bumi itu benar-benar bulat.. Nahh.. lho..

Maret 17, 2007

Ketika Para Stoisis Membangun Kembali “Gedungnya”

Posted in al-Mustanir pada 8:10 pm oleh Hanif al-Falimbani

*Ini cuplikan dari beberapa bagian yang kusukai dari buku “Iblis Menggugat Tuhan”. … Inti analogi Iblis yang aku suka adalah bahwa semua kejadian di alam semesta tidak bisa lepas dari kehendak Tuhan. Iblis menjadi biang dosa pun adalah sebuah grand-plot dari Tuhan. Iblis tidak bisa disalahkan dalam usahanya menyesatkan manusia!Jadi, jika ada mata Pedang yang mengarah ke lehermu, maka siapakah yang akan kamu maki dan salahkan? Pedang itu sendiri ataukah Sang Penggenggam Pedang?

Cuplikan paragraf diatas benar-benar menyentak kembali ingatanku tentang siapakah para Stoisis itu.

Stoisis atau Stoikis dalam bahasa arabnya sering disebut dengan rawwaqiyyun, yaitu para penganut filsafat Stoisisme (Stoicsm). Sedangkan Stoicsm diambil dari bahasa Yunani, Stoa. Stoa adalah nama sebuah gedung yang digunakan untuk mengajarkan filsafat stoisisme ini. Aliran filsafat ini didirikan oleh Zeno pada tahun 305 SM atau menurut sumber lain mengatakan 308 SM. Zeno sendiri hidup diantara tahun 336-264 SM.

Lantas pertanyaannya, kenapa aku jadi ingat para Stoisis ini ketika membaca paragraf diatas dan juga komentar-komentar dari Kang Raja Iblis? Padahal terjadi rentang waktu ribuan tahun antara Zeno dan Kang Mas Joe.

“Ruang Kosong”, Para Stoisis penganut Stoisisme mempunyai pandangan Fatalisme, atau mereka menyebutnya sebagai “Ruang Kosong”. Teori “Ruang Kosong” ini dicetuskan oleh Zeno, hal ini dapat dilihat ketika Aristoteles membantah teori ini dalam On Sophistical Refutations:

Dalam kasus argumentasi Zeno tadi yang menjelaskan tentang gerakan (sembarang perbuatan), maka ini adalah tidak mungkin” (Aristoteles, On Sophistical Refutations, Book I, Part 24).

Zeno berpendapat bahwa tidak ada gerakan (motion) secara mutlak yang terjadi dengan sendirinya. Pendapat ini juga bisa ditemukan dalam keterangan dari Aristoteles dalam buku Physics:

Everything that is in motion must be moved by something [Segala sesuatu yang bergerak, pasti digerakkan oleh sesuatu]” (Aristoteles, Physics, Book VII, Part 1).

Menariknya, Kaum muslimin terpedaya oleh teori-teori filsafat ini. Hal ini dapat dilihat dari munculnya aliran dari kaum Muslimin yang disebut Jabariyyah. Awalnya jika ditilik dari perkembangan sejarah, aliran ini merupakan reaksi dari aliran Mu’tazilah. Mengapa? Karena pada waktu itu tengah berkembang paham Freewill-Mu’tazilah, paham yang berpendapat bahwa La Qadar (tidak ada takdir), yang berarti manusia itu tidak terikat dengan apapun (termasuk Allah) ketika berkehendak dan berbuat. Paham ini dimunculkan pada masa tabiin (pasca sahabat) pertama kali oleh Ma’bad al-Juhani sekitar tahun 70H/691M.

Paham La Qadar ini diambil oleh Ma’bad dari Susan, orang Kristen yang kemudian memeluk Islam dan kembali menjadi Kristen. Kabar ini dikemukakan oleh al-Awza’i (al-Nasysyar, Nasy’ah), Ibnu Hajar, Muslim bin Yasar (Tahzhibut Tahzhib). Kabar ini diperkuat oleh bukti bahwa ada kesamaan ide Ma’bad dan Epikureanisme, yang menyatakan:

Whereas our own actions are autonomous, and it is to them that praise and blame naturally attach” [Ketika perbuatan pribadi kita adalah bebas, dan itu kembali kepada mereka, dimana pujian dan celaan merupakan suatu hal yang alamiah/wajar] (Epicurus, Letter to Menoeceus).

Kemudian ide ini turun-temurun hingga dipahami oleh Washil bin ‘Atha’, orang yang dikenal sebagai pendiri Mu’tazilah karena dia keluar dari majelis Hasan al-Basri karena berbeda pendapat dalam persoalan pelaku dosa besar. Washil bin ‘Atha’ ini seangkatan dengan Jahm bin Shafwan, yang sangat terkenal dengan paham Jabariyyah, Fatalisme, yang berbeda secara diametral dengan Freewill-nya Mu’tazilah. Jabariyyah berpendapat bahwa manusia berada di dalam keterpaksaan (determinis), tidak memiliki kemampuan atau kekuasaan untuk memilih dan bertindak, dapat dikatakan bahwa manusia seperti kapas yang diterbangkan angin, paham ini mirip bahkan bisa dikatakan sama dengan teori “ruang kosong” kaum rawwaqiyyun atau Stoisis tadi.

Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Kaum Mu’tazilah berkiblat kepada kaum Epikureanisme, sedangkan Jabariyyah memiliki kesamaan dengan paham Stoisisme. Paham Epikureanisme bertolak belakang dengan paham Stoisisme, sebagaimana halnya Mu’tazilah berseberangan dengan paham Jabariyyah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendapat yang mengatakan, “bahwa semua kejadian di alam semesta tidak bisa lepas dari kehendak Tuhan.” Adalah paham yang mirip dengan pendapat para Jabariyyun atau para Rawwaqiyyun atau para Stoisis walaupun direfleksikan dengan kisah iblis.

Karena itu, mengapa tulisan ini aku kasih judul “Ketika Para Stoisis Membangun Kembali Gedungnya”, karena telah lama paham ini runtuh dan reruntuhannya telah dibuang ke kotak sampah peradaban, namun ternyata ada segelintir orang yang mencoba mengais-ngais kembali sampah itu lalu ditumpuk kembali untuk menjadi gedung yang mempunyai desain lebih halus.

Langsung saja, tanpa perlu basa basi lagi, bahwa kedua paham ini, yaitu paham Stoisisme (Jabariyyah) maupun Epikureanisme (Mu’tazilah) adalah paham yang bathil (salah) bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa paham ini adalah paham yang menyesatkan kaum muslimin. Argumen ini bukan tanpa dasar, ini bisa dilihat dari dua sisi, secara empirik dan normatif.

Secara empirik, manusia adalah makhluk yang kemampuannya terbatas, menghitung jumlah pasir yang terlihat di pantai Krakal saja tidak bisa, apalagi mau mencoba meraba-raba suatu yang tidak terlihat, kehendak Allah? Merubah titik didih air dari 100 derajat ke 99 derajat saja tidak bisa, bagaimana mungkin menentukan dengan pasti bahwa perbuatannya adalah kehendak Allah? Menghitung jumlah bintang dilangit saja tidak bisa, bagaimana mungkin bisa tau bahwa perbuataanya itu tidak ada sangkut pautnya dengan Sang Pencipta? Sunggupun apa yang dikatakan oleh para filosof adalah perkataan yang tidak punya nilai kebenarannya sama sekali, karena bagaimana mungkin, mereka yang tidak pernah bertemu maupun melihat Allah, Sang Pencipta, dapat mengetahui secara pasti apa yang dilakukan dan dikehendaki oleh Alllah ‘Azza wa jalla? Apa yang dilakukan oleh para filosof tidak bernilai apapun selain hanya sebuah khayalan yang mengawang-awang entah kemana. Na’udzubiLlahi min dzalik.

Oleh karena itu, hendaknya kita kembalikan saja persoalan ini kepada fakta perbuatan manusia itu sendiri, yaitu perbuatan manusia yang bisa terindera dengan panca indera kita. Ketika anda pagi-pagi berangkat kuliah, apakah pada waktu itu terhimpun dalam diri anda kehendak bahwa anda memang ingin kuliah? Jawabannya pasti YA, karena kalau tidak ada dua kemungkinan, anda tidur sambil berjalan, atau memang anda sudah gila.

Ketika suatu saat anda naik motor di jalan raya dan ingin berbelok ke arah kanan tiba-tiba saja, tanpa anda kehendaki ada motor lain dari arah belakang yang menyeruduk pelindung knalpot anda sehingga motor anda terhuyung-huyung. Pertanyaannya, apakah motor yang tiba-tiba menabrak anda dari belakang itu adalah kehendak anda? Tentu saja TIDAK. Motor yang tiba-tiba menabrak anda dari belakang itu berada diluar kekuasaan atau kehendak anda.

Dari kedua fakta perbuatan manusia diatas, ternyata dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbuatan yang berada dalam kuasa atau kehendak manusia dan ada yang berada di luar kuasa atau kehendak manusia. Dan seluruh perbuatan manusia dapat dimasukkan ke dalam dua wilayah itu saja, yaitu ada di dalam kehendak manusia, atau diluar kehendak manusia.

Fakta bahwa aku lahir bukan dari rahim Tamara Blezensky misalnya, adalah perkara yang berada diluar kehendakku, dan hal ini tidak akan dihisab pada hari kiamat nanti. Karena Allah tidak akan memberikan dosa kepadaku karena aku lahir dari rahim ibuku yang sangat aku sayangi, atau Allah juga tidak akan memberikan pahala karena aku lahir dari rahim Tamara Blezensky. Lahir dari rahim siapa adalah suatu hal yang berada diluar kuasa atau kehendakku dan juga anda semua.

Demikian juga sebaliknya, fakta bahwa ada orang yang sadar bahwa dia berkehendak untuk melakukan khalwat dengan lawan jenis adalah perkara yang berada dalam kuasa dan kehendak orang tersebut. Karena itu, Allah akan memberikan dosa atas perbuatannya itu, dosa ini bukan karena dengan siapa dia berkhalwat, tetapi karena memang dia telah berkhalwat.

Seorang Muslimah atau Muslim pengemban dakwah akan mendapatkan dosa sebagaimana seorang Muslim atau Muslimah yang tidak mengemban dakwah ketika mereka berkhalwat, berikhtilath, atau memandang lawan jenis dengan syahwat. Sama saja, yang dpandang bukan siapakah dia, tetapia pa yang diperbuat, karena perbuatannya itu adalah perbuatan yang dia lakukan secara sadar dan berada dalam kuasanya, dalam arti, dia punya kemampuan untuk tidak melakukan hal yang demikian, dan ketika dia melakukannya maka dia mendapat dosa.

Inilah pemahaman yang dipahami oleh para pendahulu Islam yang shaleh. Masalahnya, ingin atau tidak ingin kita mengikuti mereka adalah perkara yang berada dalam wilayah kekuasan dan kehendak kita. Dan tentu saja, keputusan akan hal ini akan dihisab oleh Allah kelak di yaumul hisab.

Aku akan petikkan sebuah kisah. Ketika Sa’ad bin Abi Waqqas radhiyaLlahu ‘anhu, –panglima perang yang diutus Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyaLlahu ‘anhu untuk menaklukan Persia– menemukan buku-buku filsafat lama dalam rampasan perangnya, Beliau ingin membawa buku-buku tersebut agar dapat dimanfaatkan oleh kaum muslimin, tetapi keinginan beliau ini langsung ditolak oleh ‘Umar :

Campakkan buku-buku itu ke dalam air. Jika apa yang terkandung dalam buku-buku tersebut adalah petunjuk yang besar, maka Allah telah memberikan kepada kita petunjuk-Nya yang lebih besar (al-Quran dan as-Sunnah). Jika ia berisi kesesatan, Allah telah memelihara kita dari bencana tersebut.” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hlm 530-531)

Hal ini layak kita renungi dan selami karena hal ini sejalan pula dengan ayat yang berbunyi :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ

وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا

Artinya : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (TQS. al-Ahzhb [33]: 36)

ShadaqaLlaahu ‘azhiim
(Maha Benar Allah dengan Segala FirmanNya).

(Hanif al-Falimbani, Yogyakarta, 18 Maret, 02.25am)

Maret 15, 2007

Saatnya Menjadi Orang “Aneh”

Posted in Tumpah Hati pada 1:17 am oleh Hanif al-Falimbani

angkat royaSore tadi, selepas shalat Ashar yang menyejukkan, aku halaqoh (ngaji) kitab Min Muqowwimat an-Nafisiyah al-Islamiyah, dalam bahasa Indonesianya kitab ini dapat berarti “Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah”. Jujur, kitab ini jika dibaca sendiri saja bisa membuat mata menitikkan air mata, apalagi jika dibimbing oleh seorang Musyrif (pembimbing). Dan Musyrif ku telah dengan elegan menerangkan paragraf demi paragraf. Ada beberapa kalimat yang membuatku terenyuh. Beliau kurang lebih bilang kayak gini :

Antum itu orang Aneh, mau-maunya, sore-sore waktunya istirahat, sejuk begini waktunya nyantai-nyantai, ehh.. malah capek-capek kesini untuk halaqoh.

Aneh. Kami semua tahu, kata-kata itu bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan kami atau memarahi kami. Tapi kata-kata itu hanya untuk menyegarkan suasana. Kenapa? Karena kalau mau aneh-anehan, yang paling aneh itu justru beliau sendiri, udah dateng jauh-jauh cuman untuk ketemu sama kita-kita yang culun ini, trus ngisi halaqoh lagi, nggak dibayar lagi. Halaqohnya itupun gak sebulan sekali atau seminggu kali, tapi dua kali tiap minggu, ya, dua kali tiap minggu. Belum lagi kunjungan-kunjungan beliau yang rutin setiap minggu ke kos-kosan kami. SubhanaLlah.. Benar-benar “aneh” musyrifku ini. Kok mau-maunya gitu lho..

Al-Quran, itulah yang menggerakkan kita untuk capek-capek kesini, yang menggerakkan kita untuk terus bergelut di jalan dakwah. Al-Quran-lah yang telah menuntun kita untuk melakukan kerja sebagaimana kerjanya para Nabi, mengemban dakwah.

Ya, memang bab yang dibahas waktu itu adalah “Memelihara al-Quran”. Dan beliau menceritakan bagaimana para sahabat yang mulia memelihara al-Quran. Para sahabat RasulaLlah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membasahi lisannya dengan al-Quran, membacanya dengan sungguh-sungguh, menelaah ayat-ayatnya, mengamalkan isinya dan mendakwahkannya, hingga jari-jemarinya pun menjadi saksi, seolah-olah mereka seperti al-Quran yang berjalan. Jiwa merekapun tergetar oleh ayat-ayat adzab, dan hati mereka pun menjadi senang karena ayat-ayat rahmat. Air mata mereka bercucuran karena tunduk terhadap kemukjizatan dan keagungannya, serta patuh terhadap hukum-hukum dan hikmahnya.

Sesuatu yang paling berharga bagi kaum Muslim umumnya, dan para pengemban dakwah khususnya, adalah bahwa hendaknya al-Quran senantiasa menjadi penyiram hati mereka, dan teman setia yang mengiringi setiap langkah mereka. Karena al-Quran akan membimbing mereka untuk meraih semua kebaikan, dan mengangkat kedudukan mereka lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Mereka harus senantiasa memeliharanya di tengah malam dan penghujung siang, dengan membaca, menghafal dan mengamalkannya, sehingga mereka akan menjadi sebaik-baik generasi khalaf, mewarisi generasi salaf yang terbaik.

Begitulah isi paragraf ketiga dari kitab yang sedang kami bahas bab Memelihara al-Quran.

Kita semua tahu, saat ini, al-Quran ditempatkan di hati-hati kaum muslimin tidak pada tempatnya. Kaum Muslimin saat ini cenderung hanya menempatkan al-Quran dalam lemari-lemari mereka yang rapat tertutup debu, sehingga hati merekapun tertutupi dari hidayah yang ditunjukkan oleh al-Quran. Mereka tahu bahwa kitab mereka itu al-Quran, tetapi mereka tidak meyakini kebenaran al-Quran, terbukti, dalam hati mereka masih ada rasa keberatan jika al-Quran memerintahkan mereka untuk berjihad, jika al-Quran memerintahkan mereka untuk menegakkan hukum qishosh, jika al-Quran memerintahkan mereka untuk menutup aurat, memakai jilbab dan mengenakan kerudung secara sempurna. Jiwa mereka terbawa arus dunia yang begitu kencangnya menerpa, hingga mereka tak mampu melawannya. Hanya orang-orang yang “aneh” sajalah yang bisa melawannya.

Ya, orang-orang yang “aneh”, orang-orang yang menghabiskan waktu mereka di jalan dakwah, orang-orang yang memeras tenaga dan jiwa mereka untuk menerapkan al-Quran, yang tega menghabiskan kapasitas memori otaknya untuk memikirkan keterpurukan umat, menyeru umat menuju jalan yang Haq, dan menjauhkan mereka dari jalan yang bathil.

Inilah orang-orang yang sebagian besar masyarakat saat ini menyebutnya sebagai orang-orang “aneh”, orang-orang yang tidak silau dengan gemerlapnya uang, berlimpahnya harta benda, tingginya jabatan, atau banyaknya gelar. Mereka inilah orang-orang yang dalam hati mereka terkatakan, “Hanya Ridho dan pahala dari Allah-lah yang kami harapkan, karena Dialah penguasa hari dimana kami akan hidup abadi selamanya, ya, selamanya, abadi

Huuuuhhhhh……. BismiLlahirrohmaanirrohiim, kini saatnya bagi diriku, untuk menjadi orang “aneh”, Ya Allah.. ridhoi lah.. AlhamduliLlah..

“Akan datang suatu kaum kepada Allah pada hari kiamat nanti. Cahaya mereka bagaikan cahaya matahari.

Abu Bakar berkata, “Apakah mereka itu kami wahai RasuluLlah?”

RasuluLlah bersabda, “Bukan, tapi kalian mempunyai banyak kebaikan. Mereka adalah orang-orang fakir yang berhijrah. Mereka berkumpul dari berbagai penjuru bumi.”

Kemudian beliau bersabda, “Kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing, kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing.

Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang terasing itu?”

Beliau SAW bersabda, “Mereka adalah orang-orang shalih, yang jumlahnya sedikit diantara manusia yang buruk. Orang yang menentang mereka lebih banyak dari pada orang yang menaatinya.

(HR Ahmad dan ath-Thabraani dari Abdullah bin Amru, ia berkata: Pada suatu hari saat matahari terbit aku berda di dekat Rasulullah SAW., lalu beliau SAW bersabda (yang artinya): [seperti hadits diatas]… al-Haitsami berkata hadits ini dalam al-Kabir mempunyai banyak sanad. Para perawinya shahih).

(Hanif al-Falimbani, Yogyakarta, 14 Maret 2007, 11.25pm)

Tasyahud Akhir Dalam Shalat Dua Rakaat, Duduknya Tawarruk Atau Iftirasy?

Posted in al-Mustanir pada 1:03 am oleh Hanif al-Falimbani

Sebelum masuk ke pembahasan judulnya, saya akan menjelaskan sedikit tentang apa itu Tawarruk, Iftirasy, dan Tasyahud Akhir.

Duduk tawarruk yaitu duduk dengan meletakkan pinggul dilantai dengan mengeluarkan telapak kaki yang kiri (melalui bawah tulang kering kaki kanan) dan menegakkan telapak kaki yang kanan. Atau biasanya kita duduk seperti ini di rakaat terakhir sebelum salam.

Duduk iftirasy yaitu duduk dengan menduduki telapak kaki kirinya dan menegakkan telapak kakinya yang kanan. Atau biasanya kita duduk seperti ini pada tasyahud awal.

Tasyahud Akhir adalah duduk tasyahud setelah sujud yang kedua pada rakaat terakhir dalam suatu shalat. Artinya, duduk sebelum kita melakukan salam.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Abu Humaid As-Sa’idi yang menyebutkan :

Jika duduk dalam raka’at kedua, beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) duduk dengan menduduki telapak kaki kirinya dan mengakkan telapak kakinya yang kanan, sedang jika duduk dalam raka’at terakhir, beliau mengelaurkan telapak kakinya uyang kiri (melalui bawah tulang kering kaki kanan) dan mengakkan telapak kakinya yang kanan, sementara beliau duduk di tempat duduknya (dilantai)” (HR Bukhari)

Baik, sekarang kita masuk ke dalam pembahasan judulnya. Ahlul ilmi berbeda pendapat tentang kapan duduk tawarruk, apakah ada dalam tasyahud awal atau hanya ada dalam tasyahud akhir.

Menurut Mazhab Imam Malik, duduk tawarruk ada dalam tasyahud awal dan tasyahud akhir.[1] Jadi anda jangan heran atau kaget dan gelisah, jika ada orang yang ketika duduk tasyahud awal pada shalat maghrib tetapi dia malah duduk tawarruk. Ada dua kemungkinan, dia menggunakan mazhab Maliki dalam shalatnya atau memang dia lupa.

Menurut Mazhab Imam Abu Hanifah, baik dalam tasyahud awal ataupun dalam tasyahud akhir, cara duduknya adalah duduk iftirasy.[2] Jadi jangan heran dan gelisah, ketika ada orang yang ketika duduk dalam tasyahud akhir pada shalat maghrib tetapi dia malah duduk iftirasy. Ada dua kemungkinan, dia menggunakan mazhab Abu Hanifah dalam shalatnya atau memang dia lupa dan tidak sadar.

Menurut pendapat Imam Ahmad, setiap shalat yang didalamnya terdapat 2 tasyahud, cara duduknya dalam tasyahud akhir adalah dengan duduk tawarruk, sedang dalam shalat yang didalamnya tidak terdapat 2 tasyahud maka cara duduknya adalah dengan duduk iftirasy.[3] Jadi jangan heran atau sedih ketika anda melihat orang yang shalat shubuh dua rakaat, tetapi dalam tasyahud akhirnya dia malah duduk iftirasy, atau duduk seperti duduk tasyahud awal. Kemungkinannya, dia menggunakan pendapat Imam Ahmad tadi.

Menurut pendapat Imam Syafi’i, bahwa dalam tasyahud yang terjadi sebelum salam (baik dalam shalat yang 2,3, maupun 4 rakaat, atau tasyahud akhir), cara duduknya adalah duduk tawarruk, sedang pada tasyahhud yang lain, cara duduknya adalah dengan duduk iftirasy[4]. Dan inilah yang dipahami kebanyakan umat Muslim di Indonesia yang memang sebagian besar menggunakan mazhab Imam Syafi’i dalam shalatnya.

Imam Nawawi berkata dalam Syarhnya 5/84[5]:

Adapun menurut mazhab Syafi’i, adalah duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir; hal ini didasarkan pada Hadits Abu Humaid As-Sa’idi, dan aku telah mendapatkan Hadits ini dalam Shahih Bukhari yang mana hadits ini dengan jelas menerangkan perbedaan cara duduk dalam kedua tasyahud. Imam Syafi’i berkata: ‘Hadits-hadits yang menjelaskan tentang duduk tawarruk atau duduk iftirasy adalah bersifat mutlaq. Didalamnya tidak dijelaskan secara rinci apakah duduk tawarruk atau duduk iftirasy itu dikerjakan dalam kedua tasyahud atau dalam salah satu dari kedunya. Namun Abu Humaid telah menjelaskan hal ini dan ini diperkuat dengan Hadits yang aku temukan bahwa mereka (para sahabat) menyebutkan tentang dikerjakannya duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir. Demikianlah yang dijelaskan (dalam Hadits Abu Humaid). Karenanya, sudah seharusnya bagi kita utuk mengambil kesimpulan dari dalil yang mujmal ini, Wallahu a’lam’”

Dalam hadits lain disebutkan :

Sehingga jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berada pada raka’at yang padanya terdapat salam, cara duduk beliau adalah dengan mengeluarkan telapak kakinya yang kiri dan duduk tawarruk dengan pantat dan paha sebelah kiri. “Mereka (Para shahabat Abu Humaid) berkata: “Engkau benar! Memang demikianlah cara beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat.” (HR Abu Dawud, Dishahihkan Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/141).[6]

Bahkan menurut pengungkapan dari Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam buku terjemahan dari bahasa Arab karangan beliau yang berjudul “Tata Cara Shalat Nabi (Shalatul Mukmiin) ” halaman 187 terbitan Irsyad Baitus Salam, bahwa beliau pernah mendengar dari Syaikh Bin Baz –rahimahuLlah- berkata sewaktu mensyarahi Ar-Raudh 2/82: “Sunnahnya, adalah duduk tawarruk dalam tasyahud akhir dengan menegakkan telapak kaki kanan, sedang dalam tasyahud awal adalah duduk dengan cara menduduki telapak kaki kiri dan menegakakn telapak kaki kanan.

Sedangkan kita ketahui bahwa yang dinamakan tasyahud akhir adalah duduk sebelum salam, baik shalatnya itu dua rakaat, tiga rakaat maupun empat rakaat. Demikianlah yang afdhal, yakni duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir, dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan yang demikian.[7]

Setelah melihat perbedaan dikalangan ulama Salaf tentang hal ini, maka tidak selayaknya kita yang “baru kemarin sore” mbaca al-Quran ini mengatakan saudaranya yang lain yang berbeda cara duduknya pada tasyahud akhir dalam shalat dua rakaat sebagai ahlul bid’ah, perlu diketahui, hal itu amat menyakitkan, amat menyakitkan wahai saudaraku…

Indah sekali jika yang ada dalam benak kita seperti apa yang dikatakan Imam Syafi’i, “Pendapatku benar, tetapi masih mungkin mengandung kesalahan, dan pendapat anda salah tapi masih mungkin mengandung kebenaran”. SubhanaLlah..

(Hanif al-Falimbani, Yogyakarta, 15 Maret 2007, 01.16am)


[1] Lihat catatan kaki Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam buku terjemahan dari kitab bahasa Arab karangan beliau yang berjudul “Shalatul Mu’miin / Tata Cara Shalat Nabi (edisi bahasa Indonesia)” halaman 182-183 terbitan Irsyad Baitus Salam cetakan ke-10. (Baca : Zaadul Ma’ad (oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyah-red.) 1/243, Syarh Shahih Muslim oleh an-Nawawi 5/84, Nailul Authar (oleh asy-Syaukaniy-red.) 2/54, al-Mughni (Oleh Ibnu Qudamah-red.) 2/225-228.)

[2] Idem.

[3] Idem.

[4] Idem.

[5] Idem.

[6] Ibid, halaman 184.

[7] Ibid, halaman 184-187.

Maret 12, 2007

Mau Kasih Judul Apa?

Posted in Tumpah Hati pada 6:32 pm oleh Hanif al-Falimbani

Waktu saya ngeliat tulisan di salah satu blog, saya jd inget waktu Mas Titok ngisi Kajian di Masjid Mujahidin UNY, beliau kurang lebih bilang gini :

“Kalau antum diizinkah oleh Allah untuk mengarang sebuah novel yang didalamnya berisi cerita riwayat hidup antum mulai dari umur nol tahun hingga ajal menjemput, antum ingin kasih judul novel itu apa.. antum ingin kasih judul novel itu apa..? Apakah judulnya itu ‘Cerita hidup tentang seorang Insinyurkah?? Programmerkah?? Ilmuwankah?? Kimiawankah?? Professorkah??’ Atau satu kata saja, antum beri judul novel itu dengan kata ‘ASY-SYAHIID..’ ”

SubhanaLlah.. waktu itu, saya langsung merinding…

Gimana.. kalau anda ingin kasih judul apa? Samakah? atau bedakah?

(Ingat, Satukan pikiran dan perasaan anda.)

Laman sebelumnya · Laman berikutnya